Skip to content

Episode 4 — Panggilan Keempat

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Sebuah kenyamanan yang menjanjikan kebahagiaan.

Tahun 2017 adalah tahun terbaik dalam hidup Eddie Jackson Silalahi.

Mungkin juga…
tahun terakhir ia benar-benar merasa hidup.


Kamar Eddie yang dulu sunyi kini berubah seperti ruang kerja kecil.

Dua monitor menyala hampir setiap malam.
Keyboard berbunyi tanpa henti.
Catatan domain dan hosting memenuhi meja.

Di dinding dekat komputer bahkan ada kertas kecil bertuliskan:

“Pelan-pelan saja.
Yang penting jangan berhenti.”

Kalimat itu ditulis Eddie sendiri saat masa-masa sulit dulu.

Dan sekarang…

kalimat itu mulai terasa nyata.


Penghasilan dari bisnis online memang belum besar.

Tetapi Eddie tidak mengeluh.

Karena dulu Jackson pernah berkata:

“Bisnis online itu seperti menanam pohon.”
“Awalnya kau capek menyiram sesuatu yang belum menghasilkan apa-apa.”
“Tapi kalau akarnya sudah kuat… orang lain akan heran kenapa kau bisa hidup dari situ.”

Dan Eddie percaya itu. Ia percaya sepenuh hati.


Setiap pagi…

sebelum tidur setelah begadang…

Eddie selalu membuka jendela kamarnya.

Udara kota Medan masuk perlahan.

Kadang terdengar suara pedagang sayur lewat.

Kadang suara hujan.

Dan kadang…

suara ibunya batuk kecil dari dapur.

Itu yang membuat Eddie terus bertahan.

Ia ingin ibunya tenang.

Hanya itu.


“Bu…”

Suatu pagi Eddie menyerahkan amplop kecil.

Ibunya bingung.

“Apa ini?”

“Buat bayar obat.”

Wanita tua itu langsung menatap anaknya lama.

Matanya berkaca-kaca.

“Kau simpan saja uangmu, Nak…”

Eddie tersenyum tipis.

“Nanti ada lagi.”

Padahal sebenarnya…
uang di rekeningnya tidak banyak.

Tetapi Eddie lebih suka bohong demi membuat ibunya tenang.


Sementara itu…

Hersi mulai semakin jarang di rumah.

Kalau pulang:

  • hanya makan,
  • tidur,
  • lalu pergi lagi.

Kadang membawa barang baru.

Kadang motor pinjaman.

Kadang bicara besar tentang bisnis yang bahkan tidak jelas bentuknya.

Tetapi anehnya…

ia tetap sering meminta uang kepada Eddie.

Dan Eddie…

masih memberinya.

Meskipun dalam hati mulai lelah.


“Bang, pinjam dulu dua ratus.”

“Untuk apa lagi?”

“Ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Sudahlah Bang, cerewet kali.”

Eddie menghela napas panjang. Ia tak ingin ditegur ibunya gara-gara Hersi.

Kadang ia bertanya-tanya…

kenapa orang yang tidak pernah berjuang bisa hidup lebih santai daripada dirinya?


Malam demi malam berlalu.

Produk digital Eddie mulai bertambah banyak.

Puluhan.

Ratusan.

Lalu mendekati seribu.

Ia bahkan mulai punya pelanggan tetap dari luar negeri.

Dan untuk pertama kalinya…

Jackson benar-benar menganggap Eddie sebagai partner bisnis kecil, bukan sekadar anak bawahan.


Suatu malam…

Jackson pulang ke kota Medan.

Pria itu mengajak Eddie makan di sebuah restoran.

Tempat itu terlalu mewah bagi Eddie.

Ia sampai salah memegang sendok.

Jackson tertawa melihatnya.

“Santai saja.”
“Kau pikir aku lahir langsung makan beginian?”

Eddie tersenyum malu.

Mereka berbicara lama malam itu.

Tentang bisnis.
Tentang masa depan.
Tentang hidup.

Lalu Jackson mendadak berkata:

“Kau tahu kenapa aku suka sama kau?”

Eddie menggeleng.

“Karena kau tahan susah.”

Jackson menatap gelas kopinya.

“Orang yang tahan susah… biasanya lebih berbahaya saat sukses.”

Eddie tertawa kecil.

Tetapi Jackson serius.

“Aku nggak bercanda.”
“Banyak orang pintar.”
“Tapi sedikit yang tahan dihina bertahun-tahun tanpa hancur.”

Kalimat itu diam-diam masuk ke hati Eddie.

Karena untuk pertama kalinya…
ada seseorang yang melihat semua luka yang selama ini ia sembunyikan.


Dan memang benar.

Eddie mulai berkembang cepat.

Bahkan beberapa relasi Jackson mulai langsung memesan produk melalui Eddie.

Nama Eddie perlahan dikenal di komunitas bisnis digital tertentu.

Tidak besar.

Tetapi cukup membuat hidupnya mulai berubah.

Ia bahkan mulai berpikir:

mungkin hidupku memang belum selesai.


Tetapi…

kadang kehancuran tidak datang seperti badai.

Kadang ia datang seperti rayap.

Pelan.
Diam.
Dan menghancurkan dari dalam.


Januari 2018.

Hari itu hujan turun sejak pagi.

Eddie baru tidur sekitar dua jam setelah begadang semalaman mengurus revisi produk klien luar negeri.

Ponselnya mulai berbunyi pukul tujuh pagi.

Nomor asing.

Ia mengabaikannya.

Lalu berbunyi lagi.

Nomor berbeda.

Lalu lagi.

Lalu lagi.

Debt collector.

Eddie sudah mulai mengenali pola mereka.

Nomor selalu baru.
Suara selalu kasar.

Awalnya ia masih menjelaskan baik-baik.

Tetapi semakin lama…

mereka semakin brutal.

“Halo, apakah benar anda kakak kandung Hersi?!”
“Anda adalah penjamin! Bayar hutang Hersi sekarang!”
“Bayar hutang Hersi atau kami datangi rumah anda!!”

Padahal Eddie bahkan tidak tahu-menahu soal cicilan itu.

Eddie berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggunya.

Eddie mulai melanjutkan lagi mengerjakan revisi produk digital dari klien luar negeri ketika ponselnya berbunyi.

Nomor asing.

Ia mengangkatnya.

“HALO?!”
“INI EDDIE?!”

Suara kasar.

Eddie mengernyit.

“Iya, saya sendiri—”

“HERSI TAK BISA DIHUBUNGI! KAU YANG HARUS BAYAR SEKARANG!!”

Eddie bingung.

“Cicilan apa?”

“JANGAN PURA-PURA BEGO!”

Telepon langsung dimatikan.

Eddie termenung.

Lima menit kemudian—

telepon lagi.

Nomor berbeda.

Lalu lagi.

Lalu lagi.

Dan lagi.

Hari itu…

untuk pertama kalinya hidup Eddie mulai retak.


Beberapa hari kemudian…

ia akhirnya tahu semuanya.

Hersi membeli lemari es kredit.

Dan menggunakan nomor Eddie serta nomor ibunya sebagai penjamin.

Tanpa izin.

Tanpa memberitahu.

Tanpa rasa bersalah.

Nomor ponsel Eddie diserahkan oleh Hersi kepada perusahaan pinjaman online (pinjol).

Hersi memakai nomor ponsel Eddie untuk menjadi penjamin semua hutangnya.


Saat Eddie menanyakan itu malam-malam…

Hersi malah sibuk bermain ponsel sambil selonjoran.

“Cuma nomor telepon aja kan?”

Eddie menatapnya tak percaya.

“CUMA?”

“Iya.”

“Kau tahu hidupku terganggu gara-gara ini?!”

“Ya angkat aja teleponnya.”

Kalimat itu membuat Eddie kehilangan kata-kata.

tapi Eddie berusaha tetap tenang dan sabar.

“Hersi, pekerjaanku terganggu gara-gara ulahmu.”

“Bang, kalau pekerjaanmu terganggu, itu masalahmu, bukan masalahku!”

Eddie hampir kehilangan kesabaran, tapi berusaha tetap tenang.

“Tapi kau memakai nomor ponselku tanpa ijin, Hersi.”

“Bang, kau ini ribet amat? Angkat telepon apa susahnya?”

Eddie berusaha untuk tetap sabar meskipun telinganya sudah panas.

“Hersi, nomor yang kamu berikan ke mereka itu milikku, aku gunakan untuk berbisnis.”

Hersi masih memainkan ponselnya sambil menjawab santai.

“Lalu kenapa, Bang? Aku harus pakai nomor siapa untuk jadi penjamin hah?!”

“Tapi aku terganggu, Hersi!”

“Kalau terganggu, berarti jangan diangkat, Bang.”

Eddie menjadi serba salah. Perdebatan ini sepertinya tanpa solusi. Bagaimana cara menjelaskannya kepada Hersi? Kalau telepon diangkat, pasti debtcollector yang berbicara. Tetapi kalau tidak mengangkat telepon, jangan-jangan klien diujung sana yang berbicara.

“Hersi, tidak semudah itu. Kalau klien bisnisku yang menelepon gimana?”

“Kamu yang berbisnis kenapa harus aku yang repot?!”

Jawaban itu membuat telinga Eddie semakin panas.

“Hersi! nomorku hanya untuk berbisnis. Semestinya kau pakai nomormu sendiri!”

“Bang, kalau aku pakai nomorku sendiri, ketenanganku bisa terganggu!”

Eddie tak kuasa lagi menahan amarahnya.

“JUSTRU KALAU KAU PAKAI NOMORKU, PEKERJAANKU TERGANGGU!!”

Hersi cuma menanggapinya dengan santai.

“Pekerjaanmu terganggu? Ya jangan diangkat. Gitu aja kok repot.”

Sesederhana itu bagi Hersi.

Padahal saat itu:

  • pelanggan mulai sulit menghubunginya,
  • telepon bisnis bercampur debt collector,
  • tidurnya hancur,
  • pikirannya kacau.

Tetapi bagi Hersi…

itu bukan masalah.


Hari itu…

panggilan datang tanpa henti.

Subuh.
Pagi.
Siang.

Eddie mulai kehilangan fokus.

Matanya merah.
Kepalanya sakit.

Ia mencoba tidur lagi…

tetapi ponselnya kembali bergetar.

Bzzzt.

Nomor asing.

Eddie mematikan layar.

Bzzzt.

Nomor lain.

Ia membalik ponsel.

Bzzzt.

Lagi.

Eddie mulai emosi.

“Apa nggak capek kalian?!”

Ia mulai lelah dengan semua ini. Dengan malas ia melempar ponsel ke kasur.

Merebahkan tubuhnya di kasur, lalu menutup wajah dengan bantal.

Beberapa menit kemudian…

ponselnya kembali bergetar.

Kali ini lebih lama.

Bzzzzzt…

Bzzzzzt…

Bzzzzzt…

Eddie sudah bisa menebak,”Pasti para debtcollector itu lagi.”

Bzzzzzt…

Eddie membuka mata dengan kesal.

Ternyata nomor asing lagi.

Ia tidak mengangkatnya.

Ponsel berhenti.

Sunyi.

Lalu masuk lagi panggilan keempat.

Eddie menatap layar malas.

Nomor baru.

Pasti debt collector lagi.

Ia membiarkannya sampai berhenti sendiri.

Dan keputusan kecil itulah…

yang menghancurkan hidupnya.


Beberapa detik kemudian…

notifikasi pesan masuk.

Ia membuka perlahan.

Dan tubuhnya langsung dingin.

Pesan itu dari orang kepercayaan Jackson Sihotang.

“Kau sengaja menghindar ya? Pak Jackson mencarimu.”
“Angkat telepon sekarang.”

Dada Eddie mendadak berdebar tidak enak.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa sesuatu yang buruk sedang mendekat.

Sangat dekat.

Tangannya gemetar membuka pesan berikutnya.

“Aku telepon berkali-kali.”
“Kalau memang nggak niat kerja sama bilang dari awal!”

Eddie langsung bangun panik.

Ia membuka daftar panggilan.

Dan tubuhnya mendadak lemas.

Nomor keempat tadi…

bukan debt collector.

Itu Tommy Siregar.


“Anjing…”

Eddie langsung menelepon balik.

Tidak diangkat.

Ia menelepon lagi.

Tidak diangkat.

Lagi.

Tetap tidak diangkat.

Napas Eddie mulai memburu.

Ia tahu Tommy orang yang temperamental.

Tetapi selama ini hubungan mereka baik-baik saja.

Sampai hari itu.


Sore harinya…

telepon akhirnya tersambung.

Dan detik Eddie mendengar suara Tommy…

ia langsung tahu semuanya sudah berubah.

“Sekarang baru ingat angkat telepon?!”

“Bang, maaf… aku kira tadi—”

“AKU NGGAK PEDULI!”

Suara Tommy meledak keras sekali.

Eddie langsung diam.

“Aku bela-belain percaya sama kau!”
“Bos juga percaya sama kau!”

“Bang dengar dulu—”

“DENGAR APA LAGI?!”

Suara benda dibanting terdengar dari sana.

“Kau pikir bisnis ini main-main?!”
“Kau menghilang saat orang cari kau!”

“Aku nggak menghilang Bang… demi Tuhan aku—”

“JANGAN BAWA-BAWA TUHAN!”

“Maksud saya begini, Bang…”

“MAKSUDMU APA? MAU NIPU? ORANG INGIN TAHU PROGRESS PESANAN MEREKA! KAU MENGHILANG!”

Napas Tommy kasar.

Lalu kalimat berikutnya keluar perlahan…

Tenang, dingin.

Dan menghancurkan.

“Kamu akan aku blacklist dari dunia bisnis online.”
“Kau sudah mempermalukan kami. Mempermalukan Pak Jackson.”
“Nama kau habis mulai hari ini. Kamu tamat.”

Tubuh Eddie membeku.

“Bang… tolong dengar dulu…”

Tetapi sambungan telepon sudah diputus.


Malam itu…

untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun…

Eddie duduk di depan monitornya tanpa mengetik apa pun.

Hanya diam.

Kursor berkedip pelan di layar.

Dan entah kenapa…

ruangan terasa sangat dingin.

Sangat dingin.

Lalu—

di layar monitor hitam yang memantulkan bayangan ruangan…

Eddie kembali melihat sosok itu.

Berdiri di sudut belakang kamarnya.

Diam.

Dengan dua mata emas yang menyala redup dalam gelap.

Kali ini…

Eddie tidak menoleh.

Karena sebagian dirinya mulai sadar…

makhluk itu memang ada.

*

Dilanjutkan ke Episode 5 — Hilangnya Reputasi

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 5 — Hilangnya Reputasi

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Entah itu makhluk apa Eddie juga tidak tahu. "Barangkali aku...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 — Panggilan Tak Dikenal

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan menjelang subuh sekalipun,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 8 — Kehilangan Akal Sehat

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 10 — Masa Lalu Masih Berjalan

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Hujan turun semakin deras. Lampu jalan di depan warung berkedip...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!