Skip to content

Payung di Dalam Rumah

payung-didalam-rumah

Payung di Dalam Rumah

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Joko mulai membawa payung ke dalam rumah.

Bahkan istrinya sendiri tidak yakin.

Pak Joko juga tidak mau menjelaskan kepada istrinya,
meskipun istrinya selalu bertanya.

Suatu hari ia hanya pulang dari pasar sambil membawa payung terbuka.

Masuk ke ruang tamu.

Duduk.

Saat itu Pak Joko mengenakan kaos oblong abu-abu terang,
berpadu dengan celana panjang kotak-kotak berwarna abu-abu.

Tangan kanan membawa payung,
tangan kiri membawa secangkir kopi.

Menonton televisi.

Payungnya tetap terbuka.

Begitu saja.

Awalnya semua orang mengira ia lupa menutupnya.

Hal seperti itu wajar terjadi.

Apalagi usia Pak Joko sudah lima puluh lima tahun dan mulai sering lupa meletakkan kacamata yang sebenarnya sedang dipakai.

Namun masalahnya…

keesokan harinya ia melakukan hal yang sama.

Lalu lusa.

Lalu minggu berikutnya.

Lalu bulan berikutnya.

Dan sebelum ada yang menyadari, membawa payung ke dalam rumah telah menjadi bagian permanen dari kepribadian Pak Joko.


“Bapak ini kok aneh…”

suatu malam istrinya akhirnya bertanya.

“Kenapa payungnya tidak ditutup?”

Pak Joko menoleh.

Berpikir sebentar.

Lalu menjawab:

“Buat jaga-jaga.”

Istrinya diam.

“Tapi ini di dalam rumah.”

“Iya.”

“Rumah kita ada atap.”

“Iya.”

“Terus?”

Pak Joko mengangguk kecil.

“Makanya sampai sekarang belum kehujanan.”


Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mencoba berdebat.


Tetangga mulai membicarakannya.

Bukan karena mengganggu.

Lebih karena membingungkan.

Pak Bowo yang tinggal di seberang jalan pernah melihat Pak Joko sedang membaca koran di ruang tamu.

Dengan payung terbuka.

Saat itu cuaca cerah.

Bahkan matahari bersinar begitu terang sampai ayam-ayam kampung terlihat malas bergerak.

Pak Bowo berdiri di pagar.

Menatap.

Menatap lagi.

Lalu akhirnya bertanya:

“Pak Joko…”

“Iya?”

“Itu hujan ya?”

“Tidak.”

“Terus?”

Pak Joko melipat koran.

“Masa depan sulit diprediksi.”

Pak Bowo pulang tanpa penjelasan tambahan.


Lama-lama kebiasaan itu mulai memengaruhi seluruh rumah.

Anaknya yang kuliah di kota bahkan pernah pulang dan mendapati tiga payung terbuka sekaligus di ruang tamu.

Satu milik ayahnya.

Dua lagi entah kenapa ikut dibuka.

“Ayah…”

Pak Joko menoleh.

“Iya?”

“Kenapa sekarang ada tiga?”

Pak Joko terlihat berpikir serius.

“Satu cadangan.”

“Yang satu lagi?”

“Cadangan untuk cadangan.”


Anaknya memutuskan kembali ke kota sehari lebih cepat dari rencana.


Suatu sore, hujan benar-benar turun.

Deras.

Angin bertiup kencang.

Langit gelap.

Petir menyambar beberapa kali.

Pak Joko duduk di ruang tamu.

Payung terbuka seperti biasa.

Namun kali ini tidak ada yang berkomentar.

Karena untuk pertama kalinya…

secara teknis…

payung itu relevan.

Pak Joko terlihat puas.

Seolah baru saja memenangkan perdebatan yang tidak pernah terjadi.


Tetapi keanehan sebenarnya baru muncul beberapa bulan kemudian.

Karena perlahan-lahan…

orang lain mulai ikut-ikutan.


Awalnya Pak Bowo.

Ia membeli payung baru.

Lalu membukanya di teras rumah.

“Buat apa?” tanya istrinya.

Pak Bowo menjawab:

“Buat jaga-jaga.”


Seminggu kemudian Bu Santi ikut melakukannya.

Dua minggu berikutnya Pak RT terlihat memimpin rapat warga sambil memegang payung.

Tidak ada yang berani bertanya.


Enam bulan kemudian keadaan menjadi cukup sulit dijelaskan.

Di pos ronda ada payung.

Di warung kopi ada payung.

Di pangkas rambut ada payung.

Bahkan di kantor kelurahan ada satu pegawai yang mengisi formulir sambil memegang payung terbuka.


Suatu hari seorang wartawan datang dari kota.

Ia mendengar rumor tentang kampung yang penduduknya membawa payung ke dalam bangunan.

Ia mengira ada alasan budaya.

Atau tradisi turun-temurun.

Atau mungkin ritual kuno.

Setelah mewawancarai belasan orang…

ia menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu alasannya.


“Kenapa membawa payung di dalam rumah?”

Pak Bowo menjawab:

“Karena Pak Joko juga begitu.”


“Kenapa Pak Joko melakukannya?”

Bu Santi menjawab:

“Kurang tahu.”


Akhirnya wartawan itu mendatangi Pak Joko langsung.

Saat itu Pak Joko sedang duduk di ruang tamu.

Seperti biasa.

Payung terbuka.

Televisi menyala.

Kucing tidur di dekat kakinya.


“Pak Joko.”

“Iya?”

“Saya sudah bertanya kepada semua orang.”

“Oh.”

“Mereka semua mengikuti bapak.”

Pak Joko mengangguk.

“Oh.”

“Jadi sebenarnya…”

wartawan itu menarik napas panjang.

“Kenapa bapak membawa payung ke dalam rumah?”

Pak Joko diam cukup lama.

Sangat lama.

Sampai wartawan itu mulai curiga bahwa baterainya habis.

Lalu akhirnya Pak Joko berkata:

“Sejujurnya…”

“Iya?”

“Saya juga tidak ingat.”


Sunyi.


“Saya cuma ingat waktu itu sedang hujan.”

“Iya?”

“Saya masuk rumah.”

“Iya?”

“Lalu lupa menutup payung.”


Wartawan itu berkedip.


“Jadi selama ini…”

“Iya.”

“Tidak ada alasan khusus?”

“Tidak ada.”


Wartawan itu menatap payung.

Menatap Pak Joko.

Menatap payung lagi.

Lalu perlahan menutup buku catatannya.

Karena untuk pertama kalinya dalam karier jurnalistiknya…

ia merasa penjelasan justru membuat semuanya lebih membingungkan.


Malam itu, setelah wartawan pulang, Pak Joko duduk sendirian di ruang tamu.

Ia menatap payung tua di tangannya.

Lalu perlahan tersenyum kecil.

Sebenarnya ada satu hal yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun.

Bukan karena rahasia.

Bukan juga karena penting.

Hanya karena tidak pernah ada yang bertanya dengan cara yang tepat.


Ia suka suara hujan.

Dan entah kenapa…

saat duduk di bawah payung terbuka di dalam rumah…

suara hujan selalu terdengar sedikit lebih dekat.

Sedikit lebih nyaman.

Seolah dunia di luar tetap boleh ribut…

sementara dirinya punya ruang kecil sendiri.

Jadi, alasan utama kenapa Pak Joko selalu membawa payung kedalam rumah adalah,
alasan kenyamanan. Pak Joko merasa sangat nyaman saat dibawah payung.


Pak Joko memandang keluar jendela.

Hujan turun pelan.

Payung tetap terbuka.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

ia merasa tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Karena kadang-kadang…

manusia memang melakukan hal-hal aneh.

Bukan karena masuk akal.

Tapi karena membuat hidup terasa sedikit lebih nyaman.

TAMAT

*

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Kulkas di Tanggal Tua

Setiap minggu ketiga, malam hari, tepat setelah jam sebelas, Rio selalu membuka kulkas. Bukan sekali....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
TV Rusak

Pak Maman sudah memperbaiki televisi selama tiga puluh dua tahun. Ia pernah memperbaiki TV tabung...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Ayam dan Quotes Motivasi

Setiap pagi, sebelum manusia-manusia di gang itu benar-benar bangun, seekor ayam jago sudah lebih dulu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 2 - Siklus Pengering

SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Ojek Pelan di Lampu Merah

Setiap kota besar selalu punya satu pengendara motor yang membuat orang lain mempertanyakan konsep waktu....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!