Episode 15 — Air Bersih Tidak Menghapus Apa Pun

Pagi datang tanpa suara.
Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan gedung itu sendiri seperti berhenti berderak. Air banjir sudah surut sepenuhnya, meninggalkan lumpur tipis yang mengering di lantai seperti kulit mati.
Anneliese duduk di tepi lorong lantai dua.
Bukan karena tempat itu nyaman.
Hanya karena di sanalah cahaya masuk paling stabil.
Ia mencuci wajahnya dengan air bersih dari botol plastik bening yang ia dapatkan semalam. Air itu dingin. Netral. Tidak punya rasa.
Ia membasuh perlahan. Sangat perlahan. Seperti takut jika bergerak terlalu cepat, tubuhnya akan mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat.
Luka-luka di lengannya mulai mengering. Beberapa memar berubah warna. Rasa sakitnya tumpul — bukan hilang, hanya tidak lagi mendesak.
Kotak beludru itu ia letakkan di sampingnya.
Tidak dipeluk.
Tidak dijauhkan.
Hanya ada.
Anneliese membuka tutupnya.
Perhiasan-perhiasan itu masih sama. Tidak berubah. Tetap berkilau dalam cahaya pagi yang kusam.
Ia menyentuh satu cincin.
Tidak ada getaran emosional. Tidak ada kenangan yang melonjak. Hanya kesadaran bahwa benda itu nyata — dan dirinya masih hidup.
Ia menutup kotaknya kembali.
Hari itu berlalu tanpa peristiwa.
Ia berjalan keluar gedung untuk pertama kalinya tanpa rasa takut yang mendesak. Tidak waspada berlebihan. Tidak berharap apa-apa. Langkahnya lambat, tapi terarah.
Ia menemukan keran umum di ujung gang dengan potongan sabun mandi yang sudah agak mengecil karena sering dipakai oleh orang-orang yang lewat. Airnya mengalir kecil, tapi bersih. Ia mencuci rambutnya. Membersihkan lumpur dari kukunya. Membilas lehernya berulang kali.
Bau itu tidak hilang.
Bukan bau di udara.
Bau di ingatan.
Ia menyadarinya saat sabun berhenti berbusa.
Malam datang.
Anneliese tidur di sudut bangunan kosong lain. Sudut bangunan kosong yang ditandai dengan pohon kering didepannya. Tidak terlalu gelap. Tidak terlalu terang. Tempat yang “cukup”.
Ia tidak bermimpi.
Atau mungkin ia bermimpi, tapi tubuhnya memilih tidak mengingatnya.
Keesokan harinya, ia menjual satu perhiasan.
Bukan yang paling mahal.
Bukan yang paling berarti.
Ia memilih yang paling mudah dilepaskan.
Uang itu cukup untuk makan dua kali. Ia makan perlahan. Mengunyah lama. Tidak menikmati. Tidak menolak.
Rasanya normal.
Dan itu terasa aneh.
Hari ketiga, ia menjual dua lagi.
Ia membeli pakaian sederhana. Membersihkan dirinya sepenuhnya. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tidak lagi terlihat seperti seseorang yang tidur di lantai.
Di kaca toko, ia menatap bayangannya sendiri.
Perempuan muda. Kurus. Mata cekung. Tapi berdiri.
Tidak ada yang istimewa.
Dan itu cukup.
Ia tidak kembali ke gedung terbengkalai itu.
Tidak karena takut.
Karena tidak perlu.
Malam itu, Anneliese duduk sendirian di halte bus kosong dengan jam dinding tua yang masih berfungsi. Waktu menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Seorang kakek tua menunggu sebuah kotak sambil merokok disebelah toilet umum yang ada didekat halte itu. Seorang kakek yang tidak banyak bicara. Dia selalu datang kesitu sejak pagi buta dimana belum ada seorangpun manusia yang lewat. Anneliese melihat sekeliling. Kotak beludru itu ada di pangkuannya. Ia membuka tutupnya sebentar, lalu menutupnya kembali.
Ia tidak menangis.
Tidak tersenyum.
Hanya menarik napas panjang.
Pemulihan, ia sadar, tidak terasa seperti kesembuhan.
Pemulihan terasa seperti dunia yang berjalan lagi…
sementara sesuatu di dalam dirinya memilih berjalan lebih lambat.
Dan di situlah ia berhenti.
Bukan di titik aman.
Bukan di titik bahagia.
Di titik di mana hidup kembali mungkin.
Malam ini ia kelelahan. Tapi tidak dapat tidur dengan tenang di halte bus kosong itu. Anneliese selalu waspada dan selalu menjaga kotak beludru itu di tangannya. Halte kosong itu dilengkapi sebuah toilet umum yang buka sampai jam 10 malam.
Untunglah malam itu agak gerimis, dia merasa sedikit aman untuk memutuskan kembali ke sudut bangunan kosong dengan pohon kering didepannya.
Akhirnya dia sampai disana. Kelelahan. Kedinginan. Dia tertidur.
Hingga pagi menyapa, dia langsung menuju ke arah keran umum selagi masih sepi. Membersihkan diri adalah suatu keharusan di saat itu.
Sudah bersih. Selesai.
Dia setengah berlari menuju halte bus kosong.
Pak tua itu menyapa, “Mau mandi, Nak?”
“Iya, kakek.” jawabnya singkat sambil mengangguk sopan.
“dua ribu rupiah saja.” sahut kakek itu sambil menyalakan rokoknya.
Pagi itu Anneliese bergerak cepat. Membeli stopmap. Masuk ke jasa pengetikan. Masuk ke toko kecil untuk membeli tissue basah.
Dimanapun dia melamar pekerjaan selalu ada penolakan dan sindiran terhadap kondisi fisiknya. Anneliese hanya diam dan menerimanya. Hingga akhirnya dia mendatangi sebuah restoran yang memang membuka lowongan pekerjaan.
Beberapa jam kemudian…
Seorang perempuan berseragam rapi mendekat sambil tersenyum ramah. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”
Anneliese menstabilkan suaranya. “Saya ingin melamar posisi pramusaji yang dipasang di luar.”
Manajernya, seorang perempuan tenang bernama Mara, memeriksa résumé-nya sambil menanyakan pengalaman‑pengalaman sebelumnya. Anneliese menjawab dengan jujur — kegagalannya, pekerjaan‑pekerjaan singkatnya, tantangan yang ia hadapi. Namun ia juga bercerita tentang ketekunannya, keinginannya untuk belajar, dan hasratnya untuk bekerja di tempat yang menghargai kerapian dan keramahan.
Ekspresi Mara melunak. “Kami menghargai kejujuran di sini. Dan dedikasi.” Ia meletakkan résumé itu dan memberi isyarat agar Anneliese mengikutinya. Mereka berjalan melewati ruang makan, lalu masuk ke dapur tempat para staf sempat berhenti untuk menyapanya. Semuanya bersih, terstruktur, dan tenang — lingkungan yang sejak lama ia dambakan. Saat mereka kembali ke meja depan, Mara mengulurkan tangan.
“Kamu bisa mulai besok pagi,” katanya.
Untuk sesaat, Anneliese terpaku. Ia telah membayangkan momen ini begitu banyak sehingga saat terjadi, rasanya seperti mimpi. Namun kehangatan di dadanya berkata sebaliknya. Ia menerima jabatan tangan itu dengan kedua tangan, tak mampu menahan senyum.
“Terima kasih…”
Saat ia melangkah keluar dari restoran itu, matahari akhirnya muncul dari balik atap bangunan.
Panas dan kering.
….untuk sementara, dia agak tenang.
Bersambung ke Episode 16 — Pekerjaan Pertama
*
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 30 — Hal Kecil yang Tidak Kebetulan Sore itu datang seperti hari-hari sebelumnya. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini Restoran itu masih sama. Bersih. Tenang. Tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 19 — Makanan Yang Tidak Diminta Makanan itu diletakkan di depannya tanpa suara. Tidak...
Read More