
SERIAL: “MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU”
Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu hal penting:
mesin cuci itu memang bermasalah.
Bukan rusak biasa.
Lebih ke:
“bisa mengeluarkan manusia dari tahun yang salah.”
Pria tua itu kini duduk di atas keranjang laundry sambil memeluk radio kecilnya erat-erat.
Namanya Pak Jajang.
Katanya ia berasal dari tahun 1984.
Ia juga sangat ketakutan pada dispenser air.
“Benda itu nyala sendiri…” bisiknya ngeri.
“Itu dispenser,” jawab Raffi lelah.
“Airnya panas.”
Pak Jajang makin pucat dan berteriak histeris.
“itu ILMU HITAM!!”
Nina duduk santai di atas mesin pengering sambil makan roti.
Raffi menunjuk mesin tua itu.
“Kamu sudah tahu soal beginian?”
“Sedikit.”
“Sedikit gimana?!”
Nina berpikir sebentar.
“Kadang mesin itu nyedot kaus kaki.”
“Itu normal.”
“Kadang juga nyedot waktu.”
Raffi menatap kosong ke plafon, “Waktu?”.
Ia terlalu letih untuk menghadapi hal seperti ini.
Esok paginya, masalah mulai membesar.
Karena ternyata…
Pak Jajang bukan satu-satunya yang keluar dari mesin.
Jam dua dini hari berikutnya, Bu Annisa dari lantai dua masuk ke ruang laundry sebagai ibu-ibu biasa berumur 40 tahunan…
dan keluar tiga menit kemudian sebagai dirinya sendiri versi umur dua puluh tahun.
Ia masih memakai jaket jeans jadul, celana jeans yang kebesaran, dan gaya rambut ala tahun 1998.
Begitu melihat wajahnya sendiri di cermin ruang laundry, ia langsung menjerit.
“ASTAGA AKU MASIH PUNYA PONI.”
Seluruh penghuni apartemen terbangun.
Jeritan Bu Annisa muda setinggi 7 oktaf.
Lengkingan suaranya lebih tinggi daripada Mariah Carey yang hanya 5 oktaf.
Pak satpam sampai naik sambil membawa sapu.
“Kenapa lagi?!”
Raffi menunjuk Bu Annisa muda.
Pak satpam diam.
“Nyonya itu lagi… Saya resign saja ya?”
Namun kekacauan belum selesai.
Karena Bu Annisa muda ternyata jauh lebih galak dibanding versi tuanya.
Ia marah-marah sepanjang pagi karena:
- Wi-Fi lambat
- kopi modern terlalu mahal
- dan orang-orang sekarang terlalu sering memotret makanan
“KENAPA NASI GORENG HARUS DIFOTO DULU?!” bentaknya.
“NASI GORENG ITU DIMAKAN !!!”
Tidak ada yang berani membantah.
Bu Annisa masih bersungut-sungut dengan segala kekesalannya,
“Nasi goreng dipotret, omongan orang malah dimakan. Sungguh terlalu!”
Bu Annisa versi umur 20 tahun memang sangat galak.
Bahkan si anjing penjaga gerbang apartemenpun menutup telinga saat melihatnya.
…dan sejak saat itu grup WhatsApp penghuni apartemen mendadak sepi.
Pak satpam yang sedang membawa sapu mundur perlahan mendekati Raffi.
“Raffi, aku tidak digaji untuk menghadapinya.”
Ketika pak satpam masih bingung, Raffi punya akal.
“Begini saja pak satpam, kita masukin lagi ke mesin cuci.”
“Pasti dia marah dong, Raffi…Supaya apa?”
“Supaya Bu Annisa jadi tua lagi.”
“Ok, Raffi. Aku mengerti.”
Akhirnya dengan segala perjuangan yang berat, mereka berdua melakukannya.
Keesokan paginya…
Cuaca sangat cerah. Matahari pagi terasa hangat.
Pak satpam sedang bercanda dengan Terry.
Hari ini suasana di apartemen sudah berjalan seperti biasa.
Banyak ibu-ibu yang ngerumpi sampai malam.
Masuk ke ruang laundry beramai-ramai.
Mengaktifkan mesin cuci tua itu.
Menekan tombol “Siklus Pengering”.
Memasukkan roti basah. Roti basah menjadi kering.
Mereka berbisik, “Mari kita lakukan.”
Ternyata…
Mereka melakukan suatu “Hal yang Mustahil”
Pokoknya kacau.
Kacau sekali.
Sementara itu Nina tampak semakin nyaman dengan semua kekacauan ini.
Suatu malam ia menyerahkan sebatang coklat pada Raffi.
“Ini buat kamu.”
Raffi membaca bungkusnya.
Tanggal produksinya:
1987.
Ia perlahan mengangkat kepala.
“…Kamu dapat dari mana?”
“Laundry.”
“Kamu ambil makanan dari lorong waktu?!”
Nina membuka bungkus coklat lain.
“Kalau masih belum jamuran berarti aman.”
Raffi menyipitkan matanya, dan berteriak dalam hati…
“KALIMAT ITU TIDAK MENENANGKAN.”
Raffi mencoba satu gigitan.
Namun anehnya…
coklat itu memang enak.
Sedikit berbeda.
Sedikit nostalgia.
Padahal Raffi bahkan belum lahir tahun 1987.
Dua hari kemudian…
situasi berubah dari aneh menjadi sangat bodoh.
Karena sekitar jam tiga pagi, mesin tua itu mengeluarkan seorang ksatria perang lengkap dengan baju zirah, perisai baja, dan pedang panjang.
Pria itu langsung berdiri di tengah ruang laundry sambil berteriak:
“DIMANA AKU?!”
Mesin pengering menjawab:
DERRRRRRKKKK—
Ksatria itu panik.
“SUARA NAGA BESI!”
Ia langsung menghunus pedang dan mencoba menyerang mesin pengering.
Pak satpam yang kebetulan lewat langsung mundur pelan.
“Saya tidak dibayar cukup untuk ini.”
Masalah terbesar muncul saat ksatria itu menemukan lift.
Pintu lift terbuka otomatis.
Ksatria itu menatap ngeri.
“GERBANG SIHIR.”
Lalu menusuk tombol lantai tiga pakai pedangnya.
Lift langsung error.
Seluruh penghuni apartemen terjebak tanpa lift sampai siang.
Bu Annisa tua marah besar.
“INI KENAPA ADA KSATRIA ABAD PERTENGAHAN SEGALA?!”
Raffi mulai pusing.
Ia kurang tidur.
Kurang uang.
Dan sekarang harus menjelaskan konsep apartemen modern kepada pria dari masa perang.
Puncaknya terjadi malam Jumat.
Raffi turun ke ruang laundry dan melihat ksatria itu mencoba menyerang pintu lift lagi.
“Oke,” katanya lelah.
“Kita harus menghentikan semua ini.”
Keesokan harinya seluruh warga apartemen, kecuali penghuni lantai tiga, berkumpul.
Mereka mengadakan rapat darurat di ruang serbaguna lantai bawah.
Rapat berlangsung tiga jam.
Mayoritas isinya:
- saling menyalahkan
- membahas listrik
- dan Pak RT yang terus berkata,
“Saya dari awal sudah curiga sama mesin bukaan depan.”
Nina sempat mengusulkan:
“Kalau dipikir-pikir ini bisa dijadikan tempat wisata sih.”
Usul itu ditolak mentah-mentah.
Terutama setelah ksatria perang mencoba memanggang sosis menggunakan setrika.
Akhirnya semua penghuni sepakat:
mesin itu harus ditutup.
Selamanya.
Mereka memasang papan bertuliskan:
RUSAK
dengan lakban coklat besar di bagian depan mesin.
Dan entah kenapa…
itu terasa seperti solusi paling Indonesia untuk masalah lintas waktu.
Malamnya, Raffi berdiri sendirian di ruang laundry.
Melihat papan “RUSAK” itu membuat hatinya sedikit aneh.
Memang benar beberapa hari terakhir sangat kacau.
Terlalu kacau.
Namun…
sudah lama hidup tidak terasa semenarik itu.
Nina datang membawa sekotak donat.
Ia duduk di atas mesin pengering.
“Mau satu?”
Raffi mengambil satu pelan.
“Dapat dari mana?”
Nina tersenyum kecil.
“Tahun 1998.”
Raffi tertawa kecil untuk pertama kalinya minggu itu.
“Memangnya lebih enak?”
“Jauh.”
Mereka duduk diam beberapa saat.
Suara hujan kecil terdengar di luar gedung.
Lift masih rusak.
Pak satpam sedang bertengkar dengan ksatria perang di lorong lantai dua karena pedangnya dipakai buat gantung handuk.
Lalu Nina berdiri.
“Mau ikut sebentar?”
“Kemana?”
“1998.”
Raffi melihat mesin tua itu.
Melihat papan “RUSAK”.
Melihat donat di tangannya.
Lalu menghela napas kecil.
“…Sekali terakhir saja ya?”
Nina tersenyum lebar.
Mereka berdua menarik papan “RUSAK” itu pelan.
Mesin tua mulai menyala.
Lampu ruang laundry berkedip.
DERRRRRRKKKK—
Dari ujung lorong terdengar suara Pak satpam berteriak:
“JANGAN KE TAHUN 1998 LAGI! KEMARIN LISTRIK GEDUNG MATI DUA HARI!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Raffi dan Nina bersamaan menekan tombol MULAI.
Dan ruang laundry kecil itu kembali dipenuhi cahaya putih aneh…
seolah waktu sendiri sudah terlalu bosan berjalan lurus.
…Bzzt…
Lampu seluruh apartemen padam. Mati total.
The End
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Setiap pagi, sebelum manusia-manusia di gang itu benar-benar bangun, seekor ayam jago sudah lebih dulu...
Read MoreDewaBukuJSW
Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kopinya biasa.Musiknya terlalu pelan.Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap kota besar selalu punya satu pengendara motor yang membuat orang lain mempertanyakan konsep waktu....
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi itu, minimarket kecil di ujung jalan tampak seperti biasa. Lampu putihnya terlalu terang.AC-nya terlalu...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Apartemen "Melati Indah" sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk menyimpan...
Read More