Skip to content

PENUNGGU SUNGAI YANG-TSE-KIANG

Kabut pagi bergerak pelan di atas permukaan Sungai Yang-Tse. Dari kejauhan, air tampak seperti hamparan perak cair, memantulkan cahaya matahari yang masih malu-malu. Di desa kecil bernama Qingsu, penduduknya percaya bahwa sungai itu memiliki penjaga: seorang perempuan muda berwajah cantik namun tidak pernah terlihat berjalan di daratan. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa dia, tapi legenda mengatakan bahwa dia membenci kesombongan dan ketidakadilan. Siapa pun yang melanggar pantangan sungai akan mendapati nasib tragis.

Itu hanya cerita rakyat bagi sebagian orang. Tapi bagi Liang, pemuda 23 tahun yang besar di desa itu, kisah tersebut seperti bayangan yang selalu mengikuti setiap hembusan angin sungai. Liang tumbuh bersama ketakutan yang diwariskan turun-temurun, namun semakin dewasa, ia justru merasa penasaran — bahkan tertantang untuk mencari tahu lebih banyak.

Liang memiliki kepribadian keras kepala, haus pengakuan, dan merasa bahwa dunia terlalu kecil untuk menampung ambisinya. Ayahnya seorang nelayan yang jujur, sedangkan ibunya penenun tikar yang lembut. Namun Liang ingin lebih. Ia ingin pergi dari desa, membangun nama, meninggalkan semua hal yang menurutnya “kuno”.
Dan bagi Liang, pantangan Sungai Yang-Tse adalah salah satu kekunoan terbesar.

Namun Liang tidak sendirian. Seorang perempuan muda bernama Meilin, sahabat masa kecilnya, selalu berusaha mengingatkan agar Liang tidak bermain-main dengan legenda sungai. Meilin memiliki hati lembut dan rasa tanggung jawab kuat. Berbeda dengan Liang yang ingin menantang takdir, Meilin justru merasa bahwa beberapa hal memang harus dihormati, entah itu mitos atau bukan.

Suatu sore, ketika desa mulai bersiap merayakan festival panen, Liang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang akan menandai dirinya sebagai “pemuda paling berani di Qingsu”. Ia ingin membuktikan bahwa legenda itu cuma dongeng. Bahwa penunggu sungai hanyalah cerita untuk menakut-nakuti anak kecil.

Dan keputusan itulah yang membuka pintu ke bencana.

Malam itu angin bergerak pelan, tapi udara terasa berat seperti sedang menahan sesuatu. Liang berdiri di dermaga kayu, memegang perahu kecil milik ayahnya. Ia membawa lentera, sebotol arak, dan sumpah dalam hatinya bahwa ia akan pulang membawa sesuatu yang membuat seluruh desa ternganga.

Meilin menyusulnya ke tepi sungai.
Ia tidak ingin Liang melakukan hal bodoh.
Namun di sisi lain, takdir sepertinya sudah memilih jalannya sendiri.

Saat Liang menolak ajakan Meilin untuk pulang, keduanya terlibat argumen. Dan pada puncak emosi itu, Liang menendang kendi persembahan yang setiap petang diletakkan warga untuk sang penunggu sungai. Kendi itu pecah menghantam batu.
Air di permukaan sungai bergelombang halus.

Meilin makin takut. Tapi Liang naik ke perahu dengan wajah penuh puas.

Sungai tampak tenang, terlalu tenang, bahkan disaat airnya dibuat tidak tenang.

Saat perahu bergerak ke tengah, sebuah kabut tipis muncul tiba-tiba, seperti tirai pembatas dunia. Liang menatap sekeliling, mulai merasa aneh. Ia memanggil Meilin, tapi suaranya seolah terjebak di antara dua dinding air.

Perahu berhenti.
Padahal arus seharusnya tak mungkin diam.

Dan dari balik kabut, seseorang muncul.

Seorang perempuan.
Usianya tampak di sekitar dua puluh, dengan rambut panjang hitam basah menempel di punggung. Wajahnya sangat cantik, tapi dingin. Matanya seperti memancarkan kedalaman air yang telah menyimpan terlalu banyak rahasia.

Gaunnya tampak melayang di permukaan air, tidak basah, tidak pula terangkat angin.
Dia menatap Liang tanpa ekspresi — tapi tatapan itu membuat Liang ingin melarikan diri, meski kakinya tak mampu bergerak.

Nama perempuan itu adalah Lianhua, penunggu Sungai Yang-Tse.

Ia berbicara tanpa suara… seperti air yang berbisik sendiri.

Liang menyadari bahwa legenda itu benar. Namun, bukan ketakutannya yang membuat tragedi itu berubah rumit — melainkan sisi lain dari Lianhua yang tidak diketahui siapa pun:
dia tidak sepenuhnya jahat.
Dia adalah roh penjaga yang adil, tapi juga terikat oleh sumpah purba:
siapa pun yang melanggar pantangan sungai harus menerima hukuman.

Namun keadilan yang ia pegang tidak selalu tampak benar di mata manusia.

Saat Liang mulai tenggelam dalam rasa panik, Meilin berlari menaiki dermaga, memanggil-manggil namanya. Dan karena cinta rahasia yang disimpannya bertahun-tahun, Meilin melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapa pun: ia melompat ke air, berharap bisa menyelamatkan Liang.

Lianhua menoleh pada Meilin — dan ini membuat situasi malah semakin rumit.

Lianhua tidak biasa melihat manusia melanggar pantangan demi melindungi orang yang dikasihi. Ia tidak pernah merasakan dilema seperti itu. Tetapi sumpahnya tetap mengikat.

Dan pada momen itu, tirai dimensi terbuka — muncul cahaya lembut menyerupai sinar bulan.

Lianhua menoleh, melihat dua sosok muncul dari balik kabut: Dewi Kwan-Im yaitu Sang Dewi Belas Kasihan dan Dewa Buku, seorang penulis cerita novel digital dari tahun 2025 yang terjebak memasuki dimensi klasik di negeri Tirai Bambu.

Mereka tidak datang untuk bertarung.
Mereka datang karena distorsi energi purba di sungai ini mengganggu keseimbangan spiritual dunia.
Hanya Dewi Kwan-Im yang mampu meredakan energi itu, sementara Dewa Buku — yang dikenal dunia gaib sebagai penjaga keseimbangan pengetahuan purba — hadir untuk memastikan tidak ada sejarah yang salah arah.

Di tengah kabut, Dewa Buku mendekati Lianhua dengan langkah pelan.

Dewa Buku berkata pelan, “Lianhua… sumpahmu mengikat, tapi bukan berarti kau harus menutup mata dari perubahan.”

Dewi Kwan-Im menyambung, “Keadilan sejati bukan hanya hukuman. Keadilan juga mengerti alasan hati seseorang. Dimanakah rasa belas kasihanmu?”

Lianhua menjawab datar, “Pantangan itu dilanggar. Hukumannya jelas.”
Dewa Buku balas dengan tatapan lembut namun tegas, “Lihatlah mereka. Manusia memang mudah salah, tapi mereka juga mudah menyesal. Bukankah keseimbangan sungai lebih kuat ketika hati yang tulus diberi kesempatan?”

Dewi Kwan-Im menatap Liang dan Meilin, “Jika kamu menghukum karena aturan tanpa memahami cinta dan pengorbanan, kamu hanya menjadi alat sumpah, bukan penjaga sungai.”
Lianhua terdiam sedikit lama. “Aku… tidak pernah melihat manusia mempertaruhkan diri untuk yang lain. Mungkin…”
Dewa Buku mengangguk, “Biarkan cinta manusia mengajarimu hal yang tidak diajarkan sumpah purba.”

Kata-kata itu membuat Lianhua bimbang.
Ia mulai melihat Liang dan Meilin bukan sebagai pelanggar, tetapi sebagai dua manusia yang membawa makna baru pada kehidupannya.

Namun dilema belum selesai.
Jika Lianhua tidak menghukum Liang sesuai aturan, sungai akan menagih harga — bencana jauh lebih besar dapat terjadi, seperti arus balik mematikan atau badai air yang menelan desa.

Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia menyadari bahwa keadilan bukan sekadar aturan.
Ia memilih jalan yang tidak pernah dilakukan roh penjaga mana pun:
ia memutus sumpah purba.

Tapi konsekuensinya mengerikan.

Sungai Yang-Tse bergejolak, menciptakan pusaran raksasa. Lianhua harus menjadi penyangga agar air tidak meledak menghantam desa Qingsu. Dewi Kwan-Im membantu dengan cahaya bulan yang menenangkan arus, sementara Dewa Buku memanggil mantra kuno untuk menyalurkan energi berlebih ke dimensi aman.

Meilin berusaha membantu Liang naik ke daratan, tapi Liang memutuskan melakukan hal yang benar—untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia kembali ke tepi air, berteriak meminta Lianhua menghentikan pengorbanannya, namun Lianhua tersenyum tipis seakan mengatakan bahwa ini bukan pengorbanan, melainkan pilihan.

Sungai bergemuruh keras.
Air naik seperti tembok raksasa.
Lianhua menegakkan tubuhnya di tengah pusaran, wajahnya tenang seperti saat ia pertama kali muncul.

Dan saat semua mencapai puncak, cahaya bulan Dewi Kwan-Im menyatu dengan energi pengetahuan Dewa Buku, menciptakan jalur bagi Lianhua untuk “mencabut” sumpah tanpa meledakkan sungai.

Namun harga tetap harus dibayar:
Lianhua lenyap sebagai roh sungai.
Ia terlepas dari dunia manusia.

Liang dan Meilin menangis di tepi sungai. Sang penunggu telah memilih pergi agar mereka bisa hidup.

Beberapa bulan berlalu. Desa Qingsu kembali pulih, bahkan lebih damai dari sebelumnya. Air sungai menjadi lebih jernih dari yang pernah dilihat siapa pun.
Penduduk merasa penunggu sungai tidak lagi “mengawasi” mereka, tapi “memberkati”.

Liang berubah sepenuhnya.
Ia menjadi pemuda yang rendah hati, menghormati tradisi, namun juga berani memperjuangkan hal yang benar. Ia sering membantu nelayan, bahkan membangun papan peringatan agar orang selalu menghargai sungai dan tidak merusaknya.

Meilin, yang menjadi alasan perubahan Liang, kini berjalan bersamanya setiap hari. Hubungan keduanya berkembang secara alami, tanpa paksaan dan tanpa terburu-buru.

Ketika keduanya duduk di tepi sungai, mereka sering melihat riak air kecil yang bergerak tanpa angin. Dalam hati mereka tahu, Lianhua belum benar-benar pergi.
Ia hanya berubah wujud.

Sementara itu, Dewi Kwan-Im dan Dewa Buku mengamati dari kejauhan, berdiri di atas jembatan tua yang jarang dilewati orang.
Keduanya sadar bahwa legenda, cinta, dan pengorbanan selalu berjalan berdampingan.

Dewa Buku berkata, “Dunia ini selalu mengajarkan bahwa keadilan tidak pernah hitam dan putih.”
Dewi Kwan-Im tersenyum lembut, “Dan cinta adalah warna yang menjembatani keduanya.”
Keduanya lalu menghilang dalam pancaran cahaya bulan.

Sungai Yang-Tse tetap mengalir seperti biasa…
Namun kini ia membawa kisah yang hanya diketahui oleh mereka yang pernah melihat penjaganya tersenyum.

The End.

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Episode 2 - Kursi Yang Tidak Pernah Kosong

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Terminal Tirtonadi terlihat berbeda setelah lewat tengah malam. Bukan karena...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
URBAN LEGEND: MALL WILLOW PARK

Setiap kota besar pasti menyimpan luka yang dikubur dalam-dalam, dan dalam kasus Kota Langsa Raya,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
ANAK TANGGA YANG BERTAMBAH

Lokasi: Lawang Sewu Alamat: Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah Posisi Kejadian: Tangga Utama di Gedung...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 3 - Penumpang Yang Tidak Tercatat

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Orang-orang yang bekerja di malam hari biasanya memiliki cara sendiri...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!