Siang itu, suasana Pasar Gede di Solo masih ramai meski matahari sudah tegak di atas kepala. Bau kemenyan samar-samar tercium dari toko sebelah, bercampur dengan aroma ayam goreng, sate kere, dan suara pedagang yang saling bersahutan.
Di pojok pasar, ada sebuah warung kecil yang selalu ramai. Bukan warung bakso atau soto, melainkan warung jamu milik Bu Sarmi, perempuan paruh baya yang dikenal ramah dengan senyumannya. Di warung sederhana itu, botol-botol kaca berisi cairan kuning, cokelat, dan hijau tertata rapi. Ada kunyit asam, beras kencur, pahitan, hingga temulawak.
Hari itu, empat orang berkumpul di warung Bu Sarmi.
Raka, mahasiswa hukum yang kritis.
Laras, mahasiswi kedokteran yang logis.
Ustaz Haris, guru ngaji muda di kampung mereka.
Bu Sarmi, sang penjual jamu, yang sekaligus saksi hidup tradisi puluhan tahun.
“Bu, beras kencurnya satu, ya,” kata Raka sambil duduk di bangku kayu.
“Untuk saya kunyit asam, Bu,” timpal Laras.
Ustaz Haris hanya tersenyum. “Kalau saya, pahitan saja, Bu. Sekalian nambah stamina buat ceramah nanti malam.”
Bu Sarmi terkekeh. “Wah, cocok semua. Jamu itu ibarat sahabat, setiap orang punya pilihan sendiri.”
Saat gelas-gelas jamu mendarat di meja, percakapan pun mengalir.
Raka membuka obrolan dengan nada penasaran.
“Bu Sarmi, saya mau tanya. Katanya jamu itu ada yang mengandung alkohol. Benar nggak, Bu?”
Laras menimpali cepat.
“Betul, Rak. Dari sisi medis, proses fermentasi memang bisa menghasilkan alkohol, meski kadarnya kecil.”
Ustaz Haris mengernyit.
“Kalau begitu, bagaimana hukumnya dalam Islam? Bukankah segala yang memabukkan itu haram?”
Bu Sarmi tersenyum, menuang jamu ke botol kosong untuk pelanggan lain.
“Lho, Nak. Alkohol itu ada macam-macam. Yang ada di jamu itu hasil fermentasi alami. Kadar alkoholnya kecil sekali, jauh dari memabukkan. Bedanya besar sekali dengan minuman keras macam topi miring atau amer itu.”
Raka langsung menimpali dengan nada ingin tahu.
“Jadi, nggak haram, Ustaz?”
Ustaz Haris menarik napas.
“Dalam fikih, khamr itu segala yang memabukkan. Kalau jamu ini kadar alkoholnya sangat rendah dan tidak diniatkan untuk mabuk, jelas beda hukumnya. Tapi sebagian orang masih salah paham.”
Laras menatap serius.
“Tapi masalahnya, banyak orang suka menuding tanpa tahu ilmunya. Seolah semua alkohol itu sama. Padahal dari sisi kesehatan, fermentasi justru bisa menambah manfaat, misalnya probiotik untuk pencernaan.”
Raka ikut mengangguk, tapi menambahkan.
“Tapi kalau ada penjual jamu nakal yang nyampur minuman keras ke dalam jamu, gimana? Itu jelas bahaya, kan?”
Bu Sarmi langsung menepuk meja.
“Naudzubillah, jangan sampai! Itu bukan jamu lagi, Nak. Itu namanya menipu. Saya sendiri paling nggak suka kalau dengar ada yang begitu. Merusak nama jamu.”
Ustaz Haris tersenyum tipis.
“Ya, itulah pentingnya tabayyun. Jangan gampang menuduh. Bedakan antara jamu warisan leluhur dan racikan nakal yang dicampur khamr.”
Seorang bapak tua yang dari tadi mendengar ikut nimbrung.
“Waktu muda, saya sering minum jamu sinom. Rasanya segar, bikin badan enteng. Kalau soal alkohol, saya pikir itu cuma alasan orang yang nggak suka jamu aja.”
Laras terkekeh.
“Betul, Pak. Kadang masalahnya bukan pada jamunya, tapi pada stigma.”
Raka lalu berkata sambil menatap gelasnya.
“Jadi intinya, jamu itu tetap aman, halal, dan menyehatkan selama dibuat sesuai tradisi dan nggak dicampur hal-hal aneh, ya?”
Ustaz Haris mengangguk.
“Benar sekali. Kuncinya niat dan proses. Kalau tujuannya kesehatan, insyaAllah halal.”
Percakapan panjang itu akhirnya menghasilkan sebuah ide.
“Bu Sarmi,” kata Laras penuh semangat, “bagaimana kalau ke depan Bu kasih label kecil di botol jamu? Tulis ‘100% bebas khamr’ atau ‘fermentasi alami, tidak memabukkan’. Itu bisa bikin orang tenang.”
Bu Sarmi tertegun, lalu tersenyum lebar.
“Wah, idenya bagus sekali. Bisa bikin pembeli lebih percaya.”
Raka menambahkan.
“Dan kita bisa bantu kampus mengadakan diskusi soal jamu. Biar masyarakat paham bedanya alkohol dalam jamu dengan minuman keras.”
Ustaz Haris menutup dengan bijak.
“Begitulah cara menjaga warisan budaya: dengan ilmu, kejujuran, dan keterbukaan.”
Matahari mulai condong ke barat. Angin sore membawa aroma pasar yang mulai sepi. Di warung kecil itu, segelas jamu bukan lagi sekadar minuman, melainkan simbol pertemuan antara budaya, ilmu, dan agama.
Raka, Laras, dan Ustaz Haris meninggalkan warung dengan senyum. Sementara Bu Sarmi menatap botol-botol jamunya dengan hati lega, merasa bahwa warisan nenek moyang akan tetap terjaga dengan cara yang bijak.
Dan pada akhirnya, semua sepakat:
Segelas jamu bukan sekadar ramuan, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan. Alkohol dalam jamu tradisional biasanya adalah alkohol dari air tape singkong atau tape ketan yang memang ditujukan untuk dikonsumsi oleh semua umur. Namun yang wajib dihindari adalah apabila jamu itu dicampur khamr seperti amer dan minuman berwarna kuning pekat yang katanya hasil fermentasi beras kencur, itu nggak boleh karena HARAM. Sebenarnya nggak semua jamu mengandung alkohol, semua konsumen bisa bebas memilih apa yang sesuai untuk dirinya. Sekian.
Author Profile
Categories
Related Posts
Di tepian danau desa Karangpandan, sebuah desa kecil yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, danau itu...
Read MoreDewaBukuJSW
Arbella Van Der Wujk Di tengah keramaian kota Amsterdam yang sibuk, terdapat sebuah kafe bawah...
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah desa tua bernama Ngelirip, berdiri sebuah makam kuno yang dijuluki warga sebagai Makam...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta, 4 November 2025.Sore menjelang malam di jalanan yang sepi, di mana lampu jalan mulai...
Read MoreDewaBukuJSW
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...
Read More