Hari beranjak senja…
Langit sore itu berwarna jingga pucat di Desa Sumberjati, sebuah desa kecil yang terletak di kaki Gunung Wilis. Angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Burung-burung walet terbang rendah di atas sawah yang mulai mengering, sementara di kejauhan, matahari perlahan tenggelam di balik bukit.
Di depan rumah kayu yang catnya sudah mengelupas, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan duduk termenung di kursi bambu reyot. Namanya Raden. Tubuhnya kurus, wajahnya keras, dan mata tajamnya seperti menyimpan sesuatu yang berat – entah penyesalan, entah ambisi yang belum tersalurkan.
Raden hidup sendirian sejak ibunya meninggal lima tahun lalu. Ia bekerja sebagai pengrajin anyaman bambu, tapi hasilnya nggak seberapa. Setiap kali lewat rumah tetangganya, ia selalu merasa iri. Rumah mereka lebih besar, ada motor di teras, dan anak-anak mereka memakai baju bagus.
Sedangkan dia? Masih bergantung pada sisa warisan kecil, dan keringat dari hasil jualan yang bahkan nggak cukup buat makan enak tiap hari.
“Kenapa nasib selalu begini sama aku…” gumamnya lirih, menatap ujung kaki.
“Padahal aku kerja keras, tapi rezeki kayaknya nggak pernah mau nyapa aku.”
Langit semakin gelap. Raden bangkit, mengambil lampu minyak yang tergantung di tiang teras, lalu menyalakannya. Suara jangkrik mulai ramai di balik semak. Malam di desa memang cepat datang.
Namun malam itu terasa lain.
Dari arah hutan di belakang rumahnya, terdengar suara seperti bisikan. Pelan, nyaris seperti suara angin yang membawa cerita.
Awalnya Raden pikir cuma imajinasinya. Tapi lama-kelamaan, bisikan itu terdengar jelas.
“Kalajengking hitam… tengah malam… kekayaan abadi…”
Raden menatap ke arah pepohonan gelap di belakang rumahnya. Ia menelan ludah. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi matanya berkilat – antara takut dan penasaran.
“Kalajengking hitam? Kekayaan abadi?”
“Apa itu… pesugihan?”
Desa Sumberjati memang dikenal punya banyak cerita mistis. Salah satunya adalah tentang pesugihan kalajengking, makhluk gaib yang katanya bisa memberikan kekayaan tanpa batas asalkan seseorang berani melakukan ritual tertentu dan memenuhi syaratnya.
Sebagian orang menganggapnya cuma mitos. Tapi bagi orang yang terdesak seperti Raden, mitos sering kali tampak seperti satu-satunya harapan.
Ritual Tengah Malam….
Tengah malam tiba. Bulan sabit menggantung di langit, dan kabut tipis mulai turun. Raden membawa lampu minyak dan sebilah parang kecil. Langkahnya pelan tapi mantap, menyusuri jalan setapak menuju hutan.
Suara ranting patah terdengar di bawah kakinya. Bau tanah lembap menyengat hidung. Di kejauhan, suara burung hantu terdengar sayup-sayup, seperti memperingatkan agar ia berbalik.
Namun Raden terus berjalan.
Setelah hampir satu jam, ia sampai di sebuah tanah lapang kecil, dikelilingi pepohonan rimbun. Tanahnya lembek, dan ada batu besar di tengahnya. Di sanalah, menurut cerita yang pernah ia dengar, kalajengking hitam biasa muncul.
Ia meletakkan lampu minyak di tanah, lalu berlutut. Dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan selembar kertas lusuh berisi mantra pesugihan, yang ia dapat dari seorang lelaki tua di pasar malam beberapa hari lalu.
“Bacakan ini saat kau melihat kalajengking hitam,” kata lelaki tua itu waktu itu, “tapi ingat, jangan menolak apapun yang dia minta setelah kau menerima berkahnya.”
Raden menelan ludah dan membaca mantra itu pelan-pelan.
Udara di sekitarnya terasa berubah. Daun-daun mulai bergoyang tanpa angin. Api di lampu minyak berkedip-kedip, lalu meredup.
Tiba-tiba, dari bawah batu besar itu, muncul seekor kalajengking raksasa. Warnanya hitam legam, tubuhnya berkilat terkena cahaya lampu, dan ekornya terangkat tinggi, berujung tajam seperti belati.
Raden mundur setapak. Nafasnya memburu. Tapi ketika kalajengking itu diam memandangnya, ada sesuatu yang aneh – ia merasa dihipnotis.
“Ambillah… keberuntunganmu…” bisik suara di kepalanya.
“Katakan mantranya lagi…”
Raden menutup mata, membaca ulang mantra dengan suara lebih lantang.
Lilin-lilin di sekeliling gelanggang menyala sendiri.
Angin berputar membentuk pusaran kecil.
Dan tiba-tiba, dari ujung ekor kalajengking itu, muncul cahaya keemasan yang membentuk lingkaran, seperti simbol matahari kecil.
Tubuh Raden diselimuti sinar hangat itu. Ia merasakan sensasi aneh: ringan, lega, dan seperti ada kekuatan baru mengalir di seluruh tubuhnya.
“Mulai malam ini, kau takkan miskin lagi…”
“Tapi ingat… kekayaan tak pernah gratis.”
Lalu semua cahaya menghilang.
Kalajengking itu lenyap dalam kabut.
Raden terjatuh. Napasnya terengah-engah, tapi wajahnya tersenyum – senyum puas dan gila dalam satu waktu.
Keajaiban Pertama….
Keesokan paginya, Raden terbangun dengan tubuh pegal. Ia pikir semua yang terjadi tadi malam cuma mimpi, tapi ketika ia menoleh ke sudut rumah, matanya membelalak.
Di lantai bambu itu, bertumpuk emas, batu permata, dan uang lusuh yang entah dari mana asalnya.
Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Dingin. Nyata.
“Ya Tuhan… ini semua beneran?”
Dalam waktu seminggu, Raden menjadi pembicaraan satu desa. Ia merenovasi rumahnya, membeli motor, bahkan membantu beberapa tetangga yang dulu memandangnya rendah.
Orang-orang mulai memuji. Ada yang bilang dia menang undian, ada yang bilang dia nemu harta karun. Tapi Raden hanya tersenyum dan bilang,
“Rezeki orang nggak ada yang tahu, bukan begitu, Pak RT?”
“Benar juga, nak Raden.” jawab Pak RT singkat.
Namun, sejak malam ritual itu, bayangan hitam mulai mengikuti Raden ke mana-mana.
Kadang ia melihat sosok hitam melintas di jendela.
Kadang terdengar bisikan dari bawah ranjang saat ia tidur.
“Lebih banyak… lebih banyak…”
Raden pura-pura nggak dengar. Tapi dalam hatinya, ia mulai gelisah.
Dua bulan berlalu. Kekayaan Raden makin bertambah. Ia bahkan membuka usaha penggilingan padi, dan setiap hari selalu ramai. Tapi di balik keberhasilan itu, tubuhnya mulai lemah. Matanya cekung. Tidurnya nggak pernah tenang.
Suatu malam, ia bermimpi didatangi kalajengking raksasa yang dulu ia tangkap. Dari ekornya, muncul sosok hitam tinggi, tanpa wajah, tapi dengan suara yang sama seperti waktu pertama kali.
“Kau sudah menerima berkahku, Raden.”
“Sekarang waktunya kau membayar.”
Raden menjerit, tapi tubuhnya terkunci. Ia hanya bisa memandangi sosok itu yang mendekat perlahan.
“Tidak! Aku belum siap!….Belum! Aku masih ingin hidup!” teriak Raden panik.
“Kekayaanmu datang dari kegelapan. Dan kegelapan selalu menuntut imbalan.”
Ketika ia terbangun, tubuhnya penuh keringat. Di dinding kamar, ada bekas cakaran hitam seperti jelaga terbakar.
Mulai saat itu, tiap malam, Raden selalu mendengar langkah kaki kecil di dalam rumah.
Kadang ada suara benda jatuh, kadang suara bisikan perempuan tertawa pelan di telinganya.
Sampai suatu malam, Raden tak tahan lagi. Ia menyalakan semua lilin di rumahnya dan memutuskan melakukan ritual pemutusan pesugihan yang ia temukan dari kitab tua di pasar.
Ia duduk di lantai, menyalakan dupa, dan membaca doa dengan suara bergetar.
“Aku ingin lepas dari perjanjian ini… aku mohon, lepaskan aku…”
Tapi angin di dalam rumah tiba-tiba berputar kencang. Lilin padam satu per satu.
Dan dari kegelapan, muncul kalajengking itu lagi – kali ini lebih besar, lebih mengerikan, dan dari ekornya keluar sosok hitam yang sama.
“Janji tak bisa dibatalkan, Raden….Apa yang kau miliki, harus kau bayar.”
Tubuh Raden tersedot ke dalam bayangan itu. Ia menjerit keras, tapi suaranya tertelan angin.
Beberapa hari kemudian, warga desa diundang ke rumah Raden. Katanya ia mau syukuran ulang tahun. Rumahnya kini mewah, penuh lampu dan musik. Meja besar di tengah ruang tamu dipenuhi makanan, minuman, dan perhiasan mahal. Semua orang kagum.
Tapi malam itu, hujan tiba-tiba turun deras. Petir menyambar, dan listrik padam seketika.
Gelap.
Di tengah kepanikan, seseorang berteriak.
“Mana Raden?!”
Ketika lampu menyala kembali, Raden sudah nggak ada.
Yang tersisa cuma lumpur hitam di lantai, berbau amis dan menyengat seperti racun kalajengking.
Warga lari ketakutan. Rumah itu kemudian dikosongkan dan ditinggalkan.
Satu Tahun Kemudian….
Setahun setelah kejadian itu, Desa Sumberjati kembali tenang. Rumah Raden sudah ditumbuhi lumut dan ilalang tinggi. Tapi beberapa warga yang lewat malam-malam sering mengaku mendengar suara langkah kaki dari dalam, atau melihat kalajengking hitam sebesar tangan manusia merayap di dinding.
Orang-orang bilang, pesugihan itu belum berakhir.
Roh Raden masih terikat, menunggu seseorang baru yang serakah untuk datang ke hutan itu lagi.
Dan memang… di malam Jumat Kliwon, dari kejauhan, kadang terlihat cahaya lilin di antara pepohonan.
Seorang lelaki berjalan membawa parang dan lampu minyak, dengan tatapan yang sama seperti Raden dulu – tatapan haus kekayaan.
Bisikan dari dalam hutan….
Hutan di belakang Desa Sumberjati kini dikenal sebagai Hutan Kalajengking.
Tak ada yang berani masuk, kecuali orang-orang yang sudah kehilangan segalanya – uang, harapan, dan akal sehatnya.
Dan ketika angin malam berembus pelan, kadang terdengar bisikan di antara pepohonan:
“Ambillah… keberuntunganmu…”
“Tapi jangan lupa… bayarannya.”
Author Profile
Categories
Related Posts
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota, ada seorang pedagang bensin eceran bernama Udin. Dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Di lereng Gunung Merapi yang berkabut, terdapat misteri yang tersembunyi sejak zaman dahulu kala. DewaBuku,...
Read MoreDewaBukuJSW
Di tengah kemegahan Danau Toba, terdapat sebuah cerita unik yang melibatkan dua tokoh tak terduga,...
Read MoreDewaBukuJSW
Donald Trump, mantan presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan gaya flamboyannya, sedang berkunjung ke Indonesia...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi di Jakarta Barat selalu datang tanpa upacara. Tidak ada pengumuman, tidak ada isyarat khusus...
Read More