Bab 1: BAYANGAN PERTAMA
Malam-malam awal….
Malam itu, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Petir sesekali menyambar, menerangi langit gelap yang suram. Tepat di sebuah ruang apartemen milik Bu Fitri, seorang remaja 17 tahun bernama Nadia duduk di meja belajarnya, menekuni buku Biologi yang menumpuk di hadapannya. Dia adalah gadis remaja yang cantik, berambut hitam pendek, kulit sawo matang tapi bersih, tinggi 160 cm, suka digendong, rasa ingin tahunya besar, cerdas, usil, cerewet, pinter, tapi sedikit ceroboh. Kamar mungilnya hanya diterangi lampu meja yang remang. Sesekali ia melirik keluar jendela, ke arah apartemen sebelah yang temaram.
“Apartemen itu masih kosong, kan?” Nadia bergumam pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, di balik kaca jendela kamar di apartemen sebelah, dia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan. Sebuah bayangan.
Siluet seseorang yang berdiri di sana, diam, menatap langsung ke arah Nadia.
“Mungkin cuma halusinasi,” Nadia berbisik, mencoba meredam rasa takutnya. Tapi tatapan bayangan itu terasa nyata.
Keesokan paginya, saat sarapan bersama ibunya, Nadia mencoba menceritakan apa yang ia lihat semalam. Ibunya adalah seorang perempuan yang cantik, pendiam, protektif, berusia 40-an tetapi bentuk tubuhnya masih sangat indah dan kencang, kebiasaannya adalah menyimpan rahasia di tempat yang tidak terduga.
“Ibu, kenapa dulu ibu membeli apartemen ini memilih yang lantai 5? Kenapa nggak lantai 4 atau lantai satu?” Nadia bertanya dengan penasaran sambil memperhatikan Bu Fitri yang sedang membaca sebuah surat dengan kertas jadul.
“Uang Ibu nggak cukup, Nad…..hanya cukup untuk beli yang lantai 5 ini.” jawab Bu Fitri sambil melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop.
“Ibu, apartemen sebelah itu kosong, ya?” tanya Nadia sambil menuangkan teh ke cangkirnya. Bu Fitri, ibunya, mengangkat alis. “Setahuku sih begitu. Kok penasaran banget kamu, Nad? Kenapa tanya begitu?”
“Semalam aku lihat ada bayangan orang di jendela kamar sebelah.” Nadia menatap ibunya, berharap mendapat penjelasan yang masuk akal.
Bu Fitri tertawa kecil. “Mungkin cuma refleksi atau orang lewat di lorong. Jangan terlalu dipikirin, ya.”
“Tapi, Bu…” Nadia ingin menanggapi, tapi ibunya sudah berdiri sambil membereskan piring-piring di meja.
Sepulang sekolah, Nadia menemui sahabatnya, Rio, di kantin. Rio adalah teman sekelas Nadia yang berani, cool, kadang cerewet, skeptis, dan logis, berambut keriting, tinggi 165 cm, memakai kacamata, suka menyelidiki hal-hal aneh, dan tidak suka disentuh oleh siapapun terutama perempuan, termasuk oleh sahabatnya sendiri. Suasana kantin sangat ramai oleh siswa yang bercanda dan makan siang, tapi Nadia merasa tidak tenang.
“Rio, gue mau cerita,” katanya setelah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
Rio menyesap es tehnya sambil menatap Nadia dengan penasaran. “Apa lagi? Jangan bilang lo ngelihat hantu, ini udah 2025, Nad…..gue lebih percaya program MBG dihapus daripada yang begituan. Kalo pemerintah menghapus program MBG karena nggak ada gunanya, itu gue baru bisa percaya.”
“Bukan, Rio…..gue nggak ngomongin hantu, tapi… semalam gue lihat bayangan di apartemen sebelah. Yang katanya kosong itu.”
Rio mengernyit. “Serius lo? Mungkin ada yang nyewa diam-diam?”
Nadia menggeleng. “Nggak mungkin. Ibu gue bilang apartemen itu kosong sejak lama.”
Rio menatap Nadia lebih serius sambil mengaduk-aduk es tehnya dengan sedotan. “Hmm, lo tahu apa yang bikin apartemen itu kosong?”
“Aku nggak tahu. Tapi aku penasaran. Mungkin kita bisa cari tahu?”
Rio tersenyum kecil. “Lo ngajak gue buat jadi detektif? Oke, gue ikut, asal lo nggak kabur duluan nanti.”
Nadia tersenyum lemah. Meski sedikit lega karena Rio mau membantunya, perasaan takut tetap mengganjal. Bayangan itu, entah kenapa, terasa lebih dari sekadar pantulan cahaya.
Malam kedua…..
Setelah Rio pulang dari rumahnya, Nadia mencoba menenangkan diri dengan membaca novel di tempat tidur. Namun, ketika dia melihat ke jendela, bayangan itu kembali. Kali ini, lebih dekat.
“Siapa kamu?” bisik Nadia, meskipun dia tahu itu sia-sia. Jantungnya berdegup kencang. Dia meraih ponsel dan mencoba memotret bayangan itu, tetapi saat kamera diarahkan, bayangan itu menghilang. Dia memandang keluar jendela sekali lagi, dan kali ini, bayangan itu tidak ada. Namun, Nadia mendengar sesuatu. Sebuah ketukan pelan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan itu datang dari arah apartemen sebelah, meskipun antara unit Nadia dengan apartemen sebelah ada space lebar untuk anak tangga turun ke lantai 4 dan seterusnya tapi ketukan itu amat jelas terdengar di telinganya. Rasa dingin menjalari tubuhnya. Sesuatu di sana mencoba menghubunginya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sana?” tanyanya dalam hati. Pertanyaan itu menjadi awal dari misteri panjang yang akan dia dan Rio ungkapkan.
Sedianya malam ini Nadia bisa belajar dengan nyaman, tapi gara-gara bayangan di jendela di sebelah sana, dia nggak bisa tenang dalam berpikir. Unit apartemen yang ditempati Nadia ini dibeli oleh Bu Fitri, ibunya, sejak beberapa tahun yang lalu, suasananya tenang dan nyaman meskipun agak jauh dari tetangga dikarenakan memang gedung apartemen 63 lantai ini tergolong gedung baru jika dibandingkan dengan gedung-gedung apartemen lainnya yang sudah berdiri belasan tahun.
“Kuharap Rio sehat dan nggak keberatan dengan permintaanku,” Nadia berharap dalam hatinya, karena hanya Rio, seorang sahabat yang bisa memahaminya.
Bab 2: PENASARAN YANG TERNYATA BENAR
Hujan kembali turun sore itu. Nadia dan Rio berdiri di depan lobi apartemen. Udara dingin menusuk kulit, dan bau tanah basah menyebar di sekitar mereka. Nadia menggigil, bukan hanya karena cuaca, tetapi juga karena pikirannya yang terus berkutat pada bayangan di jendela.
“Lo yakin mau ngecek ini?” tanya Rio sambil menarik hoodie-nya lebih erat ke kepala. “Gue bukannya takut, ya, tapi kalau sampe kita ketangkep satpam, lo yang gue salahin.”
Nadia mengangguk mantap, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. “Harus. Gue nggak bisa tidur tenang kalau nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di apartemen sebelah itu.”
Mereka masuk ke lobi apartemen yang sepi. Suara hujan terdengar sayup-sayup melalui pintu kaca besar di belakang mereka. Di meja resepsionis, Pak Ridwan sedang duduk santai sambil membaca koran. Lelaki itu, dengan tubuh gemuk dan kumis tebal, tampak tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Umur Pak Ridwan 50-an, ramah tapi mudah gugup.
“Permisi, Pak Ridwan,” sapa Nadia sambil tersenyum. “Boleh tanya sesuatu?”
Pak Ridwan menurunkan korannya dan menatap mereka dengan tatapan lelah. “Ada apa, Dik? Mau tanya soal apartemen lagi?”
“Iya, Pak,” jawab Nadia cepat. “Apartemen sebelah kamar saya itu kosong, kan?”
Pak Ridwan mengerutkan dahi, tampak bingung. “Iya, kosong. Udah setahun lebih nggak ada yang tinggal di situ. Kenapa nanya?”
Rio menyela, suaranya penuh rasa ingin tahu. “Tapi, Pak, temen saya semalam lihat bayangan di jendela apartemen itu. Kalau kosong, siapa yang ada di sana?”
Pak Ridwan terdiam sesaat, lalu tertawa kecil, tapi nada suaranya terdengar gugup. “Mungkin cuma pantulan cahaya, atau bayangan dari luar. Jangan mikir aneh-aneh. Kalian ini terlalu banyak nonton film horror.”
Nadia tidak menyerah. “Pak, siapa penghuni terakhir apartemen itu?”
Mata Pak Ridwan tiba-tiba mengeras. “Nggak ada hubungannya sama kalian, ya. Jangan tanya-tanya soal itu lagi.”
Nadia dan Rio saling bertukar pandang, merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
“Pak Ridwan,” Nadia mencoba melunak. “Kalau memang ada yang aneh, kami cuma mau bantu, kok. Biar apartemennya nggak serem lagi.”
Pak Ridwan menggeleng dengan tegas. “Dengar, ya. Kalian masih muda. Jangan main-main sama hal yang kalian nggak ngerti. Kalau ada apa-apa, saya nggak mau tanggung jawab. Sudahlah…..kalian masih sekolah kan? Tugas kalian belajar, belajar, dan belajar…..jangan repot-repot ngurusin sesuatu yang…………….
Keseluruhan Ebook Novel ini berisi 10 Bab, tekan gambar secangkir cappuccino untuk mendownloadnya dalam bentuk Ebook.
Author Profile
Categories
Related Posts
Fantasi Misteri dari Hutan Randu Blatung, Blora – Tahun 2025 Di dalam hutan tua Randu...
Read MoreDewaBukuJSW
Deskripsi: (Sebuah novel thriller-filosofis karya Dewa Buku JSW) Jakarta, tahun 2037.Langitnya bukan lagi biru. Dari...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi itu, Yuli sedang berjalan di gang kecil menuju warung sembako. Tubuhnya dibalut pakaian sederhana:...
Read MoreDewaBukuJSW
Saat itu langit malam di Moskow berwarna kelabu pekat, dihiasi titik-titik salju yang turun perlahan,...
Read MoreDewaBukuJSW
Deskripsi: "Langit yang Tak Pernah Tidur" bercerita tentang Asep Kusumah, calon astronot pertama Indonesia dari...
Read More