
Gerimis turun sejak subuh, tipis namun tak pernah benar-benar berhenti. Udara di perbukitan Ciwidey terasa basah dan berat, seolah kabut sengaja menggantung agar segala sesuatu tampak sedikit lebih jauh dari kenyataan. Jalan menuju Villa Puspa Mangala berliku, diapit kebun teh dan pohon-pohon mangga tua yang sudah ada sebelum rumah itu dibangun.
Villa itu besar. Terlalu besar untuk disebut rumah keluarga biasa. Halamannya luas, taman bunganya terawat, dan bangunannya berdiri anggun dengan teras lebar serta jendela-jendela kayu tinggi yang selalu terbuka pada siang hari. Dari luar, tak ada kesan suram. Semuanya tampak rapi, tertib, dan — anehnya — tenang.
Trunojoyo turun dari mobil sewaan yang masih mengeluarkan uap tipis dari kapnya. Ia mengenakan rompi kulit cokelat di atas kemeja putih berlengan digulung, bandana melingkar di lehernya, dan sepatu bot koboi yang sudah menemaninya ke terlalu banyak tempat untuk dihitung. Rokok menyala di jarinya bukan karena dingin, melainkan kebiasaan lama yang muncul setiap kali pikirannya mulai bekerja.
Ia diundang sebagai tamu. Begitu katanya.
Namun undangan ke rumah sebesar ini jarang sekali hanya soal silaturahmi.
Pesta ulang tahun Melati Prameswari akan digelar malam itu. Usianya dua puluh tiga. Anak bungsu dari keluarga Prameswari — keluarga lama yang dikenal penduduk sekitar sebagai pemilik lahan luas dan aliran dana yang tak pernah benar-benar jelas sumbernya.
Beberapa tamu sudah datang dan sebagian besar akan menginap. Hujan membuat siapa pun enggan turun ke kota malam-malam. Itulah alasan resmi yang diberikan Bram Prameswari, sang kepala keluarga, ketika menyambut Trunojoyo di teras.
“Anggap saja rumah sendiri,” kata Bram sambil tersenyum. Senyumnya rapi, terlalu terlatih.
Trunojoyo mengangguk sopan. Matanya menyapu halaman, taman bunga, dan pohon mangga yang berbuah lebat, lalu berhenti sejenak pada bangunan utama rumah itu sendiri. Ada rumah-rumah yang terasa hidup. Ada pula yang terasa seperti sedang menahan napas.
Di antara para tamu, Trunojoyo segera mengenali satu sosok yang berbeda. Seorang pria tinggi tegap berdiri agak jauh dari keramaian, mengenakan beanie hitam, kacamata hitam meski cuaca mendung, masker medis hijau muda, dan coat kulit hitam panjang dengan kerah bulu putih di kedua sisi. Celana baggy jeans biru tua dan sneakers putih NIKE melengkapi penampilannya yang anehnya mencolok justru karena diam.
Itu DewaBuku.
Mereka hanya saling mengangguk. Tidak perlu kata-kata. Ada jenis orang yang langsung saling mengenali tanpa perlu diperkenalkan.
Melati muncul menjelang senja. Gaunnya sederhana, warna pastel, nyaris menyatu dengan kabut yang mulai turun lagi. Ia tersenyum pada para tamu, namun senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ketika ia berjalan melewati Arya — kakaknya — langkahnya melambat sepersekian detik. Cukup lama untuk disadari. Terlalu singkat untuk dibicarakan.
Makan malam berlangsung hangat di permukaan. Percakapan ringan, tawa kecil, gelas-gelas terangkat. Namun Trunojoyo memperhatikan bahwa Melati tidak menyentuh minumannya. Ia juga menjaga jarak, terutama dari Arya. Tangannya sering mengepal di bawah meja, lalu terbuka lagi, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap duduk di sana.
Di teras belakang, setelah makan malam, Melati menghampiri DewaBuku yang berdiri sendirian menatap taman.
“Mas,” katanya lirih, nyaris tenggelam oleh suara hujan.
“Kalau seseorang dipaksa melakukan sesuatu yang jelas salah… apakah diam itu juga dosa?”
DewaBuku tidak langsung menjawab. Ia menatap taman beberapa detik lebih lama, memperhatikan daun-daun basah yang tak pernah memilih di mana mereka gugur.
“Diam sering dipilih karena takut,” katanya akhirnya.
“Tapi takut tidak pernah mengubah kebenaran.”
Melati tersenyum kecil.
Bukan senyum lega — melainkan senyum seseorang yang akhirnya berhenti menunda pertanyaan yang selama ini ia hindari.
Dari dalam rumah, suara gelas dan tawa pelan mulai terdengar. Beberapa tamu keluar ke teras, membawa sisa kehangatan malam bersama mereka.
“Kopi masih ada?” tanya Bram sambil menarik kursi.
“Kalau hujan begini, tidur biasanya susah.”
DewaBuku mengangguk singkat. Ia menuangkan kopi tanpa berkata apa-apa, lebih banyak mendengar daripada ikut larut. Percakapan beralih pada hal-hal ringan — perjalanan yang melelahkan, jalan desa yang gelap, rencana pulang esok hari. Tidak ada yang menyebut Melati. Tidak ada yang perlu menyebutnya.
Dari kejauhan, Melati terlihat berdiri sendiri di dekat pintu kaca, menatap ke dalam rumah seolah memastikan sesuatu tetap pada tempatnya. Ketika pandangannya sempat bertemu dengan DewaBuku, ia mengangguk pelan — gerakan kecil, nyaris tak berarti, namun cukup untuk disadari.
Malam kemudian menutup dirinya perlahan. Satu per satu lampu dipadamkan. Hujan mereda, menyisakan tanah basah dan udara yang lebih dingin dari sebelumnya. Rumah besar itu kembali diam, terlalu teratur untuk bangunan yang dihuni begitu banyak rahasia.
Jam-jam terakhir sebelum pagi berlalu tanpa suara. Tidak ada langkah tergesa. Tidak ada pintu dibanting. Hanya bunyi serangga dan sesekali kayu tua yang mengeluh karena perubahan suhu.
Pagi belum benar-benar terang ketika jerit itu terdengar.
Mbak Siska, sahabat Melati, berdiri terpaku di depan pintu kamar dengan tangan gemetar.
Orang-orang berlarian.
Dan hampir bersamaan, Trunojoyo tiba — diikuti Bram dan Ratna.
Melati terbaring di depan meja rias. Darah menggenang di lantai marmer, memantulkan cahaya pucat dari jendela. Cermin retak dengan pola yang aneh — retaknya mengarah ke dalam, bukan ke luar. Pisau kecil tergeletak rapi di sisi meja, terlalu rapi untuk sesuatu yang seharusnya kacau.
Pintu terkunci dari dalam.
Polisi lokal datang tak lama kemudian, namun segera menyadari bahwa kasus ini tidak sesederhana kelihatannya. Villa terisolasi. Semua tamu menginap. Tidak ada tanda masuk paksa.
Trunojoyo berdiri di ambang pintu kamar, menghisap rokoknya pelan.
“Ini bukan bunuh diri,” katanya tanpa menoleh. “Ini kesengajaan.”
Ia mulai mendengarkan. Bukan hanya kata-kata, melainkan jeda di antara kata-kata itu.
Arya mengaku tidur. Ratna menangis, namun tanpa suara. Bram berbicara tentang reputasi keluarga. Herman dan Livia Santoso — pasangan pemilik wedding organizer ternama — terlalu tenang untuk orang yang baru menemukan mayat. Pak Damar, notaris keluarga, menghindari detail. DewaBuku hanya mengatakan satu hal:
“Melati takut,” katanya. “Tapi bukan pada kematian.”
Di kamar Melati, Trunojoyo memperhatikan hal-hal kecil: gagang pisau bersih, Alkitab kecil terbuka pada halaman larangan hubungan sedarah, aroma dupa samar yang tidak berasal dari kamar itu sendiri.
Ruang makan villa itu terasa lebih sempit dari biasanya.
Kursi-kursi ditarik mendekat. Jendela-jendela dibiarkan tertutup meski pagi sudah naik sepenuhnya. Trunojoyo berdiri di ujung meja panjang, rokoknya mati di sela jari. Ia tidak terburu-buru menyalakannya kembali.
“Terima kasih,” katanya tenang. “Kalian semua sudah duduk di sini.”
Tidak ada yang menjawab.
Bram menyilangkan tangan. Ratna duduk kaku, bibirnya menegang. Arya menatap meja, seolah kayu jati itu lebih jujur daripada manusia. Herman dan Livia duduk berdampingan, terlalu rapi untuk pasangan yang sedang berduka.
DewaBuku berdiri di dekat jendela, diam, memperhatikan bagaimana setiap orang memilih arah pandangannya.
“Melati,” kata Trunojoyo akhirnya, “tidak mati karena ritual.”
Bram langsung mengangkat kepala.
“Itu tuduhan keji.”
“Aku belum menuduh siapa pun,” jawab Trunojoyo ringan. “Aku sedang memperbaiki asumsi.”
Ia berjalan perlahan mengitari meja.
“Selama dua hari ini,” lanjutnya, “kita dibuat percaya bahwa kejahatan ini berakar pada pemujaan setan. Masa lalu keluarga. Pernikahan sedarah. Rencana pengorbanan.”
Ratna menelan ludah.
“Semua itu benar,” kata Trunojoyo. “Tapi bukan itu yang membunuh Melati.”
Livia terkekeh pendek.
“Mas Truno, dengan segala hormat — apa lagi yang tersisa selain itu?”
Trunojoyo berhenti tepat di belakang kursinya.
“Bisnis,” katanya.
Sunyi jatuh seperti kain basah.
“Kalian datang ke sini bukan sebagai tamu,” lanjut Trunojoyo, “melainkan sebagai pengelola Citra. Wedding Organizer dengan klien-klien besar. Pejabat. Pengusaha. Orang-orang yang hidupnya bisa runtuh oleh satu skandal.”
Herman menghela napas kecil.
“Itu spekulasi.”
“Tidak,” sahut Trunojoyo. “Itu kronologi.”
Ia menoleh ke Bram dan Ratna.
“Kalian menjual keluarga ini sebagai ‘klien spiritual’ bertahun-tahun lalu. Ritual. Janji kekayaan. Tapi Melati menolak peran itu. Ia bukan pemuja. Ia korban.”
Arya mengangkat wajahnya perlahan.
“Melati berniat bicara,” kata Trunojoyo. “Bukan ke polisi. Tapi ke media. Kepada seseorang yang ia percaya.”
Tatapan singkat Trunojoyo mengarah ke DewaBuku. Tidak menjelaskan. Tidak perlu.
“Dan di situlah masalahnya,” lanjut Trunojoyo. “Skandal ini tidak hanya akan menghancurkan satu keluarga — tapi jaringan.”
Livia tertawa pendek, nyaris profesional.
“Kami tidak punya alasan membunuh siapa pun.”
“Justru kalian yang punya,” jawab Trunojoyo. “Kalian satu-satunya yang tidak bisa membiarkan Melati hidup.”
Ia mengambil sebuah benda kecil dari sakunya:
sebuah klip logam tipis, bengkok di ujungnya.
“Kunci kamar Melati tidak rusak,” katanya. “Tapi pengait jendela kamar mandi pernah dibuka dari luar. Seseorang yang terbiasa menyiapkan dekorasi tahu persis alat apa yang tidak meninggalkan jejak.”
Herman mulai berkeringat.
“Kematian Melati terlihat seperti ledakan emosi keluarga,” Trunojoyo melanjutkan, “padahal itu pembunuhan yang bersih. Cepat. Tanpa ritual. Tanpa simbol.”
Ia berhenti.
“Karena ini bukan soal iman,” katanya pelan.
“Ini soal pengendalian kerugian.”
Livia berdiri tiba-tiba.
“Cukup!”
Suaranya retak untuk pertama kalinya.
“Kalian tidak tahu apa-apa tentang dunia kami,” katanya tajam. “Kebenaran tidak selalu pantas disebarkan. Kadang ia harus — ”
“ — dikubur?” potong Trunojoyo.
Livia terdiam.
Pengakuannya tidak datang sebagai tangis.
Ia datang sebagai kelelahan.
“Melati terlalu berbahaya,” katanya dingin. “Ia tidak bisa diyakinkan. Tidak bisa dibeli. Dan terlalu bersih untuk dunia yang kotor.”
Trunojoyo mendengus pelan, “Diyakinkan untuk apa?”
Hening.
….dan Livia pun berterus terang. “Seharusnya Melati mau dinikahi kakak kandungnya supaya kami punya model untuk promosi Wedding Organizer kami dan Pak Bram bisa menumbalkan cucunya, tapi Melati menolak….”
“Kenapa musti dibunuh?” Trunojoyo semakin emosi, tetapi berusaha tetap tenang.
“….dalam proposal kami untuk para klien, mereka senang dengan profil model yang kami usulkan. Mereka sudah bayar DP 75% dengan kesepakatan itu. Kalau beda profil, mereka minta uang kembali 100%….kami bisa rugi ratusan juta.” jawab Livia sambil menginjak kaki Herman.
Herman menatap Trunojoyo dengan tatapan sinis, “sudah jelas, bukan?”
“Saya tidak meminta Anda bicara, saudara Herman.” ujar Trunojoyo tenang, “namun demikian Anda berdua sudah cukup kuat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Anda,”
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada kelegaan.
Hanya keheningan panjang yang akhirnya menemukan bentuknya.
Ketika polisi membawa mereka pergi, hujan kembali turun.
Villa Puspa Mangala kembali sunyi.
Trunojoyo berdiri di taman mangga bersama DewaBuku.
“Keputusannya benar,” kata DewaBuku pelan. “Meski harganya nyawa.”
Trunojoyo mengangguk. Ia mematikan rokoknya di tanah basah.
“Ada dosa yang bisa disembunyikan,” katanya. “Tapi tidak pernah bisa diwariskan tanpa darah.”
Ia berjalan menuju mobilnya. Jalan menuju kota masih berkabut.
Dan di belakangnya, sebuah villa besar tetap berdiri indah —
menyimpan rahasia yang akhirnya berhenti bernapas.
**THE END**
Author Profile
Categories
Related Posts
“Cerpen ini terinspirasi oleh buku-buku Agatha Christie” Di tengah kota Bangkok yang ramai, terdapat sebuah...
Read MoreDewaBukuJSW
“Cerpen ini terinspirasi oleh buku-buku Agatha Christie” Di tengah pegunungan yang sejuk dan hijau di...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi itu begitu dingin, Februari 2015, masih gerimis… Kabut pagi di Tawangmangu tidak pernah benar-benar...
Read More