Skip to content

Episode 10 — Masa Lalu Masih Berjalan

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Hujan turun semakin deras.

Lampu jalan di depan warung berkedip pelan terkena tempias air.

Dan sosok berjubah gelap itu…

masih berdiri diam di seberang jalan.

Si Mata Emas.


Untuk pertama kalinya…

Eddie melihat DewaBuku benar-benar kehilangan ketenangannya.

Tidak banyak.

Hanya sedikit perubahan:

  • rahangnya mengeras,
  • jemarinya berhenti mengetuk meja,
  • dan tatapannya menjadi jauh lebih tajam.

Tetapi itu cukup membuat bulu kuduk Eddie berdiri.

Karena selama ini…

DewaBuku selalu terlihat seperti orang yang memahami segalanya.

Dan sekarang…

ia tampak seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya lagi.


“Siapa dia sebenarnya?”

Suara Eddie hampir berbisik.

DewaBuku tidak langsung menjawab.

Matanya masih mengarah keluar warung.

Hujan membuat sosok itu tampak samar.

Tetapi dua mata emasnya tetap terlihat jelas dalam gelap.


Pemilik warung mulai gelisah.

“Bang… itu siapa ya?”
“Dari tadi berdiri aja…”

DewaBuku perlahan berdiri.

“Tutup warungmu lebih cepat malam ini.”

“Ha?”

“Tolong.”

Nada suaranya tenang.

Tetapi sulit dibantah.

Pria tua pemilik warung itu langsung mengangguk gugup.


Eddie ikut berdiri.

“Dia ngikutin aku lagi?”

“Bukan.”

Jawaban DewaBuku terlalu cepat.

Dan itu membuat Eddie makin tidak tenang.


Mereka keluar dari warung saat hujan mulai mengecil.

Jalanan hampir kosong.

Udara malam Medan terasa dingin dan lembap.

Tetapi—

sosok berjubah itu sudah tidak ada.

Kosong.

Hanya lampu jalan dan suara air menetes.


DewaBuku berdiri diam beberapa detik.

Lalu menghembuskan napas panjang.

Sudah lama sekali ia tidak melihat makhluk itu muncul sejelas tadi.

Dan itu bukan pertanda baik.


“Kau kenal dia?”

Eddie akhirnya bertanya lagi.

DewaBuku tersenyum kecil.

Tetapi senyum itu terasa lelah.

“Kadang…”
“masa lalu yang kita pikir sudah selesai…”
“…cuma sedang menunggu waktu untuk kembali.”

Jawaban itu tidak benar-benar menjawab apa pun.

Tetapi Eddie mulai sadar:
DewaBuku menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang besar.

Sesuatu yang penuh tanda tanya.

~ ~ ~

Mereka berjalan pelan di trotoar basah.

Lampu kendaraan sesekali lewat.

Hujan mulai berubah menjadi gerimis kecil.

Lalu tiba-tiba—

DewaBuku berkata:

“Dulu aku pernah mengenal seseorang.”

Eddie diam mendengarkan.

“Orang itu baik.”
“Sangat baik malah.”

“Lalu?”

“Dia kehilangan semuanya dalam waktu singkat.”

Entah kenapa…

suara DewaBuku terdengar berbeda malam itu.

Lebih berat.

Lebih personal.

Lebih emosional.


“Bisnisnya dihancurkan.”
“Temannya mengkhianatinya.”
“Orang-orang mulai menjauhinya.”

Eddie langsung merasa dadanya tidak nyaman.

Karena cerita itu terlalu mirip dirinya.


“Lalu apa yang terjadi sama dia?”

DewaBuku tertawa kecil.

“Tebak.”

“Mati?”

“Lebih buruk.”

Eddie menoleh.

Dan untuk beberapa detik…

ia merasa tatapan DewaBuku malam itu sangat sunyi.

Sunyi seperti orang yang pernah tenggelam terlalu dalam.


“Dia berhenti menjadi manusia yang peduli.”

Langkah Eddie perlahan melambat.

DewaBuku melanjutkan:

“Awalnya cuma marah.”
“Lalu kecewa.”
“Lalu benci.”
“Lalu…”

Ia berhenti sejenak.

DewaBuku tampak tidak nyaman. Ia menghela nafas dalam-dalam.

“…akhirnya ia menikmati rasa sakit orang lain.”

Hujan kecil kembali turun.

Dan Eddie tiba-tiba merasa dingin.


“Orang itu masih hidup?”

DewaBuku tersenyum tipis.

“Secara teknis… iya.”

Jawaban itu aneh.

Sangat aneh.

Tetapi Eddie tidak sempat berpikir lebih jauh.

Karena ponselnya mendadak bergetar.

Bzzzt.

Nomor tidak dikenal.

Eddie langsung tegang refleks.

Sudah berbulan-bulan tubuhnya bereaksi seperti itu setiap mendengar getaran ponsel.


“Angkat,” kata DewaBuku pelan.

“Aku malas…”

“Angkat.”

Eddie ragu beberapa detik.

Lalu menerima panggilan itu perlahan.

“Halo?”

Tidak ada suara.

Hanya napas.

Pelan.

Berat.

Eddie mengernyit.

“Halo?”

Lalu—

suara laki-laki terdengar sangat lirih di ujung sana.

“Kau mulai dekat dengan sesuatu yang tidak seharusnya kau dekati…”

Tubuh Eddie langsung dingin.

“Siapa ini?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas.

Lalu sambungan terputus.

~ ~ ~

Eddie menatap layar ponselnya membeku.

“Siapa?”

DewaBuku bertanya tenang.

“Aku nggak tahu…”

Tangan Eddie gemetar.

“Dia bilang aku mulai dekat dengan sesuatu…”

Kalimat Eddie terhenti.

Karena ia sadar sesuatu.

Perlahan…

ia menoleh ke arah DewaBuku.


Pria itu berdiri diam di bawah lampu jalan.

Beanie hitam.
Masker hijau muda.
Jaket kulit panjang.

Dan entah kenapa…

untuk pertama kalinya…

Eddie benar-benar merasa bahwa pria di depannya ini bukan orang biasa.


“Aku sebenarnya ngobrol sama siapa…?”

Sunyi.

Gerimis turun pelan di antara mereka.

Lalu DewaBuku tersenyum kecil.

Senyum yang sulit ditebak.

“Manusia.”
“Yang terlalu lama hidup berdampingan dengan hal-hal yang tidak seharusnya dilihat manusia.”

Jawaban itu membuat jantung Eddie berdetak lebih keras.


Tiba-tiba—

dari ujung jalan yang gelap…

dua mata emas kembali muncul.

Kali ini lebih dekat.

Lebih terang.

Dan perlahan…

sosok berjubah itu mulai berjalan mendekati mereka.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Udara sekitar mendadak menjadi sangat dingin.

Luar biasa dingin.

Lampu jalan berkedip cepat ketika sosok itu melewatinya.

Dan untuk pertama kalinya…

Eddie mendengar suara makhluk itu secara nyata.

Bukan di dalam kepala.

Bukan bisikan batin.

Tetapi langsung dari kegelapan malam.

Suara berat.

Tua.

Dan dipenuhi kesedihan.

“Waktunya hampir habis…”

*

Bersambung ke Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama (belum diterbitkan)

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 2 — Masa Lalu Eddie

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Ada luka yang tidak muncul karena dipukul. Ada luka yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 9 — Tidak Takut Mati

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Setelah malam itu… Hersi tidak pulang selama tiga hari. Ibunya...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 8 — Kehilangan Akal Sehat

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 — Panggilan Tak Dikenal

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan menjelang subuh sekalipun,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!