
Hening selalu punya cara untuk menyembunyikan bising. Jakarta pada dini hari itu terlihat seperti tubuh raksasa yang sedang terlelap, meski di bawah kulitnya ribuan mesin tetap bergerak. Dari kejauhan, gedung-gedung di Pluit dan Penjaringan berdiri seperti bayangan patah, bercahaya pucat oleh pantulan lampu pelabuhan. Tapi bukan lampu-lampu itu yang menjadi pusat perhatian malam ini.
Ketiadaan DewaBuku mengubah semuanya. Untuk mencari keberadaan DewaBuku bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seorang diri, bahkan oleh SailorMoon sekalipun. Saat ini SailorMoon sudah kembali menjadi Usagi. Oleh sebab itulah Usagi mulai duduk dengan tenang….lebih tepatnya menenangkan diri, memusatkan pikiran untuk memanggil semua saudaranya yang berada dalam barisan Sailor Guardian melalui kemampuan telepatinya. Semua yang tergabung dalam barisan Sailor Guardian dipanggil oleh Usagi….mereka adalah Rei, Chibiusa, Ami Mizuno, dan anggota Sailor Guardian lainnya.
Sejak ia menghilang ke dalam celah dimensi itu — Arsip Nol — udara Jakarta seperti kehilangan penopang tak terlihatnya. Tak ada lagi suara langkah berat namun tenang di belakang SailorMoon, bahkan Sailor Guardian. Tak ada lagi sinyal halus yang biasa dirasakan Usagi ketika bahaya mendekat. Dan yang paling terasa: tak ada lagi seseorang yang selalu tahu lebih dulu daripada siapa pun, seseorang yang menyatukan semua potongan sebelum semuanya runtuh.
Ketiadaan itu terasa seperti kekosongan yang menggema.
Usagi berdiri di tepi atap gedung semi-terbengkalai dekat Jembatan Kapuk, menatap jalan raya yang lengang dengan mata yang tak pernah seterang dulu. Bukan karena ia kurang berani, melainkan karena malam itu terasa seperti permukaan air yang menutupi sesuatu jauh lebih gelap di bawahnya. Angin membawa aroma asin dari laut, bercampur debu besi dari gudang-gudang tua dan sisa-sisa minyak solar dari kapal industri. Baginya, DewaBuku bukan hanya sebagai teman tetapi juga sumber kekuatan batinnya.
Sejak hilangnya lelaki berjubah gelap itu — lelaki yang selalu memakai masker dan kacamata hitam seolah menyembunyikan seluruh dunia di baliknya — semua anggota barisan Sailor Guardian tidak pernah bisa tidur dengan tenang.
Sementara itu, para penjaga dimensi yang pernah berinteraksi dengan DewaBuku mulai gelisah. Mereka mengetahui hilangnya seseorang seperti dia bukanlah kejadian biasa. Arsip Nol bukan ruang sembarangan; ia adalah lipatan dimensi tempat sejarah yang terhapus berkumpul, tempat seluruh masa lalu yang tidak pernah terjadi tersimpan seperti debu. Masuk ke sana berarti terperangkap dalam kesunyian yang hampir abadi. Orang bisa kehilangan dirinya sendiri, bisa berubah menjadi gema tanpa tubuh.
Namun, para penjaga itu juga tahu satu hal: seseorang seperti DewaBuku tidak masuk ke sana tanpa alasan yang besar. Bukan pilihan bunuh diri. Bukan pelarian. Tapi sebuah strategi.
Di permukaan dunia, tidak ada yang tahu itu — kecuali satu orang.
Ami Mizuno menghabiskan beberapa hari terakhir memeriksa kembali setiap data anomali elektromagnetik di sekitar kawasan Pluit, Kapuk, dan Teluk Gong. Detektor portabel kecil di tangannya terus bergetar, dan setiap kali jarumnya bergetar sedikit lebih kuat, rasa bersalah menyentaknya. Ia selalu percaya logika bisa menjawab segalanya, namun kali ini logika justru membawanya pada ketakutan: jika DewaBuku benar-benar masuk ke Arsip Nol, berarti sesuatu telah membuatnya terpojok.
Ia adalah seseorang yang tidak pernah kalah oleh situasi.
Jadi apa yang memaksanya melompat ke dimensi yang bahkan para Guardian sendiri takut untuk menyentuhnya?
Di Teluk Gong, para pekerja malam di kawasan industri mulai membicarakan cahaya aneh yang beberapa kali muncul di antara bangunan tua. Cahaya itu tidak seperti lampu kendaraan, tidak seperti pantulan dari drone patroli, dan tidak seperti kilatan petir. Warnanya merah keemasan, berdenyut pelan seperti napas dari sesuatu yang sedang bangun.
Cahaya itu mengguncang struktur realitas halus di area itu. Meskipun hanya orang-orang sensitif yang bisa menyadarinya, frekuensi aneh itu mulai terasa seperti getaran kecil di tulang seseorang. Getaran itu tidak menyakitkan, tidak mengancam secara langsung, tapi terasa mengganggu — seperti derit pintu tua yang membuka sendiri jauh di dalam rumah yang sudah lama ditinggalkan.
Rei, lebih sensitif daripada siapa pun terhadap gangguan energi, tahu itu bukan fenomena alam. Ia merasakan kehadiran bayangan yang bersembunyi di balik cahaya itu. Bukan makhluk, bukan roh, bukan entitas biasa. Sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang dulu pernah terbelenggu dan kini sedang menggerakkan jarinya untuk pertama kalinya setelah tidur panjang.
Pada malam ketiga sejak hilangnya DewaBuku, sebuah kejadian mengguncang seluruh Guardian.
Chibiusa menjadi orang pertama yang melihatnya.
Ketika ia berjalan melewati deretan toko onderdil tua di Kapuk menuju gudang kosong tempat mereka berlatih, ia melihat sesuatu berkedip di ujung gang. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan makhluk, bukan bayangan manusia. Lebih seperti serpihan api halus yang bergerak perlahan di udara — api kecil yang tidak memancarkan panas, tetapi terasa seperti ingatan dingin yang menyentuh kulit.
Serpihan kecil itu seperti memanggilnya.
Tapi ketika ia mendekatinya, serpihan itu berubah menjadi garis cahaya merah keemasan dan terbang ke arah utara — ke arah gudang tempat Brahma Surya pernah memenjarakan banyak rahasia.
Serpihan cahaya itu hanya muncul selama tiga detik. Namun tiga detik itu cukup untuk membuat Chibiusa berlari sekencang-kencangnya ke arah Sailor Guardian lain.
Cahaya itu bukan sembarangan.
Itu adalah tanda kebangkitan.
Di sisi lain, Lagos — seorang teman yang selalu menghormati DewaBuku, salah satu aset paling misterius yang pernah bekerja bersama DewaBuku — terjaga dari tidurnya di sebuah apartemen tua dekat Kota Tua. Ia bukan Guardian, bukan agen pemerintah, dan bukan pula makhluk dari dunia lain. Tapi ia pernah berhutang nyawa pada DewaBuku, dan meskipun hubungan mereka seperti dua bayangan yang berjalan berlawanan arah, ia memahami pola yang sama: sesuatu telah pecah.
Lagos mengubek-ubek tasnya dan mengambil sebuah perangkat kecil — perangkat yang hanya bisa aktif jika seseorang yang ia hormati masih hidup. Perangkat itu bergetar lemah, mengeluarkan suara pendek seperti helaan napas di kejauhan.
DewaBuku tidak mati.
Tapi ia tidak lagi berada di dunia ini.
Lagos memejamkan mata, mencoba menahan rasa sesak yang menekan dadanya. Bukan sedih. Bukan takut. Tapi campuran rasa kehilangan dan kewajiban.
Jika DewaBuku masih hidup, ia pasti meninggalkan jejak. Sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu.
Di atap gedung dekat Pluit Village, angin membawa serpihan kabut asin. Rei berbaring di tempat tidurnya dengan perasaan tidak tenang, dia sengaja berbaring di atap gedung yang memang disana sudah tersedia semacam gazebo yang dilengkapi dengan tempat tidur. Sedangkan 20 meter dari tempat Rei berbaring – masih di atap gedung yang sama, Usagi berdiri memandangi hamparan lampu kota. Tubuhnya tegang, bukan karena ancaman langsung, tapi karena rasa hampa yang terlalu besar.
Ia merindukan suara berat yang selalu menenangkan itu. Merindukan cara DewaBuku menegakkan kepala sedikit ke samping saat mendengarkan sesuatu. Merindukan langkah-langkah mantap yang selalu terasa seperti batas terakhir di antara mereka dan kehancuran.
Dan kini batas itu hilang.
Namun, Usagi tahu sesuatu: orang seperti DewaBuku tidak meninggalkan dunia tanpa meninggalkan pesan terakhir. Tanpa meninggalkan secuil dari dirinya yang bisa diikuti.
Ia hanya perlu menemukannya.
Malam semakin larut ketika Rei merasakan energi aneh yang menyelinap ke tubuhnya. Energi itu bukan serangan. Bukan ancaman langsung. Lebih seperti bisikan kecil yang menembus realitas. Energi itu melintas cepat seperti hawa dari pintu dimensi yang terbuka, meskipun hanya sedikit.
Ia tahu itu bukan dari musuh. Juga bukan dari Sailor Guardian lain.
Energi itu terasa seperti….DewaBuku.
Namun, intensitasnya tipis. Seolah berasal dari dunia yang sangat jauh, atau dari ruang yang tidak seharusnya tersentuh manusia. Meskipun tipis, jejak itu jelas: ia masih ada. Tapi ia dalam bahaya. Bukan bahaya fisik — lebih pada bahaya eksistensi. Arsip Nol bisa menghapus identitas seseorang perlahan-lahan, mengikis memori, prinsip, bahkan nama.
Jika ia terlalu lama di sana, ia bisa kembali sebagai sesuatu yang bukan manusia lagi.
Sementara itu, di dimensi Arsip Nol sendiri, DewaBuku berjalan di antara lapisan-lapisan sejarah yang terhapus. Arsip Nol tidak seperti dunia gelap. Justru sebaliknya — ia terang, tetapi terlalu terang hingga segala sesuatu terlihat seperti bayangan pucat. Ruang itu dipenuhi lembaran-lembaran ingatan yang tidak pernah terjadi, menggantung seperti serpihan kaca yang berkedip pelan.
Waktu tidak mengalir di sana. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menembus permukaan air yang tidak pernah bergerak. Dan setiap helaan napasnya seperti menggetarkan seluruh ruangan.
Ia tahu ia tidak bisa terlalu lama di sana. Tapi ia juga tahu hanya di tempat inilah ia bisa menemukan apa yang dicari Brahma Surya — arsip tentang kelahiran pertama entitas itu. Sesuatu yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun.
Di dunia nyata, Sailor Guardian menemukan sesuatu di gudang tua Teluk Gong: pola lingkaran aneh yang terbakar di lantai. Pola itu tidak berasal dari ritual. Tidak berasal dari teknologi. Tidak berasal dari sihir bumi.
Pola itu berasal dari energi tidur Brahma Surya.
Rei melihatnya pertama kali, matanya langsung dipenuhi ngeri. Pola itu hanyalah bentuk kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan ketika Usagi menyentuh ujung lingkaran itu, angin di seluruh kawasan industri itu berhenti. Semua suara hilang. Bahkan detak jantungnya sendiri terdengar terlalu keras.
Kemudian, dari bawah tanah, sebuah denyut cahaya merah keemasan merambat pelan—sangat pelan, seperti jantung raksasa yang mulai berdetak setelah berabad-abad.
Denyut itu menjalar ke dinding-dinding gudang, ke pipa-pipa tua, ke kabel-kabel listrik yang menggantung. Denyut itu merambat ke udara, membuatnya bergetar. Hingga akhirnya denyut itu mencapai langit dan perlahan-lahan memudar.
Namun, sebelum benar-benar hilang, denyut itu membentuk satu kata—bukan dalam suara, tetapi dalam getaran yang langsung tertanam dalam pikiran mereka.
Satu kata yang hanya pernah dikenal oleh satu orang:
Nol.
Usagi terdiam. Rei menahan napas. Ami memegangi detektornya yang berbunyi kacau. Dan Chibiusa memeluk dirinya sendiri, mencoba menyingkirkan rasa dingin yang merayap dari tulang belakangnya.
Mereka tahu makna kata itu.
Brahma Surya tidak muncul. Tetapi ia tahu.
Ia merasakan.
Ia sadar.
Dan itu berarti kebangkitan tinggal menunggu hitungan waktu.
Namun, di dalam Arsip Nol, DewaBuku berhenti berjalan. Di depannya, sebuah pintu tanpa bingkai muncul begitu saja—pintu yang tidak terbuat dari kayu, logam, atau cahaya. Pintu itu terbuat dari memori. Dari semua hal yang pernah ia lupakan, semua hal yang pernah ia tekan dalam-dalam, semua hal yang ia buang demi melanjutkan hidup.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan dari dalam, angin dingin keluar, membawa suara samar seperti bisikan masa lalu yang menolak hilang.
Ia tahu ini bukan jalan pulang.
Ini adalah ujian pertama.
Dan jika ia gagal, dunia luar tidak akan pernah melihatnya lagi.
Namun — ia melangkah.
Di dunia nyata, denyut cahaya terakhir di Teluk Gong menghilang.
Dan langit Jakarta kembali gelap.
Tapi sesuatu telah terbangun.
Bukan Brahma Surya.
Bukan pula musuh baru.
Sesuatu yang terhubung langsung dengan keberadaan DewaBuku.
Sesuatu yang mulai memecah batas antara dunia nyata dan dimensi Arsip Nol.
Sesuatu yang akan memaksa Sailor Guardian menghadapi kebenaran yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka duga.
Dan malam itu…. hanya awalnya.
Bersambung ke Episode SAILORMOON – GEMA DARI ARSIP NOL (PART 12)
Author Profile
Categories
Related Posts
Jakarta Barat, tahun 2025.Langit malam memantulkan cahaya oranye dari lampu jalan yang redup, menyatu dengan...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi baru mulai merayap masuk ke cakrawala Jakarta ketika elevator rahasia di bawah Hotel Fairmont...
Read MoreDewaBukuJSW
Balkon tempatnya berdiri adalah sebuah tempat dimana Usagi bisa merenung dengan tenang. Saat ini tetap...
Read MoreDewaBukuJSW
Cahaya fajar baru saja menyentuh langit Jakarta ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi di seluruh...
Read MoreDewaBukuJSW
Jakarta Utara, Teluk Pluit. Pukul 05.23 pagi. Kabut tebal menggantung di atas perairan.Dari kejauhan, pelabuhan...
Read More