Matahari baru saja naik di kota London yang diselimuti kabut tipis. Di sebuah ruang kerja sempit yang dipenuhi alat-alat eksperimen dan tumpukan manuskrip, Robert Hooke duduk sambil mengamati seutas pegas logam yang bergetar di tangannya. Hooke dikenal sebagai pria cerdas, pemikir ulung yang sering tak dihargai oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan, lebih dari apa pun, ia punya satu musuh abadi: Isaac Newton.
“Newton, si lelaki cermin itu lagi,” gerutu Hooke sambil mencoret-coret diagram pada kertas kusamnya. “Selalu ingin terlihat lebih terang.”
Perseteruan keduanya telah berlangsung lama, dimulai dari perdebatan sengit tentang cahaya. Hooke yakin bahwa cahaya bersifat gelombang, sedangkan Newton, yang sibuk dengan eksperimen optiknya, bersikeras bahwa cahaya adalah partikel. Dari situlah dendam perlahan-lahan berakar, mengakar, hingga merambat seperti sulur-sulur api yang tidak padam.
Sementara itu, di ujung kota, Isaac Newton sedang menunduk di atas sebuah meja besar yang dipenuhi prisma kaca. Dengan penuh perhatian, ia menyorotkan cahaya melalui prisma, memecahkannya menjadi warna-warna pelangi. Sejak kecil, Newton adalah anak yang penuh rasa ingin tahu, obsesif terhadap hukum-hukum alam. Ia tak peduli bagaimana orang lain memandangnya, termasuk Hooke.
“Cahaya ini… adalah kunci memahami alam semesta,” gumam Newton, matanya berkilat penuh ambisi. “Dan tidak ada yang bisa menyangkalnya.”
Kabar tentang eksperimen Newton sampai ke telinga Hooke dengan cepat. Kabar itu bagai angin yang membawa aroma perdebatan baru. Hooke merasa Newton mencuri perhatian, bahkan mencoba merebut pengakuan atas teori cahaya yang selama ini ia pelajari. Hooke memutuskan untuk berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya.
Di hadapan anggota Royal Society, lembaga bergengsi tempat para ilmuwan berkumpul, Hooke berdiri dengan dada membusung. “Tuan-tuan, saya ingin menegaskan bahwa teori Newton tentang cahaya adalah kesalahan. Ia gagal memahami bahwa cahaya bisa mengalami interferensi dan difraksi. Bagaimana kita bisa mempercayainya begitu saja?”
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Hooke, sementara Newton duduk di salah satu sudut, wajahnya dingin. Ia tahu ini bukan sekadar kritik ilmiah—ini adalah serangan pribadi.
Newton berdiri perlahan, menatap Hooke dengan tatapan menusuk. “Hooke, kau bicara seolah-olah kau adalah satu-satunya penemu di dunia ini. Tapi apa bukti yang kau miliki selain kata-kata?”
“Buktiku adalah eksperimen bertahun-tahun yang tak kau pedulikan!” jawab Hooke, suaranya meninggi. “Kau mungkin cerdas, Newton, tapi kau arogan. Kau ingin menguasai semua pujian seolah dunia hanya milikmu!”
Newton mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi. Baginya, sains adalah jalan menuju pencerahan, bukan panggung perseteruan. Namun, ia tidak bisa membiarkan Hooke merendahkannya.
Perseteruan ini berlanjut di balik pintu-pintu laboratorium. Newton mulai menutup diri, menulis karya-karya besarnya, termasuk “Principia Mathematica,” yang kelak mengubah dunia sains. Di dalamnya, Newton mengembangkan hukum gerak dan gravitasi—hal yang akan menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh sepanjang masa. Tapi di sisi lain, Hooke tak tinggal diam. Ia mengirimkan kritik, makalah, dan bahkan surat berisi ejekan, seolah ingin menantang Newton keluar dari ‘tempurung kesombongan’-nya.
“Aku tidak akan membiarkan dia menang,” ujar Hooke suatu malam, matanya memerah karena kelelahan. “Newton harus tahu bahwa aku lebih dari sekadar bayangan yang ia remehkan.”
Tapi waktu membuktikan bahwa perseteruan ini merugikan mereka berdua. Newton, yang semakin terisolasi, mulai memperlihatkan sisi gelapnya: dendam yang membara. Ketika Hooke meninggal dunia, Newton memastikan bahwa banyak karya Hooke ‘terhapus’ dari sejarah Royal Society. Potret Hooke tidak ditemukan, sebagian besar catatannya disingkirkan, dan nama Hooke hanya tersisa sebagai bisikan samar di antara sejarah besar Newton.
Namun, di balik dendam mereka, ada ironi yang tak bisa dihindari: mereka saling melengkapi. Teori-teori Hooke tentang elastisitas dan mikroskop membantu meletakkan dasar bagi penemuan-penemuan besar di masa depan, sementara Newton memperkuat pondasi sains modern dengan pemahaman matematikanya. Dua kutub yang berseberangan, namun tak bisa sepenuhnya dipisahkan.
Di akhir hidupnya, Newton pernah menatap langit malam yang penuh bintang. Ia sadar bahwa pencapaian terbesarnya tak bisa dilepaskan dari dorongan dan tantangan yang diberikan oleh mereka yang ia anggap musuh, termasuk Hooke. Tanpa perdebatan, tanpa dorongan rasa ingin membuktikan dirinya benar, mungkin ia takkan pernah sejauh itu dalam pencariannya.
“Hooke,” bisiknya pelan. “Kau adalah bayangan yang tak pernah bisa kuhindari. Namun, mungkin itulah yang membuat cahaya terlihat lebih terang.”
Perseteruan mereka, pada akhirnya, menjadi kisah tentang manusia dan ambisi yang dibakar oleh ego, tetapi juga oleh tekad untuk melampaui batas. Seperti cahaya yang menemukan jalan melalui celah tergelap, ilmu pengetahuan berkembang karena tantangan yang tidak pernah usai—meskipun kadang dalam bentuk perseteruan yang membakar.
TAMAT
Author Profile
Categories
Related Posts
Tahun 1711, London dingin seperti biasa. Kabut menyelimuti jalan-jalan berbatu, sementara cahaya redup lampu minyak...
Read MoreDewaBukuJSW
Dalam sebuah ruangan kantor yang sempit di tempo dulu, ada 6 orang sedang mengalami situasi...
Read MoreDewaBukuJSW
London, 1705. Angin musim dingin meniupkan udara menusuk tulang ke lorong-lorong berlapis batu di sekitar...
Read MoreDewaBukuJSW
Langit Batavia sore itu berwarna oranye keemasan. Matahari seperti tersangkut di antara menara gereja tua...
Read MoreDewaBukuJSW
Kota kecil Subura, Roma — sebuah kawasan yang tak pernah tidur. Jalan-jalan sempitnya dipenuhi aroma...
Read More