Skip to content

Terbunuhnya Sang Diktator Julius Caesar

Kota kecil Subura, Roma — sebuah kawasan yang tak pernah tidur. Jalan-jalan sempitnya dipenuhi aroma roti hangat, teriakan pedagang, dan langkah tak henti dari ribuan orang yang numpang hidup di dalamnya. Di balik hiruk-pikuk itu, pada suatu pagi musim panas tahun 100 SM, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kelak membuat dunia mengenal arti kekuasaan yang sesungguhnya.

Namanya: Gaius Julius Caesar.

Pada musim panas tahun 100 sebelum Masehi, sebuah rumah besar yang asri dengan arsitektur Italia sedang sangat ramai. Langit waktu itu bersih, hanya dihiasi awan tipis yang bergerak pelan. Matahari menyinari bangunan-bangunan rumah bertingkat dari kayu dan batu, membuat udara terasa hangat.

Di sebuah rumah keluarga bangsawan gens Julia — rumah yang tampak kontras dengan keramaian Subura — seorang perempuan bangsawan bernama Aurelia Cotta duduk di ranjang melahirkan. Di sampingnya, seorang bidan memegang kain linen bersih.

“Kamu kuat, Aurelia. Sedikit lagi…” kata bidan itu lembut.

Aurelia menggenggam tangan suaminya, Gaius Julius Caesar Senior, seorang pria berwajah keras tapi berhati lembut.

“Gaius… aku harap anak kita kelak membawa kehormatan bagi keluarga Julia,” ujar Aurelia sambil terengah.

Caesar Senior tersenyum tipis. “Dengan darah Venus mengalir dalam dirinya… aku yakin dia lahir untuk sesuatu yang besar.”

Beberapa saat kemudian, tangisan bayi menggema.

“Itu dia…” bisik sang bidan sambil mengangkat bayi kecil itu. “Anak laki-laki, sehat.”

Aurelia menatap putranya dengan mata berbinar. “Dia… harus menjadi seseorang.”

Dan dunia pun seolah merasakan hal yang sama.

Puluhan tahun kemudian, Caesar yang muda sudah tumbuh menjadi pemuda berwajah tampan, tubuh ramping atletis, rambut coklat kemerahan, dan tatapan yang tajam namun hangat. Saat itu ia sedang menimba ilmu retorika di kota Rhodes, belajar kepada Apollonius Molon, sang orator legendaris.

Ruang kelasnya sederhana: meja batu panjang, kursi kayu dengan ukiran kasar, dan jendela lebar yang memberi pemandangan laut biru yang berkilau.

Molon berjalan mondar-mandir di depan murid-muridnya. “Caesar,” katanya. “Coba kamu ulangi pidato yang kamu buat kemarin. Tapi kali ini… bayangkan kamu sedang berbicara kepada ribuan warga Roma.”

Caesar berdiri, merapikan toga putihnya.

Angin laut masuk dari jendela, membuat ujung toganya berkibar. Ia menatap ke depan, seolah membayangkan forum besar dengan kolom-kolom marmer dan warga Roma berdiri di segala penjuru.

Dengan suara bulat dan tenang ia mulai berbicara.

“Wahai rakyat Roma, dengarkan aku…”

Tiap kalimat keluar dengan jelas dan mantap, seakan suara seorang pemimpin yang sudah ditakdirkan untuk memerintah.

Molon tersenyum puas. “Kamu bukan hanya berbakat, Caesar. Kamu… luar biasa.”

Caesar menunduk hormat. “Terima kasih, guru.”

Tapi dalam hatinya, Caesar tahu satu hal:

“Aku akan kembali ke Roma… dan mengubah segalanya.”

Peristiwa di laut Aegea, Tahun 75 Sebelum Masehi…

Langit dipenuhi bintang. Ombak memantulkan cahaya remang bulan. Kapal kecil yang ditumpangi Caesar melaju perlahan.

Ia sedang duduk di tepi kapal, membaca gulungan naskah pidatonya. Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari kejauhan.

“Kapten! Kapal bajak laut di belakang!”

Seorang prajurit berlari. “Tuan Caesar, kita harus bersiap!”

Caesar berdiri dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa panik. “Berapa banyak mereka?”

“Dua kapal, tuan — besar.”

Tak lama kemudian, kapal bajak laut menabrak sisi kapal Caesar. Tali pengait dilemparkan, dan belasan pria bersenjata melompat naik.

Seorang bajak laut tinggi besar dengan bekas luka di wajahnya maju. “Kamu… Julius Caesar?”

Caesar mengangguk santai. “Betul.”

“Sempurna. Kamu jadi tawanan kami.”

Caesar tidak mundur. “Berapa tebusan yang kamu mau?”

“Dua puluh talenta perak.”

Caesar tertawa. “Kamu meremehkan aku. Tebusan itu terlalu kecil. Jadikan lima puluh.”

Para bajak laut saling menatap, bingung. Sang pemimpin menggaruk kepalanya. “Kamu… bercanda?”

“Tidak,” kata Caesar tenang. “Kamu harus tahu nilai seorang Julius.”

Pemimpin bajak laut itu tertawa keras. “Kamu aneh! Tapi baiklah. Lima puluh talenta!”

Markas Bajak Laut, 38 hari penyanderaan…

Pulau itu kering, tanahnya coklat, penuh batu kapur. Gua besar menjadi markas para bajak laut. Meja-meja kayu kasar berserakan, tong anggur di sudut, dan di tengah ruangan sebuah kursi panjang dari balok kayu ditutupi kulit kambing — dipakai Caesar sebagai tempat duduk.

Situasinya aneh – Caesar bukan tawanan biasa.

Ia malah bertindak seperti bos di tempat itu.

Saat para bajak laut gaduh memainkan dadu, Caesar menggeleng. “Diam sedikit, aku sedang menulis.”

Pemimpin bajak laut mendekat. “Hei, Caesar… kamu tidak takut kami bunuh?”

Caesar menatapnya dengan ekspresi datar. “Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena nanti saat aku bebas… aku akan kembali dan menyalib kalian satu per satu.”

Suasana hening sebentar sebelum pecah jadi tawa terbahak-bahak.

“Caesar! Kamu lucu sekali!”

Tapi Caesar hanya menulis lagi, tanpa ikut tertawa.

Tepat pada hari ke-38…

Ketika tebusan tiba, Caesar dibebaskan. Namun ia tidak pulang. Ia pergi ke kota terdekat, merekrut pasukan kecil, dan kembali ke pulau itu.

Pagi itu, langit merah keemasan. Caesar berdiri di depan gua sambil memegang pedang.

“Bajak laut!” teriaknya. “Keluar!”

Para bajak laut panik ketika melihat mantan tawanan mereka membawa pasukan Romawi.

Pertempuran berlangsung singkat.

Caesar menghampiri pemimpin bajak laut yang dulu menertawakannya.

“Aku sudah bilang, bukan?” ucap Caesar sambil memandang pria itu jatuh tersimpuh. “Aku akan kembali.”

Pemimpin bajak laut menunduk. “Caesar… kami memperlakukanmu baik. Setidaknya… bebaskan aku?”

Caesar menatapnya lama.

“Kamu benar. Kamu memperlakukanku baik.” Ia lalu memberi isyarat kepada prajurit. “Ikut hukum Romawi. Gantung dia dengan cepat. Tanpa rasa sakit.”

Pria itu meneteskan air mata syukur dan pasrah. Caesar menepati kata-katanya. Ia memperlakukan mereka… sesuai hukum.

Namun tetap saja, Ia menghukum semua bajak laut itu.

Dan cerita tentang keberanian sekaligus ketegasannya menyebar luas ke seluruh Roma.

Perang Galia

Medan perang Galia adalah dataran luas yang diselimuti kabut pagi. Tenda-tenda legiun berdiri rapi, dan di tengahnya, sebuah meja kayu besar penuh peta dan miniatur pasukan.

Caesar — kini komandan Legiun XIII — berdiri sambil memegang cangkir anggur. Hujan rintik-rintik jatuh, membuat aroma tanah basah menyelimuti udara.

Seorang centurion masuk. “Jenderal, suku Helvetii bergerak ke lembah timur.”

Caesar menunjuk peta. “Bagus. Kita jebak mereka di sini.”

Centurion itu gugup. “Tapi, jenderal… jumlah mereka tiga kali lipat dari kita.”

Caesar tersenyum tipis. “Makanya kita akan menang. Mereka terlalu percaya diri.”

Ia keluar dari tenda. Puluhan ribu prajurit sepanjang perkemahan menatapnya.

Caesar mengangkat pedang.

“Legiun XIII! Roma mengandalkan kita! Kita bukan hanya prajurit… kita adalah pelindung kehormatan!”

Sorakan menggelegar.

Dan perang pun meletus. Panah melesat, tombak patah, pedang beradu, jeritan terdengar di mana-mana. Tapi Caesar tetap di barisan depan, pedangnya menembus musuh satu per satu.

Legenda tentang kebesaran Caesar di Galia pun lahir.

Peristiwa Britannia

Pada awal tahun 55 SM. Pantai Britannia diselimuti kabut tebal. Ombak besar menggulung kapal Romawi. Angin laut mengibaskan jubah Caesar.

Seorang prajurit melapor, “Tanah di depan, jenderal!”

Caesar menatap pantai yang tampak asing. “Itulah Britannia… dunia yang bahkan dewa pun jarang memandangnya.”

Saat mendarat, suku-suku Britannia menyerbu dengan kereta perang. Namun Caesar tidak goyah. Ia memerintah dengan cepat, lugas, dan penuh strategi.

Walau ekspedisi tidak permanen, keberaniannya menembus batas baru menambah reputasinya sebagai pemimpin visioner. Nama Julius Caesar selalu berkumandang di seluruh Roma, dari anak-anak, remaja, hingga orang tua menjadi sangat mengaguminya.

Di rumah Crassus yang mewah — pillar marmer tinggi, meja panjang berlapis emas, cahaya obor berkelip — Caesar duduk bersama dua pria paling berpengaruh di Roma, yaitu Pompeius Magnus, yang merupakan seorang jenderal agung, berwajah tegas, bersikap dingin. Satu lagi adalah Crassus, orang terkaya Roma, mempunyai senyum licik namun elegan.

Crassus membuka percakapan. “Roma kacau. Senat sibuk bertengkar.”

Pompeius menatap Caesar. “Kita butuh aliansi.”

Caesar mengangguk. “Kita bertiga memiliki apa yang Roma butuhkan: kekayaan, kekuatan militer, dan kecerdasan politik.”

Pompeius tersenyum kecil. “Dan bersama… kita bisa mengendalikan Roma.”

Mereka mengangkat cawan anggur.

Trio paling berbahaya di Roma lahir malam itu.

Beberapa tahun kemudian…

Popularitas Julius Caesar di Roma semakin menanjak dan semakin disukai oleh masyarakat. Hal itu menimbulkan kecemburuan di sisi Pompeius. Bukan hanya Pompeius, sebenarnya sejak dibentuknya Trio itu, dewan Senat sudah tidak senang. Tidak mendukung, terutama kelompok optimates. Mereka akhirnya mengompori Pompeius dengan dalih memberi dukungan untuk melengserkan Julius Caesar.

Senat dari kelompok Optimates akhirnya mulai menjadikan Pompeius sebagai sekutu utama mereka untuk melawan pengaruh Caesar. Pompeius secara penuh menerima dukungan ini.

Dia merasa punya kekuatan sekarang. Karier di politiknya pun maju pesat dengan dukungan penuh dari kelompok Optimates. Tapi ternyata hambatannya selalu ada. Popularitas dan kekuatan Caesar di Galia semakin meningkat dan hal itu membuat Pompeius merasa posisi politik dan militernya terancam.

Hari demi hari, Pompeius semakin mengidentifikasikan dirinya sebagai “pelindung Republik” untuk menolak ambisi Caesar yang dianggap berbahaya. Sebagian warga Roma dan Senat semakin memberi panggung kepada Pompeius. Ketika Senat memerintahkan Caesar meletakkan jabatan dan pulang ke Roma tanpa pasukan, Pompeius mendukung keputusan itu—yang oleh pendukung Caesar dianggap sebagai pengkhianatan.

Dalam sebuah sidang, Pompeius tidak melihat perbuatannya sebagai bentuk pengkhianatan.
“Aku menyelamatkan Republik.” katanya dengan lantang.

Tapi bagi Caesar, langkah Pompeius bersekutu dengan Senat dan menuntut Caesar pulang tanpa legiun adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjanjian dan persahabatan mereka sebelumnya.

Hingga akhirnya pada tahun 49 SM. Di tepi Sungai Rubicon, malam dingin menusuk. Kabut tebal menyelimuti perairan. Caesar memandang sungai itu dengan mata tajam.

Di sebelahnya, Mark Antony berbisik, “Jika kamu melintas… perang saudara tak terhindarkan.”

Caesar melangkah maju. “Jika aku tidak melintas… aku mati.”

Ia menatap pasukannya. “Kamu semua ikut aku?”

Para prajurit serempak mengangguk.

Caesar menarik napas panjang. “Alea iacta est.”

Dadu telah dilempar.
Mereka melintas.

Dan Roma berguncang.

Di dataran kering Pharsalus, Yunani, dua pasukan terbesar Roma saling berhadapan. Pasukan Caesar yang lebih sedikit melawan pasukan Pompeius yang lebih besar.

Caesar berdiri di depan pasukannya. “Jangan takut jumlah mereka. Kita bertempur bukan hanya untuk menang… tapi untuk hidup.”

Pertempuran pecah. Debu tebal menyelimuti. Pasukan Pompeius terkejut oleh manuver cepat Caesars.

Dalam beberapa jam, Caesar menang.

Pompeius melarikan diri ke Mesir.

Namun ia tidak pernah kembali.

….dan waktupun terus berlalu.

Aula besar Roma berkilau dengan cahaya obor. Marmer putih, patung dewa, dan kursi-kursi perunggu memenuhi ruangan. Caesar duduk di kursi tinggi — bukan tahta, tapi hampir seperti itu.

Senator datang memberi kabar.

“Rakyat mencintaimu, Caesar. Mereka ingin kamu jadi diktator seumur hidup.”

Caesar terdiam lama. “Diktator… seumur hidup?”

“Kamu penyelamat Roma. Mereka memintanya.”

Caesar menunduk. “Roma… akhirnya stabil.”

Namun di balik tembok, senator-senator berbisik.

“Kekuasaan terlalu banyak.”

“Dia ancaman bagi republik.”
“Dia harus dihentikan.”
Mereka merencanakan sesuatu.

Pada suatu pagi yang cerah, burung-burung berkicau. Semuanya tampak biasa saja. Saat itu tanggal 15 Maret 44 SM. Langit berawan tipis. Udara dingin.

Caesar berjalan menuju gedung Senat. Toga putihnya berkibar, dan beberapa pengawal mengikuti dari jauh.

Di tangga masuk, Brutus — orang yang dianggap Caesar seperti anaknya sendiri — menyambut.

“Pagi, Caesar,” katanya dengan suara pelan.

“Pagi, Brutus.” Caesar menepuk bahunya. “Kita selesaikan sidang hari ini, ya.”

Mereka masuk ke ruang senat yang lantainya dingin, dindingnya tinggi, kursi-kursinya terbuat dari batu halus. Cahaya matahari masuk dari jendela, membuat lantai berkilau.

Ketika Caesar duduk, senator-senator mengelilinginya.

“Kamu… terlalu berkuasa, Caesar,” kata Cassius.

Caesar tersenyum. “Roma butuh stabilitas.”

Lalu sesuatu terjadi. Satu senator mendekat, dan secepat kilat, pisau kecil diselipkan ke sisi toga Caesar.

“Apa ini — ”

Tikaman kedua.

Ketiga.

Keempat.

Suara Caesar melemah. “Brutus…?”

Brutus menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan aku…”

Tikaman terakhir menembus dada.

Caesar roboh di tangga senat, darahnya merembes membasahi marmer putih. Julius Caesar dibunuh pada saat ia belum siap dan ia belum tahu apa yang sedang terjadi.

Lantai marmer putih yang halus mengkilat itu akhirnya banjir darah. Tubuh Julius Caesar selama beberapa saat tidak segera dipindahkan dari tempatnya ditikam.

Roma pun kehilangan pemimpin terbesar yang pernah dimilikinya.

Hari-hari berlalu, tahun berganti, tetapi nama Caesar tidak pernah mati. Tulisan-tulisannya tentang perang Galia dan perang saudara dibaca dari generasi ke generasi, seperti suara yang tak pernah padam.

Komentar seorang sejarawan di perpustakaan Alexandria berkata:

“Dia menulis bukan hanya sejarah… tapi dirinya sendiri.”
Nama Caesar kemudian menjadi gelar kekuasaan setingkat Raja. Penyebutan itu berupa Kaiser, Tsar, Czar.

Di setiap zaman, di setiap negara, nama itu selalu berarti satu hal:
Pemimpin yang melampaui manusia biasa.

Sosok Julius Caesar selalu diingat warga Roma sebagai pemuda yang lahir di Subura yang sederhana. Ia belajar, jatuh, bangkit, bertarung, memimpin, memerintah, dikhianati, lalu dianggap abadi. Semuanya terjadi di Republik ini. Republik Roma.

Ia bukan hanya jenderal.

Bukan hanya negarawan.
Bukan hanya penulis.
Ia legenda.

Dan legenda… tidak pernah benar-benar mati.

*** The End ***

*
*
Sumber informasi sejarah:
https://silvergolddiamond.blogspot.com/2024/12/fakta-lengkap-siapakah-julius-caesar.html

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Pertarungan Kalkulus di Balik Kabut Royal Society

Tahun 1711, London dingin seperti biasa. Kabut menyelimuti jalan-jalan berbatu, sementara cahaya redup lampu minyak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Jejak Mimpi Martin Luther King Jr

Montgomery, Alabama — 1 Desember 1955 Senja turun perlahan di atas kota Montgomery.Langit kelabu menggantung...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Sejarah Awal Masuknya Pasta Gigi di Indonesia

Langit Batavia sore itu berwarna oranye keemasan. Matahari seperti tersangkut di antara menara gereja tua...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Cleopatra Bukan Wanita Biasa

Angin dari Laut Mediterania berembus lembut sore itu. Langit di atas Alexandria berwarna jingga keemasan,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Perseteruan Isaac Newton Dengan Robert Hooke (Berdasarkan Kisah Nyata)

Matahari baru saja naik di kota London yang diselimuti kabut tipis. Di sebuah ruang kerja...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!