
SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”
Ada luka yang tidak muncul karena dipukul.
Ada luka yang tumbuh perlahan…
karena terlalu sering dianggap tidak penting.
Dan Eddie Jackson Silalahi mengenal luka seperti itu sejak kecil.
Tahun 2001.
Medan masih dipenuhi angkot tua berwarna mencolok dan warung kaset bajakan di pinggir jalan.
Saat itu Eddie masih duduk di bangku SMP.
Tubuhnya kurus.
Pendiam.
Tidak pandai bergaul.
Tetapi ia rajin.
Terlalu rajin malah.
Anak-anak lain bermain bola sepulang sekolah.
Eddie membantu ibunya mencuci piring.
Mengangkat air.
Membeli beras.
Kadang memperbaiki kipas rusak tetangga demi uang receh.
Sedangkan Hersi?
Berbeda jauh.
Hersi kecil sudah pandai mencari alasan.
Kalau diminta membantu:
- pura-pura sakit,
- pura-pura tidur,
- atau kabur bermain PlayStation rental.
Dan anehnya…
ibunya selalu lebih lunak pada Hersi.
“Mungkin adik lelakimu capek.”
“Mungkin adik lelakimu belum ngerti.”
“Mungkin nanti dia berubah.”
Kalimat-kalimat itu tumbuh bersama Eddie.
Sedikit demi sedikit.
Menjadi sesuatu yang pahit.
Suatu sore…
Eddie pulang sekolah dengan wajah lebam.
Seragam putih birunya kotor.
Tasnya robek di bagian samping.
Ibunya langsung panik.
“Ya Tuhan… Eddie!”
“Kenapa ini?!”
Eddie diam.
Ia masuk ke kamar mandi tanpa menjawab.
Tetapi Hersi yang waktu itu masih SD malah tertawa kecil.
“Kena pukul lagi ya? Laki-laki kok dipukul diam saja.”
Ibunya langsung menoleh tajam.
“Hersi!”
Hersi menoleh ke ibunya.
“Apa? Memang iya kan?”
Eddie mendengar semuanya dari kamar mandi.
Air keran jatuh perlahan membasahi wajahnya.
Tetapi yang membuat dadanya sesak bukan pukulan teman sekolah.
Melainkan fakta bahwa…
tak ada satu pun orang di rumah yang benar-benar membelanya.
Sejak dulu almarhum ayahnya juga selalu membela Hersi.
Ibunya juga seperti itu. Selalu membela Hersi.
Bahkan saat dirinya menjadi korban perundungan.
Perundungan itu berlangsung bertahun-tahun.
SD.
SMP.
SMA.
Selalu sama.
Eddie dianggap aneh karena terlalu pendiam.
Karena lebih suka membaca buku sejarah dibanding nongkrong.
Karena lebih suka memperbaiki elektronik bekas daripada bermain.
Karena terlalu sering mengalah.
Dan orang-orang selalu senang menghancurkan orang yang terlalu diam.
Seperti Eddie. Diam tapi tidak pintar. Belum jadi pintar.
Jika dibandingkan dengan Hersi, sangat jauh. Bagaikan langit dan bumi.
Eddie memang mengakui bahwa Hersi memang anak lelaki yang berprestasi di sekolahnya.
Bahkan sejak dari SD kelas 1 sampai SMA selalu menjadi juara kelas.
Dengan kata lain… peringkat satu. Hanya saja dia sombong dengan kepintarannya.
Berbeda jauh dengan Eddie. Tak pernah jadi juara kelas.
Pendiam. Sejak SD kelas satu hingga SMA kelas 1 selalu mengecewakan.
Apalagi peringkat satu. Masuk sepuluh besarpun hanya mimpi.
Nilai-nilai mata pelajaran sekolah yang ada di buku raportnya kacau.
Selalu saja ada beberapa nilai merah.
Mata pelajaran matematika dan IPA selalu merah. Selain itu nilainya “cukup”.
Mungkin pertolongan dari gurunya yang merasa kasihan.
Nilai tertinggi di buku raportnya hanya:
Agama Islam
Bahasa Indonesia
Pendidikan Moral Pancasila
dan Kesenian (seni rupa) khususnya menggambar.
Eddie memang suka menggambar denah rumah, pemandangan alam, dan robot.
Tahun 2007.
Ayah Eddie meninggal dunia.
Rumah kecil itu berubah jauh lebih sunyi sejak hari pemakaman.
Ibunya sering menangis diam-diam di dapur.
Sedangkan Eddie…
mendadak menjadi tulang punggung keluarga.
Saat itu usianya baru sembilan belas tahun.
Tapi hidup tidak peduli soal umur.
Hidup hanya melempar beban.
Dan melihat siapa yang masih kuat berdiri.
Eddie mulai bekerja ke sana-sini.
Pernah jadi:
- buruh gudang,
- penjaga toko,
- tukang servis elektronik,
- staf administrasi,
- bahkan pernah tidur di gudang sempit karena tidak punya uang kontrakan.
Tetapi ia bertahan.
Karena setiap pulang…
ibunya selalu berkata:
“Hati-hati di jalan ya, Nak.”
Kalimat sederhana itu cukup membuat Eddie bertahan hidup bertahun-tahun.
Bekerja menjadi apa saja dengan penghasilan alakadarnya.
Tetapi ia sangat bersyukur dalam lima tahun sejak 2007.
Bisa menabung untuk bekal merantau ke Jakarta.
Sedangkan Hersi mulai berubah menjadi pria yang sulit diatur.
Ia sering meminjam uang.
Berganti pekerjaan.
Berbohong.
Berjanji lalu menghilang.
Tetapi ketika ketahuan salah…
ia selalu punya kemampuan aneh:
membuat dirinya terlihat sebagai korban.
Dan ibunya selalu luluh.
“Adik lelakimu itu sebenarnya baik…”
“Cuma salah pergaulan…”
Eddie lelah mendengar itu.
Namun ia tetap diam.
Karena sejak kecil…
ia terbiasa menjadi orang yang mengalah.
Eddie selalu berharap untuk bisa merantau ke Jakarta.
“Minggu depan aku berangkat ke Jakarta.” pikir Eddie.
… dan waktupun terus berjalan tanpa jeda.
Seminggu kemudian…
Jakarta tahun 2007 tidak ramah bagi orang miskin.
Kota itu besar.
Bising.
Cepat.
Dan bagi pendatang seperti Eddie Jackson Silalahi…
Jakarta terasa seperti mesin raksasa yang bisa menggiling siapa saja kapan pun.
Saat pertama tiba di ibu kota…
Eddie hanya membawa:
- satu tas pakaian,
- beberapa lembar uang,
- dan nomor telepon kenalan jauh.
Tidak ada yang menunggu.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada kepastian.
Ia pernah tidur di mushola kecil dekat terminal.
Pernah mandi di toilet umum.
Pernah makan hanya sekali sehari supaya uangnya cukup bertahan sampai akhir minggu.
Tetapi Eddie tetap bekerja.
Apa saja.
Selama halal.
Salah satu pekerjaan terberatnya waktu itu adalah membantu gudang logistik di daerah pinggir Jakarta.
Gudang besar.
Panas.
Penuh debu.
Dan di situlah ia pertama kali mengenal seseorang bernama Pak Samosir.
Pria itu berbadan besar tetapi tidak terlalu gemuk.
Ia terkenal disiplin.
Berwajah keras.
Jarang tersenyum.
Tatapannya tajam.
Perkataannya singkat-singkat.
Tetapi berbeda dengan mandor lain…
Pak Samosir tidak suka menghina bawahan.
Ia lebih suka memperhatikan diam-diam.
Suatu malam…
hujan deras mengguyur gudang.
Sebagian pekerja pulang lebih awal.
Tetapi Eddie masih sibuk membantu menyusun barang meski jam kerja sudah selesai.
Pak Samosir memperhatikannya dari jauh sambil mencuci motor RX-King kesayangannya.
Sebuah motor RX-King berwarna merah menyala dengan lampu halogen kotak.
“Kau belum pulang?”
Eddie mengangkat kardus terakhir.
“Belum selesai, Pak.”
“Besok juga bisa.”
Eddie tersenyum kecil.
“Kalau bisa selesai hari ini, kenapa harus besok?”
Pak Samosir mendengus pelan.
Sejak malam itu…
ia mulai memperhatikan Eddie.
Beberapa bulan kemudian…
Pak Samosir mulai sering mengajak Eddie bicara setelah jam kerja.
Tentang hidup.
Tentang Jakarta.
Tentang manusia.
Dan Eddie mulai sadar…
pria itu tahu banyak hal.
Terlalu banyak.
“Di kota ini…” kata Pak Samosir suatu malam sambil menatap truk keluar masuk gudang,
“yang paling bahaya bukan preman.”
“Lalu apa, Pak?”
“Orang berdasi.”
Eddie tertawa kecil.
Tetapi Pak Samosir tidak ikut tertawa.
“Kalau preman nusukmu di depan.”
“Orang berdasi menghancurkan hidupmu sambil tersenyum.”
Kalimat itu entah kenapa terus diingat Eddie bertahun-tahun kemudian.
Suatu malam…
Pak Samosir mendadak bertanya:
“Kau ngerti komputer?”
“Sedikit, Pak.”
“Semua anak muda sekarang jawabnya ‘sedikit’.”
“Padahal lebih pintar dari orang tua.”
Eddie tersenyum malu.
Ia memang suka komputer sejak SMA.
Tetapi tidak pernah punya kesempatan mendalaminya.
Pak Samosir lalu memberi alamat kecil di secarik kertas.
“Besok ke sini.”
“Ini apa, Pak?”
“Tempat orang yang mungkin bisa mengubah hidupmu.”
*
Bersambung ke Episode 3 – Pintu Harapan
*
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Keesokan harinya… Pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.30 WIB Eddie datang...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Entah itu makhluk apa Eddie juga tidak tahu. "Barangkali aku...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan menjelang subuh sekalipun,...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Setelah malam itu… Hersi tidak pulang selama tiga hari. Ibunya...
Read More