
Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Kopinya biasa.
Musiknya terlalu pelan.
Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang terlalu dingin, kadang seperti sedang menyerah pada kehidupan.
Tapi setiap pukul 3 sore, selalu ada satu pria yang datang ke sana.
Bukan untuk kopi.
Bukan untuk makanan.
Bahkan bukan untuk Wi-Fi.
Dia datang untuk satu hal yang jauh lebih sederhana.
Kursi pojok dekat jendela.
Itu saja.
Namanya tidak ada yang benar-benar tahu.
Barista memanggilnya:
“Mas Kursi.”
Awalnya hanya bercanda.
Lama-lama jadi identitas resmi.
Hari itu, seperti biasa, pintu kafe terbuka pelan.
Ting.
Pria itu masuk memakai jaket abu-abu tipis meski cuaca di luar cukup panas. Wajahnya tenang. Tidak ramah, tapi juga tidak dingin.
Ia mengangguk kecil ke kasir.
“Seperti biasa, Mas?” tanya barista.
Pria itu melihat ke arah kursi pojok.
Masih kosong.
Syukurlah.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Air putih?”
Ia mengangguk.
Itu satu-satunya hal yang selalu ia pesan.
Satu gelas air putih.
Kadang diminum.
Kadang tidak disentuh sama sekali.
Lalu ia duduk di kursi pojok itu selama berjam-jam seperti sedang menjalankan tugas negara.
Tidak bermain ponsel.
Tidak membuka laptop.
Tidak membaca buku.
Dia hanya duduk.
Kadang melihat keluar jendela.
Kadang melihat langit-langit.
Kadang menatap kosong ke arah tanaman plastik dekat meja kasir seperti sedang memikirkan kesalahan besar umat manusia.
Anak magang baru mulai resah pada minggu pertamanya.
“Mbak…” bisiknya ke barista senior.
“Kenapa bapak itu selalu duduk di situ?”
Barista senior mengangkat bahu kecil.
“Tidak tahu.”
“Dia nunggu seseorang?”
“Kayaknya tidak.”
“Kerja?”
“Tidak pernah buka laptop.”
“Terus ngapain?”
Barista senior melirik ke arah pria itu.
“…Duduk.”
Sunyi kecil muncul.
Anak magang masih belum puas.
“Tapi kenapa harus lama banget?”
Barista senior mulai mengelap gelas.
“Pernah lihat kucing tidur di tempat favoritnya?”
Anak magang mengangguk.
“Nah,” katanya pelan,
“kurang lebih begitu.”
Sejak itu, seluruh pegawai mulai sadar satu hal:
pria itu sangat serius terhadap kursi tersebut.
Suatu sore, seorang pelanggan datang lebih cepat dan duduk di kursi pojok.
Kesalahan besar.
Pintu kafe terbuka lima menit kemudian.
Ting.
Mas Kursi masuk.
Berhenti.
Melihat ke arah pojok.
Diam.
Barista senior langsung menegakkan badan.
Anak magang ikut panik.
“Ya ampun…” bisiknya.
Pria itu berjalan perlahan mendekati meja kasir.
“Penuh ya,” katanya tenang.
Barista senior mengangguk hati-hati seperti sedang berbicara dengan penjinak bom.
“I-iya, Mas…”
Pria itu diam beberapa detik.
Tidak marah.
Tidak kecewa berlebihan.
Tapi seluruh aura tubuhnya terasa seperti hujan yang batal turun.
“Tidak apa-apa,” katanya akhirnya.
Lalu ia duduk di meja lain.
Namun suasana kafe langsung terasa aneh.
Pria itu terlihat tidak cocok di sana.
Seperti stiker yang ditempel miring.
Ia duduk selama dua puluh menit.
Lalu berdiri.
Air putihnya bahkan belum habis setengah.
Sebelum pergi, ia berhenti sebentar di dekat kasir.
“Kursi pojok itu…” katanya pelan.
“Iya, Mas?”
“Sandarannya pas.”
Barista senior berkedip.
“…Oh.”
“Kalau duduk di sana,” lanjutnya,
“rasanya kepala saya tidak terlalu berisik.”
Sunyi kecil muncul lagi.
Kali ini berbeda.
Lebih pelan.
Lebih manusia.
Pria itu mengangguk kecil lalu pergi.
Ting.
Pintu tertutup kembali.
Anak magang menatap barista senior.
“…Cuma karena itu?”
Barista senior melihat kursi pojok dekat jendela.
Matahari sore jatuh tepat di sana.
Hangat. Tidak silau.
Entah kenapa memang terasa tenang.
“Kadang,” katanya pelan,
“orang tidak benar-benar mencari kopi.”
Anak magang diam.
Barista senior melanjutkan pekerjaannya.
“Kadang,” katanya lagi,
“orang cuma mencari tempat di mana isi kepalanya tidak terlalu ribut.”
Minggu berikutnya, pukul 3 sore.
Pintu terbuka lagi.
Ting.
Mas Kursi datang seperti biasa.
Namun kali ini, sebelum ia sempat melihat ke arah pojok, barista senior sudah lebih dulu mengangkat papan kecil bertuliskan:
“Reserved.”
Pria itu berhenti.
Melihat papan kecil itu.
Lalu melihat barista senior.
“Untuk saya?”
Barista senior mengangguk santai.
“Soalnya kalau Mas duduk di tempat lain…” katanya,
“aura kafenya ikut tidak nyaman.”
Untuk pertama kalinya, pria itu tertawa kecil.
Pendek sekali.
Hampir tidak terdengar.
Tapi cukup untuk membuat seluruh kafe terasa sedikit lebih ringan setelah itu.
*****
Author Profile
Categories
Related Posts
Pak Maman sudah memperbaiki televisi selama tiga puluh dua tahun. Ia pernah memperbaiki TV tabung...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap pagi, sebelum manusia-manusia di gang itu benar-benar bangun, seekor ayam jago sudah lebih dulu...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Apartemen "Melati Indah" sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk menyimpan...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap minggu ketiga, malam hari, tepat setelah jam sebelas, Rio selalu membuka kulkas. Bukan sekali....
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi itu, minimarket kecil di ujung jalan tampak seperti biasa. Lampu putihnya terlalu terang.AC-nya terlalu...
Read More