Skip to content

Perjuangan Yuli Dari Biasa Jadi Luar Biasa

Perjuangan_Yuli_Dari_Biasa_Jadi_Luar_Biasa

Pagi itu, Yuli sedang berjalan di gang kecil menuju warung sembako. Tubuhnya dibalut pakaian sederhana: kaus lengan panjang yang longgar dan rok panjang warna polos. Dia baru selesai membantu ibunya di dapur, dan wajahnya yang natural ~ tanpa makeup atau polesan bedak ~ sering menjadi bahan olokan muda-mudi di kampung.

“Eh, lihat deh si Yuli. Anak D3 kok penampilannya kayak emak-emak,” bisik seorang gadis, Tika, yang dikenal suka berdandan glamor di kampung.

“Boro-boro mau kerja di bank, liat aja ke salon aja nggak pernah!” tambah Desi, sambil tertawa cekikikan bersama teman-temannya.

“Nggak punya uang dia, daripada buat beli kosmetik mendingan buat makan hahahahaha….” rupanya Tika ikut menimpali, disambut tawa renyah semua temannya. Melihat Yuli hampir melewatinya, Tika menarik lengan Yuli dengan kasar dan bertanya,”Yuli, kemarin dagangan ibu kamu sepi ya? berarti tadi malam kalian nggak bisa makan dong?”

“Iya,” Yuli hanya bisa menjawab sambil menunduk sedih.
“Tuh kan? Kenapa nggak jual diri aja Yul? hahahahahaha….” Desi tertawa mengejek sambil mendorong Yuli hingga terjatuh. Yuli memang sudah dari kemarin tidak bisa makan, tubuhnya lemas tapi dia segera bangun dan berjalan menjauhi mereka sambil menangis.

Dari kejauhan Yuli masih bisa mendengar tawa mereka, tapi pura-pura tak peduli. Di dalam hatinya, ia merasakan nyeri. Ia tahu mereka sedang menertawakannya, tapi memilih untuk tetap melangkah. Setelah membeli bahan sembako, Yuli pulang dengan pikiran yang berkecamuk. Mimpinya menjadi akuntan di bank besar memang terdengar mustahil bagi orang-orang di kampung. Tapi bagi Yuli, itu adalah cita-cita yang akan ia perjuangkan.

Di malam hari, Yuli duduk di depan laptop bekas yang ia beli dengan menabung selama dua tahun. Ia terus mencari informasi lowongan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

“Aku harus berusaha, nggak ada yang nggak mungkin,” gumamnya pelan sambil memandang foto almarhum ayahnya di sudut meja.

Keesokan harinya, Yuli kembali ke pasar untuk membantu ibunya berjualan. Sekali lagi, ejekan terdengar.

“Yuli, nggak cape bantu-bantu aja di pasar? Katanya mau kerja di bank, tapi malah di sini terus,” sindir Desi sambil pura-pura membeli sayur.

Yuli menatap Desi dengan tenang. “Aku memang bantu ibu dulu. Toh nggak ada yang salah dengan kerja keras.”

Desi terdiam sejenak, tak menyangka Yuli akan menanggapi dengan tenang. Biasanya, Yuli memilih diam atau berlalu.

Tapi sore itu, Yuli merasakan beban lebih berat. Ia menyendiri di halaman belakang rumahnya, meresapi kata-kata yang ia dengar seharian. Namun, tekadnya semakin kuat. Ia bertekad membuktikan bahwa dirinya bukan seperti yang mereka pikirkan. Menggunakan sedikit uang yang ia kumpulkan, ia melamar pekerjaan secara online ke bank terbesar di Asia Tenggara.

Klik disini untuk mendownload cerita lengkap berbentuk PDF

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Bayang Dibalik Jendela (Misteri Pembunuhan Mirna Pratiwi)

Bab 1: BAYANGAN PERTAMA Malam-malam awal.... Malam itu, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Petir sesekali...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Langit Yang Tak Pernah Tidur

Deskripsi: "Langit yang Tak Pernah Tidur" bercerita tentang Asep Kusumah, calon astronot pertama Indonesia dari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Rendang Ditengah Diplomasi

Saat itu langit malam di Moskow berwarna kelabu pekat, dihiasi titik-titik salju yang turun perlahan,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
VAKSIN 2125

Ketika obat batuk menjadi alat pengendali umat manusia. Tahun 2125.Negara Konoha berdiri megah di atas...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mikroplastik Dibalik Awan Mendung Jakarta

Deskripsi: (Sebuah novel thriller-filosofis karya Dewa Buku JSW) Jakarta, tahun 2037.Langitnya bukan lagi biru. Dari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!