Skip to content

Episode 9 — Tidak Takut Mati

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Setelah malam itu…

Hersi tidak pulang selama tiga hari.

Ibunya mulai cemas.

Sedangkan Eddie…

justru merasa rumah menjadi lebih tenang.

Dan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.


Karena jauh di dalam hati…

ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap:

“Semoga dia benar-benar pergi.”

Pikiran itu muncul begitu saja.

Dingin.
Pelan.
Tanpa rasa bersalah.
Sudah jelas… Eddie tidak bersalah

Dan Eddie sadar…

dirinya mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak ia kenali lagi.


Hari-harinya semakin kacau.

Ia mulai bicara sendiri tanpa sadar.
Kadang lupa makan.
Kadang lupa hari.

Ibunya beberapa kali menemukan Eddie tertidur di depan komputer mati sambil memegang rokok yang sudah habis terbakar.

Dan yang paling mengkhawatirkan—

Eddie mulai sering tersenyum sendiri saat marah.

Itu bukan pertanda baik.


Sementara itu…

Beberapa kilometer dari rumah Eddie,
tepatnya di rumah Pak Samosir.

Ardi semakin tenggelam dalam penyelidikannya.

Laptopnya penuh:

  • screenshot,
  • arsip email,
  • data hosting,
  • log report,
  • dan percakapan lama.

Semakin lama ia menggali…

semakin jelas ada sesuatu yang disembunyikan.


“Lihat ini.”

Ardi memutar layar laptop ke arah Pak Samosir.

“Semua report besar mulai masuk…”
“…beberapa jam setelah Tommy marah ke Eddie.”

Pak Samosir menghembuskan asap rokok perlahan.

“Apakah itu suatu kebetulan?”

Ardi menggeleng.

“Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.”


Lebih aneh lagi…

ada beberapa akun anonim yang terus menyebarkan tuduhan terhadap Eddie di forum bisnis digital.

Dan hampir semuanya menggunakan pola tulisan yang mirip.

Ardi menyipitkan mata.

“Orang ini ceroboh.”

“Maksudmu?”

“Dia terlalu emosional.”
“Kalau orang terlalu benci seseorang…”
“…mereka biasanya lupa menyembunyikan jejak.”
“Pola tulisan-tulisan ini sangat mirip… sepertinya dari satu orang yang sama.”

~ ~ ~

Tetapi semakin dekat Ardi pada jawaban…

semakin sering hal-hal aneh mulai terjadi.

~ ~ ~

Suatu malam…

Langit berwarna abu-abu gelap. Hujan rintik-rintik.

Ardi membonceng Pak Samosir untuk bertamu ke rumah Eddie.

Selama dalam perjalanan, mereka berdua mengobrol.

tentang kota Medan.
tentang kehidupan.
tentang Eddie.

“Pak Samosir bawa jas hujan?”

“Enggak tuh…”

“Lha ini mendung lho, Pak.”

“Nggak apa-apa, Ardi… sekali-sekali berhujan-hujan.”

~ ~ ~

Kurang dari satu jam kemudian, mereka sampai di rumah Eddie.

Eddie menyambut mereka dengan hangat.

Eddie mengajak mereka menuju ruang tengah untuk meneruskan mengobrol,
karena di teras sangat dingin, hujan semakin lebat.

Pak Samosir menguap lebar-lebar. Melihat hal itum Eddie menawari kopi.

Pak Samosir sangat senang, akhirnya ia ngopi sambil merokok di ruang tengah.

Eddie mengantar Ardi menuju kamar tidurnya.

Kali ini Ardi melihat sedikit perbedaan…

Kamar Eddie jauh lebih bersih daripada beberapa waktu yang lalu.

Ketika Ardi sudah dipersilahkan masuk, Eddie menuju ruang tengah.

Ia berniat menemani Pak Samosir sambil mengobrol.

ia bekerja sendirian di kamar Eddie.

Jam hampir pukul dua pagi.

Pak Samosir tertidur di kursi ruang tengah.

Sedangkan Eddie duduk diam dekat jendela sambil merokok.

Ardi terus mengetik cepat.

Lalu mendadak—

layar laptopnya berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian seluruh folder data terbuka sendiri.

Ardi langsung berhenti mengetik.

“Apa kau sentuh sesuatu?”

Eddie menggeleng pelan.

“Tidak.”

Kursor laptop bergerak sendiri.

Pelan.

Membuka salah satu file lama.

File percakapan Tommy.

Ardi langsung menegang.

“Aneh…”

Lalu—

semua layar tiba-tiba berubah hitam.

Dan di layar gelap itu…

muncul pantulan sosok tinggi berdiri tepat di belakang Ardi.

Dua mata emas menyala samar.


Ardi langsung menoleh cepat.

Kosong.

Tetapi hawa ruangan berubah sangat dingin.

Dingin sekali.

Benar-benar dingin.


Pak Samosir terbangun dari ruang tengah.

“Ada apa?”

Ardi diam beberapa detik.

Ia bukan orang yang mudah takut.

Tetapi pengalaman hidup mengajarkannya satu hal:

kalau terlalu banyak orang mengalami hal yang sama…

biasanya itu bukan halusinasi.


Eddie perlahan berkata lirih:

“Dia datang lagi.”

Ardi menatap Eddie.

“Kau sering lihat itu?”

Eddie mengangguk.

“Awalnya aku pikir aku gila.”

“Sekarang?”

Eddie menatap lantai lama sekali sebelum menjawab:

“Sekarang aku nggak tahu lagi apakah aku masih waras.”

~ ~ ~

Sunyi memenuhi ruangan.

Lalu Pak Samosir berkata pelan:

“Di kampungku dulu…”
“orang tua bilang ada makhluk tertentu yang muncul saat seseorang berada di titik paling gelap hidupnya.”

Ardi mengernyit.

“Penunggu?”

Pak Samosir menggeleng pelan.

“Penjaga.”

Kata itu langsung membuat Eddie teringat DewaBuku.


Malam berikutnya…

Eddie kembali pergi ke warung kopi.

Dan seperti biasa…

DewaBuku sudah ada di sana.

Duduk santai sambil membaca buku tua.

Tangan kanan mengetuk meja. Tangan kiri memegang buku.

Hujan kecil turun di luar.

Radio tua memutar lagu lawas yang hampir putus-putus suaranya.


“Kau kelihatan lebih buruk dari kemarin,” kata DewaBuku tanpa mengangkat kepala.

Eddie duduk pelan.

“Aku hampir bunuh adikku.”

DewaBuku diam.

Tidak terkejut.

Seolah sudah tahu.

DewaBuku hanya terus melakukan aktifitasnya.

Tangan kanan mengetuk-ngetuk meja.

Tangan kiri memegang buku.


“Aku takut sama diriku sendiri sekarang.”

DewaBuku menutup bukunya perlahan.

“Bagus.”

Eddie mengernyit.

“Bagus?”

“Orang paling berbahaya…”
“…adalah orang yang sudah berubah jadi monster tapi tidak sadar.”

Kalimat itu membuat Eddie diam.


“Aku capek jadi manusia baik,” bisiknya pelan.

DewaBuku tertawa kecil.

“Siapa bilang kau harus jadi manusia baik?”

Eddie menatapnya bingung.

“Yang penting jangan jadi manusia kejam.”

Jawaban itu sederhana.

Tetapi entah kenapa…

terasa sangat berat.


“Menurutmu aku masih bisa hidup normal lagi?”

DewaBuku memandang hujan di luar warung.

Cukup lama.

Lalu menjawab pelan:

“Kadang hidup tidak mengembalikan apa yang dirampas dari kita.”

Dada Eddie langsung sesak.

“Tapi…”

DewaBuku melanjutkan:

“…kadang hidup memberi sesuatu yang membuat luka itu tidak lagi menguasai kita.”


Eddie menunduk.

Matanya mulai panas lagi.

Antara marah. Putus asa. Dan kesedihan yang semakin dalam.

Ia bergumam lirih.

“Aku sudah nggak takut mati sekarang.”

Dan untuk pertama kalinya…

wajah DewaBuku berubah serius.

Sangat serius.

Pria itu perlahan melepas kacamata hitam dan masker medisnya.

Dan Eddie sempat melihat matanya.

Tajam.
Tenang.
Tetapi menyimpan kesedihan yang sangat dalam.


“Jangan pernah bangga dengan kalimat itu,” kata DewaBuku lirih.
“Orang yang sudah tidak takut mati…”
“…biasanya tinggal selangkah lagi berhenti menghargai hidup.”

Warung kembali sunyi.

Hanya suara hujan.

Dan Eddie merasa…

kalimat itu bukan nasihat biasa.

Melainkan sesuatu yang lahir dari pengalaman yang sangat gelap.

Eddie yakin bahwa DewaBuku pernah mengalami kesedihan semacam ini.

Hujan diluar warung semakin lebat. Suara petir menggelegar.

Berkali-kali.

Airmata Eddie perlahan menetes pelan.

Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Eddie hanya berdoa pelan. Sangat pelan.

“Tuhan, aku nggak mau seperti ini terus. Bahkan hanya dendam yang semakin hari semakin berkobar entah sampai kapan. Aku ingin membalas, tapi aku tak mau mengotori tanganku dengan darah. Aku ingin hidup tenang. Aku ingin bahagia seperti manusia-manusia lain diluar sana. Bukan menjadi seorang pembunuh….”

Doa itu sangat panjang.

Lirih.

Sangat menyakitkan.

DewaBuku menarik nafas dalam-dalam. Memakai kacamata dan masker meisnya lagi.

Tangan kanan DewaBuku masih tetap mengetuk-ngetuk meja dengan pelan.

Diiringi hujan lebat dan suara petir menyambar.

Menggelegar memekakkan telinga.

Tapi pria berkacamata hitam itu bisa mendengarnya dengan jelas.

DewaBuku menepuk pundak Eddie dua kali. Eddie menoleh pelan.

“Eddie… Sudah… sudah… jangan larut terlalu dalam.”

Lalu DewaBuku menyeruput kopinya.


Tiba-tiba—

pemilik warung mendekat panik.

“Bang Dewa…”

“Ada apa?”

Pria tua itu menelan ludah.

“Ada orang dari tadi berdiri di luar warung…”

Eddie langsung menoleh ke arah hujan di luar.

Jalanan kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi di seberang jalan…

di bawah lampu jalan yang redup…

sesosok tinggi berjubah gelap berdiri diam.

Si Mata Emas.

Kali ini tidak memandang Eddie.

Melainkan memandang langsung ke arah DewaBuku.

Sosok tinggi berjubah gelap itu menatap DewaBuku dengan tatapan tajam.

Dan untuk pertama kalinya…

DewaBuku terlihat tidak nyaman.

Sangat tidak nyaman.

DewaBuku menutup buku tuanya.

*

Dilanjutkan ke Episode 10 — Masa Lalu Masih Berjalan

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 — Panggilan Tak Dikenal

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan menjelang subuh sekalipun,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 5 — Hilangnya Reputasi

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Entah itu makhluk apa Eddie juga tidak tahu. "Barangkali aku...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 3 — Pintu Harapan

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Keesokan harinya… Pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.30 WIB Eddie datang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 4 — Panggilan Keempat

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Sebuah kenyamanan yang menjanjikan kebahagiaan. Tahun 2017 adalah tahun terbaik...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!