Tahun 1711, London dingin seperti biasa. Kabut menyelimuti jalan-jalan berbatu, sementara cahaya redup lampu minyak menerangi lorong-lorong sempit. Di sebuah ruangan megah Royal Society, Isaac Newton duduk di kursinya dengan wajah tegang. Di meja depannya, selembar surat dengan tinta yang baru saja mengering terlihat seperti bom waktu. Surat itu datang dari Jerman, dari ilmuwan yang selalu memancing amarahnya—Gottfried Wilhelm Leibniz.
Newton mengetukkan jarinya ke meja. “Dia berani menantangku lagi,” gumamnya sambil menyipitkan mata. Surat itu berisi tuduhan bahwa Newton telah mencuri kalkulus dari karya Leibniz. “Sungguh menggelikan,” batinnya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan berderit terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah setengah bingung, setengah penasaran. John Keill, salah satu pendukung setia Newton, mendekat.
“Isaac, kau tampak seperti akan meledak. Apa ada sesuatu yang harus kuketahui?”
Newton mengangkat surat itu dengan sedikit gemetar. “Ini, dari Leibniz. Ia menuntut pengakuan, mengatakan bahwa aku mencuri ide kalkulusnya.”
Keill menghela napas. “Tentu saja, kita tahu kebenarannya. Kau mengembangkan metode ini bertahun-tahun sebelum dia. Manuskripmu sendiri ada sejak 1660-an. Tapi, Leibniz… dia tidak akan berhenti sampai dunia percaya pada versinya.”
Newton mendekat ke jendela, menatap keluar dengan tatapan dingin. “Dia datang terlambat, John. Kalkulus itu milikku. Aku yang menelitinya jauh sebelum dia memikirkannya”
Sementara itu, jauh di Hannover, Leibniz juga tidak tinggal diam. Ia berdiri di ruang kerjanya yang penuh dengan buku tebal, wajahnya tak kalah tegang. Ia berbicara dengan seorang sahabatnya, Jacob Hermann.
“Newton sudah merendahkanku terlalu lama, Jacob. Mereka berpikir aku mencuri dari manuskripnya? Padahal aku punya bukti kuat bahwa aku mengembangkan ini sendiri, tanpa campur tangan siapa pun dari Inggris.”
Jacob menatapnya penuh simpati. “Tentu, Leibniz. Tapi kau tahu, Royal Society sudah berada di bawah kendali Newton. Dia orang penting, seorang Presiden dari Royal Society! Apa yang bisa kita perbuat?”
Leibniz mengepalkan tangan. “Kita perlihatkan kebenaran. Aku akan menulis lebih banyak, memperkuat bukti-buktiku. Dunia perlu tahu bahwa metode differensial ini adalah milikku. Newton tidak boleh menghapus namaku dari Royal Society begitu saja!”
Beberapa minggu kemudian, di London…
Royal Society mengadakan pertemuan besar. Keill, yang bertindak sebagai pendukung utama Newton, berdiri di hadapan anggota yang berkumpul. Dia berbicara lantang, mengulang-ulang argumen bahwa Newton telah memulai kalkulus lebih dulu.
Newton sendiri duduk di belakang, memperhatikan setiap kata dengan mata yang tajam. Sesekali dia memberi isyarat, memastikan bahwa narasi tetap berpihak padanya.
Salah satu anggota, seorang pria tua dengan rambut memutih, mengangkat tangannya. “Tetapi, bukti Leibniz pun kuat. Ia menerbitkan hasil karyanya lebih dahulu.”
Newton akhirnya berdiri. Suaranya dingin, namun tegas. “Tanggal-tanggal publikasi tidak lebih penting daripada siapa yang memulai lebih dulu. Dan saya punya catatan-catatan pribadi yang menunjukkan pengembangan metode ini jauh sebelum Leibniz.”
Seketika ruangan terdiam. Semua mata tertuju pada Newton. Ada yang kagum, ada yang ragu, dan ada yang tampak bingung.
Namun di sisi lain Eropa, Leibniz merasa makin terisolasi. Surat-suratnya dijawab dengan tuduhan. Artikel-artikelnya dicurigai. Ia tahu, pertempuran ini bukan sekadar kalkulus—ini soal harga diri dan pengakuan.
Surat-surat dari anggota Royal Society berserakan diatas meja kerja Leibniz, dia membacanya dengan setengah tidak percaya pada apa yang dibacanya. Leibniz mendengus dengan wajah memerah dan gigi gemeretak menahan amarahnya,”Mereka semua menuduhku menjiplak temuan Isaac Newton? Memangnya aku badut?! AKU JUGA ILMUWAN SEPERTI MEREKA!!!!”
DUARRR!! ~ leibniz menggebrak meja dengan sekuat tenaganya. Dia merasa sangat tertekan….
Beberapa bulan kemudian…
Sebuah kabar datang ke Leibniz. Newton telah menulis buku berjudul Principia Mathematica—karya besar yang menunjukkan kalkulus versi Newton dengan cara yang sistematis. Leibniz membaca kabar ini dengan hati yang remuk.
Di saat yang sama, di Royal Society, Newton merasa menang. Ia berhasil menjatuhkan saingan yang berani mempertanyakan otoritasnya. Tapi kemenangan ini terasa pahit. Jauh di dalam hatinya, Newton tahu, dunia ilmiah telah terpecah karena perdebatan ini. Ia kehilangan momen-momen penting untuk memperluas ilmu pengetahuan — dan Leibniz, di seberang benua, juga menderita dalam isolasi, para ilmuwan menganggap Leibniz tidak pantas untuk disebut sebagai seorang ilmuwan.
Suatu malam…
Newton duduk sendirian, mencoret-coret di atas kertas. Ada rasa gelisah yang tak hilang meski ia menang. Ia memandang keluar jendela, pada bulan yang bersinar lemah di langit malam.
“Leibniz,” bisiknya. “Mungkin kau bukan sekadar pesaing. Tapi dalam medan perang ini, aku tidak akan membiarkanmu menang. Tidak akan. Tidak akan…”
Cerpen ini berakhir dengan Newton yang masih menatap bintang, sementara bayangan Leibniz menghilang di kejauhan — dua manusia hebat, berseteru untuk kebenaran yang berbeda demi dunia, demi ilmu pengetahuan.
TAMAT
Author Profile
Categories
Related Posts
Matahari baru saja naik di kota London yang diselimuti kabut tipis. Di sebuah ruang kerja...
Read MoreDewaBukuJSW
Langit Batavia sore itu berwarna oranye keemasan. Matahari seperti tersangkut di antara menara gereja tua...
Read MoreDewaBukuJSW
Montgomery, Alabama — 1 Desember 1955 Senja turun perlahan di atas kota Montgomery.Langit kelabu menggantung...
Read MoreDewaBukuJSW
Dalam sebuah ruangan kantor yang sempit di tempo dulu, ada 6 orang sedang mengalami situasi...
Read MoreDewaBukuJSW
Kota kecil Subura, Roma — sebuah kawasan yang tak pernah tidur. Jalan-jalan sempitnya dipenuhi aroma...
Read More