London, 1705. Angin musim dingin meniupkan udara menusuk tulang ke lorong-lorong berlapis batu di sekitar Royal Society. Di dalam sebuah ruangan besar yang dipenuhi buku dan peta bintang, Sir Isaac Newton duduk di meja kayu besar dengan mata tajam yang selalu meneliti. Baru saja ia menerima kabar yang membuat darahnya mendidih—John Flamsteed, sang Astronom Kerajaan, kembali menolak memberikan data observasi bintang yang sangat dibutuhkan Newton untuk melengkapi teorinya tentang gravitasi.
Newton mengepalkan tangan. “Flamsteed dan keengganannya, aku sudah muak dengan itu,” gumamnya, menggeser peta bintang di depannya. Ia sudah cukup bersabar selama bertahun-tahun. Data itu harus didapatkan, tak peduli bagaimana caranya.
Di lain tempat, John Flamsteed sedang berada di Observatorium Greenwich. Ia melirik teleskop besar dengan penuh kecintaan, mencatat posisi bintang-bintang di langit malam. Data yang ia kumpulkan adalah hasil kerja keras bertahun-tahun. Ia tahu Newton menginginkan data itu, tapi baginya, semuanya masih terlalu mentah untuk dibagikan. Ada terlalu banyak kesalahan yang belum ia perbaiki.
Saat salah seorang asistennya, Thomas, menghampirinya dengan segelas anggur, Flamsteed menghela napas panjang.
“Thomas, Newton mengirim surat lagi.”
Thomas mengernyit. “Apakah dia tidak bisa bersabar, Pak?”
“Sepertinya tidak,” Flamsteed menatap jauh keluar jendela. “Newton memang jenius, tapi dia tidak mengerti. Data ini… jika dipublikasikan dengan kesalahan, apa artinya untuk kredibilitasku?”
Beberapa hari kemudian…
Di Royal Society, Newton memutuskan untuk bertindak. Sebagai Presiden, ia punya kekuatan besar. Ia mengumpulkan anggota Society dan memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih agresif. “Kita akan mempublikasikan data Flamsteed, terlepas dari keberatannya,” ujarnya tegas. Beberapa anggota terdiam, tapi tak ada yang berani menentang Newton secara langsung.
Surat perintah segera dikirimkan ke Flamsteed. Flamsteed marah besar begitu membacanya. “Bagaimana mungkin! Itu dataku! Aku yang menghabiskan malam-malam tak tidur demi mengumpulkan ini semua!” Ia meremas surat itu dengan geram.
Sore itu, Flamsteed mendatangi Royal Society dengan langkah mantap. Begitu pintu terbuka, ia langsung berhadapan dengan Newton. Keduanya saling memandang—tatapan tajam Newton bertemu dengan kilatan kemarahan di mata Flamsteed.
“Apa maksudmu, Newton?” Flamsteed mendesis. “Mengambil dataku seperti ini? Apa kau tak tahu itu belum siap?”
Newton tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Waktumu sudah cukup, Flamsteed. Aku butuh data itu. Observasi bintang-bintangmu terlalu berharga untuk ditunggu lebih lama.”
“Itu bukan keputusanmu,” Flamsteed membalas dengan suara gemetar, antara marah dan bingung. “Aku adalah pemilik data itu. Kau tidak punya hak menerbitkannya tanpa izinku.”
Newton mendekat, membalas dengan suara pelan namun tegas. “Aku punya tanggung jawab untuk mendorong kemajuan sains, bahkan jika kau merasa itu menyakitimu. Dunia membutuhkan data itu, John. Bukan ego atau kehormatanmu. Aku yang memegang kekuasaan di Royal Society, paham?”
Beberapa saat setelah itu Newton dan orang-orangnya pergi mengambil paksa semua data observasi milik Flamsteed di kediamannya tanpa perlawanan yang berarti, apapun yang dilakukan Flemsteed untuk mempertahankan data observasinya tidak berarti apa-apa di mata Isaac Newton, karena pengaruh Newton sangat besar di Royal Society.
Sewaktu Newton dan orang-orangnya melangkah untuk kembali ke markas Royal Society, Flemsteed menghentikan langkah mereka sambil berkata, “Newton, apakah seperti ini cara ilmuwan terhormat?” dan Newton tidak menjawabnya. Itu semua berakhir tanpa penyelesaian. Newton tetap bersikeras, dan tak lama setelah itu, data Flamsteed mulai diterbitkan di bawah kendali Newton. Flamsteed merasa dipermalukan. Ia menganggap Newton bukan hanya telah mencuri hasil kerjanya, tapi juga menghancurkan reputasinya.
Beberapa bulan kemudian…
Flamsteed tak tinggal diam. Ia mengajukan petisi, berusaha merebut kembali datanya dan menghentikan publikasi lebih lanjut. Pertarungan ini berubah menjadi pertempuran yang memakan waktu lama—bukan lagi soal bintang, tapi soal harga diri dan hak atas karya. Flamsteed bahkan sampai berjuang melalui jalur hukum, berusaha menghentikan Newton.
Di sisi lain, Newton tetap tak bergeming. Baginya, data Flamsteed adalah potongan penting untuk membuktikan teori gravitasinya. Ia yakin bahwa langkahnya benar, meskipun itu mengorbankan hubungan mereka.
Malam di Observatorium Greenwich…
Flamsteed duduk sendirian di ruangan yang dulu penuh semangat. Hatinya terasa kosong. Thomas, asistennya, menatap prihatin.
“Pak, mungkin ada jalan lain untuk menyelesaikan ini.”
Flamsteed menggelengkan kepala. “Newton sudah mengambil segalanya, Thomas. Karyaku, kehormatanku… aku tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja.”
Ia memandang langit malam, bintang-bintang yang terus bersinar tanpa mempedulikan konflik di antara manusia. Di kejauhan, Newton di Royal Society, masih mengutak-atik data yang ia yakini akan menjadi kunci pemahaman alam semesta. Bagi keduanya, bintang-bintang itu telah menjadi medan pertempuran—tempat di mana ambisi dan harga diri berbenturan tanpa ampun dengan mengorbankan hubungan baik diantara sesama ilmuwan.
Author Profile
Categories
Related Posts
Montgomery, Alabama — 1 Desember 1955 Senja turun perlahan di atas kota Montgomery.Langit kelabu menggantung...
Read MoreDewaBukuJSW
Kota kecil Subura, Roma — sebuah kawasan yang tak pernah tidur. Jalan-jalan sempitnya dipenuhi aroma...
Read MoreDewaBukuJSW
Matahari baru saja naik di kota London yang diselimuti kabut tipis. Di sebuah ruang kerja...
Read MoreDewaBukuJSW
Tahun 1711, London dingin seperti biasa. Kabut menyelimuti jalan-jalan berbatu, sementara cahaya redup lampu minyak...
Read MoreDewaBukuJSW
Dalam sebuah ruangan kantor yang sempit di tempo dulu, ada 6 orang sedang mengalami situasi...
Read More