Skip to content

Kemiskinan Membawa Slamet Bersekutu Dengan Siluman Kera

Di sebuah desa tua bernama Ngelirip, berdiri sebuah makam kuno yang dijuluki warga sebagai Makam Kethekan. Konon, di malam-malam tertentu, suara jeritan kera menggema dari balik pepohonan beringin raksasa yang menaungi makam. Orang-orang percaya, itu bukan monyet biasa. Mereka adalah arwah para pendosa yang memilih jalan pesugihan, menukar jiwa untuk harta yang tak bertahan lama.

Warga desa menghindari makam itu. Anak-anak dilarang bermain dekat pagar. Namun, bagi sebagian orang yang terdesak kemiskinan, bisikan tentang “pesugihan monyet” terdengar lebih menggoda daripada menakutkan.

Slamet baru berusia 22 tahun. Rambutnya kusut, tubuhnya kurus karena terlalu sering bekerja serabutan. Setiap hari ia mengangkat barang di pasar, malamnya menjadi pekerja bengkel motor kecil. Semua uangnya habis untuk biaya pengobatan ibunya, Bu Tukinem, yang menderita sakit ginjal.

Rumah mereka reyot. Genteng bocor, dinding papan penuh lubang. Saat hujan, air merembes masuk. Slamet sering duduk memandang ibunya yang terbaring, sambil menggenggam tangan keriputnya.

“Met, jangan terlalu berat kerja,” suara Bu Tukinem lemah.
Slamet menggeleng, matanya berkaca. “Kalau aku berhenti, siapa yang bayar obat Ibu? Aku nggak apa-apa, Bu. Asal Ibu sehat lagi.”

Tetangga-tetangga tak pernah memberi penghiburan. Sebaliknya, mereka sering mencibir.
“Anak miskin, kapan bisa kaya? Jangan mimpi!”
“Lha wong kerja cuma kuli, paling hidupmu gini-gini wae.”

Slamet menunduk setiap kali mendengar. Tapi jauh di dalam hatinya, dendam membara. Ia ingin sekali membalikkan hinaan itu.

Di antara semua orang, hanya Mira, sahabat kecil Slamet, yang masih peduli. Mira gadis cerdas, sedang kuliah sambil bekerja di warung. Suatu sore ia datang membawa nasi bungkus.

“Makanlah, Met. Kau butuh tenaga,” katanya lembut.

Slamet menolak halus. “Aku nggak enak terus-terusan nerima darimu.”
Mira tersenyum tipis. “Bukan nerima, Met. Ini namanya saling bantu. Kau itu temanku sejak kecil.”

Diam-diam, Mira menyimpan rasa suka. Tapi ia tahu Slamet terlalu sibuk dengan beban hidup.

Suatu malam, Slamet pulang dari bengkel. Di tikungan gang, sekelompok pemuda mabuk menghadangnya. Di antaranya ada Rafi, teman lama yang suka mistis dan kini dikenal nakal. Dari kejauhan Mira sedang pulang mengaji dibonceng teman perempuannya, sempat melihat mereka sedang membully Slamet.

Para pemuda mabuk itu sempoyongan meliuk-liuk bagaikan boti tak bertulang, kecuali Rafi, karena meskipun Rafi pemuda nakal tetapi nggak suka mabuk-mabukan, hanya minum sedikit untuk menghargai kebaikan temannya.

“Hei, Slamet! Masih miskin juga? Hahaha…”
“Eh, kalau mau kaya jangan jadi tukang angkat barang. Jual dirimu aja!”

Tawa mereka meledak. Slamet mengepalkan tangan, menahan amarah.
“Kalau suatu hari aku kaya, kalian semua bakal menyesal!” bentaknya.

Namun mereka hanya menertawakan lagi. Rasa malu itu menusuk. Malam itu Slamet pulang dengan hati remuk, dan kalimatnya sendiri bergaung di kepala: “Kalau suatu hari aku kaya…”

Beberapa hari kemudian, Rafi mendatangi Slamet. Wajahnya serius.

“Aku tahu cara cepat jadi kaya, Met.”
Slamet menatap heran. “Ngapusi wae, Raf. Mabok kowe.”

“Beneran. Aku nggak mabok, met. Kau tahu makam Kethekan? Banyak yang tiba-tiba kaya setelah ke sana. Itu pesugihan monyet. Tapi harus ketemu juru kuncinya dulu, namanya Pak Kresno. Tapi tenang aja ya. Tenang, kapan-kapan kita kesana atau malam ini juga bisa.”

Slamet terdiam. Hatinya ragu, tapi keputusasaan menekan. “Itu… nggak berbahaya?”
Rafi menyeringai. “Kaya apa pun pasti ada harga. Tapi kalau kau mau, aku ajak malam ini.”

Setelah pertemuan itu, Slamet ragu-ragu apakah dia mengikuti saran itu atau tidak. Ditengah kebingungan dan keraguannya, Slamet menerima pesan whatsapp lewat ponsel tuanya. Rupanya si Mira yang mengirim pesan. “Met, jangan ambil jalan yang salah. Aku khawatir.”
Slamet membalas singkat: “Tenang.”

Ritualpun dimulai….

Tengah malam, Slamet dan Rafi berangkat. Hutan gelap, kabut pekat, suara burung hantu bersahutan. Di depan gerbang makam, berdiri seorang lelaki tua berjubah hitam — Pak Kresno, juru kunci.

“Kalian datang untuk kaya?” suaranya parau.
Slamet mengangguk. “Aku siap, Pak.”
“Siap? Kalau siap, berarti siap kehilangan. Kaya itu murah, tapi nyawa mahal.”

Mereka dibawa ke dalam pendopo batu. Di sana terdapat arca kepala kera dengan mata merah, dikelilingi dupa hitam dan bunga kamboja layu.

Pak Kresno memerintahkan:
“Potong jarimu, teteskan darah ke mangkuk batu. Lalu ikuti mantraku.”

Slamet terperanjat, “maksudnya Pak?”
“Panggil aku MBAH, haruskah kuulangi?” sergah Pak Kresno agak kesal; Akhirnya Slamet dan Rafi memotong satu ruas jari kelingkingnya.

Slamet meneteskan darah, tubuhnya gemetar. Rafi juga. Tiba-tiba udara berubah dingin. Dari kegelapan terdengar suara berat, bergema di kepala Slamet:

“Kau ingin kaya? Aku beri. Tapi jangan melanggar pantangan. Jika kau sentuh perempuan, aku ambil kau bulat-bulat.”

Mata Slamet melebar. Rafi menelan ludah. Tapi keduanya mengangguk.

Sebulan kemudian….

Satu bulan setelah ritual, keajaiban datang. Slamet menemukan amplop berisi jutaan rupiah di depan rumah. Orang asing membayar jasanya berlipat-lipat. Bahkan, motor baru tiba-tiba “hadiah” dari seseorang yang tak dikenal.

Tetangga-tetangga terperangah.
“Wah, Slamet mendadak kaya!”
“Rumahnya sebentar lagi bisa bagus, ya?”

Dua bulan kemudian….

Slamet menjadi orang terkaya dan paling dihormati di kampungnya. Rumahnya berdiri megah bagaikan istana, mobil-mobil mewah berjejer rapi di depan rumahnya, semua itu membuat dia terlena.

Tapi di malam hari, bisikan menghantui.
“Bayar… jangan lupakan janji…”
Kadang Slamet melihat bayangan monyet besar di jendela.

Slamet akhirnya melancarkan dendamnya….

Slamet berpikir keras, siapa yang dijadikan tumbal. “Hmm….siapa….Rafi saja.”

Suatu malam, Rafi menghilang. Esok paginya, warga menemukan tubuhnya di hutan — tercabik, wajahnya ditutupi kain hitam, darah berceceran.

Slamet pucat. Ia tahu ini tumbal pertama. Malam itu ia mendatangi Pak Kresno dengan tubuh gemetar.
“Kenapa Rafi mati?”

Pak Kresno menatap dingin. “Kontrak sudah jelas. Haruskah kujelaskan lagi?”
“Tidak, Mbah” jawab Slamet singkat.

Pada saat perjalanan pulang dari pondokan Pak Kresno, di tengah jalan suara gaib menyusup ke pikiran Slamet: “Kau selanjutnya… atau orang terdekatmu.”

Suatu pagi yang cerah, Mira datang lagi tetapi tidak membawa nasi bungkus seperti dulu. Mira datang hanya untuk mengingatkan si Slamet agar tidak tersesat terlalu jauh. Gadis ini sudah merasakan perubahan besar pada diri sahabatnya.
.
“Slamet, aku takut melihatmu sekarang. Kau bukan Slamet yang dulu.”
Slamet berteriak, “Kau nggak tahu apa-apa! Semua hinaan orang itu….aku balas sekarang!”

Mira menggenggam tangannya, air mata jatuh. “Kau bisa balas dengan cara terhormat. Jangan begini…”

Tapi Slamet menepis, “Aku akan balas mereka dengan caraku sendiri, minggrir!”

Mira didorong kesamping sampai terjatuh, gadis ini hanya bisa menangis tersedu-sedu. Dia tak habis pikir mengapa sahabatnya berubah sekejam ini.

Malam harinya, Slamet berpesta mabuk-mabukan dengan semua tukang pukulnya.

Malam itu, Slamet tak kuasa menahan keinginannya sebagai lelaki. Dia pikir jika kaya raya bisa membeli apapun dan berbuat apapun.

Otak kotor Slamet mulai menerawang kemana-mana dibawah pengaruh alkohol, di otaknya terbayang bentuk tubuh Mira. Tanpa menunggu lama dia mengajak beberapa tukang pukul untuk mendatangi Mira dirumahnya, dan akhirnya Slamet sendiri yang menyeretnya keluar dari rumah malam-malam hingga orang tuanya berusaha melindungi Mira.

Mira hanya mengaduh kesakitan, diseret seperti binatang, “Slamet….tolong, jangan seperti ini…”
“Diam!” bentakan Slamet membuat Mira menangis dan berdoa dalam hatinya supaya dia dan keluarganya selamat dari perilaku Slamet dan orang-orangnya.

Slamet menggertak semua orang disitu, “Kalau ada yang melawan, habisi saja! Ngerti?!”
Semua tukang pukulnya menjawab serentak, “mengerti, Juragan.”

Tetangganya tidak ada yang berani mendekat karena diancam oleh para tukang pukul si Slamet.

Mira hanya bisa menangis, “Slamet, kembalilah kejalan yang benar met…”

Slamet tidak peduli dengan tangisan si Mira, dia langsung membawanya kedalam rumah Mira, dan diluar rumah sudah ada banyak tukang pukul yang mengelilingi bangunan itu untuk menjaga kelancaran urusan majikannya, yang biasa disebut dengan Juragan Slamet.

Ia memeluk Mira erat, mencolek apa saja yang dia lihat. “Tolong, Mira….aku nggak kuat….”

Tapi belum sempat ngapa-ngapain malah terdengar suara monyet besar bergema keras, suaranya keras dan menggelegar….dan tiba-tiba muncullah makhluk hitam besar mengerikan. Berbentuk monyet hitam besar bermata merah, setinggi rumah, sedang melotot kearah Slamet yang setengah bugil.

“KAU MELANGGAR SUMPAHMU, MANUSIA DURJANA!!! LEPASKAN GADIS ITU DAN IKUTI AKU!!! GRRRR…”

Semua tukang pukul Slamet berlari tunggang langgang ketakutan, Mira dan orang tuanya hanya menatap siluman itu dengan ketakutan.

Mira: “Ayah, ijinkan aku pergi sebentar.” ~ Rupanya Mira berniat membuntuti kemana siluman itu membawa Slamet pergi. Tujuan Mira hanya ingin menyadarkan sahabatnya agar kembali ke jalan yang benar.

Tampak dari kejauhan, Mira melihat Slamet dicengkeram oleh tangan siluman monyet raksasa itu melangkah pelan, sedemikian besarnya sampai bumi tempat Mira berpijak terasa bergetar. Rupanya siluman itu melemparkannya ke sungai….BYUURRRR….Slamet diceburkan disitu.

Siluman itu berkata dan lenyap dalam sekejap, “MANDI DAN PERGILAH KE MAKAM SEKARANG!!!”

30 menit kemudian….

Rupanya Slamet terlupa sesuatu….ini malam satu Suro, dengan penuh rasa takut dia pergi ke makam sendirian. 15 meter dibelakangnya ada Mira yang mengikutinya dengan hati-hati. Pak Kresno lenyap. Di pendopo, sosok siluman monyet raksasa yang tadi muncul: bulu hitam kusam, gigi bertaring, dengan mata merah membara.

Slamet berlutut. “Ampuni aku! Ambil semua harta ini, jangan nyawaku!”
Siluman itu tertawa santai. “Kau sudah memilih. Kaya adalah kesepakatan, mati adalah pembayaran.”

Tiba-tiba tanah di bawah Slamet retak. Tubuhnya ditarik masuk. Ia menjerit, tulang-tulangnya patah, darah menyembur. Suara jeritannya terdengar hingga gerbang.

Mira, yang diam-diam mengikutinya, menjerit melihat tubuh Slamet keluar dari tanah dalam keadaan hancur, wajahnya nyaris tak dikenali. Esok pagi, warga menemukan mayat Slamet di depan makam. Semua harta kekayaannya hilang seperti ditelan bumi.

Mira berdiri di depan pusara Slamet, menangis. “Kau hanya ingin dihargai… tapi memilih jalan salah.”

Sejak hari itu, makam Kethekan ditutup rapat. Namun, di malam sunyi, beberapa warga bersumpah masih mendengar tawa monyet menggema dari hutan.

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Acara Makan-makan Termegah Untuk Jenderal Min Aung Hlaing

Di sebuah restoran mewah di pusat ibu kota Naypyidaw, suasana haru dan tegang berbaur saat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Petualangan DewaBuku dalam Mengungkap Misteri Portal Rahasia

Di lereng Gunung Merapi yang berkabut, terdapat misteri yang tersembunyi sejak zaman dahulu kala. DewaBuku,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
BUKAN BOCIL LAGI

DAFTAR TOKOH UTAMA Sasti Larasati (19 tahun) – Protagonis Mahasiswi Politeknik ternama di Surakarta, jurusan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta

Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Misteri Warung Mie Ayam Mang Kosim

Di sebuah sudut kecil di kecamatan Gajah Tunggal, terdapat sebuah warung mie ayam yang sangat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!