Pada suatu hari di Jakarta, Indonesia, tahun 2024, kejutan tak terduga terjadi. Albert Einstein muncul secara misterius dari masa lampau dari tanggal 10 April 1855 dan terlihat di Bundaran HI pada 21 Januari 2024. Dia terdampar di tengah kota metropolitan modern ini, membingungkan banyak orang dengan pakaian dan gayanya yang sangat berbeda. Dia berjalan menuju air mancur di Bundaran HI, mandi disana dengan pakaian lengkapnya dan keluar lagi kearah trotoar untuk berjemur sampai pakaiannya benar-benar kering. Einstein berpikir,’Percuma saja mandi di tengah jalan ramai begini, aku lari aja ah, kota nggak jelas’.
Sambil celingak-celinguk, Einstein menyapu pandangannya di sepanjang jalan yang dia lewati. ‘Nah, itu dia ada kebun di belakang rumah warga,’ ujar Einstein senang. Rupanya ditengah kota besar ini masih ada rumah warga yang ada kebunnya, juga ada kolam kecil berbentuk bundar yang ditengahnya ada air mancur kecil. Tanpa pikir panjang si Albert Einstein menceburkan diri ke kolam ditengah kebun itu sambil tertawa riang, mandi sepuasnya dengan masih memakai setelan jas kebanggaannya. Einstein sangat gembira bisa mandi di kolam bundar itu, sesekali dia main-main dengan air mancur kecil di tengah kolam. Setelah 30 menit puas bermain-main dengan air mancur, Einstein mulai bosan dan segera keluar dari kolam itu untuk menikmati pohon-pohon rindang di kebun belakang rumah warga itu. Dengan setelan jas yang masih basah kuyup dia segera keluar dari kebun dan berjalan ke arah jalan raya di sekitar Bundaran HI sambil menggerutu.
‘Tempat macam apa ini?’ pikir Einstein
‘Macam apa ini tempat?…hehehe….bingung saya,’ gumam Eintein lagi.
Dengan kebingungan, Einstein berjalan-jalan di sepanjang jalan-jalan sibuk Jakarta. Dia melihat teknologi modern, gedung-gedung tinggi, dan orang-orang yang berjalan dengan sibuk menggunakan gadget canggih. Tidak bisa menghindari rasa penasaran, Einstein mencoba berbicara dengan orang-orang, tetapi bahasa yang digunakan terdengar asing baginya.
Namun, tak lama kemudian, seorang pria dengan gaya rambut yang khas dan senyum lebar mendekati Einstein. Pria itu adalah Komeng, seorang jenius lokal yang terkenal karena inovasinya. Komeng langsung merasa terhubung dengan kehadiran Einstein dan berusaha membantu.
‘Hey, bos! Ada apa nih? Kok baju lu aneh banget sih?’ ujar Komeng sambil tertawa.
Einstein, meski masih bingung dengan bahasa modern, memberikan senyuman ramah. ‘Saya tidak tahu bagaimana saya bisa berada di sini. Saya butuh bantuan.’
Komeng tertarik dengan petualangan baru ini dan dengan antusias mengajak Einstein ke laboratorium rahasia miliknya. Di sana, Einstein bertemu dengan teman Komeng, Charlie Chaplin, seorang legenda dalam dunia seni peran.
‘Ini dia, bos, teman saya, Charlie! Dia master dalam seni hiburan,’ kata Komeng dengan bangga.
Charlie menyambut Einstein dengan aksi komedinya yang khas, membuat Einstein tertawa. Meskipun bahasa yang digunakan oleh masing-masing tokoh berbeda, tawa menjadi bahasa universal di antara mereka.
‘Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda, Mr. Einstein. Komeng sudah menceritakan tentang kejeniusan Anda,’ kata Charlie dengan penuh kegembiraan.
Einstein mengangguk sambil mencoba mengikuti percakapan. Rambutnya yang berantakan permanen sangat membuat Komeng ingin tertawa. Dengan berusaha maksimal untuk tidak tertawa, Komeng kemudian menjelaskan bahwa mereka memiliki masalah besar dengan seorang musuh berbahaya, Ari Lasso, seorang penyanyi yang memiliki kemampuan luar biasa membuat orang menangis dengan lagu-lagu melankolisnya.
‘Kita butuh cara untuk melawan Ari Lasso, bos. Dia terlalu kuat dengan seninya membuat orang-orang galau. Kamu bisa bantu kita?’ pinta Komeng.
Einstein memikirkan ide-ide dalam pikirannya. Kemudian, dengan tiba-tiba, dia memiliki ide cemerlang.
‘Mengapa kita tidak menciptakan sesuatu yang bisa membuat orang tertawa? Saya punya gagasan untuk menciptakan ‘Bom Tertawa.’ Ini akan berisi larutan kimia yang membuat orang merasa lucu dan bahagia, mereka lucu, aku lucu, kamu lucu, kita semua jadi lucu permanen’ ucap Einstein sambil geleng-geleng mirip orang sedang dugem, sehingga membuat tawa Komeng dan Charlie pecah seketika.
Sesaat setelah sembuh dari tertawa dan bisa berpikir serius, akhirnya Charlie dan Komeng melihat satu sama lain dengan mata berbinar. Mereka setuju untuk bekerja sama dalam proyek ini untuk melawan Ari Lasso. Selama beberapa minggu, ketiganya bekerja keras di laboratorium, mencampurkan berbagai bahan kimia dan menguji efeknya pada diri mereka sendiri.
‘Haha, ini sangat lucu, bos!’ kata Komeng sambil tertawa terbahak-bahak setelah mencoba hasil percobaan mereka.
Charlie menambahkan, ‘Apa kabar, Ari Lasso? Kami akan membuat orang-orang tertawa dan bahagia, melawan seni galaumu!’
Setelah serangkaian percobaan dan perbaikan, mereka berhasil menciptakan Bom Tertawa yang efektif. Bom ini memancarkan gas yang, ketika terhirup, membuat orang merasa gembira dan tertawa tanpa henti.
Pada malam hari yang cerah di Jakarta, mereka merencanakan untuk menggunakan Bom Tertawa ini pada konser besar Ari Lasso. Mereka menyamar dengan mengenakan hoodie hitam dengan penutup kepala terpasang rapi, menyusup ke tempat konser dan dengan hati-hati menyembunyikan bom-bom itu di sekitar panggung.
Saat Ari Lasso mulai menyanyikan lagu-lagu melankolisnya, mereka melepaskan Bom Tertawa. Tidak butuh waktu lama sebelum efeknya terasa, dan penonton yang awalnya terdiam mulai tertawa bahagia.
‘Apa yang terjadi di sini? ini lagu galau saudara-saudara….ini lagu galau….ya ampun, dancuk tenan iki piye to kik?’ tanya Ari Lasso, bingung melihat reaksi aneh penontonnya.
Einstein, Charlie, dan Komeng keluar dari persembunyian mereka, tertawa bahagia. ‘Kami datang untuk melawan seni galau Anda dengan seni tertawa! Selamat tinggal, Ari Lasso!’ kata Komeng sambil tertawa.
Ari Lasso mencoba untuk tetap serius, tetapi efek Bom Tertawa membuatnya sulit untuk menahan tawa. Mukanya menghijau dan akhirnya, dia ikut tertawa bersama dengan penonton.
‘HUAAHAHAHAHA….HWAHAHAHA JANCOOOOK LUCU TENAN….HAHAHAHA….KONSER INI SELESAI WAE YO PENONTON?….HUAAHAHAHAHA,’ Ari Lasso tertawa maksimal, dia sangat bahagia….benar-benar bahagia. Semuanya ikut tertawa maksimal tanpa kecuali, deretan artis, bintang tamu, event organizer, sponsor, MC, dan tamu kehormatan pun menghormati diri mereka sendiri. Mereka memang lucu, sama lucunya dengan penulis blog hiburan ini.
Setelah konser dianggap selesai, ketiganya mengumpulkan Bom Tertawa yang tersisa dan merayakan keberhasilan mereka. Mereka mengembalikan Einstein ke masa lampau dengan cara misterius yang sama seperti kedatangannya.
Charlie dan Komeng melanjutkan petualangan mereka, menggunakan inovasi mereka untuk menyebarkan tawa dan kebahagiaan di seluruh Jakarta. Sementara itu, Ari Lasso, yang kini telah belajar untuk lebih menghargai seni positif, bergabung dengan mereka dalam mempersembahkan pertunjukan yang memadukan seni melankolis dan komedi.
Dengan demikian, Jakarta menjadi tempat yang lebih cerah dan bahagia, berkat kolaborasi unik antara Albert Einstein, Charlie Chaplin, dan si jenius Komeng.
Author Profile
Categories
Related Posts
Jakarta, 4 November 2025.Sore menjelang malam di jalanan yang sepi, di mana lampu jalan mulai...
Read MoreDewaBukuJSW
Malam hari itu, pada tahun 1996 di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta diselenggarakan sebuah Konser...
Read MoreDewaBukuJSW
Arbella Van Der Wujk Di tengah keramaian kota Amsterdam yang sibuk, terdapat sebuah kafe bawah...
Read MoreDewaBukuJSW
Di tengah kemegahan Danau Toba, terdapat sebuah cerita unik yang melibatkan dua tokoh tak terduga,...
Read MoreDewaBukuJSW
Pagi di Jakarta Barat selalu datang tanpa upacara. Tidak ada pengumuman, tidak ada isyarat khusus...
Read More