
Setiap kota besar selalu punya satu pengendara motor yang membuat orang lain mempertanyakan konsep waktu.
Di kota ini, orang itu bernama Pak Darto.
Secara teknis, ia tukang ojek online.
Namun cara mengendarainya lebih mirip:
bapak-bapak yang sedang mencari angin sore sambil mengenang masa muda.
Motor tuanya tidak pernah benar-benar cepat.
Bahkan suara sein-nya terdengar lebih bersemangat dibanding mesinnya.
Masalahnya:
Pak Darto selalu mendapat penumpang yang terburu-buru.
Mungkin semesta memang suka bercanda.
Pagi itu, seorang pria kantoran bernama Andy berlari kearahnya.
Penumpang itu melompat duduk di jok belakang dengan kerasnya.
Ia tampak tergesa-gesa sambil masih memakai dasi setengah miring.
“Pak cepat ya, saya telat meeting!”
Pak Darto mengangguk santai.
“Oke, Mas.”
Motor berjalan….bup bup bup brrrm brrrm brrrm
Pelan.
Bukan pelan karena macet.
Bukan juga karena motornya rusak.
Memang pelan saja.
Pria kantoran itu mulai gelisah setelah dua menit.
Pak Darto berhenti total di lampu kuning.
Bukan merah.
Kuning.
“Pak…” kata penumpangnya hati-hati.
“Itu masih kuning.”
“Iya.”
“…Kenapa berhenti?”
Pak Darto melihat lampu lalu lintas dengan bijaksana seperti seorang filsuf jalanan.
“Kuning itu lampu buat mikir.”
Sunyi kecil muncul.
Motor lain melaju kencang di samping mereka.
Penumpang itu mulai berkeringat.
“Pak… saya meeting lima menit lagi.”
Pak Darto mengangguk penuh pengertian.
“Kalau panik terus nanti cepat tua, Mas.”
Lampu berubah hijau.
Motor berjalan lagi.
Pelan.
Melewati jalan raya seperti tidak punya urusan dengan ambisi manusia modern.
Di belakang mereka, klakson berbunyi bertubi-tubi.
Pak Darto tidak terpengaruh sedikit pun.
Ia malah menunjuk langit.
“Cuacanya bagus ya hari ini.”
Penumpangnya hampir menangis.
“Pak, tolong ngebut pak… meeting tiga menit lagi.”
Pak Darto menjawab dengan tenang.
“Terlalu terburu-buru itu tidak baik, Mas.”
Sekejap kemudian smartphone di saku celana penumpang itu berbunyi.
ring ring ring bzzzt bzzzt
Dengan panik, penumpang itu minta berhenti di pinggir jalan.
Penumpang itu mengambil smartphone dan menempelkan ke telinganya.
“Iya, Pak?”
“Andy, kamu dimana?”
“Maaf, Pak. Lima menit lagi.”
Ternyata yang menelepon penumpang itu adalah atasannya di kantor.
Pak Darto hanya melihat ekspresi pemuda itu lewat kaca spion motornya.
Pemuda itu berkeringat dingin sambil memohon maaf kepada atasannya.
Smartphone yang menempel di telinganya sampai basah kuyup terkena keringat dingin.
“Andy, satu menit lagi.”
“Bagaimana kalau empat menit, Pak?”
“Baiklah, Andy… kamu dipecat.”
Penumpang itu gemetar. Smartphone di telinganya terjatuh ke trotoar.
Ia jatuh terduduk. Tatapan matanya kosong.
Pak Darto menghampirinya.
“Ada apa, Mas?”
“Saya dipecat, Pak.” jawab penumpang itu dengan tatapan mata kosong.
Pak Darto tersenyum dan menepuk pundak penumpang itu.
“Kamu beruntung, Mas. Tak perlu terburu-buru lagi.”
Penumpang itu tidak menjawab.
Tatapan matanya masih kosong.
Penumpang itu menyerahkan beberapa lembar uang ke Pak Darto.
“Ambil ini, Pak.”
“Oh nggak perlu. Simpan saja, Mas. Gratis.”
Pak Darto mulai menjalankan motornya lagi… bup bup bup brrrm brrrm
Meninggalkan si penumpang yang sedang berdukacita.
Sendirian.
Pagi beranjak siang. Siang beranjak malam.
Malam pun akhirnya berjumpa dengan pagi yang cerah.
Secerah senyuman seorang mahasiswi yang akan ikut ujian di kampusnya.
Hari itu ia memesan ojek online pada sebuah aplikasi.
Ia menunggu di sebuah persimpangan, lebih tepatnya… perempatan.
Beberapa menit kemudian ada suara motor dari arah belakangnya.
Tak salah lagi. Dialah Pak Darto yang selalu tersenyum.
“Pagi, Nona.”
“Pak, cepat ya! Saya ujian!”
“Oke.”
Motor berjalan….bup bup bup brrrm brrrm brrrm
Pelan.
Mereka bahkan sempat didahului:
- tukang roti
- ibu-ibu naik sepeda
- dan satu gerobak tahu bulat yang terlihat sangat percaya diri
Mahasiswi itu mulai panik.
“Pak… bisa agak cepat nggak?”
Pak Darto tetap tenang.
“Bisa.”
Motornya bertambah cepat sedikit… vroom vroom bup bup bup brrrm
Tambah cepat sedikit. Sangat sedikit.
Kalau sebelumnya kecepatan mereka terasa seperti dokumenter alam…
sekarang terasa seperti dokumenter alam yang diedit lebih agresif.
Mahasiswi itu memegang helm frustrasi.
“Pak… orang-orang nyalip kita semua…”
Pak Darto mengangguk kecil.
“Biar saja.”
“Tapi saya terlambat!”
Pak Darto diam sebentar.
Lalu berkata:
“Semua orang di jalan ini merasa hidup mereka paling darurat.”
Mahasiswi itu terdiam.
Pak Darto melanjutkan:
“Padahal kebanyakan cuma mau cepat sampai supaya bisa buru-buru stres lagi.”
Motor terus melaju pelan melewati deretan kendaraan yang saling klakson seperti sedang lomba marah.
Anehnya…
udara pagi terasa cukup enak.
Mahasiswi itu mulai memperhatikan:
- pohon pinggir jalan
- suara burung kecil
- aroma gorengan dari warung
- dan angin pagi yang sebenarnya lumayan adem
Hal-hal yang biasanya hilang kalau hidup terlalu ngebut.
Tapi… nasib mahasiswi itu kurang beruntung.
Tidak bisa ikut ujian.
Sore harinya, seorang ibu naik motornya sambil panik.
“Pak cepat ya! Anak saya belum dijemput!”
“Oke.”
Motor berjalan.
Pelan.
Ibu itu hampir pingsan.
“Pak Darto… tolong…”
Pak Darto tetap tenang.
“Tenang Bu.”
“Gimana bisa tenang?!”
Pak Darto menunjuk motor sport yang melesat sangat cepat di depan mereka.
Lima puluh meter kemudian motor itu kena razia polisi.
Pak Darto menghela napas kecil.
“Nah.”
Ibu itu diam.
Motor terus berjalan pelan melewati polisi, kemacetan, dan manusia-manusia yang sibuk mengejar sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum tentu mengerti.
“Pak…” kata si ibu pelan.
“Iya?”
“Kenapa bapak nggak pernah buru-buru?”
Pak Darto berpikir cukup lama.
Lampu merah memantul di kaca helmnya.
Lalu ia menjawab:
“Karena saya pernah hidup terlalu cepat.”
Sunyi kecil muncul.
Motor tetap berjalan pelan.
Tenang.
Seolah dunia masih punya banyak waktu.
Dan entah kenapa…
untuk pertama kalinya hari itu…
si ibu tidak terlalu keberatan terlambat beberapa menit.
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Pagi itu, minimarket kecil di ujung jalan tampak seperti biasa. Lampu putihnya terlalu terang.AC-nya terlalu...
Read MoreDewaBukuJSW
Payung di Dalam Rumah Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Joko mulai membawa payung...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap pagi, sebelum manusia-manusia di gang itu benar-benar bangun, seekor ayam jago sudah lebih dulu...
Read MoreDewaBukuJSW
Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kopinya biasa.Musiknya terlalu pelan.Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu...
Read More