
SERIAL: “MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU”
Apartemen “Melati Indah” sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk menyimpan rahasia.
Mayoritas penghuninya sangat cerewet.
Bahkan seekor anjing penjaga gerbang apartemenpun juga suka bergosip.
Anjing penjaga itu adalah berjenis American Pit Bull Terrier.
Namanya Terry. Sangat galak. Tapi terikat di sebuah tiang besi.
Pada tiang besi itu ada papan bertuliskan “Let’s Spill the Beans”
Para penghuni apartemen takut padanya. Kecuali Bu Annisa.
Bu Annisa adalah salah satu penghuni apartenen ini.
Apartemen tua yang asri. Dindingnya tipis.
Lift-nya sering macet di lantai tiga.
Dan ibu-ibu penghuni lantai bawah memiliki kemampuan supernatural untuk mengetahui:
- siapa yang belum bayar listrik,
- siapa yang putus cinta,
- dan siapa yang diam-diam memasak mi instan jam dua pagi.
Namun anehnya…
di gedung tua delapan lantai itulah sebuah mesin cuci penjelajah waktu berhasil bersembunyi selama bertahun-tahun.
Mesin itu berada di ruang laundry bersama tiga mesin lain yang normal.
Kalau dilihat sekilas, tidak ada yang aneh.
Cat putihnya sudah menguning.
Tombolnya beberapa miring.
Di bagian samping bahkan ada tulisan spidol:
“JANGAN DIPUKUL. SAYA JUGA CAPEK.”
— Teknisi
Dan seperti kebanyakan benda tua di apartemen itu…
semua orang mengira mesin tersebut cuma hampir rusak.
Malam itu hujan turun kecil di luar gedung ketika Raffi masuk ke ruang laundry sambil membawa ember cucian.
Wajahnya lelah.
Kemeja kantornya kusut.
Dan ekspresi matanya terlihat seperti orang yang baru saja menerima email bertuliskan:
“meeting dadakan.”
Jam menunjukkan pukul 01:47 dini hari.
“Akhir bulan memang tidak manusiawi…” gumamnya pelan.
Ia tinggal di lantai enam.
Kamar kecil.
Kulkas kosong.
Dompet lebih kosong lagi.
Satu-satunya alasan ia mencuci malam-malam adalah:
tarif listrik laundry lebih murah setelah jam satu.
Di sudut ruangan, mesin pengering meraung seperti pesawat yang sedang menyesali hidupnya.
Raffi memasukkan pakaian ke salah satu mesin.
Tidak nyala.
Ia mencoba mesin kedua.
Mati.
Mesin ketiga sedang dipakai seorang perempuan muda untuk mencuci boneka alpaka ukuran manusia.
Raffi mengernyitkan dahi. Bergumam pelan. Heran.
“Buat apa boneka sebesar itu?”
Perempuan muda itu melirik ke Raffi sebentar. Tatapan tidak senang.
Raffi tak peuli.
Ia menatap mesin terakhir.
Mesin tua dengan tombol MULAI berwarna merah pudar.
“Yah… terserah lah.”
Ia memasukkan bajunya.
Menekan tombol.
Mesin langsung bergetar keras.
DERRRRRKKKK—
Lampu ruang laundry berkedip.
Kipas plafon berhenti sesaat.
Dan entah kenapa…
lagu dangdut dari warung seberang tiba-tiba berubah menjadi lagu lawas tahun 90-an.
Raffi mengerutkan dahi.
“Aneh.”
Pintu ruang laundry terbuka.
Seorang perempuan masuk sambil membawa sekeranjang pakaian dan sebungkus roti.
Namanya Nina.
Penghuni lantai empat.
Rambut pendek.
Kaos kebesaran.
Tatapan mata seseorang yang terlalu sering begadang.
“Masih bangun?” tanyanya santai.
Raffi mengangguk.
“Mesin lain mati.”
Nina melihat mesin tua itu.
Saat hendak membuka ranselnya, Raffi melihat sebuah jaket hitam tergantung di kursi pojok.
Ia mengernyit.
“Itu…”
Jaket itu miliknya.
Persis.
Termasuk sobekan kecil di bagian lengan kiri.
Padahal ia yakin belum pernah membawa jaket itu malam ini.
Nina melirik sebentar.
“Oh.”
“Oh kenapa?”
Nina diam sebentar.
“…Tidak apa-apa.”
Itu jawaban paling mencurigakan yang pernah Raffi dengar dari manusia.
Mesin terus bergetar.
DERRRRRRK—
Raffi menatap jaket hitam di kursi pojok.
Kemudian menatap Nina. Kemudian ke mesin cuci.
Lalu menatap Nina sekali lagi.
Mesin masih saja bergetar.
DERRRRRRK— DERRRRRRK—
Lampu berkedip lagi.
Lalu mendadak…
sunyi.
Mesin berhenti sendiri.
Raffi mendekat perlahan.
“Mati?”
Nina mundur satu langkah.
“Kadang begitu.”
“Kadang begitu gimana?”
Nina belum sempat menjawab.
Pintu mesin cuci terbuka sendiri.
Pelan.
KREEEEKK—
Asap dingin keluar dari dalam tabung.
Raffi menatap bingung.
“…Saya harap itu bukan setan.”
Nina menggigit rotinya kecil.
“Kalau setan biasanya lebih mahal biaya listriknya.”
Raffi menatapnya.
“Apa?”
Namun sebelum Nina menjawab—
SESEORANG keluar dari dalam mesin cuci.
Raffi langsung mundur dua langkah.
Seorang pria tua jatuh tersungkur ke lantai sambil memeluk radio kecil.
Terdengar lagu “Ticket to Ride” milik band The Beatles.
Pria tua itu memakai jaket denim biru tua dan celana training jadul.
Pria itu melihat sekeliling dengan panik.
“…Ini pemberhentian bus?”
Raffi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sunyi total memenuhi ruang laundry.
Raffi berkedip pelan.
Nina menghela napas panjang seperti seseorang yang terlalu lelah untuk terkejut lagi.
“Yup,” katanya datar.
“Mesinnya mulai kumat lagi.”
*
Bersambung ke Episode 2 – Siklus Pengering
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Payung di Dalam Rumah Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Joko mulai membawa payung...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap minggu ketiga, malam hari, tepat setelah jam sebelas, Rio selalu membuka kulkas. Bukan sekali....
Read MoreDewaBukuJSW
Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kopinya biasa.Musiknya terlalu pelan.Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap kota besar selalu punya satu pengendara motor yang membuat orang lain mempertanyakan konsep waktu....
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu...
Read More