
SERIAL TITLE: “JALUR LINTAS SELATAN”
Malam di Jalur Lintas Selatan selalu punya cara sendiri untuk membuat manusia merasa kecil.
Angin dari arah Samudra Hindia bertiup tanpa henti, membawa bau asin yang tipis tapi menusuk hidung. Aspal hitam membentang panjang, berkelok mengikuti kontur perbukitan kapur dan hutan jati yang rapat. Lampu penerangan nyaris tak ada. Hanya reflektor jalan dan garis putih yang sesekali menyala diterpa lampu truk.
Raka Wibisono menggenggam setir dengan kedua tangan. Jam di dashboard menunjukkan pukul 01.47 WIB.
Truk logistik bernomor polisi B 9172 JQ itu melaju konstan dari arah Banyuwangi menuju Cilacap. Muatannya bahan bangunan, berat, membuat mesin menderu rendah seperti napas binatang besar. Di kabin, hanya ada suara radio AM yang sesekali menangkap siaran tidak jelas, bercampur statis.
Raka sendirian.
Sudah hampir lima jam ia tidak berhenti. Kopi hitam dari termosnya tinggal setengah, pahit, dingin. Ia sengaja memilih jalur selatan untuk menghindari kemacetan utara, meski tahu risikonya: sepi, minim sinyal, dan… cerita-cerita yang lebih baik tidak didengar.
Raka bukan orang yang percaya hal-hal mistis. Setidaknya ia selalu bilang begitu.
Lampu jauh menyapu bahu jalan. Semak liar, batuan, dan jurang di sisi kiri. Laut berada beberapa kilometer di selatan, tapi malam ini suaranya terasa dekat — debur rendah yang seperti datang dari bawah tanah.
Lalu, suara itu terdengar.
Tangisan.
Pelan. Terputus-putus. Seperti bayi.
Raka refleks menurunkan volume radio.
“…”
Ia menajamkan pendengaran. Mesin truk masih meraung, tapi di sela-selanya, suara itu jelas. Tangisan kecil, lirih, namun penuh tekanan. Bukan suara kucing. Bukan burung malam.
Raka mengerem perlahan.
“Astaga…” gumamnya.
Ia menepikan truk di bahu jalan. Lampu hazard dinyalakan. Tangisan itu terdengar lebih dekat sekarang — seolah tepat di luar kabin.
Raka membuka pintu.
Udara malam menghantam wajahnya. Dinginnya berbeda, lembap, asin. Ia melangkah turun, menyusuri cahaya lampu depan.
Di tepi jalan, dekat patok kilometer yang catnya mengelupas, sesuatu bergerak.
Bayi.
Terbungkus kain putih kusam. Tubuhnya kecil, menggigil, menangis tanpa suara keras — seperti ditahan oleh sesuatu. Kulitnya pucat kebiruan, rambutnya basah menempel di dahi.
Raka membeku.
“Ya Tuhan…” napasnya tercekat.
Ia berlutut, menyentuh kain itu. Dingin. Sangat dingin. Dan basah.
“Dari mana kamu, Nak…” katanya lirih.
Tidak ada rumah. Tidak ada kendaraan lain. Jalan kosong sejauh mata memandang.
Tangisan bayi itu mereda ketika Raka menggendongnya.
Bau asin makin kuat.
Seperti air laut.
Raka menoleh kanan kiri, berharap melihat seseorang berlari atau berteriak. Nihil.
Ia membawa bayi itu ke kabin truk. Menaruhnya di kursi penumpang, menyelimuti dengan jaketnya sendiri. Bayi itu diam, matanya terpejam, napasnya tipis.
Raka menelan ludah.
“Nanti kita cari pos… atau polisi…” ucapnya, lebih ke dirinya sendiri.
Ia kembali menyalakan mesin.
Saat truk bergerak, radio menyala sendiri.
“…pengemudi yang melintas jalur selatan diimbau berhati-hati. Telah terjadi beberapa kecelakaan tunggal…”
Raka mematikan radio dengan kasar.
Sepanjang perjalanan, ia merasa tidak sendirian.
Sesekali, ia mencium bau amis. Sesekali, ia mendengar suara air menetes, padahal kabin kering. Bayi itu tidak menangis lagi.
Sekitar pukul 03.10, Raka melihat bangunan kecil dengan lampu temaram. Pos darurat JLS.
Ia menghentikan truk.
Seorang lelaki tua keluar. Tubuhnya kurus, bersarung, memakai jaket lusuh. Wajahnya berkerut, matanya cekung tapi tajam.
“Kenapa berhenti, Mas?” tanyanya.
“Saya nemu bayi di jalan,” jawab Raka cepat. “Sendirian.”
Wajah lelaki itu berubah.
“Di kilometer berapa?” suaranya merendah.
“KM 214.”
Lelaki itu — Pak Wiryo — menarik napas panjang.
“Mas…” katanya pelan, “di situ nggak pernah ada bayi.”
Raka membuka pintu kabin. “Ini buktinya.”
Pak Wiryo melihat ke kursi penumpang.
Kosong.
Jaket Raka terlipat rapi, basah.
Air menetes ke lantai kabin.
Seperti baru disiram air laut.
Raka mundur satu langkah. Dadanya sesak.
“Tadi… tadi ada…” suaranya gemetar.
Pak Wiryo menunduk. “Mas, dengar saya baik-baik. Kalau di JLS dengar tangisan, jangan berhenti. Jangan dibawa. Itu bukan bayi.”
“Terus apa?”
Pak Wiryo menatap gelap jalan.
“Itu yang belum pulang.”
Angin berhembus lebih kencang.
Dari kejauhan, terdengar lagi suara tangisan.
Kali ini…lebih dekat. Mungkin memang benar suara bayi, tapi kenapa musti malam-malam?
Sudah dua bulan ini selalu saja seperti itu….
(BERSAMBUNG KE EPISODE 2)
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Aku menutup seluruh catatan lama dan memulai yang baru di...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Lampu itu selalu menyala pukul 02.00 WIB. Bukan lampu jalan....
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Kadang aku berpikir bahwa hidup ini banyak menyimpan misteri. Salah...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Catatan ini aku tulis di sebuah warung kopi kecil di...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "JALUR LINTAS SELATAN" Pada saat seorang jurnalis perempuan bernama Sari menemukan seorang nelayan...
Read More