Fabel Perampokan Jaringan Wi-Fi di Jakarta
Jakarta berdenyut seperti biasanya: macet, panas, dan berisik. Tapi di hari Rabu itu — seperti Rabu sebelumnya — sesuatu kembali berubah.
Seekor anjing golden retriever bernama Karen berdiri di tengah Taman Suropati, menatap kawanan hewan di sekelilingnya dengan mata membara. Di sebelahnya, Sipus, kucing tabby anggun, sedang menjilat cakar dengan penuh elegansi. Beo, burung paruh bengkok yang bisa meniru suara manusia dengan sempurna, hinggap di papan bertuliskan “Dilarang memberi makan burung.” Ironi level dewa.
“Rekan-rekan hewan,” seru Karen dengan suara lantang. “Dulu kita hampir berhasil. Tapi kali ini, kita akan melangkah lebih jauh. Kita akan —”
“— ambil alih Wi-Fi nasional?” sela Sipus, menguap.
Karen menatapnya. “Bukan cuma Wi-Fi. Kita akan ambil alih Jakarta.”
Beo menirukan suara megah seperti trailer film:
“Coming soon: The Rise of the Furry!”
Semua hewan bersorak. Seekor kambing berteriak “Merdeka!”, seekor tupai memukul helm plastik sebagai genderang perang, dan kawanan kucing menegakkan ekor seperti bendera.
Di antara hiruk-pikuk itu, seorang pria berjalan pelan menyusuri taman.
Langkahnya santai, tapi setiap mata hewan yang menatapnya tahu — dia berbeda.
Dia mengenakan topi rajut hitam, masker hijau muda, kacamata hitam tebal, dan jaket kulit hitam dengan bulu putih di lehernya. Celana jeans biru tuanya longgar, dan sepatu putihnya terlihat bersih meski menginjak tanah berdebu.
Karen menatapnya curiga. “Hewan atau manusia?”
Beo mencondongkan kepala. “Aku denger rumor… dia bisa bicara dengan kita.”
Pria itu berhenti di depan mereka. Suaranya pelan, tapi dalam.
“Kalian… bikin kegaduhan lagi, ya?”
Karen menggonggong pelan. “Dan kau siapa, manusia bertopeng?”
Pria itu tersenyum di balik maskernya.
“Mereka memanggilku… Dewa Buku.”
Kucing-kucing saling berpandangan. Sipus mendesis pelan.
“Nama yang aneh untuk manusia yang masuk ke wilayah kami tanpa izin.”
“Nama adalah hal yang tidak penting,” kata Dewa Buku sambil menatap jauh. “Yang penting adalah… koneksi.”
“Wi-Fi?” tanya Beo.
“Tidak,” jawabnya. “Koneksi jiwa.”
Suasana hening sejenak. Seekor kucing di belakang bersin.
Karen menatap Dewa Buku penuh selidik. “Kau tahu rencana kami?”
“Tentu saja. Aku sudah membaca rencana kalian dari forum Catnip Underground. Top secret, ya?”
Sipus langsung terkejut. “Itu forum rahasia khusus felin!”
Dewa Buku menatapnya. “Tak ada yang benar-benar rahasia di internet. Bahkan setelah kalian matikan Wi-Fi perumahan.”
Karen menunduk. “Kami ingin kebebasan. Kami ingin hidup tanpa kostum, tanpa perintah duduk, tanpa harus menunggu manusia bilang ‘good boy’ seolah kami nggak tahu siapa yang paling pintar di rumah itu.”
Dewa Buku mendengus. “Aku paham. Tapi kalian terlalu impulsif. Lihat apa yang terjadi tahun lalu — kalian kehilangan Wi-Fi, tapi juga kehilangan kepercayaan.”
Sipus menggeliat, mencondongkan mukanya kedepan sambil merentangkan tangannya kedepan juga. “Kami hanya kurang strategi.”
Dewa Buku menatap langit Jakarta yang mulai mendung. “Strategi, ya? Aku punya ide. Bagaimana kalau kali ini… kalian bukan mematikan Wi-Fi, tapi menguasainya?”
Semua mata menatapnya.
“Dengan menguasai Wi-Fi, kalian menguasai manusia. Tanpa koneksi, mereka bingung. Tapi dengan koneksi yang dikendalikan kalian, mereka akan tunduk.”
Beo langsung berteriak, “Itu brilian! Kita jadi admin dunia!”
Karen tersenyum lebar. “Dewa Buku… kau di pihak kami?”
“Belum tentu,” jawabnya dengan nada tenang. “Aku hanya ingin melihat apakah hewan bisa lebih bijak dari manusia.”
Operasi Wi-Fi Nasional….
Jakarta malam itu berubah jadi panggung kekacauan.
Di stasiun MRT Bundaran HI, kawanan anjing menyamar sebagai satpam, menutup akses internet publik. Seekor burung gagak hinggap di atas papan informasi dan menyiarkan propaganda lewat pengeras suara:
“Manusia, keluarlah dari dunia maya. Dunia nyata membutuhkanmu… untuk memberi kami snack!”
Di kantor pemerintah daerah, seekor kucing anggora menguasai ruang server sambil menatap layar dengan mata kuning menyala. Sipus menjadi komandan operasional, memberi instruksi seperti jenderal.
“Unit hamster, alihkan arus listrik! Unit kura-kura, pantau jalur fiber optik. Dan kau, Beo, kirim pesan kepada semua anjing penjaga!”
Beo meniru suara radio operator:
“Echo Charlie Karen, semua siap. Over.”
Di antara hiruk-pikuk operasi itu, Dewa Buku duduk di pojok ruangan dengan laptop bututnya. Tangannya menari di atas keyboard, dan di layar, barisan kode aneh berkedip cepat.
Karen mendekatinya. “Kau membantu kami atau memata-matai kami?”
Dewa Buku menatapnya tanpa emosi. “Keduanya.”
Sipus melangkah pelan mendekat. “Kau ini sebenarnya apa, manusia?”
Ia berhenti mengetik, lalu menjawab pelan:
“Aku hanya penerjemah. Antara dunia yang menggonggong… dan dunia yang sibuk mengetik.”
Pagi berikutnya, Jakarta lumpuh. Semua Wi-Fi publik menampilkan satu pesan misterius di layar:
🐾 “Selamat datang di era hewan. Kami bukan mainan. Kami partner kehidupan.” – Dewan Hewan Jakarta Raya
Netizen panik. Media sosial meledak. Tapi ironisnya — hanya mereka yang masih punya paket data seluler yang bisa curhat.
Di Balai Kota, Sarah, manusia yang dulu jadi korban pemberontakan pertama, berteriak kepada staf IT:
“Temukan siapa yang sabotase jaringan kota ini!”
“Bu… sepertinya sinyal dikendalikan lewat… burung beo, Bu.”
Sarah membeku. “Kau bercanda?”
“Tidak, Bu. Dan… ada seseorang bernama Dewa Buku di log sistem. Dia bukan pegawai.”
Sarah menatap layar, wajahnya memerah karena emosi.
“Siapapun dia, tangkap.”
Dewa Buku ditangkap….
Sore itu, di sebuah taman kota di Menteng, Dewa Buku duduk tenang dikelilingi pasukan satpol PP dan polisi siber.
“Angkat tangan! Kau dituduh melakukan sabotase digital dan komunikasi dengan… fauna.”
Dewa Buku tersenyum di balik maskernya. “Hewan lebih jujur daripada manusia, tahu?”
Saat borgol hendak dikalungkan ke tangannya, sekawanan anjing datang menyerbu. Karen di depan barisan, menggonggong keras. Sipus melompat ke bahu polisi dan mencakar topinya.
“Jangan sentuh dia!” teriak Karen. “Dia satu-satunya manusia yang peduli!”
Dewa Buku berdiri perlahan. “Sudahlah, Karen. Aku tahu akhir cerita ini.”
Beo menjerit, “Jangan menyerah, bos!”
“Terkadang,” kata Dewa Buku, “manusia harus ditangkap dulu… agar dunia mendengarkan.”
nterogasi di Balai Kota….
Di ruang interogasi yang dingin, Sarah duduk berhadapan dengan Dewa Buku.
Ia melepas kacamata hitamnya, menatap mata pria di balik masker.
“Kenapa kau bantu hewan-hewan itu?” tanyanya tajam.
Dewa Buku menjawab pelan, “Karena mereka cuma menuntut apa yang dulu manusia janjikan: keseimbangan. Tapi manusia lupa, lalu menaruh baju kelinci di anjingnya demi konten lucu.”
Sarah mengetuk meja. “Kau pikir mereka bisa hidup tanpa manusia?”
Dewa Buku tersenyum tipis. “Bisa. Tapi mereka lebih memilih hidup bersama manusia — kalau manusia mau berhenti berpikir bahwa kasih sayang harus diukur dengan ‘followers’.”
Hening. Lalu, dari luar jendela, terdengar ribuan gonggongan dan kicauan menggema dari taman kota. Hewan-hewan mengepung Balai Kota.
Sipus muncul di ambang pintu, menatap Sarah. “Kami tak mau perang. Kami mau kesepakatan.”
Negosiasi Nasional….
Ruang rapat darurat itu penuh: di satu sisi manusia, di sisi lain hewan. Dewa Buku duduk di tengah, jadi mediator.
“Baik,” katanya. “Mari kita bicarakan perjanjian damai. Tidak ada lagi kostum hewan, tidak ada konten memalukan di TikTok, dan manusia harus belajar mendengar.”
Sarah mengangkat alis. “Dan imbalannya?”
Karen menatapnya. “Kami jaga keamanan lingkungan, bantu patroli malam, dan… kami tidak akan menggigit kurir lagi.”
Semua tertawa kecil.
Sipus menambahkan, “Dan tolong… hentikan kebiasaan bilang ‘meong’ kepada kucing. Itu menyinggung.”
Dewa Buku menulis kesepakatan di kertas, menandatanganinya, lalu menatap keduanya.
“Hari ini, untuk pertama kalinya, manusia dan hewan sepakat — Jakarta adalah kota bersama.”
Beberapa minggu berlalu. Hidup tampak normal kembali. Hewan dan manusia saling berbagi ruang di taman, anjing diberi hak istirahat, kucing bebas berkeliaran tanpa dikejar satpam, dan burung-burung kini punya jadwal siaran berita lewat pengeras suara publik.
Namun, suatu malam, Karen mendatangi Dewa Buku di sebuah kafe terbuka dekat MRT.
“Kau benar-benar aneh, tahu?” katanya sambil duduk di samping kursi pria itu.
Dewa Buku menatap minumannya. “Semua orang aneh, Karen. Bedanya, aku sadar.”
Sipus muncul dari bawah meja, ekornya melambai anggun. “Kami dapat kabar… ada kota lain yang mulai mengadopsi ide kita.”
“Surabaya? Bandung?” tanya Dewa Buku.
“Semua,” jawab Sipus. “Dan mereka menunggu… pemimpin.”
Dewa Buku menatap ke langit malam Jakarta, lampu-lampu gedung memantul di kacamata hitamnya.
“Kalau dunia siap, aku akan bicara lagi. Tapi kali ini, bukan hanya hewan… mungkin tumbuhan juga ingin didengar.”
Karen tertawa. “Tolong, jangan bilang kita harus bicara dengan tanaman hias juga.”
“Kenapa tidak?” jawabnya. “Mereka sudah lama mendengarkan kita tanpa mengeluh.”
Beo tiba-tiba datang sambil membawa ponsel di paruhnya. “Bos, Wi-Fi nyala lagi. Dan… semua router menampilkan nama baru.”
Di layar ponsel, tertulis:
SSID: TheBookofNature_Online
Karen menatap Dewa Buku. “Kau yang melakukannya, ya?”
Dewa Buku hanya tersenyum di balik maskernya. “Aku cuma memastikan pesan kalian tidak dilupakan.”
Di seluruh kota, Wi-Fi kembali aktif. Tapi setiap koneksi baru menampilkan pesan otomatis sebelum terhubung:
“Hewan dan manusia: dua sisi dari kehidupan yang sama. Jangan abaikan yang satu, agar dunia tetap seimbang.”
— Dewa Buku 🕶️
Karen berbaring di balkon rumahnya, menatap langit malam Jakarta. Sipus tidur di sampingnya, Beo mendengkur di gantungan lampu.
“Dewa Buku itu siapa, sebenarnya?” gumam Karen.
Sipus menjawab setengah tidur, “Entah. Mungkin manusia yang lupa jadi manusia.”
Karen tersenyum kecil. “Atau hewan yang belajar jadi bijak.”
Angin malam berhembus lembut. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang ingin ikut bercanda. Dan jauh di kejauhan, di sebuah apartemen dengan lampu laptop yang menyala, Dewa Buku mengetik sesuatu di layar:
“Catatan: Revolusi tidak selalu tentang kekuasaan. Kadang, ia hanya tentang siapa yang benar-benar mau mendengarkan.”
Ia menekan tombol Enter, dan layar memudar ke hitam.
Fade out
===THE END===
Author Profile
Categories
Related Posts
Malam itu, langit Jakarta Timur dipenuhi mendung tipis. Udara lembab setelah hujan sore, menyisakan aroma...
Read MoreDewaBukuJSW
Pukul sembilan pagi di kafe kecil yang menempel di sisi barat taman kota, udara masih...
Read MoreDewaBukuJSW
Dalam sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota Jawa Tengah, hiduplah sebuah keluarga yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Rombongan pemuda dari Jakarta itu tampak begitu antusias saat mereka tiba di kaki Gunung Lawu,...
Read MoreDewaBukuJSW
Di sebuah restoran mewah di pusat ibu kota Naypyidaw, suasana haru dan tegang berbaur saat...
Read More