Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 18

Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini

Restoran itu masih sama.

Bersih. Tenang. Tidak berubah hanya karena Anneliese mulai merasa sedikit lebih aman di dalamnya. Meja-meja tetap tersusun rapi. Bau sabun dan makanan hangat tetap bercampur tanpa saling mengganggu. Dunia tidak menyesuaikan diri dengannya — dan untuk pertama kalinya, ia tidak menuntut itu.

Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya.

Ia mengelap meja. Mengangkat piring. Mengangguk ketika dipanggil. Menjawab singkat jika ditanya. Beberapa rekan kerja sudah berhenti berhati-hati padanya. Mereka berbicara seperti biasa — tentang cuaca, tentang pelanggan aneh, tentang lauk yang keasinan.

Anneliese mendengarkan.

Kadang tersenyum. Kadang tidak.

Ia sedang membawa nampan kosong ke arah dapur ketika suara kasir berbunyi pelan.

Bukan suaranya.

Bukan denting uangnya.

Tapi kehadiran di dekat meja kasir itu — sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi tubuhnya mengenali lebih cepat daripada pikirannya.

Ia berhenti melangkah.

Seorang pria berdiri di depan kasir.

Rambut hitamnya panjang sebahu, jatuh rapi tanpa usaha. Tubuhnya tinggi dan tegap, berdiri santai seolah ruang ini tidak meminta apa pun darinya. Ia mengenakan beanie hitam, kacamata gelap, dan masker medis hijau muda yang menutup sebagian wajahnya. Jaket kulit panjang berwarna hitam membungkus tubuhnya — model coat — dengan kerah bulu putih di sisi kanan dan kiri, kontras namun tidak mencolok. Celana baggy jeans biru tua sedikit longgar, dan sneakers putih bermerek NIKE terlihat bersih, nyaris terlalu bersih untuk lantai restoran.

Ia mengeluarkan dompet.

Gerakannya tenang. Tidak tergesa. Tidak mencuri perhatian.

Tapi bagi Anneliese, dunia di sekitarnya seperti mengecil.

Dapur di belakangnya menghilang.
Suara sendok, piring, dan percakapan meredup.
Yang tersisa hanya jarak beberapa meter dan satu ingatan yang tiba-tiba berdiri utuh.

Sebuah meja.
Makan malam.
Hendrik masih hidup.

Pria itu pernah melewati meja mereka.

Ia tidak berhenti lama. Hanya menoleh sebentar. Mengucapkan satu kalimat, singkat dan sopan, seolah hanya formalitas kecil yang tidak perlu diingat.

“Semoga malamnya menyenangkan.”

Dulu, kalimat itu tidak berarti apa-apa.

Sekarang — kata-kata itu berdiri di kepalanya seperti tanda yang baru bisa dibaca setelah semuanya runtuh.

Napas Anneliese tertahan.

Tangannya mengencang di sisi nampan.

Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar. Pria itu tidak menatapnya. Tidak mengenalinya. Bahkan mungkin tidak mengingat bahwa mereka pernah berada di ruangan yang sama. Tapi tubuh Anneliese bereaksi seolah sedang dihadapkan pada sesuatu yang lebih tua dari rasa takut — sebuah peringatan yang baru dipahami setelah terlambat.

Kasir menyebut jumlah pembayaran.

Pria itu mengangguk. Membayar. Mengucapkan terima kasih dengan suara rendah yang hampir tenggelam di balik masker, “Terimakasih mbak.”

Lalu ia berbalik.

Langkahnya melewati Anneliese.

Tidak berhenti.
Tidak menoleh.
Tidak ada kalimat tambahan.

Tapi saat bayangannya melintas, dada Anneliese mengencang seolah seseorang menyentuh luka lama tanpa menyentuh kulitnya sama sekali.

Ia menelan ludah.

Nampan di tangannya nyaris terlepas.

“Hei, kamu nggak apa-apa?”

Suara itu datang dari samping.

Seorang rekan kerja — perempuan, celemeknya sudah sedikit basah, wajahnya lelah tapi jujur. Tangannya refleks menahan sisi nampan Anneliese sebelum benar-benar jatuh.

Anneliese berkedip.

Dunia kembali ke ukuran semula.

“Iya,” katanya. Suaranya pelan. “Cuma… kaget.”

Perempuan itu tidak bertanya lebih jauh.

“Kalau capek, istirahat sebentar. Aku yang bawa ini ke dapur.”

Ia tersenyum kecil. Bukan senyum basa-basi. Senyum yang tidak menuntut penjelasan.

Anneliese menyerahkan nampan itu.

Tangannya masih sedikit gemetar, tapi kali ini ada sesuatu yang menahannya agar tidak runtuh.

Ia duduk sebentar di bangku kecil dekat dinding. Menarik napas dalam-dalam.

Di luar, pintu restoran terbuka lalu tertutup. Pria itu sudah pergi. Dunia melanjutkan dirinya tanpa catatan kaki.

Namun di dalam diri Anneliese, sesuatu diuji.

Bukan rasa takut.
Bukan trauma yang meledak.

Melainkan pertanyaan kecil yang menyelinap pelan:
Apakah rasa diterima ini cukup kuat untuk bertahan ketika masa lalu mengetuk?

Seorang rekan lain meletakkan segelas air di sampingnya tanpa berkata apa-apa.

“Minum dulu,” katanya singkat.

Anneliese mengangguk.

Ia minum.

Airnya dingin. Nyata. Tidak berbau sampah. Tidak bercampur rasa bersalah.

Ia menarik napas panjang.

Kalimat itu — semoga malamnya menyenangkan — akhirnya menemukan tempatnya. Bukan sebagai ramalan, bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai pengingat bahwa ada hal-hal yang pernah lewat begitu saja… dan baru terasa maknanya ketika seseorang masih hidup untuk mengingatnya.

Anneliese berdiri kembali.

Ia kembali bekerja.

Dunia belum sepenuhnya ramah. Tapi hari ini, ia tidak sendirian saat diuji.

*

Bersambung ke Episode 19 – Makanan Yang Tidak Diminta

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 22

Episode 22 — Orang Yang Diingat Tubuh Anneliese selalu sampai di rumah ketika langit sudah...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 38

Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 9

Episode 9 — Orang yang Tidak Pernah Pergi Malam tidak benar-benar datang di gedung itu.Ia...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 36

Episode 36 — Hal Yang Mulai Dijalani Pagi itu datang seperti biasanya. Cahaya masuk melalui...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 28

Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa Pagi datang tanpa suara yang berarti. Cahaya matahari...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!