
Jakarta, 4 November 2025.
Sore menjelang malam di jalanan yang sepi, di mana lampu jalan mulai menyala satu per satu seperti nyawa kecil yang berkelip di tengah kabut tipis. Sebuah motor listrik hitam berhenti di depan papan kayu tua bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Waringin.” Huruf-hurufnya pudar, sebagian terkelupas oleh waktu dan debu.
Di atas motor itu, seorang pria berdiri tenang. Rambut hitam sebahunya bergoyang diterpa angin lembab dari sawah. Ia mengenakan jaket kulit berkerah bulu putih yang tampak berat di bawah sinar jingga sore. Di wajahnya, kacamata hitam menutupi pandangan, dan masker hijau muda menutupi ekspresi. Nama pria itu adalah Dewa Buku — seorang jurnalis yang lebih sering dipercaya oleh arsip daripada oleh manusia.
Udara desa terasa aneh. Terlalu hening. Tak ada suara ayam, tak ada tawa anak-anak. Hanya gemerisik daun beringin besar di kejauhan, seperti napas panjang yang ditahan bumi. Dewa Buku menatap arah pohon itu dari kejauhan — berdiri sendirian di pinggir sawah, menjulang tinggi dan tua, akar-akarnya menjalar ke tanah seperti urat yang mencari jantung dunia.
Ia menyalakan perekam kecil di saku jaketnya. Suara klik terdengar pelan. Lalu ia berjalan menyusuri jalan berbatu, melewati rumah-rumah kayu yang berlumut dan pintu-pintu yang tertutup rapat. Setiap langkahnya menggema di antara udara yang terlalu sunyi. Ia sadar, rasa takut di desa ini bukan tentang malam — tapi tentang sesuatu yang hidup di bawahnya.
Beberapa warga memperhatikannya dari balik tirai. Tatapan mereka bukan ingin tahu, tapi waspada. Ada keheningan sosial di sini, semacam kesepakatan tak tertulis bahwa ada hal-hal yang tak boleh dibahas bahkan ketika sudah menjadi bagian dari sejarah.
Dewa Buku berhenti di depan warung kecil yang tampak masih buka. Seorang perempuan muda, sekitar akhir dua puluhan, sedang menurunkan kursi plastik ke dalam. Wajahnya lembut, tapi matanya menyimpan bekas kehilangan. Di papan nama kecil tergurat tulisan “Warung Bu Sari”.
Perempuan itu adalah Sari Widyaningsih, warga asli desa ini. Ia hidup bersama ibunya yang lumpuh dan mengajar di TK desa yang hampir tak punya murid.
Malam pertama Dewa Buku di Kampung Waringin berjalan lambat. Ia menginap di rumah kosong milik seorang warga yang sudah pindah ke kota. Dari jendela kamar, ia melihat siluet pohon beringin berdiri di bawah bulan separuh. Angin malam membawa aroma tanah basah dan getah tua, dan di antara desir angin, ada sesuatu — samar tapi jelas — seperti tawa anak-anak yang menirukan nada hujan di atap seng.
Ia terjaga hampir semalaman.
Setiap kali menutup mata, ia melihat bayangan masa kecilnya: sebuah siang terang dua puluh tahun lalu, adiknya yang tertawa di dekat pohon beringin yang sama… dan kemudian hilang, tanpa jejak, tanpa suara, tanpa alasan.
Kini, dua dekade kemudian, Dewa Buku kembali ke tempat itu — bukan untuk mencari tubuh, tapi untuk mencari arti dari kehilangan yang menolak mati.
Pagi datang dengan kabut yang enggan pergi. Di tengah kabut itu, Dewa Buku berjalan ke balai desa, membawa catatan dan kamera kecil. Pak Rendra, kepala desa yang sudah menjabat lebih dari tiga puluh tahun, menyambutnya dengan senyum yang terlalu hati-hati. Balai itu berbau kayu tua dan asap dupa. Di dinding tergantung foto-foto hitam putih para pendiri desa, tapi satu bingkai di pojok kanan tampak kosong, seperti ada wajah yang sengaja dihapus.
Pak Rendra menjelaskan sekilas tentang sejarah Kampung Waringin — bagaimana pohon beringin menjadi simbol pelindung, bagaimana setiap keluarga menaruh sesaji di bawahnya setiap bulan purnama. Tapi ketika Dewa Buku menanyakan soal laporan anak-anak yang hilang, suara Pak Rendra mendadak serak. Ia mengubah topik dengan cepat.
Dewa Buku mencatat semuanya dalam hati: nada, gerak mata, bahkan jeda napas. Penghindaran adalah bentuk pengakuan lain yang tak pernah tertulis.
Siang harinya, ia mengunjungi area sawah di belakang desa. Di ujung jalan tanah, beringin tua berdiri seperti menara sunyi. Batangnya begitu besar hingga tiga orang dewasa tak akan cukup untuk memeluknya. Di akar-akar yang melingkar seperti ular raksasa, ada bekas sesaji: bunga kenanga layu, dupa padam, dan mangkuk kecil berisi air kelapa yang sudah mengering.
Di salah satu sisi akar, ia menemukan coretan samar di batang bawah pohon:
“Kami tidak mati. Kami hanya menunggu.”
Tulisan itu nyaris tertutup lumut. Dewa Buku mengusapnya dengan jari, dan udara di sekitarnya berubah dingin seketika. Burung-burung berhenti berkicau.
Dari arah belakang, angin membawa bisikan kecil, suara anak-anak yang berlari di antara daun-daun kering. Ia berbalik cepat, tapi tak ada siapa pun. Hanya kabut yang bergulung di antara akar-akar besar, seolah menelan waktu itu sendiri.
Sore turun perlahan, membawa warna oranye yang murung di langit. Di jalan menuju rumah sewa, Dewa Buku bertemu Bu Ratna, dukun desa yang dikenal aneh tapi disegani. Perempuan itu menatapnya lama, lalu berkata lirih — tak seperti peringatan, tapi seperti doa terbalik.
Kata-kata itu membuat Dewa Buku diam. Ia tahu dari nada suaranya, perempuan itu tahu lebih banyak daripada yang ia mau katakan.
Malamnya, Sari datang mengetuk pintu. Wajahnya pucat, dan tangannya menggenggam sesuatu yang kecil. Di telapak tangannya ada potongan sepatu anak-anak, sudah kering dan hancur dimakan waktu. Ia menemukannya di dekat pagar bambu beringin sore tadi. Ukurannya kecil — sekitar ukuran kaki anak berumur tujuh atau delapan tahun.
Dewa Buku memandangi benda itu lama.
Dalam diam, ingatan masa lalunya muncul: sepatu yang sama pernah dipakai adiknya dulu. Warna dan bentuknya serupa, bahkan bekas jahitannya identik. Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak — kemungkinan bahwa adiknya bukan hanya salah satu korban, tapi mungkin korban pertama.
Ia menulis catatan panjang malam itu, dengan kalimat pembuka:
“Kampung Waringin adalah tempat di mana waktu menolak berjalan lurus. Setiap napasnya adalah gema dari masa lalu yang belum usai.”
Namun sebelum menutup buku, ia mendengar sesuatu.
Suara langkah kecil di luar jendela. Pelan, berulang, seperti anak kecil yang berlari di tanah becek. Ia menatap ke luar — hanya ada kabut. Tapi di antara kabut itu, sesuatu tampak bergerak, seperti bayangan kecil berambut panjang.
Dan di balik kaca jendela, ada bekas tangan mungil yang menempel, meninggalkan jejak tanah di permukaan dingin.
Dewa Buku tak beranjak. Ia menatap tanda itu lama, sebelum akhirnya menutup buku catatannya.
Udara di dalam kamar menjadi berat, seakan seluruh rumah ikut menahan napas.
Di luar, suara tawa anak-anak terdengar lagi — kali ini lebih dekat, seolah mereka berlari mengitari rumah sambil memanggil nama seseorang.
Nama yang sudah dua puluh tahun tak diucapkan siapa pun.
Pagi berikutnya, desa berubah seperti tak terjadi apa-apa. Anak-anak yang tersisa berangkat sekolah, ayam berkokok, dan warga bertegur sapa dengan nada sopan yang dibuat-buat. Tapi di tanah dekat beringin, Dewa Buku menemukan hal baru — sepotong papan kayu kecil yang menancap di tanah basah, di antara akar besar yang terjalin seperti urat nadi bumi.
Tulisan di papan itu:
“Dilarang mengganggu yang sedang tidur.”
Ia menatap tulisan itu lama. Hujan mulai turun tipis-tipis, menimbulkan aroma tanah yang menusuk. Di sela rintik hujan, ia melihat sesuatu bergerak di balik akar — bukan binatang, bukan manusia. Seperti tangan kecil yang perlahan menyentuh tanah dari bawah, sebelum menghilang lagi.
Dewa Buku menatap lama ke arah akar itu. Ia tahu ini bukan sekadar mitos. Ini bukan sekadar kisah rakyat. Sesuatu di dalam tanah itu masih hidup — atau setidaknya, belum selesai.
Dan ia merasa, entah mengapa, bahwa pohon itu tahu namanya.
Sore harinya, ia kembali ke rumah Sari. Udara dalam rumah itu dipenuhi aroma kayu dan dupa. Di dinding tergantung foto lama keluarga: seorang anak laki-laki kecil berumur tujuh tahun berdiri di bawah pohon beringin sambil tersenyum. Tulisan di bawah foto itu hampir pudar, tapi masih terbaca: “Arfan — 2005.”
Sari hanya duduk diam di pojok ruangan, menatap api kecil di tungku. Di luar, kabut mulai turun lagi. Dewa Buku mencatat semua detail dalam buku lapangannya — setiap aroma, setiap tanda, setiap perasaan samar yang muncul dari ruang itu.
Namun malam itu, sebelum ia pergi, angin berembus lewat jendela dan memadamkan api. Dalam gelap, suara anak kecil terdengar jelas: bukan dari luar rumah, tapi dari bawah lantai kayu.
Dan ketika Dewa Buku menatap ke arah jendela, di luar sana, di bawah cahaya remang bulan setengah, pohon beringin tampak bergerak — bukan karena angin, tapi seperti bernafas.
Malam semakin dalam.
Pukul dua dini hari, langit gelap tanpa bintang. Dewa Buku bangun karena suara samar dari arah luar rumah. Ia mengambil senter dan berjalan ke halaman. Kabut menutup seluruh pandangan, membuat dunia tampak seperti lembaran mimpi yang basah.
Ia berjalan ke arah pohon beringin, menembus kabut dengan langkah pelan namun pasti. Senter di tangannya memantulkan cahaya ke batang pohon yang kasar dan dingin. Di situ, sesuatu memantul balik — sebuah potongan kaca kecil, tertanam di kulit pohon seperti mata.
Ia mendekat, dan menemukan bahwa kaca itu adalah pecahan dari kacamata anak-anak.
Ketika ia menyentuhnya, udara bergetar. Dari dalam tanah terdengar suara lirih seperti nyanyian, nyaris seperti gumaman doa anak-anak yang belum selesai diucapkan.
Dewa Buku berdiri terpaku, dan di antara akar besar di kakinya, tanah perlahan bergeser, membentuk celah kecil seperti napas yang dihembuskan dari dalam bumi. Aroma lembab bercampur dengan sesuatu yang lain — seperti wangi bunga kenanga dan darah tua.
Senter di tangannya bergetar, dan cahaya menyorot sesuatu di antara akar: potongan kain seragam sekolah dasar, dan di sampingnya, boneka kecil tanpa kepala.
Ia menunduk perlahan.
Sinar senter menelusuri tanah lembek itu hingga akhirnya berhenti di sesuatu yang berkilat: peluit logam kecil berukir huruf “B.”
Ia mengenalinya seketika — peluit itu pernah ia berikan pada adiknya dua puluh tahun lalu, tepat sebelum anak itu menghilang.
Dewa Buku menatap benda itu lama, tubuhnya kaku seperti patung.
Di sekitarnya, udara membeku.
Daun-daun beringin bergetar tanpa angin, dan di antara suaranya, muncul tawa lembut, seolah dari dunia lain.
Tawa itu pelan, manis, tapi mengandung sesuatu yang menakutkan — karena terdengar seperti suara yang pernah ia cintai.
Episode 1 berakhir di sana — dengan Dewa Buku berdiri di bawah beringin tua, peluit kecil di tangan, dan bisikan yang memanggil namanya dari dalam tanah.
Malam Jakarta tak pernah terasa sejauh ini dari kehidupan kota.
Di Kampung Waringin, waktu berhenti, dan masa lalu mulai membuka matanya.
Bersambung ke PART 2 – BAYANGAN DI BAWAH BERINGIN
Author Profile
Categories
Related Posts
Rombongan pemuda dari Jakarta itu tampak begitu antusias saat mereka tiba di kaki Gunung Lawu,...
Read MoreDewaBukuJSW
Pada suatu hari di Jakarta, Indonesia, tahun 2024, kejutan tak terduga terjadi. Albert Einstein muncul...
Read MoreDewaBukuJSW
Hari beranjak senja… Langit sore itu berwarna jingga pucat di Desa Sumberjati, sebuah desa kecil...
Read MoreDewaBukuJSW
Tokoh Utama: 1. Hulk Hogan: -mantan pegulat profesional WCW -ahli memanfaatkan kekuatan dan kecepatannya untuk...
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah sudut kecil di kecamatan Gajah Tunggal, terdapat sebuah warung mie ayam yang sangat...
Read More