Skip to content

Bayang Hijau yang Tergerus

Indonesia, tahun 1935. Di tengah lebatnya hutan Kalimantan, suara gemerisik daun dan kicauan burung menyatu menjadi irama alam yang damai. Hutan itu bukan hanya paru-paru dunia, tapi juga simbol kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Program reboisasi yang dijalankan pemerintah Hindia Belanda telah menjaga kehijauan hutan ini selama puluhan tahun. Setiap pohon yang ditebang, diganti dengan bibit baru; setiap tanah yang gundul, segera disuburkan kembali.

Di desa kecil bernama Muara Tanjung, hidup seorang pemuda bernama Jaka. Ia adalah penjaga hutan sekaligus juru pelihara program reboisasi yang dijalankan oleh pemerintah kolonial. Jaka memiliki tubuh kekar dan wajah yang teduh, dengan mata yang penuh cinta pada alam. Setiap pagi, ia berkeliling menanam bibit dan memantau kondisi hutan.

Suatu hari, saat Jaka tengah menanam bibit pohon meranti, ia bertemu dengan seorang pria muda yang baru saja tiba di desa. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dan topi beanie, dengan kacamata hitam dan masker hijau muda yang menutupi separuh wajahnya. Ia memperkenalkan diri dengan suara ramah, “Halo, aku DewaBuku. Aku sedang melakukan penelitian tentang sejarah dan kondisi hutan di Indonesia.”

Jaka menatapnya dengan penasaran. “Apa yang membuatmu tertarik dengan hutan kami, DewaBuku?”
DewaBuku tersenyum. “Aku ingin memahami bagaimana hutan ini bisa tetap hijau dan asri selama masa penjajahan, dan apa yang terjadi setelah Indonesia merdeka nanti. Aku yakin ada cerita penting di balik semua ini.”

Percakapan mereka berlanjut, dan perlahan DewaBuku mulai memahami betapa berharganya upaya reboisasi yang selama ini dilakukan. Namun, bayangan gelap mulai muncul di horizon. Lompatan waktu membawa mereka ke tahun 1950, lima tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia, tahun 1950. Hutan Kalimantan yang dulu asri mulai kehilangan warna hijaunya. Penebangan liar dan penggundulan hutan semakin marak. Bukan untuk kebutuhan rakyat atau pembangunan negeri, melainkan demi memperkaya diri segelintir orang yang mengabaikan nasib alam dan masa depan bangsa.

DewaBuku kembali ke desa Muara Tanjung dan bertemu lagi dengan Jaka, yang kini terlihat lebih lelah dan penuh kekhawatiran.
“Jaka, apa yang terjadi dengan hutan ini?” tanya DewaBuku dengan suara berat.
Jaka menghela napas. “Setelah kemerdekaan, aturan dan pengawasan melemah. Banyak yang menebang pohon secara liar, dan barang-barang itu dijual ke luar negeri dengan harga mahal. Mereka dapat kayu hampir gratis, sementara kita hanya bisa melihat hutan yang tergerus.”
Dalam perjalanan pulangnya, DewaBuku berbicara dengan seorang pejabat pemerintah lokal, Pak Wijaya.

“Pak Wijaya, mengapa keadaan ini bisa terjadi? Bukankah dulu ada program reboisasi yang ketat?” tanya DewaBuku.
Pak Wijaya menatap jtanpa tujuan ke kejauhan. “Dulu, saat masa Hindia Belanda, memang ada aturan ketat yang menjaga hutan. Tapi setelah kemerdekaan, banyak pihak memanfaatkan kekosongan aturan dan lemahnya pengawasan untuk mencari keuntungan pribadi. Hutan kita menjadi korban kerakusan manusia.”

Indonesia, tahun 1952. Desa Muara Tanjung berubah. Hutan yang dulu lebat dan rimbun perlahan berubah menjadi tanah gundul yang berdebu. Suara gemerisik daun digantikan oleh dentuman mesin gergaji dan truk-truk yang lalu-lalang membawa kayu ke pelabuhan.
Jaka berdiri di pinggir jalan tanah yang kini menjadi akses pengangkutan kayu. Wajahnya suram, matanya menyiratkan kelelahan dan kekhawatiran. Di balik tunas-tunas bibit yang dulu ia tanam, kini hanya tersisa tanah kering dan bekas jejak roda kendaraan besar.

Suatu sore, DewaBuku datang kembali ke Muara Tanjung. Ia membawa kamera dan buku catatan yang selalu ia bawa dalam penelitiannya. Ia ingin mengumpulkan bukti dan cerita dari warga tentang perubahan yang terjadi. Di warung kecil, ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya bernama Sriyatun, yang dikenal sebagai pedagang kelontong sekaligus saksi bisu perubahan desa.
“Pak Jaka bilang, dulu hutan ini hijau dan penuh kehidupan. Sekarang, kayu yang dibawa pergi itu hilang tanpa jejak. Tapi kami yang tinggal di sini merasakan dampaknya, Bu Sri,” kata DewaBuku sambil membuka pembicaraan.

Sriyatun mengangguk pelan. “Benar, Pak. Dulu, kami bisa memetik buah hutan, menangkap ikan di sungai yang jernih, dan bernapas dengan lega. Tapi sekarang, sungai mulai keruh, hasil hutan makin sedikit, dan udara terasa panas.”
DewaBuku mencatat setiap kata dengan seksama. “Menurut ibu, siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan ini?”

Sriyatun menatap tajam. “Tidak semua orang bisa melakukan ini. Ada perusahaan besar yang datang dengan izin pemerintah. Tapi ada juga yang menebang secara liar, entah siapa mereka. Yang jelas, kami rakyat kecil yang paling merasakan penderitaannya.”

Di sisi lain desa, Jaka bertemu dengan seorang pria bernama Herman, pengusaha kayu yang mulai menguasai wilayah itu. Herman tampak sukses dan berwibawa, tapi tatapannya menyimpan sesuatu yang dingin dan penuh ambisi.

“Pak Jaka, saya dengar Anda masih berusaha menjaga sisa-sisa hutan ini,” ujar Herman dengan nada setengah mengejek.

Jaka menatap balik, “Saya hanya ingin hutan ini tetap hidup untuk generasi mendatang, bukan hanya jadi sumber kekayaan segelintir orang.”

Herman tersenyum sinis. “Dunia ini bisnis, Pak. Kalau mau bertahan, Anda harus belajar bermain sesuai aturan. Atau, Anda akan kehilangan semuanya.”

Suatu malam, DewaBuku dan Jaka berkumpul di bawah cahaya remang lentera. Mereka membicarakan langkah berikutnya.
“Jaka, kita harus cari cara agar suara kita didengar. Kalau tidak, hutan ini akan terus hilang, dan rakyat kecil makin menderita,” kata DewaBuku serius.
Jaka mengangguk. “Aku setuju. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Pemerintah tampaknya sudah terpengaruh oleh kekuasaan dan uang.”
DewaBuku membuka buku catatannya. “Aku punya ide. Aku akan menulis dan mempublikasikan kisah ini. Dunia harus tahu, bahwa di balik kemerdekaan, ada kisah kelam yang tersembunyi di balik pohon-pohon yang tumbang.”

Jaka tersenyum lemah. “Kalau itu yang terbaik, aku akan membantumu. Kita harus berani melawan.”
Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Herman dan kelompoknya mulai memberi tekanan. Surat ancaman datang ke rumah Jaka dan warung Sriyatun. Truk-truk kayu semakin banyak berlalu lalang, dan suara mesin gergaji semakin menggema.

Di tengah ketegangan itu, DewaBuku bertemu dengan seorang wartawan muda bernama Lila, yang tertarik dengan kisah mereka.
“Ini berita yang harus aku angkat,” kata Lila penuh semangat. “Jika kisah ini sampai ke media nasional, mungkin akan ada tekanan untuk menghentikan penebangan liar.”
DewaBuku tersenyum. “Bersama, kita bisa membuat perubahan, Lila.”

Waktupun terus berlari, hingga satu tahun kemudian….

Indonesia, tahun 1953. Tekanan semakin berat. Surat ancaman dan intimidasi datang silih berganti kepada Jaka, Sriyatun, dan DewaBuku. Namun, semangat mereka tak pernah padam. Lila, wartawan muda yang gigih, berhasil mengangkat kisah mereka ke media nasional. Berita tentang penggundulan hutan yang merajalela dan penebangan liar yang merugikan negeri menjadi perbincangan hangat.

Kabar ini menarik perhatian pejabat tinggi pemerintah. Sebuah tim investigasi dibentuk untuk menelusuri kasus tersebut. Namun, di balik itu, Herman dan kelompoknya melakukan segala cara untuk menggagalkan upaya ini, termasuk menyuap dan mengancam para pejabat.
Suatu malam, di tengah hujan deras, Jaka dan DewaBuku bertemu dengan Lila di sebuah rumah tua di pinggir kota. Mereka membahas strategi terakhir.
“Kita harus buktikan dengan data dan saksi yang kuat,” kata Lila. “Aku sudah mengontak beberapa warga yang berani bicara.”
DewaBuku mengangguk. “Kita juga harus siapkan dokumentasi lengkap, supaya tidak ada celah bagi mereka untuk mengelak.”

Tiba-tiba, pintu diketuk keras. Seorang pria berpakaian gelap masuk, wajahnya tersembunyi di balik topi.
“Ini untuk kalian,” katanya, meletakkan amplop tebal di meja.
Jaka membuka amplop itu dan menemukan tumpukan dokumen rahasia yang membongkar jaringan korupsi di balik penebangan liar tersebut. Dokumen itu memperlihatkan keterlibatan pejabat tinggi dan pengusaha besar yang selama ini mengeruk kekayaan dari hutan Indonesia secara ilegal.

Malam itu, mereka sadar bahwa perjuangan ini bukan hanya soal hutan, tapi juga soal keadilan dan masa depan bangsa. Beberapa minggu kemudian, hasil investigasi resmi diumumkan. Banyak pejabat dan pengusaha terciduk dalam kasus korupsi dan penebangan liar. Pemerintah mulai memperketat aturan dan menjalankan program reboisasi secara besar-besaran.

Di Muara Tanjung, Jaka dan Sriyatun melihat bibit-bibit baru tumbuh di tanah yang dulu gundul. Hutan perlahan kembali hijau, membawa harapan baru. DewaBuku menatap pemandangan itu sambil tersenyum. Ia tahu perjuangan belum selesai, tapi langkah kecil ini adalah awal dari perubahan.

DewaBuku akhirnya kembali ke sebuah lokasi dimana dia meletakkan portal mesin waktunya, dan bergumam pelan, “Ternyata penebangan liar sudah sejak dulu terjadi. Ya sudahlah….aku harus kembali pulang ke tahun 2025.”

DewaBuku segera mengaktifkan panel yang menempel pada generator elektrik mini sebesar kaleng kerupuk dan beberapa detik kemudian muncul bulatan cahaya biru terang sebesar pintu rumah, DewaBuku melangkah kesana dan ZAPP!!! dia menghilang beserta generator mesin waktunya.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Dari masa lalu hingga masa kini, kita harus waspada terhadap keserakahan yang bisa merusak warisan bumi. Hutan bukan hanya sumber kekayaan, tapi juga jiwa bangsa yang harus kita lestarikan demi generasi mendatang.

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
PART 2 - BAYANGAN DI BAWAH BERINGIN

Hujan turun deras malam itu, menenggelamkan suara jangkrik dan menyapu aroma tanah yang baru digali....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
KORAN PAGI YANG TAK PERNAH SELESAI DIBACA

Tahun 2009 adalah tahun yang terasa biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi Dinda, tahun itu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Aroma yang Tak Terlihat

Pukul empat sore di Malioboro, langit sore tampak berwarna tembaga. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fine Dining Yang Tidak Benar-Benar Fine

Donald Trump, mantan presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan gaya flamboyannya, sedang berkunjung ke Indonesia...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta

Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!