
SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”
Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan menjelang subuh sekalipun, kota itu masih bernapas lewat suara knalpot yang jauh, gonggongan anjing kampung, atau televisi tetangga yang lupa dimatikan.
Tetapi rumah kecil milik Eddie Jackson Silalahi terasa berbeda.
Rumah itu sunyi seperti orang sakit.
Lampu dapurnya remang-remang.
Cat dindingnya mulai mengelupas.
Kipas angin tua di ruang tengah berbunyi tek… tek… tek… seperti sedang menghitung sisa umur seseorang.
Dan di atas meja kayu dekat jendela…
sebuah ponsel bergetar lagi.
Bzzzt.
Eddie tidak bergerak.
Ia duduk di kursi plastik sambil menunduk, kedua sikunya bertumpu di lutut. Kaos lusuh abu-abunya penuh lipatan. Rambut pendeknya berantakan seperti orang yang sudah lama tidak peduli pada penampilan.
Ponsel itu terus bergetar.
Bzzzt.
Bzzzt.
Bzzzt.
Nama nomor asing muncul lagi.
Nomor baru.
Nomor baru lagi.
Nomor baru lagi.
Eddie tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.
“Ada lagi rupanya…” gumamnya pelan.
Ia mematikan layar ponsel tanpa melihat isi pesannya.
Di dapur kecil, ibunya sedang menyeduh kopi hitam menggunakan ketel aluminium tua. Aroma kopi perlahan memenuhi ruangan sempit itu.
Wanita tua itu berjalan pelan sambil membawa cangkir.
Tangannya sedikit gemetar.
“Minumlah dulu, Nak…”
Eddie menerima kopi itu tanpa bicara.
Ibunya duduk di sebelahnya.
Mereka diam cukup lama.
Hanya suara kipas angin dan hujan gerimis di luar rumah yang terdengar.
Lalu—
Bzzzt.
Ponsel itu bergetar lagi.
Ibunya sedikit terkejut.
Tatapan wanita renta itu langsung berubah cemas.
“Masih mereka lagi?”
Eddie mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Ibunya menunduk.
“Apa sebaiknya… diangkat saja?”
Eddie tertawa kecil.
Suara tawanya kosong.
“Diangkat salah.”
“Tidak diangkat juga salah.”
Bzzzt.
Kali ini Eddie langsung mematikan ponselnya.
Sunyi.
Tetapi anehnya…
setelah bertahun-tahun diteror telepon seperti itu…
kesunyian malah terasa lebih menakutkan baginya.
Seolah otaknya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.
Ibunya memegang lengan Eddie perlahan.
“Maafkan adik laki-lakimu itu, Nak…”
Kalimat itu membuat rahang Eddie mengeras.
Lagi.
Kalimat yang sama.
Kalimat yang selalu sama.
Maafkan adik laki-lakimu.
Maafkan Hersi.
Maafkan.
Maafkan.
Maafkan.
Padahal hidupnya sudah hancur.
Eddie menarik napas panjang.
“Aku capek, Bu…”
Suaranya lirih.
Sangat lirih.
“Aku capek jadi orang yang harus ngerti terus.”
Ibunya tidak menjawab.
Wanita tua itu hanya menunduk sambil meremas ujung bajunya sendiri.
Eddie menatap hujan di luar jendela.
Matanya kosong.
Dulu…
di tempat yang sama…
ia pernah duduk sampai pagi sambil mengurus pesanan pelanggan luar negeri.
Template.
E-book.
Desain.
Website.
Hosting.
Satu monitor.
Dua monitor.
Tiga monitor.
Dulu kamarnya hidup.
Dulu ia punya mimpi.
Dulu ia percaya kalau kerja keras bisa mengubah hidup seseorang.
Sekarang?
Monitor di kamarnya hanya tinggal benda mati berdebu.
CPU tuanya bahkan sudah rusak sejak dua tahun lalu.
Dan yang tersisa hanyalah suara debt collector.
Eddie meminum kopinya perlahan.
Pahit.
Tapi tidak lebih pahit dibanding hidupnya sekarang.
“Bu…”
Ibunya menoleh.
“Kalau Ayah masih hidup…”
“Menurut Ibu… hidupku bakal begini nggak?”
Ibunya langsung terdiam.
Pertanyaan itu terlalu berat.
Wanita tua itu menahan napas pelan sebelum akhirnya berkata lirih:
“Ayahmu pasti sedih melihat kalian begini…”
Kalian.
Bukan hanya Eddie.
Itu yang membuat Eddie semakin sesak.
Karena bahkan sekarang…
ibunya masih mencoba menyelamatkan Hersi.
Padahal orang itulah yang menghancurkan semuanya.
Pagi datang perlahan.
Langit Medan berwarna kelabu.
Eddie berjalan keluar rumah memakai sandal jepit usang. Ia membeli rokok batangan di warung ujung gang.
Orang-orang mengenalnya.
Tetapi tidak lagi seperti dulu.
Dulu mereka memanggilnya:
“Bang Eddie komputer.”
“Bang Eddie website.”
“Bang Eddie luar negeri.”
Sekarang?
Mereka hanya berbisik.
“Itu dia…”
“Katanya dulu kena kasus online ya?”
“Kasihan ibunya…”
Eddie mendengarnya.
Selalu mendengarnya.
Tapi ia pura-pura tidak peduli.
Ia membeli kopi sachet dan dua batang rokok lalu kembali berjalan.
Di tengah jalan…
sebuah motor berhenti mendadak di dekatnya.
Hersi turun sambil memainkan kunci motor.
Bajunya rapi.
Parfumnya menyengat.
Sepatu putihnya terlihat baru.
Eddie langsung tahu:
itu pasti hasil utang lagi.
“Bang.”
Eddie diam.
Hersi mendekat.
“Ada uang nggak?”
Eddie tertawa pendek.
Benar-benar pendek.
Seolah hidup sedang mengejeknya.
“Lucu kali kau.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.”
Hersi mendecih.
“Jangan pelit kali lah sama adik sendiri.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Eddie bergerak panas.
Ia menatap Hersi lama sekali.
Lama.
Sangat lama.
Sampai Hersi mulai salah tingkah sendiri.
Lalu Eddie berkata pelan:
“Kau tahu nggak…”
“Kadang aku heran.”
“Heran apa?”
“Kenapa orang yang menghancurkan hidup orang lain…”
“masih bisa tidur nyenyak.”
Wajah Hersi berubah.
“Mulai lagi kau.”
“Aku belum selesai.”
“Sudahlah Bang, jangan lebay kali kau.”
Lebay.
Kata itu seperti palu godam di kepala Eddie.
Semua penderitaan itu…
dan Hersi menyebutnya lebay.
Tangan Eddie perlahan mengepal.
“Kau pakai nomor teleponku.”
“Kau pakai nomor Ibu.”
“Kau buat hidup kami seperti neraka.”
Hersi langsung meninggi.
“Karena kau nggak pernah angkat telepon!”
“Itu salahmu sendiri!”
BRAK!
Eddie menghantam tiang listrik di sampingnya.
Orang-orang di warung langsung menoleh.
Napas Eddie memburu.
Matanya merah.
“JANGAN BALIKKAN SEMUA KE AKU!”
Untuk pertama kalinya…
suara Eddie benar-benar meledak.
Hersi mundur sedikit.
Tetapi egonya lebih besar daripada rasa takutnya.
“Kau pikir hidupmu hancur gara-gara aku?”
“Kau memang gagal dari sananya!”
Kalimat itu membuat dunia seperti berhenti beberapa detik.
Sunyi.
Hanya suara hujan kecil dan knalpot motor jauh.
Eddie menatap adiknya.
Tatapan itu dingin sekali.
Dingin seperti orang yang hampir kehilangan kemanusiaannya.
Lalu ia berkata sangat pelan:
“Pergi.”
“Apa?”
“Aku bilang pergi…”
Hersi mendecih kasar lalu naik ke motor.
“Sinting kau sekarang.”
Motor itu pergi meninggalkan genangan air.
Eddie masih berdiri diam.
Tangannya gemetar.
Darah kecil mengalir dari buku jarinya karena menghantam tiang tadi.
Tetapi ia tidak merasakan sakit apa pun.
Yang terasa hanya sesak.
Sesak yang tidak pernah selesai.
Malamnya…
hujan turun lebih deras.
Listrik sempat mati beberapa menit.
Rumah menjadi gelap total.
Ibunya sudah tidur lebih awal karena kelelahan.
Sedangkan Eddie duduk sendirian di ruang tengah.
Satu lilin kecil menyala di meja.
Ia menatap layar ponselnya yang mati.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada pesan.
Tidak ada teman.
Tidak ada siapa-siapa.
Kadang ia berpikir…
mungkin hidupnya memang sudah selesai sejak tahun 2018.
Tiba-tiba—
tap…
tap…
tap…
Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.
Eddie menoleh perlahan.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Suara itu berhenti.
Sunyi.
Eddie berdiri pelan.
Darah di buku jarinya tadi sudah mengering.
Ia berjalan menuju dapur gelap.
Lilin di ruang tengah membuat bayangannya memanjang di lantai.
“Ibu?”
Tetap tidak ada jawaban.
Lalu—
sesuatu bergerak di dekat jendela dapur.
Samar.
Tinggi.
Diam.
Eddie langsung membeku.
Tubuhnya tidak bisa bergerak beberapa detik.
Sosok itu berdiri di sudut dapur yang gelap.
Tidak jelas wajahnya.
Tetapi…
matanya.
Dua mata berwarna emas…
menyala redup dalam kegelapan.
Eddie menahan napas.
Dadanya sesak mendadak.
Bulu kuduknya berdiri.
Tetapi anehnya…
ia tidak merasa takut.
Justru…
ia merasa sedih.
Sangat sedih.
Makhluk itu tidak bergerak.
Hanya berdiri memandanginya dalam diam.
Lalu suara di kepala Eddie terdengar pelan…
bukan suara manusia.
Bukan suara yang masuk dari telinga.
Tetapi langsung masuk ke dalam pikirannya.
“Jangan biarkan kebencian memakan habis dirimu…”
Lilin di ruang tengah tiba-tiba padam.
Gelap.
Total.
Dan ketika Eddie menyalakan senter ponselnya—
sosok itu sudah tidak ada.
*
Dilanjutkan ke Episode 2 — Masa Lalu Eddie
*
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Ada luka yang tidak muncul karena dipukul. Ada luka yang...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Sebuah kenyamanan yang menjanjikan kebahagiaan. Tahun 2017 adalah tahun terbaik...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Hujan turun semakin deras. Lampu jalan di depan warung berkedip...
Read More