Saat itu langit malam di Moskow berwarna kelabu pekat, dihiasi titik-titik salju yang turun perlahan, seolah enggan menabrak bumi. Suhu merayap di bawah nol, dan angin berhembus lirih membawa aroma musim dingin yang dingin namun damai. Di tengah hiruk pikuk ibu kota Rusia yang sibuk, berdiri sebuah restoran kecil di sudut Jalan Arbat, dengan papan kayu tua bertuliskan “Rasa Nusantara – Authentic Indonesian Cuisine”.
Dari luar, restoran itu terlihat sederhana: lampion bambu menggantung di bawah kanopi salju, sementara asap tipis mengepul dari cerobong dapur, membawa aroma santan dan rempah yang menggoda. Tapi siapa sangka, malam itu restoran kecil itu menjadi tempat berkumpul tiga tokoh paling berkuasa di planet ini.
Di dalam ruangan, cahaya kuning lembut dari lentera rotan membuat suasana hangat. Dinding dihiasi kain batik dan foto-foto Indonesia — sawah hijau, pantai Bali, dan rumah gadang di Minangkabau. Ada empat meja kayu besar di sudut ruangan, tapi hanya satu meja di tengah yang ditempati: meja persegi panjang dari kayu jati, mengilap seperti baru dipoles minyak kelapa.
Beberapa menit kemudian, malam turun pelan-pelan di kota Moskow, menutupi langit dengan selimut awan tebal berwarna abu keperakan. Butiran salju kecil berjatuhan dari langit, menari-nari di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan. Suhu turun hingga minus sepuluh derajat Celsius, tapi di dalam restoran kecil bernama “Rasa Nusantara”, kehangatan justru mengalir dari setiap sisi ruangan.
Restoran itu tidak besar, tapi eksklusif ~ sebuah rumah makan Indonesia yang sudah lama jadi rahasia kecil di antara para diplomat asing. Jendela-jendela kaca tebalnya berembun, sebagian tertutup tirai batik. Di luar, salju menumpuk di ambang jendela, namun di dalam, aroma santan, serai, dan daun jeruk menebar ke seluruh ruangan.
Empat meja kayu jati besar berdiri di empat sudut ruangan. Di tengahnya, ada satu meja panjang berbentuk persegi, terbuat dari kayu mahoni tua, mengilap karena lilin yang menyala di atasnya. Di meja itulah malam itu, tiga orang paling berpengaruh di dunia duduk berdampingan.
Donald Trump duduk di sisi tengah meja, mengenakan jas biru tua dengan dasi merah mencolok. Rambut pirangnya yang khas tampak kaku, mungkin karena udara dingin. Di sebelahnya, Kim Jong Un mengenakan mantel hitam panjang dengan kancing emas, wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya. Sementara di sebelah mereka, seorang lelaki dengan tatapan tajam dan langkah penuh percaya diri baru saja duduk — Vladimir Putin.
Tiga pemimpin dunia, dalam satu meja, di satu restoran Indonesia terpencil di jantung Moskow.
“Jadi ini… rendang?” Trump bertanya sambil menatap piring di depannya. Di atas piring putih besar, potongan daging sapi berwarna cokelat gelap disiram kuah kental yang harum. Ada nasi putih hangat, lalapan, dan sambal merah yang tampak berbahaya.
Kim Jong Un tersenyum santai, mengambil sendok perak, dan menatap Trump. “Rendang, Donald. Makanan paling lezat di dunia. Percayalah padaku, ini bukan propaganda.”
Trump menatapnya curiga. “Aku dengar makanan Asia itu sering menipu. Kelihatannya tenang, tapi begitu dimakan… BOOM.” Ia membuat gestur ledakan dengan tangannya, membuat dua pelayan Indonesia di pojokan hampir tertawa tapi cepat-cepat menunduk.
Putin hanya mengangkat alis, bibirnya menyungging sedikit senyum. “Donald, kalau kau takut pada sambal, bagaimana kau bisa memimpin dunia?”
Kim terkekeh pelan. “Benar juga. Aku bahkan melatih pasukan khususku dengan cabai.”
Trump mendengus. “Aku melatih perutku dengan burger, bukan cabai.”
Ketiganya tertawa ringan. Suasana mulai cair. Mereka duduk di bawah cahaya lampu gantung berbentuk lentera bambu yang memancarkan warna keemasan hangat. Di luar, salju terus turun, tapi di ruangan itu, yang ada hanya hawa hangat dan aroma daging yang menggoda.
Agak jauh dari meja para pemimpin dunia itu, di sebuah ruangan khusus, seorang pria berjas hitam dan berkacamata sedang serius menatap beberapa layar monitor di depannya. Dia adalah Dewa Buku, seorang pria yang dipercaya oleh pemilik restoran untuk mengontrol semua pelayan dan acara pertemuan tiga pemimpin dunia yang berpengaruh itu. Dewa Buku memantau dengan cermat semua pelayan yang bertugas malam itu.
Ditengah aktifitasnya memantau layar monitor, dia melihat piring-piring para pemimpin dunia itu hampir kosong. Akhirnya dia memanggil seorang pelayan, “Nina, tolong kesini sebentar….”
Seorang pelayan perempuan segera berjalan cepat kearah Dewa Buku. Dia berwajah lembut, mengenakan kebaya biru tua, namanya Nina ~ pelayan yang baru bekerja di restoran itu selama lima bulan.
Nina: “Iya, Pak?”
Download cerita lengkapnya disini berbentuk Ebook PDFAuthor Profile
Categories
Related Posts
Deskripsi: "Langit yang Tak Pernah Tidur" bercerita tentang Asep Kusumah, calon astronot pertama Indonesia dari...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi itu, Yuli sedang berjalan di gang kecil menuju warung sembako. Tubuhnya dibalut pakaian sederhana:...
Read MoreDewaBukuJSW
Ketika obat batuk menjadi alat pengendali umat manusia. Tahun 2125.Negara Konoha berdiri megah di atas...
Read MoreDewaBukuJSW
Bab 1: BAYANGAN PERTAMA Malam-malam awal.... Malam itu, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Petir sesekali...
Read MoreDewaBukuJSW
Deskripsi: (Sebuah novel thriller-filosofis karya Dewa Buku JSW) Jakarta, tahun 2037.Langitnya bukan lagi biru. Dari...
Read More