Skip to content

PART 2 – BAYANGAN DI BAWAH BERINGIN

Hujan turun deras malam itu, menenggelamkan suara jangkrik dan menyapu aroma tanah yang baru digali. Di bawah beringin tua itu, Dewa Buku masih berdiri dengan peluit kecil di tangannya. Di langit, kilat menyambar sesekali, menyingkap wajahnya yang basah, separuh karena hujan, separuh karena air mata yang tak sempat ia sadari.

Bumi di sekitar pohon itu terasa hidup — berdenyut pelan, seperti jantung yang berdetak jauh di bawah permukaan. Setiap tetes hujan yang jatuh ke akar besar seolah berubah menjadi gema langkah kaki kecil yang datang dari bawah. Dewa Buku merasakan hawa dingin menjalar dari sepatu hingga ke tulang punggung.

Ia tahu satu hal: ini bukan lagi sekadar investigasi. Ini adalah panggilan.

Ia berjongkok dan menatap ke dalam celah di antara akar besar. Cahaya senternya menembus kegelapan, memperlihatkan sesuatu yang berkilat di dalam lumpur. Ia menyibak tanah perlahan — potongan logam, serpihan kaca, sisa kain yang menempel pada akar yang sudah mengeras seperti batu. Semuanya seolah ditelan waktu. Tapi di antara itu semua, ada sesuatu yang baru.

Sebuah ukiran kecil di akar kayu, seperti dibuat dengan kuku atau benda tajam. Tulisan itu hanya tiga kata:

“Bukan mereka yang hilang.”

Tiga kata itu menampar logikanya.
Siapa “mereka”?
Dan siapa yang menulis pesan ini di tempat yang tak mungkin dijangkau manusia biasa?

Ia menatap tulisan itu lama. Dalam keheningan yang basah, angin tiba-tiba berhenti. Daun-daun tak bergerak. Hujan pun seolah menahan diri.
Dari dalam lubang akar, suara kecil terdengar — pelan, serak, seperti seseorang yang mencoba berbicara dari balik air.

Suara itu memanggil namanya.
“Dewa…”
Lembut. Patah. Tapi sangat nyata.

Dalam sekejap, masa dua puluh tahun kembali padanya: sore terakhir sebelum adiknya, Bayu, menghilang di bawah pohon yang sama. Saat itu, Dewa remaja berjanji akan menjemput adiknya setelah pertandingan bola di lapangan desa. Tapi ia terlambat. Ketika ia tiba, yang tersisa hanya sepatu kecil dan peluit di tanah.

Kini suara itu muncul lagi.
Sama. Tak berubah sedikit pun.

Keesokan paginya, Dewa Buku terbangun dengan pakaian yang masih basah oleh hujan semalam. Ia mendapati peluit Bayu di meja kayu, berkilau di bawah cahaya pagi. Tidak ada bekas lumpur lagi, tidak ada karat. Seolah benda itu dibersihkan oleh tangan seseorang di malam hari.

Ia menatap sekeliling — rumah sewa itu kosong, tapi terasa aneh. Papan lantai kayu berderit pelan, dan aroma dupa yang tak pernah ia nyalakan memenuhi udara.

Di dapur, ia menemukan secangkir teh panas yang masih beruap di atas meja.
Ia tahu: seseorang sudah masuk ke rumah itu.
Atau sesuatu.

Ia memeriksa rekaman kamera kecil yang ia pasang malam sebelumnya di jendela. Namun file pertama hilang. File kedua hanya menampilkan siluet kabur seorang anak kecil berdiri di depan beringin sambil menatap ke arah kamera — wajahnya tak terlihat, tapi matanya memantulkan cahaya seperti kaca basah.

Sari datang menjelang siang dengan ekspresi lelah dan ketakutan.
Ia membawa kabar buruk — Bu Ratna, sang dukun desa, ditemukan tewas dini hari di dekat akar beringin. Tubuhnya kaku dengan mata terbuka, tangannya menggenggam sesuatu yang keras dan berdarah: sebuah potongan akar kecil berbentuk tangan manusia.

Kematian itu membuat warga panik. Tapi anehnya, tak ada yang mau bicara terbuka. Mereka hanya menutup pintu, menyalakan dupa, dan menatap tanah dengan pandangan kosong. Desa seolah mengubur ketakutan di bawah adat.

Dewa Buku memutuskan pergi ke rumah Bu Ratna sebelum polisi datang. Rumah itu kecil, dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah retak. Di atas meja, ia menemukan buku tua dengan sampul kulit berwarna cokelat gelap. Halamannya berisi tulisan tangan rapi bercampur simbol aneh, seolah catatan ritual.

Salah satu halaman bertuliskan:

“Pohon beringin bukan hanya penjaga, tapi juga penjara. Ia menyimpan apa yang seharusnya tidak dibangkitkan. Jika akar itu terbuka, masa lalu akan mencari bentuk baru.”

Catatan itu ditulis dua minggu lalu.
Artinya, Bu Ratna tahu sesuatu akan terjadi.

Menjelang sore, Dewa Buku pergi ke perpustakaan kabupaten mencari arsip lama. Di sana ia menemukan berita tahun 1983: “Empat anak hilang di Kampung Waringin, diduga terseret arus sungai.” Tapi anehnya, tidak ada sungai di peta desa itu.

Ia juga menemukan foto hitam putih pohon beringin yang sama — namun di belakangnya, tampak bangunan tua seperti reruntuhan candi. Di bawah foto, tertulis: “Lokasi pemindahan altar Waringin Lama — 1972.”
Altar?
Candi?
Dan apa hubungannya dengan hilangnya anak-anak?

Dewa Buku kembali ke desa sebelum malam turun. Ia menunjukkan foto itu pada Sari. Gadis itu menatap foto lama itu lama, lalu terisak pelan. Ia pernah mendengar cerita dari ibunya: sebelum tahun 1972, di bawah pohon itu memang ada pintu batu, semacam lorong menuju bawah tanah. Tapi sejak desa diguyur banjir besar, pintu itu terkubur, dan warga dilarang menggali lagi.

Sari menambahkan satu hal: ibunya dulu adalah salah satu dari anak-anak yang hampir hilang. Ia ditemukan pingsan di dekat beringin dengan mata terbuka dan tubuh dingin seperti mayat, tapi masih hidup. Sejak hari itu, ibunya tak pernah bisa bicara lagi.

Dewa Buku menyadari pola yang sama:
setiap dua puluh tahun, sesuatu dari bawah beringin akan memanggil anak-anak. Dan sekarang, waktunya hampir tepat — tahun 2025.

Malam ketiga di desa menjadi malam terpanjang dalam hidupnya.
Langit merah, bulan tertutup awan tebal, dan angin berembus dengan suara yang mirip tangisan. Dewa Buku menyiapkan kamera, perekam suara, dan senter infra merah. Ia berjalan sendiri menuju pohon beringin dengan langkah pasti.

Di tengah jalan, ia melihat bayangan anak kecil berlari di antara kabut. Langkahnya ringan, tapi suaranya bergema seperti dalam ruang besar.
Ia mengikuti bayangan itu hingga sampai di depan pohon. Di sana, di bawah akar yang sama, ada cahaya samar dari dalam tanah — kehijauan dan berdenyut seperti napas makhluk hidup.

Tanah di bawahnya mulai retak perlahan, mengeluarkan aroma basah bercampur wangi dupa dan tanah tua. Dari celah itu, suara-suara muncul.
Anak-anak bernyanyi.
Lagu sederhana, tapi setiap kata terdengar seperti mantra pembuka pintu dunia lain.

Dewa Buku menyalakan perekamnya, tapi semua perangkat elektronik mendadak mati. Hanya peluit Bayu di kantongnya yang tetap dingin, seperti menarik hawa dari sekitarnya. Ia mengambilnya dan meniup pelan. Suaranya nyaring dan jernih — tapi gema yang kembali bukanlah suara peluit, melainkan suara tangisan anak-anak dari dalam tanah.

Tiba-tiba akar besar berguncang. Tanah di bawahnya terbelah, memperlihatkan celah besar seperti lubang vertikal menuju bawah bumi. Dari lubang itu muncul tangan-tangan kecil yang berlumur tanah, seperti berusaha memegang udara.

Dewa Buku ingin berlari, tapi langkahnya tak bisa digerakkan. Udara di sekitarnya menekan, dan cahaya di sekeliling berubah warna menjadi hijau pucat. Di antara tangan-tangan itu, satu wajah kecil muncul — wajah Bayu, adiknya, dengan mata terbuka lebar dan senyum yang hancur di antara lumpur.

Namun wajah itu bukan wajah manusia. Kulitnya terlalu pucat, matanya terlalu dalam, dan suaranya terlalu tenang untuk anak-anak.
Ia berkata tanpa membuka bibir:

“Kau akhirnya datang.”

Dewa Buku terjatuh ke belakang, napasnya tersengal. Tapi sesuatu di dalam dirinya tetap menatap ke arah wajah itu. Antara rasa takut dan penyesalan yang bercampur, ia akhirnya berkata dalam hati bahwa ia tidak akan lari kali ini.

Ia melangkah maju dan memegang tangan kecil itu. Dingin, tapi nyata.
Dalam sekejap, dunia di sekelilingnya berubah.

Ia tidak lagi berada di bawah beringin, tapi di dalam ruang gelap penuh akar yang berkilat seperti urat darah. Di dinding-dinding tanah itu, wajah anak-anak muncul satu per satu, sebagian tersenyum, sebagian menangis. Suara mereka bergema seperti paduan suara yang menuntut untuk diingat.

Bayu berjalan di antara mereka, memegang peluit yang sama. Ia menatap kakaknya dan berkata dengan suara yang bukan suara manusia:

“Mereka tak menginginkan keadilan. Mereka ingin dikenang.”

Dewa Buku berlutut. Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia menyadari bahwa semua anak yang hilang bukan dibunuh, bukan dikorbankan — melainkan disembunyikan. Pohon itu menyimpan mereka, menjadikan mereka bagian dari akar.
Mereka hidup di antara lapisan waktu, menjadi saksi dari dosa orang-orang dewasa yang dulu menebang bagian suci tanah ini untuk membangun desa.

Bayu menatap kakaknya sekali lagi, lalu menunjuk ke arah tanah di bawah mereka — ada batu besar dengan ukiran aneh, mirip pintu. Di batu itu tertulis:

“Yang menggali akan menggantikan.”

Dewa Buku menyentuh batu itu, dan dalam sekejap semua suara lenyap. Dunia kembali gelap.

Pagi berikutnya, warga menemukan pohon beringin tetap berdiri, tapi tanah di sekitarnya berubah bentuk. Ada tonjolan besar di akar utama, seperti seseorang dikubur di dalamnya. Polisi datang, namun tak ada tanda-tanda manusia.

Hanya sebuah benda kecil ditemukan di bawah akar: kacamata hitam, jaket kulit hitam berkerah bulu putih, dan peluit logam berinisial “B.”

Sari berdiri di pinggir jalan, menatap pohon itu lama.
Ia tahu Dewa Buku tidak mati.
Ia hanya berpindah — menjadi bagian dari apa yang selama ini ia cari.

Malamnya, angin berembus dari arah beringin, membawa bisikan samar.
Suara Dewa Buku terdengar di antara dedaunan:

“Beberapa rahasia tidak untuk diungkap… tapi untuk dijaga.”

Dan di bawah sinar bulan, pohon beringin tampak sedikit berbeda.
Akar-akar barunya tumbuh lebih tebal, dan jika diperhatikan seksama, ada sesuatu di dalam batangnya — bayangan pria berkacamata hitam yang seolah tersenyum tenang di balik serat kayu.

TAMAT

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
BUKAN BOCIL LAGI

DAFTAR TOKOH UTAMA Sasti Larasati (19 tahun) – Protagonis Mahasiswi Politeknik ternama di Surakarta, jurusan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Aroma yang Tak Terlihat

Pukul empat sore di Malioboro, langit sore tampak berwarna tembaga. Cahaya matahari menembus sela-sela dedaunan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta

Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Bumi Bulat yang Tidak Sepenuhnya Bulat

Pukul sembilan pagi di kafe kecil yang menempel di sisi barat taman kota, udara masih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!