Skip to content

Episode 7 — Pencari Kebenaran

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Eddie mulai sadar,
bahwa hidupnya bukan hanya sedang dihancurkan manusia.

Tetapi juga sedang diawasi,
oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Tetapi Eddie tak mau memikirkannya lebih jauh.

Setelah malam di warung kopi itu…

sesuatu dalam diri Eddie mulai berubah.

Bukan menjadi lebih baik.

Belum.

Tetapi setidaknya…

ia tidak lagi merasa sendirian sepenuhnya.


DewaBuku tidak pernah banyak bicara.

Kadang mereka bertemu dua atau tiga malam sekali di warung kopi yang sama.

Kadang hanya duduk diam sambil mendengar hujan.

Kadang membicarakan hal-hal aneh:

  • manusia,
  • rasa kecewa,
  • kematian,
  • dan kenapa beberapa orang berubah menjadi monster hanya karena uang.

Eddie lebih banyak mendengar.

Karena pria bernama DewaBuku itu berbicara seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak luka dalam hidup.


“Menurutmu…” tanya Eddie suatu malam,
“orang jahat selalu menang?”

DewaBuku mengaduk kopinya perlahan.

“Tidak.”

“Tapi kenyataannya begitu.”

“Bukan.”
“Yang sering menang itu… orang yang sabar menunggu.”

Eddie mengernyit.

DewaBuku melanjutkan:

“Orang jahat biasanya menghancurkan hidup orang lain dengan cepat.”
“Tapi kehancuran mereka sendiri sering datang pelan-pelan.”

Kalimat itu terus teringat di kepala Eddie.


Sementara itu…

di tempat lain…

seseorang mulai diam-diam mencari tahu tentang dirinya.


Pak Samosir duduk sendirian di dalam sebuah warung tua dekat gudang logistik.

memakai seragam logistik. Kemeja biru berkerah merah. Celana hitam panjang.

Bersepatu pantofel hitam mengkilat.

Pak Samosir baru saja menyelesaikan makan siangnya.

Piring putih didepannya sudah kosong,

hanya tinggal sisa-sisa butiran nasi dan sedikit sayur bayam.

Rokok di tangannya tinggal separuh.

Tatapannya tajam memandang hujan di luar.

Sudah lama ia tidak mendengar kabar Eddie.

Dan ketika akhirnya mendengar cerita bahwa:

  • website Eddie diblokir,
  • namanya hancur,
  • dianggap penipu,

insting lamanya langsung merasa ada yang salah.

Karena ia mengenal Eddie.

Terlalu mengenalnya.

“Anak itu keras kepala…”
“tapi bukan penipu.”

Gumamnya pelan.


Pak Samosir lalu mengeluarkan ponsel lama dari sakunya.

Ia membuka kontak yang sudah bertahun-tahun tidak dihubungi.

Nama itu muncul di layar:

Ardi Gunawan.


“Jarang sekali kau menelepon aku.”

Suara pria di ujung telepon terdengar tenang.

Pak Samosir langsung menjawab singkat:

“Aku butuh bantuan.”

“Kasus?”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Karena aku belum yakin ini kecelakaan… atau pembunuhan karakter.”

Sunyi beberapa detik.

Ardi lalu berkata pelan:

“Siapa korbannya?”

Pak Samosir menatap hujan di luar warung.

“Anak baik yang salah melawan orang besar.”

Pak Samosir juga menjelaskan bahwa dia mau mudik untuk beberapa waktu. Untungnya, Pak Samosir mempunyai wakil yang bisa diandalkan untuk meneruskan pekerjaannya sementara ia mudik ke kota Medan.

“Aku rindu kampung halamanku, Ardi.”

“Pak Samosir ini bisa sedih juga ya… hahaha”

“Kapan kau ke Medan?”

“Dua hari lagi mungkin… atau tiga hari”

“Baiklah, aku tunggu.”

“Oke, siap.”

Setelah itu Pak Samosir membayar makanannya ke pemilik warung.

Ia kembali ke gudang.

Tentu saja dengan pikiran yang sangat risau.


Dua hari kemudian…

Ardi tiba di Medan,
lebih tepatnya kota Medan Marelan, sebuah kecamatan.

Selama sebelum dan sesudah 2018, kota ini berkembang sangat pesat.

Jalan raya semakin ramai.

Ardi Gunawan kesulitan menyeberang,
jarak antara dirinya ke jembatan penyeberangan lumayan jauh.

“Jalan aja deh, bodo amat.” gumam Ardi sambil makan permen kopi.

Pria itu tampil sederhana:

  • kemeja rapi,
  • celana gelap,
  • kacamata tipis,
  • dan tas ransel kecil di punggungnya, berisi laptop.

Tetapi matanya bergerak cepat mengamati sekitar.

Orang seperti Ardi terbiasa mencari pola.

Dan pengalaman mengajarkannya satu hal:

manusia selalu meninggalkan jejak.

Ardi sudah lama tidak pergi ke kota Medan.

“Ternyata kota ini besar juga,” pikirnya.

Kecamatan Medan Marelan semakin padat.

Gerai makanan modern, Coffeeshop, dan minimarket semakin banyak.

Ardi berjalan melewati Mall Suzuya Marelan Plaza,

dan berhenti 10 meter di sebelah utara pintu masuk.

Kira-kira 50 meter di sebelah selatan Mall ada deretan tukang ojek sedang bersantai.

Sebagai lelaki yang masih muda, ia malu untuk mengeluh,

tetapi akhirnya mengeluh juga.

“Ya Tuhan, panas sekali…”

Ardi melihat berbagai moda transportasi terus berlalu lalang, membuatnya semakin pusing.

“Aku telepon Pak Samosir saja lah…”

Ada suara batuk-batuk di seberang sana,
rupanya Pak Samosir cepat sekali merespon panggilan Ardi.

“Pak Samosir, biasanya nggak sepanas ini udaranya.”

“Gerah. Bukan panas, ini kan mendung…”

“Rumah si Eddie dimana, Pak?”

“Oke, dengarkan…”

Pada saat berbicara di telepon,

Pak Samosir memberitahukan kepada Ardi tentang posisi rumah Eddie dan memberikan nomor ponsel milik Eddie.

“Kamu nelpon darimana, Ardi?”

“Aku di sebelah utara Suzuya Marelan Plaza…”

“Oh disitu?”

“Iya, Pak…”

“Gini aja, Ardi… naik ojek saja biar lebih cepat… aku sekarang berangkat ke rumah Eddie.”

Akhirnya dengan penuh semangat, Ardi berjalan 50 meter ke selatan.


Cuaca mendung di kota Medan Marelan,
sebuah cuaca yang tidak cocok untuk mencuci sepeda motor.

… tapi Pak Samosir malah sudah selesai mencuci motornya kesayangannya,

RX-King berwarna merah menyala dengan lampu halogen kotak.

Pak Samosir tersenyum lega. Menyalakan rokok. Menelepon Eddie.

Saat itu juga Eddie langsung angkat telepon dari Pak Samosir.

“Eh… Pak Samosir, selamat pagi pak.”

“Eddie, ini jam satu siang…”

“Iya, Pak… siang, ada apa ya pak?”

“Sekarang aku mau ke rumahmu…”

Bukan main senangnya Eddie setelah mengetahui atasannya yang baik hati akan datang ke rumahnya.

Eddie langsung menyapu teras rumah,

… dan merebus air untuk bikin kopi.


Waktu terus berjalan, matahari tertutup mendung.

“Gerah sekali hari ini. Rasanya aku seperti direbus hidup-hidup.” gumam Eddie.

~ ~ ~

Dua jam kemudian…

Secara bersamaan, Ardi dan Pak Samosir sampai di rumah Eddie.

Setelah membayar ongkos tukang ojek, Ardi berjalan beriringan dengan Pak Samosir.

Pertemuan pertama Ardi dengan Eddie berlangsung canggung.

Saat itu Eddie sedang duduk di teras rumah sambil merokok.

Wajahnya kusut.
Matanya cekung.

Pak Samosir berdiri di samping Ardi.

“Masih kenal aku?”

Eddie sedikit terkejut.

“…Pak Bos?”

Untuk pertama kalinya setelah lama…

wajah Eddie terlihat hidup sedikit.

Pak Samosir duduk pelan.

“Kau makin kurus.”

Eddie tertawa hambar.

“Hidup lagi diet aku sekarang.”

Tidak ada yang tertawa.


Ardi memperhatikan Eddie diam-diam.

Dan ia langsung melihat sesuatu:
kelelahan mental.

Bukan sekadar stres biasa.

Tetapi seseorang yang terlalu lama hidup dalam tekanan.


“Aku Ardi,” katanya singkat sambil mengulurkan tangan.

Eddie menyambut pelan.

“Pak Samosir bilang ada yang aneh dengan kasusmu.”

Eddie tersenyum pahit.

“Seluruh hidupku aneh sekarang.”


Mereka bicara cukup lama hari itu.

Tentang:

  • website,
  • pelanggan,
  • Tommy,
  • Jackson,
  • report massal,
  • dan panggilan telepon yang tak pernah berhenti.

Ardi mendengarkan tanpa banyak menyela.

Sesekali mencatat.

Sesekali bertanya detail kecil.

“Semua website diblokir dalam waktu hampir bersamaan?”

“Iya.”

“Kau pernah dapat peringatan resmi sebelumnya?”

“Tidak.”

“Pernah ada pelanggan yang benar-benar dirugikan?”

“Tidak pernah.”

Ardi diam beberapa detik.

Lalu bertanya:

“Kau masih simpan email-email lama?”

Eddie mengangguk pelan.

“Masih.”

“Bagus.”
“Karena orang yang bermain kotor biasanya terlalu percaya diri.”
“Dan orang terlalu percaya diri… sering meninggalkan bukti.”

Obrolan mereka bertiga berlangsung sampai menjelang malam.


Malam harinya…

Ardi memeriksa laptop lama Eddie.

Ruangan itu sempit.
Penuh debu.
Dan sangat sunyi.

Tetapi bagi Ardi…

tempat seperti itu justru nyaman.

Karena kebenaran sering tersembunyi di tempat yang tidak diperhatikan orang.


Ia mulai membuka:

  • arsip email,
  • laporan hosting,
  • riwayat domain,
  • pesan lama,
  • hingga log report massal.

Dan semakin lama ia membaca…

keningnya semakin berkerut.

“Aneh…”

Pak Samosir menoleh.

“Apa?”

Ardi memutar layar laptop sedikit.

“Report-nya terlalu terorganisir.”

“Maksudmu?”

“Ini bukan kerja orang random.”
“Ini seperti…”
“…ada yang sengaja ingin memastikan seluruh bisnis Eddie mati total.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Eddie yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepala.

“Jadi memang ada yang sengaja menghancurkan aku?”

Ardi tidak langsung menjawab.

Ia terus membaca beberapa data lagi.

Lalu berkata pelan:

“Aku belum bisa memastikan.”
“Tapi ini jelas bukan kebetulan.”


Napas Eddie mulai berat.

Dadanya kembali terasa sesak.

Karena selama ini…

ia selalu mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah nasib buruk.

Tetapi bagaimana jika—

memang ada seseorang yang sengaja menghancurkan hidupnya?

Pemicu pertamanya adalah Hersi,

adik laki-laki yang sangat dibenci oleh Eddie.

Sekarang masalah Eddie semakin meluas kemana-mana.

Analoginya seperti ini… Eddie memiliki rumah. Hersi menendang obor yang sedang menyala,
obor terlempar hingga minyaknya tumpah, minyak terkena api yang akhirnya membakar seisi rumah, dimana Eddie juga ikut terbakar didalamnya.

Eddie termenung, diam.

Ardi masih sibuk dengan aktifitasnya di depan laptop.

Pak Samosir sedang menguap, kelelahan.


Tiba-tiba…

lampu kamar berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Ardi langsung menoleh ke atas refleks.

“Listrik sini sering begitu?”

Pak Samosir menggeleng pelan.

Sedangkan Eddie…

wajahnya langsung berubah.

Karena di sudut ruangan dekat lemari…

ia kembali melihat sosok itu.

Si Mata Emas.

Berdiri diam.

Memperhatikan mereka.

Cahayanya redup malam itu.

Seolah sedang khawatir.


Dan tanpa suara…

makhluk itu perlahan mengalihkan pandangannya ke layar laptop Ardi.

Seakan…

ada sesuatu di sana yang seharusnya tidak ditemukan manusia.

*

Dilanjutkan ke Episode 8 — Kehilangan Akal Sehat

*

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 5 — Hilangnya Reputasi

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Entah itu makhluk apa Eddie juga tidak tahu. "Barangkali aku...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 2 — Masa Lalu Eddie

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Ada luka yang tidak muncul karena dipukul. Ada luka yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 10 — Masa Lalu Masih Berjalan

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Hujan turun semakin deras. Lampu jalan di depan warung berkedip...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 8 — Kehilangan Akal Sehat

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!