
Gedung Landmark di Jalan Braga terlihat berbeda saat malam.
Siang hari, bangunan itu masih tampak seperti bagian biasa dari Kota Bandung:
turis berjalan sambil membawa kopi, suara kendaraan memantul dari jalan sempit Braga, dan lampu toko-toko tua menyala kekuningan menjelang sore.
Namun setelah acara selesai dan sebagian besar orang pulang, suasananya berubah pelan.
Koridor menjadi terlalu panjang.
Langkah kaki terdengar lebih lambat.
Dan ruang utama gedung itu… seperti menyimpan gema dari terlalu banyak suara yang pernah tinggal di sana.
Praja Kusuma pertama kali memotret di Gedung Landmark tahun 2017.
Usianya dua puluh lima saat itu.
Tubuh kurus, rambut sedikit gondrong, dan selalu membawa dua kamera sekaligus karena ia tidak percaya baterai cadangan.
Ia bukan fotografer yang banyak bicara.
Saat kru lain bercanda atau merokok di parkiran belakang gedung, Praja lebih sering duduk dekat meja catering sambil memeriksa hasil foto satu per satu.
Ia percaya satu hal sederhana:
foto pernikahan bukan tentang momen bahagia.
Tapi tentang apa yang tertinggal setelah semua orang lupa detail harinya.
Karena itu ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil:
- tangan yang gemetar saat tukar cincin
- kursi kosong di meja keluarga
- tatapan seseorang yang terlalu lama
Dan mungkin karena kebiasaan itulah ia mulai menyadari perempuan di kursi nomor 4.
Awalnya tidak terasa aneh.
Dalam sebuah pesta pernikahan, wajah tamu sering mirip satu sama lain.
Riasan formal. Kebaya. Senyum sopan. Cahaya lampu kuning.
Semuanya mudah tertukar.
Namun suatu malam di awal 2019, saat mengedit album pengantin dari acara akhir pekan, Praja berhenti cukup lama di satu foto candid.
Meja tamu bagian kiri.
Empat kursi.
Tiga terisi keluarga pengantin.
Dan satu perempuan duduk diam di kursi nomor 4.
Perempuan itu cantik.
Bukan cantik mencolok seperti model iklan.
Lebih seperti wajah yang terlalu tenang untuk keramaian pesta.
Kulitnya putih bersih.
Rambut hitam panjang disisir rapi ke belakang.
Ia memakai kebaya krem sederhana.
Tidak tersenyum.
Hanya melihat ke arah pelaminan.
Praja memperbesar foto itu.
Ia merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Namun ia terlalu lelah untuk mengingat.
File diedit seperti biasa lalu dikirim ke klien.
Masalahnya baru muncul dua minggu kemudian.
Saat membersihkan hard disk lama, ia menemukan album pernikahan tahun 2018.
Gedung yang sama.
Dekorasi berbeda.
Pengantin berbeda.
Namun di salah satu foto…
perempuan itu muncul lagi.
Duduk di kursi nomor 4.
Dengan wajah yang sama.
Ekspresi yang sama.
Bahkan posisi tangannya nyaris tidak berubah.
Praja diam cukup lama di depan layar.
Di luar kosnya, hujan Bandung turun pelan mengenai seng parkiran motor.
Suara televisi dari kamar sebelah terdengar samar.
Semuanya normal.
Justru karena itulah foto itu terasa mengganggu.
Ia mulai membuka album-album lama satu per satu.
2018.
2019.
Awal 2020.
Perempuan itu muncul lagi.
Tidak selalu jelas.
Kadang hanya setengah wajah.
Kadang tertutup bahu tamu lain.
Namun selalu berada di area yang sama.
Kursi nomor 4.
Praja mencoba berpikir logis.
Mungkin wedding organizer.
Mungkin keluarga gedung.
Mungkin tamu langganan.
Namun semakin diperhatikan, ada satu hal yang mulai terasa salah.
Usia perempuan itu tidak berubah.
Foto tahun 2017 dan 2020 menunjukkan wajah yang sama persis.
Tidak lebih tua.
Tidak berbeda.
Seolah waktu di luar ruangan itu tidak benar-benar menyentuhnya.
Beberapa hari kemudian Praja kembali mendapat proyek di Gedung Landmark.
Pernikahan besar.
Tiga ratus tamu.
Lampu gantung besar menyala hangat di ballroom utama.
Musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan.
Kru dekor sibuk sejak sore.
Dan Braga di luar tetap ramai seperti biasa.
Praja datang lebih awal.
Bukan untuk pekerjaan.
Ia hanya ingin memastikan sesuatu.
Ia masuk ke ballroom sebelum tamu hadir.
Meja bundar tersusun rapi.
Taplak putih.
Kursi emas.
Nomor meja kecil berdiri di tengah bunga mawar.
Dan di sisi kiri dekat pilar tua gedung itu…
ada meja dengan nomor 4.
Tidak ada yang istimewa.
Namun entah kenapa meja itu terasa lebih dingin.
Bukan dingin mistis.
Lebih seperti ruangan yang terlalu lama tidak terkena matahari.
“Mas, lighting aman?”
Suara kru WO memecah lamunannya.
Praja mengangguk pelan.
Lalu mulai bekerja seperti biasa.
Acara berjalan normal.
Tamu berdatangan.
Suara gelas beradu.
Anak kecil berlari dekat photobooth.
Semua tampak hidup.
Dan selama beberapa jam pertama, Praja hampir lupa soal perempuan itu.
Sampai sekitar pukul 20:17 malam.
Ia sedang memotret suasana meja tamu menggunakan lensa jarak jauh.
Klik.
Klik.
Klik.
Lalu tangannya berhenti sendiri.
Di meja nomor 4…
perempuan itu duduk lagi.
Kebaya krem.
Kulit pucat bersih.
Rambut hitam panjang.
Tatapan lurus ke pelaminan.
Tidak tersenyum.
Praja menurunkan kameranya perlahan.
Dadanya tidak langsung berdebar.
Justru terasa terlalu tenang.
Seperti otaknya belum selesai menerima apa yang dilihat.
Ia melihat langsung ke arah meja nomor 4.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Praja kembali melihat layar kamera.
Perempuan itu masih ada di sana.
Seorang waiter lewat sambil membawa minuman.
Pemandangan meja terlihat normal.
Tidak ada orang duduk di kursi nomor 4.
Namun di layar kamera…
perempuan itu tetap ada.
Untuk pertama kalinya sejak bekerja sebagai fotografer, Praja merasa enggan memotret lagi.
Malam itu ia pulang lebih cepat.
Laptopnya tetap menyala sampai subuh.
Dan semakin banyak foto diperiksa…
semakin sering perempuan itu muncul.
Kadang di pantulan kaca.
Kadang di ujung frame.
Kadang hanya sebagian wajah.
Namun selalu dekat kursi nomor 4.
Beberapa minggu kemudian rasa penasarannya berubah menjadi kebiasaan buruk.
Setiap mendapat proyek di Gedung Landmark, hal pertama yang ia cari bukan pengantin.
Melainkan meja nomor 4.
Ia mulai bertanya ke kru lama.
Jawabannya selalu tidak jelas.
“Perasaan nggak pernah lihat.”
“Atau tamu WO kali.”
“Mungkin saudara pengantin.”
Tidak ada yang benar-benar mengenalnya.
Sampai suatu malam, seorang petugas kebersihan tua bernama Pak Darto memperhatikan layar laptop Praja.
Mereka sedang duduk di area belakang gedung setelah acara selesai.
Lampu Braga mulai banyak yang padam.
Udara Bandung dingin setelah hujan.
Pak Darto menunjuk foto itu pelan.
“Itu perempuan kursi empat ya?”
Praja langsung menoleh.
“Bapak tahu?”
Petugas tua itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menyalakan rokok perlahan.
“Dulu pernah ada acara nikahan di sini.”
“Kapan?”
“Sudah lama.”
Pak Darto menghembuskan asap tipis.
“Sebelum gedung ini direnovasi.”
Cerita itu keluar pelan-pelan.
Tidak dramatis.
Justru terlalu biasa.
Katanya, dulu pernah ada seorang perempuan yang batal menikah di gedung itu.
Bukan karena kematian.
Bukan karena kecelakaan.
Calon suaminya hanya… tidak datang.
Acara sudah siap.
Tamu sudah hadir.
Musik sudah dimainkan.
Namun mempelai pria tidak pernah muncul sampai malam selesai.
Perempuan itu tetap duduk di kursi tamu dekat pelaminan selama berjam-jam.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Hanya duduk diam.
Sampai semua tamu pulang satu per satu.
“Terus?” tanya Praja pelan.
Pak Darto diam cukup lama.
Lalu berkata:
“Besoknya katanya dia hilang.”
Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Dan mungkin justru itu yang membuat cerita tersebut terasa lebih berat.
Sejak malam itu, Praja mulai memperhatikan detail lain.
Tidak semua kamera bisa menangkap perempuan itu.
Kamera analog miliknya hampir tidak pernah berhasil.
Namun kamera digital modern selalu menangkapnya dengan jelas.
Semakin tinggi resolusinya…
semakin jelas wajahnya.
Dan ada satu pola lain yang mulai terasa mengganggu.
Perempuan itu hanya muncul dalam foto candid.
Tidak pernah muncul dalam foto resmi.
Seolah ia tidak ingin benar-benar dianggap bagian dari acara.
Tahun demi tahun berlalu.
Praja tetap memotret.
Gedung Landmark tetap ramai.
Braga tetap hidup.
Kota Bandung tidak berubah banyak.
Namun perempuan di kursi nomor 4 tetap muncul.
Wajah yang sama.
Tatapan yang sama.
Usia yang sama.
Sampai pada suatu malam di akhir 2025.
Acara pernikahan selesai lebih cepat karena hujan besar.
Sebagian tamu pulang terburu-buru.
Ballroom mulai kosong.
Lampu mulai diredupkan satu per satu.
Praja berdiri sendirian dekat meja nomor 4 sambil membereskan kamera.
Lelah.
Matanya panas karena terlalu lama melihat layar.
Lalu ia mendengar suara kursi ditarik pelan.
Bukan dari jauh.
Tepat di depannya.
Praja mengangkat kepala perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
kursi nomor 4 tidak kosong.
Perempuan itu duduk di sana.
Bukan di layar kamera.
Bukan di foto.
Benar-benar ada.
Wajahnya sama seperti di semua album.
Cantik.
Tenang.
Kulit putih bersih.
Tidak tersenyum.
Ballroom terasa sangat sunyi.
Bahkan suara hujan di luar seperti menjauh.
Perempuan itu menatap ke arah pelaminan kosong beberapa detik.
Lalu akhirnya menoleh ke arah Praja.
Tatapannya tidak marah.
Tidak sedih.
Justru terlalu tenang.
Dan dengan suara pelan yang hampir tenggelam oleh gema ruangan tua, ia berkata:
“Masih belum datang juga ya…”
Besok paginya, Praja tetap bekerja seperti biasa.
Album tetap diedit.
Klien tetap menghubungi.
Gedung Landmark tetap menerima pesta pernikahan setiap minggu.
Namun sejak malam itu, ia tidak pernah lagi menghapus foto perempuan di kursi nomor 4.
Ia selalu membiarkannya tetap masuk album.
Kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Seperti seseorang yang memang sudah terlalu lama menunggu untuk dipindahkan.
*
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...
Read MoreDewaBukuJSW
Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...
Read MoreDewaBukuJSW
Catatan ini disusun dari berbagai kesaksian tentang perjalanan kereta malam di Jawa Barat—tentang gerbong yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Setiap kota besar pasti menyimpan luka yang dikubur dalam-dalam, dan dalam kasus Kota Langsa Raya,...
Read More