Langit sore di atas Kabupaten Sarmi, Papua, tampak berwarna oranye pucat. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di kejauhan, burung-burung cenderawasih melintas di antara pepohonan yang menjulang, sementara suara jangkrik mulai terdengar dari balik rimbun pepohonan.
Di tengah suasana itu, seorang pria berusia 32 tahun berdiri di tepi dermaga kayu sederhana. Namanya Dewa Buku, seorang jurnalis independen dari Jakarta yang sudah sebulan berada di Papua. Ranselnya lusuh, sepatunya becek, tapi semangatnya belum padam. Ia datang bukan untuk wisata, melainkan untuk menulis laporan mendalam tentang satu hal yang selama ini dianggap tabu: kanibalisme di Papua. Dia ditemani oleh seorang sopir truk.
“Mas Dewa, hati-hati ya. Jangan sembarang ngomong kalau sudah di pedalaman,” ujar sopir truk bernama Yonas, seorang pria lokal berdarah campuran Papua-Jawa, berambut pendek, kemeja dan celana panjang berwarna krem, berkulit coklat dengan senyum lebar, sambil memeriksa tali pengikat logistik di bak belakang.
Dewa tersenyum tipis.
“Tenang, saya cuma mau wawancara tokoh adat. Nggak akan sembarangan,” katanya.
Mereka berdua duduk di sebuah warung kayu kecil di pinggir jalan Trans Papua. Di meja mereka ada dua gelas kopi hitam panas dan piring kecil berisi pisang goreng yang masih mengepulkan uap. Warung itu sederhana — hanya beralaskan papan, kursinya dari batang pohon yang dibelah dua, dan di sudutnya tergantung radio tua yang memutar lagu daerah dengan suara serak.
“Mas tahu, di Jakarta orang masih ngomongin soal suku kanibal di Papua,” kata Yonas sambil terkekeh pelan. “Padahal sekarang orang sini udah banyak yang pakai smartphone, naik motor, malah anak-anak muda sudah biasa nonton YouTube dan Netflix.”
Dewa menatap lelaki itu dengan rasa ingin tahu.
“Tapi bukankah masih ada suku-suku yang belum banyak berhubungan dengan dunia luar? Misalnya Morowai?”
Yonas berhenti mengaduk kopinya. “Ada, tapi jangan salah sangka. Dulu mereka memang begitu, tapi sekarang udah banyak yang berubah. Rumah mereka sudah bukan cuma di pohon, banyak juga yang tinggal di bawah. Anak-anaknya sekolah di distrik.”
Dewa mengeluarkan catatan kecil dari tasnya. “Jadi rumor tentang kanibalisme itu…?”
Yonas tertawa keras. “Hahaha, rumor itu yang bikin orang bule penasaran datang ke sini. Tapi saya bilang ya, Mas, yang makan manusia sekarang bukan orang dari suku primitif di hutan. Kadang justru orang kota, tapi makannya lewat cara lain: korupsi, pencucian uang, gratifikasi, rakus, egois.”
Ucapan Yonas itu membuat Dewa terdiam beberapa detik. Ia menatap ke luar warung, melihat jalan panjang berkelok di antara hutan tropis yang tampak sunyi. Hujan mulai turun rintik lagi, mengetuk atap seng dengan irama monoton.
Perjalanan menuju kampung Yaniruma memakan waktu hampir dua hari. Jalanan berganti dari aspal mulus menjadi tanah becek, lalu batu kerikil yang curam. Mobil double cabin yang mereka tumpangi beberapa kali tergelincir, tapi Yonas mengemudi dengan tenang seperti sudah hafal setiap lubang dan tikungan.
Setibanya di kampung, Dewa langsung disambut oleh seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam legam berpakaian adat Morowai, dialah Bapak Joseph, kepala suku setempat yang juga seorang pendeta. Wajahnya menyeramkan tetapi hatinya baik dengan tutur kata yang santun dan penuh kelembutan. Sangat bertolak belakang dengan penampilan fisiknya yang begitu menyeramkan. Rumahnya panggung, berdinding papan, dan di depannya ada kursi panjang dari kayu mahoni. Di atas meja terdapat termos air panas, cangkir enamel, dan beberapa potong ubi rebus.
“Kamu dari Jawa, ya?” tanya Joseph dengan nada lembut sambil tersenyum ramah.
“Iya, Pak. Saya datang mau belajar tentang kehidupan masyarakat di sini. Banyak orang di luar masih salah paham soal budaya Papua,” jawab Dewa sopan.
Joseph mengangguk pelan, matanya tajam tapi bersahabat. “Kalau kamu mau tahu tentang masa lalu, saya bisa cerita. Tapi kamu harus janji, jangan menulis sembarangan. Karena kalau salah tulis, bisa bikin malu orang banyak.”
“Saya janji,” jawab Dewa mantap.
Joseph menarik napas panjang. “Dulu, sebelum ada jalan besar itu,” ia menunjuk ke arah selatan, “orang sini hidup sendiri-sendiri. Kalau ada yang sakit parah, orang percaya dia kena kutukan dari roh jahat. Kadang orang itu… dimusnahkan supaya roh jahatnya nggak menyebar.”
Dewa menatap serius. “Itu… maksudnya…?”
Joseph menatap jauh ke arah hutan. “Ya. Dulu memang ada yang begitu. Tapi itu sudah lama sekali, sebelum ada gereja, sebelum ada sekolah. Sekarang anak-anak saya malah kuliah di Jayapura dan ada pula yang di Cambridge University.”
Dewa mencatat setiap kata dengan hati-hati. Di luar, suara hujan turun makin deras. Petir menyambar di kejauhan. Di dalam rumah, lampu minyak bergoyang karena angin yang masuk dari celah dinding papan.
Malam itu, Dewa menginap di rumah keluarga Joseph. Ia tidur di atas tikar pandan, sementara di luar jendela terdengar suara jangkrik dan tetesan air dari atap.
Sekitar tengah malam, ia terbangun. Dari luar terdengar suara bisik-bisik. Dewa mengintip lewat celah jendela dan melihat dua pria muda membawa obor, berjalan ke arah hutan.
Rasa penasaran menguasainya. Ia mengenakan jaket dan mengikuti mereka dari kejauhan. Hutan di malam hari terasa seperti dunia lain — lembap, penuh kabut, dan sesekali terdengar suara hewan liar.
Mereka berhenti di sebuah tanah lapang kecil, di mana ada semacam batu datar yang tampak tua. Salah satu pria berdoa dalam bahasa daerah, sementara yang lain menaruh seikat bunga di atas batu itu.
Keesokan paginya, Dewa menanyakan hal itu pada Joseph.
“Oh, itu?” jawab Joseph tersenyum. “Itu bukan ritual kanibal, Nak. Itu tempat kami menghormati leluhur. Dulu memang tempat itu sering dipakai untuk hal-hal yang sekarang nggak pantas diceritakan. Tapi sekarang hanya untuk berdoa dan mengingat mereka yang sudah pergi.”
Dewa menatap batu itu lagi dari kejauhan. Di sinilah batas antara legenda dan kenyataan tampak kabur. Antara kisah kelam dan perubahan besar.
Beberapa hari kemudian, Dewa diajak oleh Yonas ke pos perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Di sana, tentara dari kedua negara tampak berbincang santai di bawah tenda, sambil menyeruput kopi hitam.
“Aneh ya, Mas,” kata Yonas, “orang di luar pikir sini masih makan manusia. Padahal kami malah tukar-tukaran kopi dan rokok sama tentara PNG.”
Salah satu tentara, Sersan Riko, ikut tertawa. “Kalau masih ada kanibalisme, mungkin yang dimakan bukan daging manusia, tapi kabar bohong alias HOAX.”
Semua tertawa keras.
Dewa merekam percakapan itu dengan kamera kecil. Dalam catatan hariannya malam itu, ia menulis:
“Papua bukan tempat yang terbelakang. Ia hanya sering disalahpahami. Di balik kisah-kisah lama tentang kanibalisme, aku melihat manusia yang ingin berubah, belajar, dan membangun masa depan tanpa melupakan leluhurnya.”
Dua minggu kemudian, Dewa kembali ke Jakarta. Di bandara Sentani, ia menatap langit biru yang membentang luas. Dalam hatinya, ia tahu bahwa tugasnya bukan sekadar menulis berita, tapi menyampaikan kebenaran — bahwa mitos tentang “suku kanibal” kini sudah seharusnya dikubur bersama masa lalu.
Di ruang redaksi, editornya membaca laporan panjang itu dengan ekspresi kagum.
“Dewa, ini bukan sekadar liputan. Ini… potret peradaban. Aku rasa banyak orang perlu baca ini.”
Dewa hanya tersenyum kecil. “Saya cuma ingin orang tahu, kalau Papua bukan tentang ketakutan… tapi tentang harapan.”
Beberapa bulan kemudian, tulisannya dimuat di majalah nasional dengan judul:
“Dari Mitos ke Manusia: Papua dan Akhir dari Kanibalisme.”
Sambil merebahkan diri di atas sofa berwarna pink di rumahnya, Dewa Buku mulai menghidupkan tablet dan membuka aplikasi Gmail ~ membaca surat-surat yang diterimanya dari para pembaca. Banyak pembaca yang menulis surat padanya, berterima kasih karena telah membuka mata mereka. Namun bagi Dewa, penghargaan itu tak seberapa dibandingkan pelajaran yang ia dapat: bahwa perubahan sejati tak lahir dari tekanan luar, tapi dari keberanian manusia untuk memaafkan masa lalunya sendiri.
Dewa Buku menguap karena sangat mengantuk, kemudian dia mematikan tablet dan menaruhnya diatas meja kecil dekat sofa. Tiba-tiba lampu berkedip-kedip lalu padam sebentar dan menyala kembali, betapa terkejutnya Dewa Buku, di sebelah meja ada seseorang yang hitam legam berpakaian adat Morowai dengan mata berwarna merah sedang duduk bersila dan tersenyum kepada Dewa Buku……dia adalah kepala suku Morowai, Bapak Joseph…..dia tersenyum kemudian menghilang tanpa bekas.
<<<< TAMAT >>>>
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
Malam di Surakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya berpura-pura diam. Angin dari arah Bengawan...
Read MoreDewaBukuJSW
Tahun kejadian: 2020Sumber cerita: pengalaman pribadi penulisLokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Beberapa catatan...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Orang-orang yang bekerja di malam hari biasanya memiliki cara sendiri...
Read More