Skip to content

SAILORMOON — ANTARA PERUT LAPAR DAN KEJAHATAN (PART 2)

Pikiran Rojali mulai menerawang kemana-mana.

“Sepertinya perempuan itu bukan orang sini, mirip orang Jepang tapi pinter bahasa Indonesia….perempuan yang aneh.” bisik Rojali dalam pikirannya. Matanya mulai menatap tiang telepon bekas yang masih tertancap disebelah toko ponsel itu. Hatinya ragu.

Malam itu, takdir mempertemukannya dengan Bang Ujang, seorang pria bertubuh besar, berjaket kulit hitam dengan tato bergambar naga ungu di lehernya, memakai jam tangan digital berwarna ungu. Dari ujung gang, Bang Ujang mengamati Rojali yang masih menatap tiang telepon bekas.

“Kalau lo berani, itu bisa jadi duit, Bro,” ucapnya sambil mengisap rokok.
Rojali menoleh. Tatapan mereka bertemu — tajam dan dingin.

Bang Ujang tersenyum miring. “Nama gue Ujang. Anak-anak panggil gue ‘Bang Jackal’, siapa lo?”

“Namaku Rojali.” jawabnya singkat.

Bang Ujang manggut-manggut,”Gue liat lo sering nongkrong di sini. Lo mau kerja?”

Kerja.
Kata itu menggema di kepala Rojali, seperti nada asing yang sudah lama ia lupakan.

“Kerja apa?”
“Kerja yang bisa bikin lo makan tiap hari. Tapi bukan buat orang lembek. Dunia ini keras, Bro. Kalau lo nggak nyerang duluan, lo yang diinjek.”

Rojali menatap lantai basah di bawah kakinya. Di sanalah refleksi masa lalunya terpantul — dia teringat ketika dirinya menangis kelaparan, dia ingat ketika ditolong oleh seorang nenek dan dibawa ke panti asuhan, dia juga teringat soal perundungan, pengusiran, penghinaan. Dunia memang tak adil bagi orang sepertinya. Air matanya menetes membasahi pipinya yang kering akibat terpaan kehidupan jalanan yang keras.

“Gue pernah seperti lo, gue tau rasanya dihina….kita ini orang buangan, tapi kita juga manusia….kita harus makan Bro. Gimana?” tanya Bang Ujang sambil membuang puntung rokok dan menginjaknya.

Malam itu, Rojali mengangguk pelan.
Dan dari situlah, sebuah pintu terbuka — menuju dunia yang jauh lebih gelap dari kelaparan. Selama satu minggu penuh tanpa jeda, Rojali ditempa oleh latihan-latihan mekanik, kelistrikan, dan strategi marketing oleh Bang Ujang sendiri.

Satu jam setelah berlatih, Bang Ujang mengajak Rojali beristirahat, “Rojali, kita ngopi dulu diatas.”
“Iya, Bang.” jawab Rojali singkat.

Bang Ujang dan Rojali melangkah ke dapur untuk membuat kopi sachet yang terkenal sedap yaitu kopi gula aren. Setelah itu mereka berdua berangkat keatas menuju atap gudang yang disana sudah terdapat satu set furniture lawas berupa dua kursi rotan dan sebuah meja rotan dengan kaca tebal diatasnya. Mereka duduk disana, dibawah naungan langit hitam yang penuh bintang, ngobrol panjang lebar tentang kehidupan, tentang kemiskinan, dan tentang kasih sayang.

“Rojali, waktu gue berumur 21 tahun, hidup gue ancur, sangat menderita. Orangtua gue bercerai, gue dibuang di kolong jembatan semanggi.” Bang Ujang membuka cerita sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
Dia menerawang jauh ke langit yang hitam legam tetapi penuh bintang. Dia meneruskan ceritanya hingga panjang lebar.

Bang Ujang menyeruput kopinya dan berkata lagi, “Gue ngamen di lampu merah hanya untuk dapat recehan buat makan, suatu saat pas gue lagi ketiduran di emperan toko, gue disamperin lima orang preman minta duit hasil gue ngamen tapi gue nggak kasih, gue dihajar dan duit gue diambil paksa oleh mereka. Waktu itu gue cuman bisa nangis meratapi nasib gue, badan sakit, muka bonyok penuh darah, perut lapar, gitar kecil gue yang buat ngamen dihancurin sama mereka….tapi untunglah saat itu ada orang baik yang nolongin gue.”

“Siapa orang baik itu, Bang?” tanya Rojali penasaran.
Bang Ujang menatap Rojali sambil tersenyum, “Orang baik itu adalah Ayah, beliau adalah pimpinan kita. Lo lihat jam tangan berwarna ungu ini? Semua anak buah beliau dikasih jam tangan seperti ini. Ini bukan jam tangan biasa.”

“Maksud Bang Ujang?” tanya Rojali penasaran.
“Suatu saat nanti lo juga tau,” jawab Bang Ujang yang secara diam-diam menatap wajah Rojali yang sedang menunduk.

Bang Ujang menghisap rokoknya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca ketika melihat wajah Rojali yang menyiratkan penderitaan seperti yang pernah dialaminya bertahun-tahun yang lalu.
“Lo tidur dulu sana, muka lo keliatan capek banget,” perintah Bang Ujang sambil tersenyum.
“iya, Bang….Abang gimana?” tanya Rojali dengan penuh hormat.
“Gue mau nyepi disini dulu….oh iya gue lupa, suatu saat nanti Lo akan diberi dua pengawal oleh Ayah, dua orang itu adalah mafia Itali karena Ayah memang bekerjasama dengan mereka. Ciri-ciri mereka adalah tato ular di leher mereka, badan besar dan tegap. Mereka yang akan melindungimu saat terdesak”

“Iya, Bang. Terimakasih sudah diberitahu.” jawab Rojali penuh hormat.
“iya, sama-sama.”

Seminggu pun berlalu…
Rojali kini menjadi “anak baru” di jaringan kecil mafia lokal Violet Dragon, kelompok yang menguasai wilayah perbatasan terminal dan rel kereta. Mereka menjual apa saja — dari barang curian, kabel listrik, sampai bahan ilegal yang hanya disebut dengan kode “serbuk pagi.”

Waktu menunjukkan jam 8 malam. Bang Ujang mengajak Rojali berkeliling untuk membantunya menghitung stok komponen mobil dan motor curian di bangunan bekas bengkel tua.

Ya…Markas Violet Dragon ada di bekas bengkel tua dekat Kali Angke. Bau oli dan asap menempel di udara. Di sana, Rojali mulai mengenal tokoh-tokoh penting dunia bawah.

Ada Bang Ujang alias Bang Jackal, si pemimpin keras kepala tapi karismatik dan menyayangi anak buahnya.
Ada Coki, teknisi muda yang bisa membuka mobil hanya dengan penjepit rambut.
Ada Yanto, ahli merakit bom dengan latar belakang lulusan paramiliter Afghanistan.
Dan Ratna, perempuan dengan tatapan tajam yang dikenal sebagai otak strategi kelompok.

Mata Bang Ujang mencari-cari seseorang. “Coki, si Yanto mana? itu bom rakitan di gudang belum kelar loh….takutnya meledak.”

“Yanto tadi ijin ke warteg sebentar, Bang.” jawab Coki sambil mencongkel ban truk pakai linggis, dia mau ganti ban itu karena sudah hampir gundul.

“Aduhhh bakalan lama nih, kan gue udah bilang sama Lo, Coki….setiap habis maghrib Lo ajak dia makan, nggak usah nunggu malem. Kalo dia sakit perut pasti kita semua yang repot.” Bang Ujang kesalnya bukan main.

“Ya maaf Bang, hehe,” jawab Coki sambil nyengir.
Kemudian Bang Ujang melirik Rojali, “Li, tolong bantu si Coki ya…dia ganti ban, Lo ganti oli truk itu, gue mau bikin mi rebus sebentar.”
“Siap, Bang,” sahut Rojali dengan bersemangat.

Saat itu mereka saling membantu untuk mencapai tujuan bersama. Mereka bekerja bagaikan satu keluarga, saling menjaga, saling melindungi, dan saling bertukar ilmu.

Rojali cepat belajar. Ia bekerja dengan cekatan, memindahkan barang, memperbaiki motor curian, bahkan mengawal transaksi. Setiap malam, ia menatap langit kota dari atap bengkel — mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah “cara bertahan hidup.”

Namun jauh di dalam hati, ia tahu…
ia mulai menikmati kekacauan itu.

Kekuatan, uang tunai di tangan, dan rasa dihormati — semua hal yang dulu tak pernah ia punya.

Tapi di sisi lain kota, seseorang memperhatikannya dari kejauhan.
Usagi Tsukino, sang penjaga cahaya. Matanya bisa melihat semua peristiwa yang terjadi ratusan kilometer darinya, bahkan sampai kejadian diluar kota pun mampu dilihatnya.

Setelah beberapa jam, Usagi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan cepat. Dia berdiri di atas gedung kosong di Kembangan. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat kelap-kelip lampu kota seperti bintang yang jatuh. Tapi di antara cahaya itu, ada satu yang gelap — energi jahat yang ia rasakan makin kuat dari arah Cengkareng.

Ia tahu siapa pemicunya: Rojali.
Bukan karena jahat, tapi karena putus asa.

10 menit kemudian….

Malam itu, ia melangkah menuju markas mafia Violet Dragon. Pintu besi berkarat terbuka sendiri saat ia melangkah masuk, cahaya bulan menembus atap berlubang dan menyorot wajah-wajah terkejut para anggota geng.

“Siapa lo?!” seru Coki sambil mengangkat linggis.

Cahaya putih meledak dari tubuh Usagi, menyilaukan seluruh ruangan. Dalam hitungan detik, muncul sosok SailorMoon — rambut pirangnya berkilau di bawah cahaya lampu bengkel yang redup.

“Aku datang bukan untuk berkelahi. Aku mencari seseorang bernama Rojali.”

Rojali muncul dari belakang truk, tangannya masih kotor oli.
Tatapan matanya tak seperti dulu — ada amarah di sana, tapi juga ketakutan yang disembunyikan rapat.

“Kenapa kamu mencariku? Kamu mau tangkap aku juga?!”
“Tidak. Aku ingin mengembalikanmu ke dirimu yang dulu.”

Semua orang tertawa.
Bang Jackal meletakkan semangkuk mi rebus yang tinggal sedikit diatas meja, kemudian melangkah maju sambil bertepuk tangan dengan gerakan pelan-pelan.

“Lucu juga. Bidadari turun dari langit cuma buat ceramah. Dengar, Putri Bulan, di dunia nyata nggak ada keadilan. Yang ada cuma lapar dan uang.”

Usagi menatap mereka satu per satu.
“Kalau kalian pikir gelap adalah jawaban, maka kalian belum benar-benar melihat apa itu kegelapan.”

Saat itulah ledakan kecil terdengar dari gudang belakang — bom rakitan yang disiapkan untuk menghalau polisi ternyata aktif karena korsleting. Api menjalar cepat, membakar tumpukan kardus dan bahan kimia. Bang Ujang dan Coki berlari menyelamatkan diri.

SailorMoon mengangkat tongkatnya, menciptakan perisai cahaya untuk menahan kobaran. Tapi di tengah kekacauan itu, Rojali menarik tangan Ratna dan berlari keluar — meninggalkan semua orang, meninggalkan cahaya itu. Hanya satu tempat yang akan mereka tuju untuk menyelamatkan diri pada saat ini, yaitu markas besar di Kembangan, Jakarta Barat. Sebuah tempat besar. Sebuah perusahaan yang terlihat Legal di mata masyarakat.

Sementara itu di daerah Kembangan, Jakarta Barat….

Malam yang tidak biasa begitu terasa di barbershop JSW Gentlemen’s Room, DewaBuku sedang mematikan mesin pemotong rambut terakhir malam itu.
Di balik kaca, hujan kembali turun pelan.
Ia tahu — malam ini belum selesai.

Ia mengambil topi rajut berwarna hitam dan memakainya, melangkah ke luar, dan berjalan menuju arah rel kereta.
Ketika ia tiba di lokasi bekas bengkel, ia menemukan sisa api yang masih membara. Di tanah, bercampur oli dan abu, ia melihat selembar potongan kain jaket milik Rojali.

DewaBuku berlutut, menatap bekas itu lama sekali.
“Dia mulai kehilangan dirinya,” gumamnya.

Sosok SailorMoon muncul di belakangnya, masih terengah.
“Kamu tahu dia?”
“Lebih dari itu. Aku tahu siapa yang membuatnya begitu.”

DewaBuku menatap ke arah utara, di mana lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti bara api.
“Rojali bukan orang jahat. Dia hanya manusia yang lupa bahwa dirinya masih bisa berubah. Tapi ada yang lebih besar bermain di balik ini.”

SailorMoon menatapnya curiga. “Maksudmu?”
“Violet Dragon bukan geng biasa. Mereka hanya pion. Yang menggerakkan mereka ada di daerah ini, di Kembangan — seseorang bernama Prof.Dr.Brahma Surya, Phd – seorang mantan kontraktor besar yang kini menjalankan bisnis gelap lintas kota. Dia orang yang cerdas, pernah menjadi dosen Bisnis Internasional pada sebuah universitas ternama di negeri yang sakit ini.”

Nama itu membuat udara terasa berat, dan satu yang mereka tahu….perjuangan akan semakin berat. Dan tanpa berkata apa-apa, keduanya tahu arah yang harus dituju berikutnya: Kembangan.

Satu jam kemudian….

Gudang tua di Kembangan berdiri di antara pabrik-pabrik kosong dan ladang ilalang yang sudah mati. Lampu sorot besar menyoroti gerbang besi berlogo PT Surya Brahma Logistik, tapi di baliknya, aktivitas ilegal berjalan tanpa henti.

Perusahaan itu dijaga ketat oleh orang-orang pilihan yang dulunya pernah dikalahkan oleh Brahma Surya pada saat duel di parkiran kampus. Ketika itu Brahma Surya masih berumur 45 tahun saat masih menjabat sebagai dosen jurusan Bisnis Internasional di sebuah universitas ternama di Jakarta. Dia dikepung oleh 20 jawara yang disewa oleh salah satu perusahaan leasing mobil. Para jawara itu ingin merampas mobilnya yang ternyata mobil Brahma Surya sudah dibelinya secara tunai.

Didalam Perusahaan PT Surya Brahma Logistik….

Rojali kini berdiri di hadapan Brahma Surya — pria berusia lima puluhan dengan setelan jas putih dan tato naga di tangan kanan. Pria ini memang penjahat kelas kakap tetapi di kalangan anak buahnya sangat dikenal sebagai pemimpin yang tegas, berwibawa, jujur, dan sangat menyayangi anak buahnya. Semua anak buahnya memanggil pria ini dengan sebutan “Ayah”.
Brahma tersenyum, menepuk pundaknya.

“Kau punya nyali, Nak. Anak seperti kau jarang ada. Ujang bilang kau cepat belajar.”
Rojali menunduk. “Saya cuma ingin hidup lebih baik.”

“Dan kau akan mendapatkannya. Tapi di dunia ini, hidup yang lebih baik cuma buat seseorang yang berani menginjak. Berani membela harga dirinya, berani melindungi keluarganya, berani berkorban untuk memberi makan anak-anaknya, bisa menjaga perasaan orang lain, dan suka menolong orang kecil yang sedang kesusahan. Kamu faham, Nak?” tanya Brahma Surya sambil menatap mata Rojali.

Rojali terdiam.
“Nak, jangan bersedih….kamu sudah menjadi keluarga kami. Kamu faham, kan?”
“Iya, Ayah…..saya faham.” jawab Rojali mantap.

Brahma Surya tersenyum senang mendengar jawaban Rojali, dia menyerahkan sebuah jam tangan khusus kepada Rojali. Sebuah jam tangan berwarna ungu yang sama persis dengan jam tangan yang dipakai Bang Ujang. Rojali sangat senang menerimanya dan langsung memakainya di pergelangan tangan kirinya.

“Rojali, jika dirimu berada pada situasi darurat, tombol merah di jam tangan itu dapat berfungsi sebagai detonator. Kamu mengerti, Nak?” tanya Brahma Surya kepada Rojali sambil menjelaskan fitur-fiturnya.

“Saya mengerti, Ayah.” jawab Rojali mantap.

“Kita disini adalah keluarga besar, saling melindungi dan saling mengasihi satu sama lain. Demi kehidupan yang lebih baik….tidak perlu kuatir soal uang dan fasilitas hidup. Kami akan menjamin kehidupan kamu. Kamu diakui dan dihormati disini. Kamu boleh melakukan apa saja disini, asalkan satu hal….jangan berkhianat, karena hukumannya tidak bisa dibayangkan oleh umat manusia. Kamu mengerti, Nak?” tanya Brahma Surya lagi.

“Saya mengerti, Ayah….” jawab Rojali penuh hormat.
“Bagus, ini baru namanya anak Ayah….hahahaha….” Brahma Surya sangat bahagia mempunyai anak baru. Dia meninggalkan ruangan dengan senang dan bahagia….Rojali sudah dianggap sebagai anak di lingkungan Violet Dragon.

Rojali mulai menyadari bahwa yang ia cari bukan lagi uang, tapi pengakuan. Dan itu sudah didapatkannya sejak bergabung di Violet Dragon.

Namun di matanya, mulai tumbuh sesuatu — ambisi bercampur dendam.

Suatu malam, ketika ia duduk sendirian di atap gudang, Ratna datang membawakan 2 kopi sachet panas.
“Lo kelihatan makin jauh, Li.”
“Apa maksud kamu?”

“Sebentar….setahu gue, Lo asli Jakarta kan? Kok nggak pake Lo gue?” tanya Ratna heran.
“Mungkin kebiasaan aja.” jawab Rojali singkat sambil menatap langit yang tetap hitam.
“Ubah kebiasaan Lo….ini budaya kita….Lo gue… end.” ujar ratna sambil tersenyum.

“End? Maksudnya?” tanya Rojali nggak faham.
“Enakan Ngopi Dulu….jangan pake aku kamu, pake aja Lo gue biar lebih akrab.” jawab Ratna sambil menyeruput kopinya.

Rojali juga ikut menyeruput kopinya.”Kopinya enak.”
“Hehe….gue yang bikin,” ujar Ratna penuh kebanggaan.
Rojali bisa tertawa renyah didekat Ratna, “Lo pinter bikin kopi.”
Ratna ikutan tertawa renyah, “Tuh bisa pake Lo gue….Toss.”

Mereka berdua melanjutkan minum kopi sambil mengobrol panjang lebar. Mereka adalah dua anak manusia yang berasal dari kehidupan yang kelam dengan masa lalu yang berbeda. Ratna dulunya adalah perempuan baik-baik yang kaya raya tetapi dibuang oleh ibu tirinya pada saat masih berumur 17 tahun karena si ibu tiri ingin menguasai seluruh harta ayahnya. Sedangkan Rojali adalah pemuda miskin yang menjadi seorang yatim piatu, sering dihina dan dibully oleh orang-orang disekitarnya hingga ditolong oleh seorang nenek yang menitipkannya di panti asuhan. Ratna dan Rojali sekarang bernasib hampir sama, merasakan kepedihan yang sama, dan ditolong oleh orang yang sama, yaitu Bang Ujang atau akrab disapa Bang Jackal yang menjadikan mereka berdua sebagai anggota keluarga besar Violet Dragon.

Selang satu menit berlalu, Ratna terdiam dan bertanya serius kepada Rojali dengan tatapan yang heran sekaligus penuh tanda tanya. “Dulu lo cuma pengen makan. Sekarang lo pengen nguasain segalanya.”

Rojali menatap gelap di depan.
“Orang-orang yang ngerendahin gue bakal tau rasa. Gue udah muak jadi korban.”

Ratna menghela napas. “Kalau lo terusin jalan ini, nggak akan ada yang tersisa dari diri lo sendiri.”

Tapi Rojali hanya diam.
Di dalam dirinya, bayangan masa lalu mulai bersatu dengan bayangan baru — Bayangan suram dari wajah-wajah yang menertawakannya, yang menolak memberi kerja, yang memandangnya seolah ia sampah.

Ia bersumpah, malam itu, bahwa ia akan membalas semuanya.

Bersambung ke episode SAILORMOON — ROJALI SUDAH BUKAN ROJALI (PART 3)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON — BULAN YANG MEMILIH (PART 20 - TAMAT)

Balkon tempatnya berdiri adalah sebuah tempat dimana Usagi bisa merenung dengan tenang. Saat ini tetap...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — SINAR DARI LANGIT KEMBANGAN (PART 4)

Jakarta Barat, pukul 01.42 dini hari.Langit masih diguyur hujan deras. Di sepanjang Jalan Meruya, lampu-lampu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON - DEWA BUKU DITARIK KELUAR DARI ARSIP NOL (PART 14)

Kelelahan yang menyergap para Sailor Guardian malam itu bukan sekadar letih fisik. Ada sesuatu yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — BULAN DI ATAS CENGKARENG (PART 1)

Jakarta Barat, tahun 2025.Langit malam memantulkan cahaya oranye dari lampu jalan yang redup, menyatu dengan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON - GEMA DARI ARSIP NOL (PART 12)

Kabut tipis yang turun perlahan di wilayah Teluk Gong pada dini hari itu membawa hawa...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!