Skip to content

Episode 3 — Pintu Harapan

SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”

Keesokan harinya…

Pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.30 WIB

Eddie datang ke sebuah ruko kecil di Jakarta Barat.

Sebuah gedung dua lantai berwarna abu-abu gelap.

Disebelah kirinya ada juga kantor yang lebih kecil.

Dindingnya berwarna putih kusam.

Bertuliskan “Kantor ini Dijual”

Tepat didepan kantor berwarna putih itu ada sepeda motor terparkir.

Sebuah RX-King berwarna hitam dengan lampu halogen bulat.

Helm berwarna hitam ada diatasnya.

Di sebelah RX-King hitam itu ada seorang pria duduk diatas kursi pendek.

Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Pria itu berusia sekitar 32 tahun, berwajah keras dan garang.

Kulitnya gelap, rahang tebal, alis tebal. Tubuhnya kekar dan berotot.

Mengenakan jaket kulit berwarna hitam.

Tinggi orang itu sekitar 172 cm. Memakai aksesoris perak di jari dan leher.

Eddie menyapanya dengan sopan.

“Selamat pagi, Bang. Saya akan… “

“Wawancara?” tanya pria itu dengan cepat.

“Iya, Bang.”

“Nama? Asli mana?”

“Saya Eddie dari Medan, Bang.”

“Aku Tommy Siregar. Silahkan duduk disana!”

Saat itu Eddie langsung menuju ruang tunggu dan duduk disana.

Ruang tunggu yang tidak terlalu luas tetapi mewah.

Di lantai dua terdapat kantor sederhana berisi komputer dan suara pendingin ruangan.

Kantor kecil itu dulunya adalah sebuah kantor perusahaan yang bangkrut.

tapi sekarang sudah dibeli oleh seorang pengusaha.

… dan sedang dalam taraf renovasi.

Lokasinya strategis dipinggir jalan raya. Jalan utama.

Pagi itu semakin mendung. Langit berwarna abu-abu.

Deru mobil dan sepeda motor lewat silih berganti.

Ada suara mobil mewah samar terdengar sedang berhenti didepan kantor.

dan juga suara motor RX-King sedang mulai diparkir didepan kantor.

Eddie sudah hafal suara motor itu

RX-King berwarna merah menyala dengan lampu halogen kotak.

Pengendaranya berbadan besar.

Tidak terlalu gemuk.

Berwajah keras.

Tatapannya tajam.

Ia melepaskan helm merahnya dan menggantungnya di stang motor.

Didepannya…

Seorang pria keluar dari mobil Rolls Royce keluaran terbaru.

Langkahnya tenang dan santai.

Berusia sekitar 35 tahun, wajahnya berwibawa, berkarisma, dan terlihat tegas.

Kulit pria itu sawo matang, rambutnya hitam agak bergelombang yang disisir rapi ke belakang.

Matanya tajam seperti bisa membaca isi hati orang lain. Berkacamata.

Tubuhnya tegap dan berisi.

Mengenakan setelan jas custom yang mahal.

Pria itu adalah seorang pebisnis besar yang dihormati.

Punya banyak koneksi dari kalangan bisnis maupun pemerintahan.

Namanya Jackson Sihotang.

Dan di situlah…

untuk pertama kalinya Eddie bertemu Jackson Sihotang.

Pria itu langsung masuk kantor dan menuju ke lantai 2.

Diikuti oleh pria besar dibelakangnya… Pak Samosir.

Beberapa saat kemudian Eddie dipanggil ke ruangan khusus.

Ruangan wawancara.


Pria itu sedang berdiri dekat jendela sambil membaca laporan.

Tinggi.
Rapi.
Tenang.

Auranya berbeda.

Bukan seperti bos-bos kasar yang pernah Eddie temui.

Jackson terlihat seperti pria yang terbiasa memegang kendali.

Pak Samosir langsung membuka pembicaraan.

“Ini anak yang kubilang itu.”

Jackson mengangkat kepala.

Tatapannya langsung mengarah ke Eddie.

Tajam.

Tetapi tidak merendahkan.

“Kau Eddie?”

“Iya, Pak.”

Jackson Sihotang tersenyum sambil geleng kepala.

“Jangan panggil “Pak” , kita sama-sama dari kota Medan. Panggil aku “Abang” saja.”

(Abang adalah panggilan untuk kakak lelaki di kota Medan, sama dengan “Brother/Bro” [/penulis] )

“Iya, Bang.”

Jackson tertawa sedikit. Ia merasa senang.

“Itu lebih bagus. Kau ngerti server?”

“Sedikit…”

Jackson tertawa kecil.

“Jawaban aman rupanya.”

Eddie gugup.

Jackson lalu menunjuk salah satu komputer.

“Coba lihat itu.”

Salah satu staf sedang panik karena website perusahaan bermasalah.

Eddie duduk perlahan.

Tangannya dingin.

Ia belum pernah bekerja di tempat seperti itu sebelumnya.

Tetapi ketika mulai menyentuh keyboard…

sesuatu dalam dirinya berubah.

Fokus.

Tenang.

Dunia di sekitarnya seperti menghilang.

Sekitar dua puluh menit kemudian—

website itu kembali normal.

Ruangan langsung riuh.

“Sudah hidup!”
“Masuk lagi servernya!”

Jackson memperhatikan Eddie cukup lama waktu itu.

“Kau ngerti beginian?”

Eddie gugup.

“Sedikit, Bang.”

Jackson tertawa kecil.

“Sedikit katanya.”
“Orang kantor aja nggak ngerti.”

Itu awal semuanya.

Jackson melihat sesuatu dalam diri Eddie:
kerja keras.

Dan Eddie melihat sesuatu dalam diri Jackson:
harapan.

Jackson tersenyum tipis kepada Pak Samosir.

“Pak Samosir benar.”
“Anak ini memang beda.”

Pada saat Pak Samosir ijin keluar sebentar untuk merokok, Jackson memanggil Eddie.

Mereka berdua berbicara dengan serius.

Jackson menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan kunci berbentuk robot.

“Kamu boleh menempati kamar disebelah kantor ini.”

“Terimakasih, Bang.”


Hari itu menjadi awal perubahan hidup Eddie.

Ia mulai sering datang membantu kantor Jackson.

Awalnya hanya hal kecil:

  • memperbaiki website,
  • mengatur hosting,
  • mengecek domain.

Tetapi Eddie belajar sangat cepat.

Sangat cepat.

Bahkan beberapa staf lama mulai diam-diam iri padanya.


Jackson sendiri punya sifat aneh:
keras tetapi suka membantu orang yang mau bekerja keras.

Dan Eddie termasuk orang yang membuatnya tertarik.

“Dengar baik-baik,” kata Jackson suatu malam sambil minum kopi.
“Bisnis online itu masa depan.”

Eddie mendengarkan serius.

“Orang Indonesia masih menganggap internet cuma hiburan.”
“Padahal uang terbesar nanti ada di sana.”

“Masa iya bisa sebesar itu, Bang?”

Jackson menatap Eddie sambil tersenyum tipis.

“Aku pernah dapat seribu dolar sehari dari satu website.”

Eddie langsung terdiam.

Jumlah itu terdengar mustahil baginya saat itu.

Benar-benar mustahil.

Jackson tertawa melihat reaksinya.

“Jangan lihat aku seperti lihat hantu.”
“Aku juga dulu mulai dari nol.”


Dan untuk pertama kalinya…

Eddie merasa ada seseorang yang benar-benar percaya pada kemampuannya.

Perasaan itu sangat asing.

Karena sejak kecil…
ia lebih sering diremehkan.


Sehari.

Seminggu.

Sebulan.

Berbulan-bulan Eddie ditempa berbagai ujian mental.

Hal itu dilakukan oleh orang-orang suruhan Jackson Sihotang.

Semuanya untuk menguji mental dan kepribadian Eddie.

Ternyata Eddie adalah individu seperti yang Jackson harapkan.

Oleh sebab itulah akhirnya Jackson menemui Eddie yang sedang bekerja.

“Eddie, ikut aku.”

…dan Eddie mengikuti Jackson Sihotang memasuki ruang kantornya.

Disana Eddie diajari beberapa ilmu tentang:

  • Dasar-dasar marketing
  • Networking
  • Bisnis online, dan pembuatan produk-produk digital.

Pada suatu ketika Jackson berkata kepada Eddie dengan serius.

“Eddie, kembangkan kemampuanmu.”


Tahun demi tahun berlalu.

Eddie mulai membangun produknya sendiri.

Template.
Desain.
E-book.
Kursus digital.

Malam-malam Eddie kembali dipenuhi cahaya monitor.

Kamar di perantauan ini terasa hidup.

Kopi.
Keyboard.
Suara kipas CPU.

Kadang sampai subuh.

Kadang sampai matanya merah.

Tetapi Eddie tersenyum.

Ia bahkan mulai bermimpi:
membeli rumah kecil yang lebih layak untuk ibunya.

Mungkin nanti…

ia juga bisa menikah.

Punya keluarga kecil.

Punya seseorang yang menyambutnya pulang.

Hal-hal sederhana yang selama ini terasa sangat jauh.

Pendapatannya memang kecil…

satu dolar.
dua dolar.
tiga dolar per hari.

Tetapi Eddie bahagia.

Karena uang itu bersih dan itu baru permulaan.

Uang itu hasil begadang dan kerja kerasnya sendiri.

Dan yang paling penting—

ia akhirnya bisa membeli obat ibunya tanpa harus berutang.

Jackson bahkan mulai mengenalkannya kepada beberapa relasi bisnis luar negeri.

“Anak ini jujur,” kata Jackson kepada mereka.
“Kalau dia bilang selesai hari Senin, berarti Senin.”

Kalimat sederhana itu…

sangat berarti bagi Eddie.


Pelan-pelan hidupnya mulai membaik.

Ia bisa:

  • membeli komputer rakitan sendiri,
  • memperbaiki atap rumah ibunya,
  • membeli obat tanpa utang,
  • bahkan sesekali mengajak ibunya makan di luar.

Hal kecil.

Tetapi bagi Eddie…
itu seperti mimpi.


Suatu malam…

ibunya menelepon dari Medan.

“Eddie…”

“Iya, Bu?”

“Kau terdengar bahagia sekarang.”

Eddie tersenyum sambil menatap layar monitornya.

“Iya Bu…”
“Sedikit demi sedikit hidup kita membaik.”

Di seberang telepon…

ibunya menangis kecil.

Dan Eddie langsung menahan napas.

Karena ia sadar…

sudah lama sekali ia tidak mendengar ibunya menangis karena bahagia.


Tetapi kebahagiaan sering datang bersama bayangan yang tidak terlihat.

Dan Eddie belum tahu…

bahwa hidupnya sedang diperhatikan oleh sesuatu yang perlahan mendekat.


Suatu malam di kantor…

semua staf sudah pulang.

Hanya Eddie yang masih bekerja sendirian.

Jam menunjukkan hampir pukul dua pagi.

Lampu ruangan sebagian dimatikan.

Suasana sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan dan ketikan keyboard.

Lalu—

monitor komputer Eddie mendadak berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Eddie mengernyit.

“Listrik lagi…”

Tetapi lampu ruangan normal.

Hanya monitornya.

Lalu tiba-tiba…

layar hitam monitor itu memantulkan sesuatu.

Seseorang.

Berdiri tepat di belakang Eddie.

Tinggi.

Diam.

Eddie langsung menoleh cepat.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Napasnya sedikit memburu.

Ia menatap kembali monitor perlahan.

Pantulan itu sudah hilang.

Eddie tertawa kecil menenangkan dirinya sendiri.

“Mungkin kurang tidur…”

Tetapi saat ia hendak duduk kembali—

aroma aneh tiba-tiba muncul.

Harum.

Sejuk.

Seperti kayu tua bercampur hujan malam.

Dan entah kenapa…

dada Eddie yang selama ini selalu terasa berat…

mendadak terasa tenang beberapa detik.

Sangat tenang.

Seolah ada seseorang yang berdiri di dekatnya…

menjaga agar ia tidak jatuh terlalu jauh.


Mulai tahun 2013 Eddie pulang ke kota kelahirannya.

dengan penuh senyuman, harapan, dan masa depan cerah.

Bekerja dari rumah adalah impian Eddie sejak lama.

Karena sejak remaja Eddie sudah kenyang bekerja keras.

Semua orang pasti ingin hidup nyaman, begitupun Eddie.

Tahun demi tahun dilaluinya dengan senang hati.

Hingga tahun 2017 ini terasa sangat nyaman bagi Eddie.

*

Dilanjutkan ke Episode 4 — Panggilan Keempat

*

Author Profile
jatigift

Related Posts

image
Episode 6 — Pria Bernama DewaBuku

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Lampu kembali normal. Eddie jatuh terduduk di lantai. Napas gemetar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 7 — Pencari Kebenaran

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie mulai sadar,bahwa hidupnya bukan hanya sedang dihancurkan manusia. Tetapi...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 11 — Menghidupkan Kembali Laptop Lama

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 10 — Masa Lalu Masih Berjalan

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Hujan turun semakin deras. Lampu jalan di depan warung berkedip...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 — Panggilan Tak Dikenal

SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan menjelang subuh sekalipun,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!