Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 4

Episode 4 — Hal-Hal Kecil yang Mulai Dihitung

Tidak ada perubahan besar yang terlihat pagi itu.

Semarang tetap bangun seperti biasa. Cahaya matahari menyentuh jendela kamar hotel dengan sudut yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Suara klakson dari kejauhan terdengar samar, tertahan ketinggian lantai dan kaca tebal.

Hendrik bangun lebih dulu kali ini.

Ia meregangkan tubuh, lalu langsung mengambil ponselnya. Beberapa notifikasi masuk, sebagian besar promosi, sisanya pesan dari teman-temannya di Belanda — tentang taruhan, tentang rencana liburan berikutnya, tentang hidup yang selalu terasa jauh lebih ringan jika dilihat dari kejauhan.

Anneliese masih berbaring, memunggungi jendela.

“Aku lapar,” kata Hendrik sambil duduk. “Sarapan di luar lagi, ya?”

Anneliese membuka mata. Ia tidak langsung menjawab.

Ia menghitung dalam kepala. Bukan uang secara utuh — belum sampai ke sana. Ia menghitung pola.
Berapa kali mereka makan di luar.
Berapa kali Hendrik berkata ‘tidak apa-apa’.
Berapa kali kartu itu digesek tanpa jeda.

“Boleh,” jawabnya akhirnya. “Tapi jangan terlalu jauh.”

Hendrik tertawa kecil. “Tenang saja.”

Kata tenang terdengar semakin sering akhir-akhir ini.

Mereka memilih tempat yang terlihat lebih sederhana dari hari-hari sebelumnya, meski tetap jauh dari kata murah. Hendrik memesan seperti biasa. Anneliese memperhatikan menu lebih lama dari yang diperlukan, lalu memilih satu hidangan saja.

“Aku nggak terlalu lapar,” katanya.

Itu bukan kebohongan. Tapi juga bukan seluruh kebenaran.

Hendrik tidak curiga. Ia makan dengan lahap, bercerita tentang rencana mereka setelah Semarang — mungkin Bali, mungkin Lombok, mungkin tempat lain yang namanya terdengar mahal meski belum tentu mereka pahami. Bahkan Hendrik sepertinya tidak peduli dengan biaya hotel yang harus dia bayar besok pagi saat check-out karena sudah jatuh tempo. Biaya yang sangat besar.

“Jangan kuatir, sayangku….aku sudah memesan hotel disekitar sini.” kata Hendrik saat melihat wajah Anneliese yang tampak murung. “Ruangannya lebih kecil tapi nggak apa-apa.”

Anneliese hanya mengangguk dan diam saja.
Tanpa kata-kata. Dengan penuh semangat Hendrik bercerita panjang lebar tentang hotel yang akan mereka tempati besok pagi.

Anneliese hanya mendengarkan. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak lagi membayangkan dirinya di cerita Hendrik. Ia hanya mendengar.

Tagihan datang. Angkanya lebih kecil dari kemarin, tapi tetap lebih besar dari yang seharusnya.

Hendrik mengangkat bahu. “Lumayan, kan?”

Anneliese mengangguk.

Ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu:
angka yang sedikit lebih kecil tidak pernah terasa aman jika arahnya tetap sama.

Siang hari mereka kembali ke hotel. Hendrik tidur siang, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya. Tubuhnya terlihat lebih cepat lelah. Wajahnya sedikit pucat, tapi ia menganggapnya efek panas dan terlalu banyak minum semalam.

Anneliese duduk di kursi dekat jendela.

Ia mengeluarkan tas kecil itu lagi. Tidak dibuka. Hanya disentuh. Keberadaannya saja sudah cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih tegak.

Ia berpikir tentang kata jaga-jaga.

Kata itu dulu terdengar seperti pesimisme.
Sekarang, kata itu terdengar seperti satu-satunya bentuk kasih sayang yang masuk akal.

Sore hari, Hendrik terbangun dengan wajah kusut.

“Kepalaku agak pusing,” katanya. “Tapi nanti juga hilang.”

Anneliese menyodorkan air mineral. “Minum dulu.”

Ia mulai melakukan hal-hal kecil tanpa diminta:

memastikan Hendrik makan

mengingatkan minum

memilih tempat duduk yang lebih teduh saat di alam terbuka

Semua tampak seperti perhatian biasa.
Tapi di dalam dirinya, semuanya sudah masuk kategori pengelolaan.

Malam itu, mereka tidak keluar.

Ini pertama kalinya sejak tiba di Indonesia.

Mereka makan dari layanan kamar. Hendrik memesan dua porsi, tapi hanya menghabiskan satu setengah. Sisanya dibiarkan mendingin di meja.

“Aneh,” katanya sambil mengusap perut. “Biasanya aku kuat.”

Anneliese tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati. Wajah Hendrik tampak sedikit berkeringat meski AC menyala dingin.

“Kamu harus lebih pelan, Hendrik.” katanya akhirnya. “Kita nggak dikejar apa-apa.”

Hendrik tersenyum, lelah. “Kamu sekarang jadi bijak, ya.”

Anneliese ikut tersenyum.

Ia tidak memberitahu Hendrik bahwa sejak pagi, ia sudah menghitung berapa hari lagi mereka bisa bertahan jika pola ini terus berjalan.

Ia tidak memberitahu bahwa dalam hitungannya, hari-hari itu tidak panjang.

Malam semakin larut. Hendrik tertidur lebih awal, kali ini dengan posisi miring, satu tangan menekan perutnya tanpa sadar.

Anneliese tetap terjaga.

Ia berdiri di dekat jendela, memandang kota yang berkilau di bawah. Lampu-lampu itu terlihat seperti pilihan-pilihan hidup yang pernah mereka buat — indah dari jauh, tapi tidak pernah benar-benar bisa disentuh.

Ia berpikir tentang masa depan.

Bukan masa depan romantis.
Bukan masa depan bersama.

Ia memikirkan kemungkinan terburuk, dan untuk pertama kalinya, kemungkinan itu tidak membuatnya panik.

Ia membuat daftar kecil di kepalanya:

apa yang bisa dijual

apa yang bisa ditahan

apa yang tidak boleh diketahui Hendrik

Daftar itu pendek. Terlalu rapi untuk sesuatu yang seharusnya emosional.

Ia menyentuh tas kecil di samping tempat tidur, memastikan masih ada.

Masih ada cadangan.
Masih ada jarak.
Masih ada waktu — sedikit.

Di luar, kota Semarang terus bernapas seperti biasa.

Dan di dalam kamar hotel itu, untuk pertama kalinya, cinta dan perhitungan berdiri di sisi yang berbeda — sangat berbeda….
dan tidak saling menatap lagi.

Tidak ada aktifitas apapun yang dilakukan Anneliese dikamar itu, selain berpikir dan menghitung didalam pikirannya. Bahkan sampai hari beranjak gelap.

Pagi harinya….

Tagihan hotel sudah dilunasi oleh Hendrik, sekarang mereka berdua mulai menempati hotel yang baru. Sebuah hotel yang masih cukup bagus tetapi sangat jauh jika dibandingkan dengan hotel sebelumnya.

Hari ini terasa begitu cepat, tetapi hujannya sangat lambat. Belum juga reda sedikitpun padahal hujan turun sejak siang tadi.

Bukan hujan deras, hanya rintik panjang yang tidak kunjung berhenti. Langit Semarang menggantung rendah, berwarna abu-abu kusam, seolah menekan atap-atap gedung dan kepala orang-orang di bawahnya. Dari balik jendela kamar hotel, Anneliese melihat air mengalir perlahan di kaca, membentuk garis-garis tipis yang saling menyusul.

Hotel ini berbeda. Hendrik dan Anneliese masih didepan pintu, belum masuk, mereka hanya melihat dari luar kamar.

Tidak ada lagi karpet tebal yang empuk saat diinjak. Tidak ada aroma bunga segar di lorong. Dindingnya bersih, tapi terlalu polos. Lampu-lampunya putih, terang, tanpa kehangatan. Kamar ini lebih kecil. Tempat tidurnya sempit, dan jendela hanya bisa dibuka sedikit.

Mereka pindah pagi tadi.

Hendrik menyebutnya “sementara saja”, dengan nada ringan seperti biasa. Katanya, tidak ada salahnya mencoba tempat yang lebih sederhana. Katanya, pengalaman juga bagian dari liburan.

Anneliese tidak membantah. Ia hanya mengangguk, mengangkat tasnya sendiri, dan mengikuti Hendrik masuk ke kamar yang bau pembersih lantai itu.

Sekarang, sore menjelang malam.

Hendrik mandi lebih lama dari biasanya. Air mengalir terus di kamar mandi, suara yang konstan, menutupi kesunyian yang mengisi kamar. Anneliese duduk di tepi ranjang, membuka tas kecilnya, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Ia membukanya perlahan.

Cahaya lampu kamar memantul di permukaan emas dan batu kecil yang tertata rapi. Cincin, anting, kalung tipis. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Ibunya pernah berkata, bertahun-tahun lalu, saat menyerahkan kotak itu kepadanya.

“Ini bukan untuk keadaan darurat,” kata ibunya waktu itu, suaranya tenang tapi tegas.
“Ini untuk masa depanmu. Kalau suatu hari kamu harus memilih, pilih dirimu sendiri.”

Anneliese menutup kotak itu kembali.

Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar di lorong. Pintu kamar lain dibuka dan ditutup. Ada tawa singkat, lalu sunyi lagi. Hujan masih turun.

Hendrik keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk di leher.

“Kita makan di luar saja,” katanya sambil meraih kaus. “Aku lihat tadi ada tempat makan dekat sini.”

Anneliese mengangguk.

Mereka makan malam di warung kecil yang terang lampunya terlalu putih. Nasi, ayam goreng, sambal. Murah. Hendrik makan dengan lahap, seolah tidak ada yang berubah. Ia bahkan sempat bercanda soal betapa pedasnya sambal itu.

Anneliese makan perlahan.

Ia menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa ia tidak benar-benar merasakan rasa makanan itu. Yang ia rasakan hanya panas, asin, dan sesuatu yang berat di perutnya — bukan kenyang, tapi khawatir.

Malam itu, hujan belum berhenti.

Keesokan paginya, hujan masih turun.

Mereka bangun agak siang. Hendrik tampak kesal karena kopi di hotel ini rasanya pahit. Anneliese hanya meminumnya tanpa komentar.

Siang itu, mereka mencoba mencari hotel lain.

Lebih murah, kata Hendrik. Lebih sesuai, katanya.

Mereka berjalan dari satu lobi ke lobi lain. Beberapa penuh. Beberapa terlalu mahal. Beberapa hanya menerima tamu mingguan. Setiap kali resepsionis menyebut harga, Anneliese bisa merasakan tubuh Hendrik sedikit menegang, lalu kembali santai.

“Terima kasih,” kata Hendrik berkali-kali, sebelum mereka berbalik pergi.

Sore menjelang ketika mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap sekarang.

Anneliese sudah tahu, sebelum Hendrik bicara.

Ia bisa merasakannya di udara kamar. Di cara Hendrik melempar kunci ke meja. Di cara ia menghela napas lebih panjang dari biasanya.

“Kita harus beres-beres,” kata Hendrik akhirnya. “Besok pagi.”

“Kenapa?” tanya Anneliese, meskipun ia tahu.

“Uangnya…ya, kita atur nanti,” jawab Hendrik, tidak menatapnya. “Kita cari tempat lain.”

Malam itu, Anneliese sulit tidur.

Ia berbaring menghadap dinding, mendengar napas Hendrik yang mulai teratur di sampingnya. Hujan akhirnya berhenti, menyisakan suara kendaraan jauh di luar.

Tangannya menyentuh tas kecil itu di samping bantal.

Pagi datang terlalu cepat.

Jam tujuh, ketukan terdengar di pintu.

Bukan keras. Sopan. Terukur.

Anneliese membuka pintu.

Seorang staf hotel berdiri di sana, tersenyum dengan cara yang sudah dilatih. Di belakangnya, lorong tampak terang dan kosong.

“Maaf, Nona,” katanya pelan. “Waktu check-out kami jam delapan.”

Hendrik muncul di belakang Anneliese, menguap.

“Oh, iya,” katanya ringan. “Kami siap.”

Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman.

Hanya koper yang ditutup. Tas yang diangkat. Kunci yang diletakkan di meja resepsionis.

Di lobi, mereka berdiri sebentar.

Staf resepsionis menatap layar komputer, lalu Hendrik.

“Terima kasih sudah menginap,” katanya. “Semoga harinya menyenangkan.”

Hendrik tersenyum dan mengangguk.

Anneliese menunggu.

Ia tidak tahu apa yang ia tunggu — mungkin pertanyaan, mungkin rencana, mungkin sekadar tatapan yang mengakui bahwa situasi ini tidak baik-baik saja.

Tidak ada.

Mereka melangkah keluar hotel.

Udara pagi lembap. Jalanan basah. Bau tanah dan aspal bercampur.

Hendrik berjalan lebih dulu, menyeret koper.

“Kita cari tempat lain saja,” katanya, seolah menyebutkan hal sepele. “Pasti ada.”

Anneliese berhenti sebentar di trotoar.

Tangannya masuk ke tas kecil itu. Ia merasakan kotak beludru di dalamnya, keras dan nyata.

Ia bisa.

Ia tahu itu.

Ia bisa mengeluarkannya sekarang. Menjualnya. Menyelesaikan semuanya, setidaknya untuk sementara.

Tapi suara ibunya kembali muncul, jelas, tidak teredam oleh hujan atau lalu lintas.

Pilih dirimu sendiri.

Anneliese menutup tasnya.

Ia melangkah mengejar Hendrik.

Mereka berjalan bersama, di bawah langit yang mulai cerah kembali, tanpa tujuan yang jelas. Dari luar, mereka masih tampak seperti pasangan yang berlibur — dua orang asing dengan koper, berbicara pelan, sesekali tertawa kecil.

Tidak ada yang tahu, bahkan Hendrik, bahwa di dalam diri Anneliese, sesuatu telah berubah menjadi angka-angka kecil yang tak bisa diabaikan lagi.

Belum patah.
Belum runtuh.

Hanya mulai dihitung.

Dan sejak saat itu, Anneliese tahu:
hari-hari indah tidak pernah benar-benar hilang —
mereka hanya berhenti gratis.

Bersambung ke Episode 5 – Tidak Ada Tempat untuk Pulang

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 3

Episode 3 - Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 29

Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 33

Episode 33 — Arah Yang Tidak Tergesa Pagi datang dengan tenang. Hampir sama seperti kemarin....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 35

Episode 35 — Hal yang Mulai Disusun Pagi itu datang tanpa gangguan. Cahaya masuk seperti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 10

Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!