Skip to content

Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,
“Waktu yang mana? aku tak faham…” pikir Eddie.

Sejenak kemudian sosok tinggi bermata emas itu lenyap.

… dan Eddie melirik kearah DewaBuku

“Eddie… pulanglah, sudah malam.”

Tanpa banyak kata, si Eddie pun menurut. Ia pulang.

~ ~ ~

Setelah malam itu…

Eddie mulai sering memikirkan satu kalimat DewaBuku.

“Orang yang sudah tidak takut mati…
biasanya tinggal selangkah lagi berhenti menghargai hidup.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Bahkan saat tidur.
Bahkan saat bangun.
Bahkan saat duduk sendirian memandangi langit-langit kamarnya yang kusam.

Dan anehnya…

untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan…

Eddie mulai takut pada kematian lagi.


Bukan karena ia mendadak bahagia.

Bukan.

Hidupnya masih berantakan.

Nama baiknya masih hancur.
Website-nya masih mati.
Penghasilannya hampir tidak ada… memang tidak ada.
Dan dunia masih terasa kejam.

Tetapi…

ada sesuatu nyala kecil dalam dirinya yang belum benar-benar mati.

Dan itu mulai bergerak lagi.

Pelan.

Sangat pelan.


Pagi itu…

ibunya terbangun karena mendengar suara aneh dari dapur.

Awalnya ia panik.

Karena sudah lama rumah mereka terlalu sunyi di pagi hari.

Tetapi saat keluar kamar…

ia membeku kecil.

Eddie sedang memasak mie goreng.

Berantakan memang.

Wajan terlalu panas.
Telur sedikit gosong.
Dan wajah Eddie terlihat bingung sendiri.

Tetapi…

anaknya sedang mencoba hidup lagi.

ingin menjadi pria normal…

seperti dulu, sebelum semuanya hancur seperti sekarang.


Ibunya hampir menangis melihat itu.

“Kok bangun pagi?”

Eddie menggaruk kepala.

“Lapar.”

Jawaban sederhana itu membuat wanita tua itu tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


“Jangan terlalu banyak minyak…”

“Iya Bu.”

“Itu bawangnya gosong.”

“Iya Bu.”

“Garamnya kebanyakan.”

Eddie akhirnya tertawa kecil.

“Ternyata masak ribet juga ya.”

Dan suara tawa kecil itu…

terdengar jauh lebih indah daripada suara televisi mana pun di rumah sederhana itu.


Hari-hari berikutnya…

Eddie mulai berubah sedikit demi sedikit.

Tidak drastis.

Tetapi nyata.

Ia mulai:

  • membuka jendela kamar lagi,
  • membersihkan meja komputer,
  • membuang bungkus rokok lama,
  • merapikan kabel,
  • dan mencukur rambutnya yang mulai berantakan.

Hal-hal kecil.

Tetapi bagi orang yang hampir tenggelam dalam depresi…

hal kecil seperti itu bisa terasa seperti mendaki gunung.


Suatu sore…

Eddie membuka kembali laptop lamanya.

Loading-nya lambat sekali.

Bahkan kipasnya berbunyi seperti motor tua.

Tetapi kali ini…

ia tidak merasa sesak melihat layar monitor.

Ia hanya diam memandang folder-folder lama.

Kenangan lama.

Versi dirinya yang dulu.


Ibunya masuk pelan membawa teh hangat.

“Masih bisa dipakai?”

“Masih.”
“Cuma lemot.”

Ibunya duduk di sampingnya.

Lama sekali mereka diam.

Lalu wanita tua itu berkata lirih:

“Ibu senang lihat kau duduk di depan komputer lagi.”

Kalimat itu menghantam Eddie cukup keras.

Karena ia baru sadar…

selama ini bukan hanya dirinya yang hancur.

Ibunya ikut tenggelam bersamanya.


Malamnya… Hujan gerimis ringan.

Jam 21.00 WIB…

Eddie kembali ke warung kopi.

Dan seperti biasa…

DewaBuku sudah duduk di sudut favoritnya.

Membaca buku tua.
Secangkir kopi hitam di meja.
Beanie hitam.
Kacamata hitam infrared.
Masker hijau muda.
Lengkap dengan jaket kulit model coat berkerah bulu putih di kanan dan kirinya.

Pria itu mengangkat kepala sedikit saat melihat Eddie.

“Kau kelihatan lebih hidup.”

Eddie duduk pelan.

“Aku masak mie tadi pagi.”

DewaBuku tertawa kecil.

“Wah.”
“Berarti dunia mulai aman.”

“Masih gosong.”

“Itu memang tahap awal manusia belajar bertahan hidup.”

Eddie ikut tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya…

senyumnya terasa tulus.


“Aku masih hancur sebenarnya,” kata Eddie pelan.

DewaBuku mengangguk santai.

“Ya memang.”

Jawaban itu membuat Eddie tertawa kecil lagi.

Tidak ada motivasi palsu.
Tidak ada kalimat sok bijak.

Dan justru itu yang membuat Eddie nyaman.


“Tapi sekarang aku nggak terlalu pengen mati.”

Sunyi sebentar.

Lalu DewaBuku berkata lirih:

“Bagus.”
“Berarti jiwamu mulai pulang.”

Kalimat itu membuat dada Eddie terasa hangat aneh.


Sementara itu…

di tempat lain…

pada malam yang sama. Jam yang sama…

tepatnya di rumah Pak Samosir.

Ardi dan Pak Samosir sedang mengobrol dengan serius.

“Ardi, kamu nggak tidur tadi malam?”

“Kenapa Pak Samosir bilang begitu?”

“Kamu pucat, mata merah…”

“Iya, Pak… aku masih mencari siapa dalang dibalik diblokirnya situs Eddie.”

“Mungkin kita harus ke rumah Eddie.”

“Sekarang, Pak?”

“Tahun depan… ya sekarang lah.”

Saat itu juga Pak Samosir segera memanasi motor kesayangannya. Lima menit kemudian Pak Samosir dan Ardi Gunawan berangkat menuju ke rumah Eddie.

Dengan melewati jalan tikus, mereka berdua akhirnya sudah sampai di rumah Eddie.

… ternyata Eddie belum pulang ke rumah,
lima menit menunggu, akhirnya ibunya Eddie membukakan pintu.

“Maaf Bu, Eddie kemana?” tanya Ardi.

“Ngopi di warung. Mari masuk. Maaf berantakan…”

Setelah ruang tengah dirapikan, mereka bertiga mengobrol ringan.

“Ibu kalau ingin beristirahat nggak apa-apa, Bu… biar kami yang menunggu Eddie pulang.”

Lima menit setelah mengobrol, Ardi dan Pak Samosir memasuki kamar tidur yang gelap,
hanya ada lampu kuning 5 watt saja.

Tiba-tiba Pak Samosir merasa tidak enak hati.

“Ardi, memangnya kamu sudah ngomong Eddie? ini kamar orang lho.”

“Pak Samosir tenang saja, saya sudah minta ijin ke Eddie kemarin.”

“Oh, berarti aman.”

Aktifitas intipun dilakukan dengan sangat sungguh-sungguh.

~ ~ ~

Ardi akhirnya menemukan sesuatu.

Sesuatu yang selama ini tersembunyi rapi di antara ribuan data.

Jam menunjukkan pukul 01.43 malam.

Kamar Eddie dipenuhi cahaya monitor.

Ardi mengetik cepat sambil meminum kopi dingin.

Pak Samosir tertidur di kursi.

Sedangkan Eddie belum pulang dari warung kopi.

Lalu—

mata Ardi berhenti pada satu nama akun.

Nama anonim.

Tidak penting sekilas.

Tetapi…

alamat IP-nya pernah muncul berkali-kali.

Dan yang membuat Ardi langsung duduk tegak—

lokasinya berasal dari tempat yang sama dengan salah satu kantor cabang bisnis Tommy.


“Akhirnya…”

Ardi langsung membuka file lain.

Lalu file lain lagi.

Dan semakin lama…

potongan-potongan puzzle mulai menyatu.

Report massal.
Akun anonim.
Kekecewaan.
Blacklist.

Semuanya terhubung.

Dan hampir semua jejak…

mengarah pada satu orang.

Tommy Siregar.


Napas Ardi mulai melambat.

Karena sekarang masalahnya berubah.

Ini bukan lagi salah paham biasa.

Kalau semua ini benar…

berarti seseorang benar-benar menghancurkan hidup Eddie secara sengaja.

Tapi Ardi sempat berpikir…

ini semua bukan semata-mata kesalahan Tommy,
sangat masuk akal. Tommy kecewa dan memberikan pelajaran kepada Eddie.

… tapi itu juga termasuk fatal juga.

Hasilnya… kehidupan Eddie hancur berantakan.


Tiba-tiba—

lampu kamar berkedip pelan.

Ardi langsung menoleh refleks.

Dan di pantulan monitor gelap…

Si Mata Emas kembali muncul.

Berdiri diam.

Tetapi kali ini…

ia tidak terlihat sedih.

Ia terlihat marah.


Lalu suara berat itu terdengar pelan di ruangan dingin.

Bukan ke Eddie.

Bukan ke Pak Samosir.

Tetapi langsung kepada Ardi.

“Kalau manusia terus menggali kebencian…”
“maka yang bangkit bukan hanya kebenaran.”
“kemarahan anak itu sudah diluar batas.”

*

Dilanjutkan ke Episode 12 — Berkembang Terlalu Jauh (belum diterbitkan)

*

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 9 — Tidak Takut Mati

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Setelah malam itu… Hersi tidak pulang selama tiga hari. Ibunya...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 7 — Pencari Kebenaran

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie mulai sadar,bahwa hidupnya bukan hanya sedang dihancurkan manusia. Tetapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 3 — Pintu Harapan

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Keesokan harinya… Pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.30 WIB Eddie datang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 6 — Pria Bernama DewaBuku

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Lampu kembali normal. Eddie jatuh terduduk di lantai. Napas gemetar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 8 — Kehilangan Akal Sehat

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!