Skip to content

Kisah Hantu Pocong di Konser Sepultura di GBK Jakarta

Malam hari itu, pada tahun 1996 di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta diselenggarakan sebuah Konser Musik Heavy-Metal bertajuk World Tour Sepultura Nonsense of Possessive Alternative-metal-music atau disingkat NPA LIVE 1996 yang sangat spektakuler. GBK saat itu dipenuhi dengan getaran musik heavy metal yang menggelegar. Ribuan penggemar rock berkumpul untuk menyaksikan konser band legendaris asal Brazil, Sepultura, yang tampil di panggung utama. Di antara kerumunan itu, terdapat seorang tokoh yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa – Hantu Pocong.

Pocong itu berada di sana karena hobinya yang unik: mendengarkan musik heavy metal. Lagu yang paling dia sukai dari band Sepultura adalah Territory, Chaos A.D., Roots Bloody Roots, Refuse-Resist, dan sebagainya. Namun, kali ini, dia tidak hanya menjadi penonton biasa. Dia memiliki rencana jahat yang melibatkan Max Cavalera, sang vokalis sekaligus gitaris utama Sepultura.

Sementara itu di sebuah bangunan khusus untuk performers, sekitar 20 meter di belakang panggung, Max Cavalera mengenakan T-shirt pendek berwarna orange, di lengan T-shirtnya ada beberapa garis putih vertikal dipadukan dengan celana tigaperempat berwarna coklat muda yang terkesan santai. Igor memakai T-shirt berwarna merah, Andreas Kisser mengenakan T-shirt biru tua, sedangkan Paulo Jr memakai T-shirt berwarna hitam. Max Cavalera sedang bersiap-siap untuk tampil dikelilingi oleh Igor Cavalera, Paulo Jr, Andreas Kisser dan satu orang asisten pribadinya, yaitu Mas Tukiyo, seorang pemuda yang berasal dari desa Kinahrejo.

‘Halo, Mas Tukiyo, pastikan semuanya berjalan lancar. Saya ingin konser kali ini menjadi yang terbaik!’ ujar Max sambil mengecek gitarnya.

‘Tentu, Pak Max. Semua sudah dipersiapkan dengan baik,’ jawab Mas Tukiyo sambil memberikan senyum yakin.

‘Nanti aku akan membawakan Roots Bloody Roots sebagai lagu pembuka, jadi aku membawa dua stik drum milik Igor. Gitarku ini nanti mau kau taruh dimana, Mas Tukiyo?’ tanya Max kepada asisten pribadinya.

Sang asisten menjawab, ‘di kotak coklat sebelah kanan Drum set, Pak Max.’

‘Baiklah,’ kata Max singkat. Setelah selesai mengecek gitarnya, dia memberikannya kepada Mas Tukiyo. Kemudian Max mengambil sebotol air mineral di tangan Igor dan meminumnya.

Igor tersenyum sambil mengatakan, ‘Habiskan saja nggak apa-apa, Max. Nanti aku ambil lagi di belakang.’ begitulah kata Igor yang disambut acungan jempol oleh Max Cavalera sambil pergi menjauh dari Igor dkk untuk untuk menemukan space dalam rangka pemanasan didekat panggung.

Max mulai stretching dan melakukan pemanasan 15 menit sambil berlari-lari kesegala arah untuk memacu semangatnya di lokasi yang agak jauh, sekitar 20 meter dari posisi Igor dkk. Setelah cukup melakukan pemanasan dia berteriak ‘Guys! kita sudah diminta tampil sekarang. Let’s go!’

Namun, tak disadari oleh siapapun, hantu pocong telah menyusup ke area belakang panggung, bersiap untuk menjalankan rencananya.

Sang MC sudah memanggil band Sepultura untuk segera tampil dan diawali dengan Max Cavalera yang menyambut penonton dengan senyuman khasnya, lalu Igor, Andreas Kisser, dan Paulo Jr berjalan santai diiringi lagu Convicted in Life yang membuat penonton semakin riuh dan bersorak-sorak kegirangan melihat para idola mereka yang sangar-sangar. Hal itu membuat mereka bersemangat sampai ke ubun-ubun.

Sepultura mulai tampil menghentak dengan lagu ‘Roots Bloody Roots’ yang membuat seluruh Headbangers dari depan sampai belakang mengayunkan kepalanya secara serentak tanpa diberi komando, Max Cavalera mengawalinya dengan permainan perkusi yang sangat menghentak, semua pemain sangat kompak dalam permainan lagu Roots Bloody Roots dengan suara berat dari Max Cavalera. Raungan gitar Andreas Kisser membuat penonton serasa disuntik ribuan energi dari gumpalan awan hitam dengan kilatan petirnya. Petikan bass Paulo Jr dan gebukan drum Igor Cavalera serasa meremukkan semua tulang-tulang dada. Begitu menghentak dan memacu adrenalin setiap headbanger di tempat itu.

Ketika Sepultura mulai memainkan lagu pertama mereka, memang atmosfer disana menjadi semakin intens. Ribuan penonton berteriak-teriak dan bergoyang mengikuti irama musik. Headbangers beraksi. Namun, ketika akan memainkan lagu kedua ‘Territory’ tiba-tiba Max merasa ada sesuatu yang aneh ketika dia membuka kotak coklat sebelah kanan Drum set.

‘Mas Tukiyo, di mana gitarku? Aku yakin tadi kamu meletakkannya di sini,’ kata Max dengan wajah panik.

Mas Tukiyo segera bergerak cepat, mencari-cari gitarnya di sekitar panggung. Namun, mereka tidak menemukan apapun.

‘Saya akan cari tahu, Pak Max. Jangan khawatir,’ ucap Mas Tukiyo sambil meninggalkan Max yang semakin gelisah.

‘God damn it! What a hell is going on here!….pergi kemana sih gitar itu…’ umpat Max Cavalera, dia panik dan berkeringat dingin.

Pada saat yang sama Andreas Kisser menoleh kearah Max Cavalera dan mulai memainkan gitarnya sebagai selingan karena saat itu dia mengetahui Max sedang panik tengok kanan kiri mencari gitarnya, Paulo Jr dan Igor secara kompak mengikuti raungan gitar Andreas Kisser untuk melindungi nama baik Max dan Sepultura.

Sementara itu, di tempat yang gelap di belakang panggung, hantu pocong tersenyum puas. Dia berhasil mengambil gitarnya Max dan menyimpannya di tempat yang tidak terduga.

‘Tunggu saja, Max. Gitarmu akan menjadi milikku sebagai kenang-kenangan, dulu aku juga punya yang beginian,’ bisik hantu pocong dengan suara seramnya.

Mas Tukiyo terus mencari-cari, tetapi tak kunjung menemukan keberadaan gitarnya Max. Ketika dia hampir putus asa, dia mencium bau pandan wangi bercampur bau bangkai dan melihat sosok pocong yang menyelinap di balik tenda.

‘Eh, apa itu? Pocong? Apa yang kamu lakukan di sini?’ seru Mas Tukiyo dengan kaget, meskipun agak takut namun dia berusaha berani dengan sekuat tenaganya. Dia harus begitu, karena hanya ada dua pilihan yaitu menemukan gitar milik Max atau dipecat dari pekerjaannya.

Mas Tukiyo sempat memohon, ‘Cong, tolonglah jangan ambil gitar itu, aku masih karyawan baru ini, masih training 3 bulan.’

Pocong itu tersenyum licik. ‘Hehe, maafkan saya, wahai cucu Adam. Saya hanya sedang mencari-cari sesuatu yang hilang dari diri saya,’ ujarnya dengan suara yang agak parau.

Perkataan itu memancing kemarahan Mas Tukiyo karena tidak mau kehilangan mata pencahariannya sebagai asisten Max Cavalera. Dengan kemarahan memuncak dia sudah kehilangan rasa takutnya.

‘Kurang ajar! Jangan main-main, bangsat! Apa yang kamu sembunyikan di balik itu? Berikan padaku cepat!’ kemarahan ini belum pernah terjadi pada Mas Tukiyo, dia menjadi berani karena tidak mau kehilangan pekerjaannya gara-gara masalah ini.

Pocong itu terdiam sejenak, dia tahu kalau Mas Tukiyo sangat marah, namun kemudian dengan cepat dia menghilang ke dalam kegelapan.

Mas Tukiyo segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas keamanan, tetapi mereka tidak bisa menemukan hantu pocong yang menghilang begitu saja.

Sementara itu, di panggung, MC mewawancarai Igor Cavalera, Paulo Junior, dan Andreas Kisser di posisinya masing-masing untuk memberi kesempatan Max beristirahat. Tetapi bukannya beristirahat, Max terus mencari-cari gitarnya yang hilang. Max berjalan mengelilingi panggung tapi tanpa keberhasilan.

‘Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin gitarku bisa lenyap begitu saja?’ tanya Max dengan frustrasi, mengumpat dan teriak-teriak tidak jelas. Untunglah microphone sengaja dimatikan sehingga para penggemar tidak ada yang tahu masalah apa yang sedang terjadi.

Mas Tukiyo mencoba menjelaskan situasi, tetapi Max semakin gelisah. Dia tahu betapa pentingnya gitarnya dalam penampilan mereka.

Di tengah kekacauan itu, hantu pocong muncul lagi di belakang panggung dan menampakkan diri tepat dibelakang drummer Igor Cavalera yang sedang diwawancarai, kali ini pocong itu membawa gitarnya Max yang hilang.

‘Hei, itu gitarku! Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?’ seru Max dengan kaget.

Pocong itu hanya tersenyum dan mengangguk, seolah-olah dia mengerti apa yang dikatakan Max. Pocong itu hanya berkata, ‘Saya merasa tidak enak dengan asisten Anda, tadi dia marah-marah kepada saya…..berarti dia mencintai pekerjaannya.’

Kemudian pocong itu memberikan gitarnya kepada Mas Tukiyo, perasaan Mas Tukiyo sangat bahagia sekali, dia langsung menyerahkannya kepada Max Cavalera. Max segera meraih gitarnya dengan gembira. ‘Mas Tukiyo! Terimakasih,’ ujarnya sambil memeriksa gitarnya.

Mas Tukiyo terkejut. ‘Tapi, Pak Max, berterimakasihlah kepada itu…’ Namun, sebelum mereka bisa menyelidiki lebih lanjut, hantu pocong itu tiba-tiba menghilang lagi, meninggalkan mereka dalam kebingungan. Setelah itu, Max dan timnya kembali ke hotel dengan lega. Mereka masih bingung dengan kejadian aneh di belakang panggung, tetapi mereka memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

‘Terima kasih, Mas Tukiyo. Tanpa bantuanmu, saya tidak akan bisa menemukan gitarku kembali,’ ucap Max dengan tulus.

‘Tidak masalah, Pak Max. Itu bagian dari pekerjaan saya,’ jawab Mas Tukiyo sambil tersenyum.

Namun, di tengah kebahagiaan mereka, Mas Tukiyo merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia masih teringat dengan sosok pocong misterius yang ditemuinya di belakang panggung.

‘Hmm, apa yang sebenarnya terjadi hari ini?’ gumamnya dalam hati, sambil menatap langit malam yang gelap di luar jendela hotel.

Ssjak konser selesai tadi, Mas Tukiyo terus merenungkan kejadian aneh yang baru saja terjadi di belakang panggung. Dia tidak bisa melupakan sosok pocong misterius yang telah menyelinap dan membuat kekacauan dengan mencuri gitarnya Max Cavalera.

Keesokan paginya, Mas Tukiyo berusaha mencari tahu lebih lanjut tentang pocong tersebut. Tanpa sengaja dia menemukan sebuah kartu kredit terbitan salah satu Bank Belanda pada tahun 1889 dan menyelidikinya di tempat kejadian perkara. Ternyata, kartu tersebut bertuliskan nama Rigen Van Gelemann. Tampilan wajahnya sama persis dengan Max Cavalera, boss nya.

Mas Tukiyo terkejut. Nama itu terdengar sangat akrab baginya. Dia kemudian mencari tahu lebih lanjut di internet dan menemukan bahwa Rigen Van Gelemann adalah mantan gitaris rock dari Belanda yang pernah sukses dengan bandnya, The Fast Saut Guitars, pada tahun 1889 di Indonesia.

Rigen Van Gelemann dikenal karena wajah dan fisiknya yang mirip dengan vokalis band Sepultura dari Brazil, Max Cavalera. Dia meninggal dalam kecelakaan tragis ketika hendak meninggalkan Indonesia, dan sejak itu, legenda tentang arwahnya sering kali muncul di antara penggemar musik rock di Indonesia.

Tiba-tiba, semua menjadi jelas bagi Mas Tukiyo. Pocong yang dia temui di belakang panggung kemarin adalah arwah Rigen Van Gelemann yang datang untuk mengambil gitarnya kembali. Dia ingin memenuhi janjinya untuk mengadakan konser di alam baka.

Mas Tukiyo segera memberitahu Max dkk tentang temuannya. Max terkejut dan merasa sedikit terharu mendengar kisah tersebut. Dia beserta Igor Cavalera, Paulo Jr, dan Andreas Kisser memutuskan untuk bertemu dengan arwah Rigen dan memberikan izin untuk mengambil gitar Max sebagai rasa simpati dan respect karena berada di aliran musik yang sama.

Di malam berikutnya, di tempat yang gelap di belakang panggung, Mas Tukiyo, Max, Igor, Andreas, dan Paulo Jr bertemu dengan arwah Rigen. Rigen terlihat tenang dan damai.

‘Maafkan saya, Pak Max, telah merepotkan Anda. Saya hanya ingin memenuhi janji saya untuk mengadakan konser di alam baka,’ ucap Rigen dengan suara yang lembut.

Max tersenyum. ‘Tidak masalah, Rigen. Gitarmu kembali padamu.’

Rigen tersenyum bahagia saat dia mengambil gitarnya. ‘Terima kasih, Pak Max. Ini adalah satu-satunya cara bagi saya untuk merasa hidup kembali.’ Terlihat ada bayangan gitar mirip hologram keluar dari gitar Max Cavalera yang diambil si pocong, bisa jadi itu adalah jiwa dari gitar Max Cavalera. Kemudian gitar Max yang berbentuk fisik langsung menghilang.

Sementara itu, Mas Tukiyo menawarkan bantuan. ‘Rigen, apakah ada yang bisa saya lakukan untukmu?’

Rigen mengangguk. ‘Saya hanya ingin kalian mendoakan agar saya bisa tenang di alam baka. Bisakah Anda melakukannya?’

Mas Tukiyo mengangguk dengan setuju. Dia kemudian mengajak semua anggota Sepultura yang hadir untuk berdoa bersama-sama.

Arwah Rigen Van Gelemann tersenyum penuh rasa syukur saat mereka semua berdoa untuknya. ‘Terima kasih, Mas Tukiyo dan Anda semua, atas semua yang telah kalian lakukan untuk saya. Saya akan selalu mengingatnya. Terimakasih….’

Setelah itu, arwah Rigen menghilang, meninggalkan mereka dalam kedamaian dan ketenangan. Max, Mas Tukiyo, dan semua anggota Sepultura merasa lega karena telah membantu arwah Rigen menemukan kedamaian di alam baka.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati yang lega dan pikiran yang damai, mengetahui bahwa mereka telah membantu seorang arwah menemukan ketenangan yang telah lama dia cari. Dan cerita tentang pocong di konser Sepultura di GBK Jakarta akan menjadi kenangan yang tak terlupakan untuk mereka semua….untuk musik mereka….untuk Sepultura.

================= TAMAT ===================

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Karena Curang Si Udin Kena Batunya

Di sebuah gang sempit di pinggiran kota, ada seorang pedagang bensin eceran bernama Udin. Dengan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pelarian Dari Kota

Pagi di Jakarta Barat selalu datang tanpa upacara. Tidak ada pengumuman, tidak ada isyarat khusus...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta

Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kemiskinan Membawa Slamet Bersekutu Dengan Siluman Kera

Di sebuah desa tua bernama Ngelirip, berdiri sebuah makam kuno yang dijuluki warga sebagai Makam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Misteri Warung Mie Ayam Mang Kosim

Di sebuah sudut kecil di kecamatan Gajah Tunggal, terdapat sebuah warung mie ayam yang sangat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!