Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya

Mereka menemukannya menjelang sore.
Hujan baru saja berhenti. Aspal masih basah, memantulkan cahaya matahari yang turun miring dari balik awan abu-abu. Bau tanah lembap bercampur dengan sisa air got yang meluap dari pinggir jalan. Semarang terasa lebih sunyi di jam itu, seolah kota sedang menarik napas panjang sebelum malam.
Bangunan itu berdiri agak masuk ke dalam, tidak langsung menghadap jalan besar.
Terlalu besar untuk disebut rumah.
Terlalu sepi untuk disebut tempat tinggal.
Anneliese berhenti melangkah tanpa sadar. Hendrik masih berjalan dua langkah di depannya, menenteng tas mereka dengan satu tangan, wajahnya kusut oleh lelah dan kesal.
“Di situ,” kata Hendrik sambil menunjuk. “Kelihatannya kosong.”
Tidak ada papan nama. Tidak ada plang peringatan.
Hanya tembok kusam berwarna krem yang catnya mengelupas seperti kulit tua. Jendela-jendela tinggi berjajar rapi, sebagian pecah, sebagian tertutup debu tebal. Pintu besi di depan tidak terkunci. Bahkan tidak berderit ketika didorong.
Itu yang pertama kali terasa aneh bagi Anneliese.
Terlalu mudah.
Ia berdiri di ambang pintu beberapa detik lebih lama dari Hendrik. Udara di dalam berbeda. Lebih dingin. Bukan dingin yang menusuk, tapi dingin yang menetap, seperti ruangan yang sudah lama tidak disentuh tubuh manusia.
Lorong pertama panjang dan lurus. Lantai keramiknya kusam, dipenuhi jejak kaki lama yang tidak lagi bisa dibedakan milik siapa. Bau besi, kayu lapuk, dan sesuatu yang samar—seperti kain basah yang tidak pernah benar-benar kering.
“Tempat ini besar,” gumam Hendrik, entah kagum atau lega. “Kita bisa di sini sementara.”
Sementara.
Kata itu menggantung di kepala Anneliese.
Mereka berjalan lebih dalam. Di kiri dan kanan, pintu-pintu kamar terbuka. Di dalamnya, tempat tidur bertingkat masih berdiri rapi, berjejer seperti barak. Beberapa kasur sudah mengempis, pegasnya mencuat. Lemari-lemari kecil menempel di dinding, sebagian pintunya miring, sebagian lagi masih tertutup rapat.
Anneliese memperhatikan satu hal:
tidak ada vandalisme.
Tidak ada coretan liar. Tidak ada pecahan botol. Tidak ada tanda orang-orang mabuk atau remaja usil. Bangunan ini tidak dirusak. Ia hanya… ditinggalkan.
Seolah semua orang pergi dengan kesepakatan yang tidak pernah dibicarakan.
“Ini bekas kos-kosan, ya?” kata Hendrik.
Anneliese mengangguk pelan, meski ia tidak yakin dari mana kepastian itu datang.
Di salah satu kamar paling ujung, ia melihatnya.
Sebuah lemari plastik kecil, warna biru cerah.
Gambar Doraemon di pintunya masih tersenyum lebar, kontras dengan debu dan kusam di sekelilingnya.
Anneliese berhenti lagi.
Ia tidak tahu kenapa matanya tertarik ke sana. Lemari itu tampak… salah tempat. Terlalu ceria. Terlalu utuh. Seperti benda yang lupa ikut menua bersama ruangan ini.
“Kita pakai kamar ini saja,” kata Hendrik cepat. “Lebih ke dalam. Aman.”
Aman.
Anneliese menatap lorong di belakang mereka, lalu kembali ke kamar itu. Ke lemari biru dengan senyum kartun yang tidak berubah sejak entah kapan.
Ia merasakan dorongan aneh di dadanya. Bukan takut. Bukan cemas. Lebih seperti perasaan bahwa sesuatu sedang memperhatikannya tanpa benar-benar hadir.
“Aku simpan barang di sini,” katanya akhirnya.
Hendrik mengangguk tanpa peduli. Ia sudah menjatuhkan tas dan duduk di ranjang bawah, menghela napas panjang seperti orang yang akhirnya berhenti berlari.
Anneliese membuka tas kecilnya. Tangannya sedikit gemetar ketika ia mengeluarkan kotak beludru itu. Ia tidak membukanya. Ia hanya memastikan beratnya masih sama.
Suara ibunya muncul di kepalanya tanpa diminta.
Lembut. Tegas. Dalam bahasa Belanda yang selalu terdengar seperti rumah.
Jangan pernah menjualnya kecuali untuk masa depanmu sendiri.
Anneliese menelan ludah.
Ia membuka lemari Doraemon itu. Engselnya berbunyi pelan, nyaris sopan. Di dalamnya kosong. Bersih. Terlalu bersih untuk lemari yang ditinggalkan bertahun-tahun.
Ia menyimpan tas kecil itu di bagian paling belakang, lalu menutup pintu lemari perlahan.
Klik.
Suara kecil itu terasa lebih keras dari seharusnya.
Di luar kamar, angin masuk dari jendela pecah, membuat salah satu pintu di lorong berayun pelan. Tok. Tok. Tok.
Anneliese berdiri mematung beberapa detik, lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia hanya lelah.
Bangunan ini tidak berkata apa-apa.
Tidak menolak.
Tidak menyambut.
Ia hanya membiarkan mereka masuk.
Dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih menakutkan.
Hari pertama berlalu tanpa peristiwa.
Pagi datang terlambat di gedung itu. Cahaya matahari masuk tipis lewat jendela-jendela tinggi yang berdebu, jatuh membentuk garis-garis miring di lantai. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara kendaraan. Hanya dengungan jauh dari kota yang seperti ditahan tembok-tembok tebal.
Hendrik bangun dengan suasana hati yang lebih baik dari dugaan Anneliese.
“Lumayan juga,” katanya sambil meregangkan badan. “Setidaknya gratis.”
Gratis.
Anneliese tidak menanggapi. Ia sibuk mengamati ruangan. Ia mulai menyadari bahwa bau di gedung ini tidak berubah. Siang atau malam, hujan atau panas—aromanya tetap sama. Campuran lembap, kayu tua, dan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Mereka membersihkan seadanya. Menyapu lantai kamar, memindahkan kasur yang paling tidak rusak ke sudut yang terasa “aman”. Hendrik bercanda tentang ini semua, seperti orang yang yakin kesulitan hanyalah fase sementara.
Anneliese tertawa seperlunya.
Malam pertama sunyi.
Terlalu sunyi.
Gedung sebesar itu seharusnya punya suara sendiri—derit, hembusan angin, bunyi pipa. Tapi yang terdengar hanya langkah mereka sendiri. Setiap suara lain seperti sengaja ditelan sebelum sempat terbentuk.
Anneliese terbangun beberapa kali malam itu. Bukan karena mimpi. Bukan karena suara. Ia hanya… terjaga.
Ia duduk di kasur, memandang lorong gelap di luar kamar. Gelapnya tidak pekat. Ia bisa melihat sampai ujung, tapi tetap merasa seolah ada jarak yang tidak bisa diukur.
Ia kembali tidur dengan punggung menghadap lemari Doraemon.
Hari kedua, mereka mulai menata rutinitas.
Pagi: keluar sebentar mencari makanan murah.
Siang: kembali ke gedung, menghindari keramaian.
Malam: lampu mati, suara pelan, tidur cepat.
Anneliese mulai menghitung tanpa sadar.
Jumlah roti.
Jumlah air.
Jumlah uang kertas lusuh di dompet Hendrik.
Ia juga mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Beberapa pintu kamar yang ia yakin tertutup, kini terbuka sedikit.
Tangga ke lantai atas selalu terasa lebih panjang saat naik, tapi terlalu cepat saat turun.
Dan lorong tengah—lorong terpanjang—selalu terasa lebih dingin, meski matahari tepat di atasnya.
“Gedung ini aneh,” kata Hendrik suatu sore sambil duduk di lantai, menyandarkan punggung ke ranjang.
“Aneh bagaimana?” tanya Anneliese.
“Ya… entahlah. Rasanya kayak… kosong, tapi bukan kosong.”
Anneliese tidak menjawab. Ia tahu apa yang Hendrik maksud, tapi ia juga tahu Hendrik tidak akan tahan dengan penjelasan yang jujur.
Malam kedua, hujan turun pelan. Air merembes lewat celah atap, menetes ke ember yang mereka letakkan di tengah kamar. Tetesannya teratur. Terlalu teratur.
Plok.
Plok.
Plok.
Anneliese menghitungnya. Ia berhenti di angka dua puluh tujuh, lalu lupa.
Ia teringat ibunya lagi malam itu. Bukan wajahnya, tapi suaranya. Nada yang selalu sama ketika membicarakan masa depan.
Ia bangun pelan, membuka lemari Doraemon itu sedikit. Hanya cukup untuk memastikan tas kecil itu masih di sana.
Masih utuh.
Masih beratnya sama.
Ia menutupnya kembali.
Di kejauhan, terdengar sesuatu jatuh. Bukan di kamar mereka. Bukan di lantai itu.
Hendrik tidak terbangun.
Hari ketiga, Anneliese mulai merasa gedung itu mengenali langkah mereka.
Bukan bergerak.
Bukan berubah.
Hanya… menyesuaikan.
Lorong yang biasa mereka lewati terasa lebih sempit. Ruangan yang jarang mereka datangi terasa lebih luas. Seolah gedung itu tidak menghalangi, tapi juga tidak membantu.
Ia mencoba menertawakan perasaannya sendiri.
“Kita cuma capek,” katanya pada Hendrik.
Hendrik mengangguk, tapi matanya tidak benar-benar fokus. Ia mulai lebih sering diam. Lebih sering duduk lama tanpa melakukan apa-apa.
Malam ketiga, Anneliese mendengar suara langkah.
Satu kali saja.
Pelan. Jauh. Tidak mendekat.
Ia duduk tegak, menahan napas. Menunggu suara itu terulang. Tapi tidak ada apa-apa setelahnya.
Gedung kembali diam.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah suara itu tidak perlu diulang.
Anneliese berbaring kembali, menatap langit-langit.
Ia sadar sesuatu dengan pelan, tanpa panik:
Gedung ini tidak melakukan apa pun pada mereka.
Justru itu masalahnya.
Ia membiarkan mereka tinggal.
Ia membiarkan mereka menua di dalamnya.
Ia membiarkan hari-hari berjalan tanpa perlawanan.
Dan dalam pembiaran itulah, sesuatu mulai terasa salah.
Bersambung ke Episode 7 – Air Tidak Pernah Meminta Izin
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 12 — Yang Tidak Bisa Ditelan Bau itu datang sebelum pagi. Bukan bau yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 7 — Air Tidak Pernah Meminta Izin Malam datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai Bau itu datang tanpa alasan. Bukan bau makanan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 40 — Yang Tersisa, dan Yang Telah Selesai (THE END) Pagi itu datang dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya Pagi di kamar kos itu tidak...
Read More