Skip to content

Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 2)

Pasar Johar tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah. Pagi itu, wajahnya lebih pucat dari biasanya. Angka-angka di papan harga berubah seperti cuaca yang tak lagi bisa ditebak. Beras medium melonjak menjadi Rp4.500.000 per karung lima kilogram, minyak goreng tembus Rp750.000 per liter, telur ayam ras Rp320.000 per butir. Orang-orang berhenti menawar. Mereka hanya bertanya pelan, lalu pergi dengan langkah yang lebih pelan lagi.

Bu Suci datang lebih pagi. Matanya cekung, tapi langkahnya mantap. Ia membawa buku kecil berisi catatan belanja dan hutang — buku yang semakin tebal isinya, semakin tipis harapannya. Ia mendekati lapak Pak Noto.

“Pak…” suaranya tertahan.

Pak Noto tersenyum, tapi senyumnya kali ini patah di tengah. “Harga naik lagi, Bu. Tapi timbangan saya tetap sama.” Ia meletakkan segenggam cabai di atas timbangan tua. Jarumnya berhenti di angka yang jujur.

Kejujuran, di masa krisis, adalah kemewahan.


Di sebuah kantor ber-AC tak jauh dari Kota Lama, Rangga menatap grafik di layar. Garisnya menanjak. Ia menyesap kopi mahal dan tersenyum.

“Pasar selalu bereaksi berlebihan,” katanya pada asistennya. “Tugas kita hanya menjaga arus. Aku heran, kenapa para pedagang itu ribut soal harga-harga naik? Nggak perlu seperti itu, harga naikpun nggak bermasalah buat kita kan?”

Arus, baginya, berarti suplai yang dikunci, gudang yang ditahan, dan kabar yang disebar setengah benar. Ia tahu nama Pak Noto. Ia tahu lapak kecil itu menjadi simbol perlawanan yang berbahaya — bukan karena besar, tapi karena “menular”.

“Datangi dia,” perintah Rangga. “Tawarkan kerja sama. Kalau menolak, buat dia kehabisan barang.”


Di warungnya, Bu Suci memasak dengan takaran yang lebih hemat. Ia mengurangi porsi, mengganti menu, menghapus sambal dari daftar — ironis, di negeri yang terbiasa pedas.

Pelanggan datang dengan wajah-wajah lama dan uang yang baru — baru dicetak, katanya. Bu Suci melayani sambil tersenyum, meski di kepalanya berhitung cepat: “Jika hari ini rugi, besok harus bagaimana?”

Anaknya, Ayu, duduk di sudut, menggambar cabai berwarna emas. “Bu, cabainya mahal ya?”

Bu Suci mengangguk. “Mahal, Nak. Tapi bukan cabainya yang bikin mahal. Keadaannya.”


Sore itu, dua orang rapi mendatangi lapak Pak Noto. Mereka berbicara pelan, terlalu pelan untuk pasar.

“Pak Noto, Bapak pedagang baik. Kami ingin membantu,” kata salah satunya. “Pasok dari gudang kami. Harga ikut pasar.”

Pak Noto menimbang kata-kata, lalu menggeleng. “Kalau ikut pasar yang gila, saya ikut gila.”

Orang kedua menyahut, “Pak Noto, Bapak ini idealis. Tapi idealisme nggak bisa kasih makan keluarga. Pikirkan lagi tawaran kami.”

Pak Noto menatap mata mereka satu per satu. “Keluarga saya lebih suka makan nasi jujur daripada nasi haram.” Mereka saling pandang, lalu yang pertama berkata, “Baiklah, Pak Noto. Kami hargai pilihan Bapak. Tapi jangan salahkan kami kalau besok Bapak kesulitan cari barang.”

“Kesulitan itu sudah makanan sehari-hari saya,” jawab Pak Noto dengan tenang.
Mereka pergi tanpa marah. Di krisis, ancaman tak pernah berteriak.

Malam harinya, Bu Suci datang ke lapak Pak Noto. Wajahnya tampak lelah.
“Pak Noto, saya dengar tadi ada yang datang menawarkan kerjasama?” tanyanya.
Pak Noto mengangguk. “Iya, Bu. Tapi saya tolak.”

“Kenapa, Pak? Siapa tahu itu jalan keluar,” kata Bu Suci dengan nada khawatir.
“Jalan keluar memang banyak, Bu. Tapi tidak semua jalan membawa kita ke tempat yang benar,” jawab Pak Noto. “Saya tidak mau ikut bermain dengan mereka yang menaikkan harga seenaknya.”
Bu Suci terdiam sejenak. “Tapi, Pak, kalau Bapak tidak ambil barang dari mereka, Bapak bisa kehabisan stok.”

“Saya tahu, Bu. Tapi saya percaya, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalaupun saya harus rugi, biarlah rugi karena kejujuran,” kata Pak Noto dengan mantap.
Bu Suci tersenyum tipis. “Saya salut sama Bapak. Saya jadi malu sendiri, kemarin sempat berpikir untuk menaikkan harga sedikit.”

“Tidak apa-apa, Bu. Kita semua sedang kesulitan. Yang penting, kita tetap berusaha untuk tidak ikut-ikutan menjadi jahat,” kata Pak Noto sambil memberikan seperempat kilogram cabai merah keriting kepada Bu Suci, “Kebetulan istri saya di rumah memiliki persediaan cabai berlebih, jadi sayang banget kalo rusak. Ambillah ini Bu Suci, nggak perlu bayar.” kata Pak Noto sambil tersenyum ramah seperti biasanya.

“Maksud Pak Noto ini gratis? Apa nggak rugi nanti?” tanya Bu Suci ragu.
Pak Noto kembali tersenyum, “Berbuat baik itu tidak menghitung rugi atau untung, Bu Suci….Ambillah.”

“Terimakasih sekali, Pak Noto. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu ini.” Bu Suci bukan main senangnya menerima cabai gratis itu. Lalu dia berpamitan untuk mulai menjaga warungnya.

Langit agak mendung, tetapi mendung tak berarti akan turun hujan dengan segera, setidaknya untuk saat ini.

BERSAMBUNG KE EPISODE 3

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 3 Tamat)

Keesokan harinya, semua menjadi lebih menyakitkan hati para ibu rumah tangga, para pedagang, dan para...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Ketika Cabai Menjadi Mata Uang (Episode 1)

Namanya Bu Aung San Suci. Orang-orang Pasar Johar lebih sering memanggilnya singkat saja: Bu Suci....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!