Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 35

Episode 35 — Hal yang Mulai Disusun

Pagi itu datang tanpa gangguan.

Cahaya masuk seperti biasa. Tidak terlalu terang. Tidak juga redup. Semuanya terasa cukup.

Anneliese bangun dengan tenang.

Ia duduk sejenak di tepi tempat tidur, seperti yang selalu ia lakukan. Tidak ada yang mendesak untuk segera dimulai.

Namun kali ini, ia tidak hanya diam.

Pikirannya kembali pada buku kecil yang ia beli semalam.

Ia berdiri.

Rutinitas berjalan seperti biasa. Air mengalir. Wajah dibasuh. Rambut dirapikan. Pakaian dipilih dengan sederhana, namun tetap rapi.

Semua dilakukan tanpa terburu.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Ia tahu bahwa hari itu tidak sepenuhnya kosong.

Ada sesuatu yang sudah ia mulai.

Dan itu menunggu untuk dilanjutkan.

Kelas pagi berlangsung dengan tenang.

Anneliese mengajar seperti biasa. Penjelasannya jelas. Suaranya stabil. Siswa-siswa mengikuti dengan baik.

Namun di sela-sela penjelasan, ada momen-momen kecil di mana ia berhenti sedikit lebih lama dari biasanya.

Bukan karena lupa.

Melainkan karena ia memilih kata dengan lebih hati-hati.

Ia ingin apa yang ia sampaikan benar-benar bisa dipahami.

Bukan hanya didengar.

Beberapa siswa mulai mencatat lebih serius.

Ada yang mengangguk lebih sering.

Perubahan itu kecil.

Namun terasa.

Saat kelas selesai, seorang siswa menghampirinya.

Tidak banyak bicara.

Hanya mengucapkan terima kasih dengan nada yang tulus.

Anneliese mengangguk pelan.

Tidak menjawab panjang.

Namun ia mengingat momen itu.

Siang hari, ia kembali ke kamar lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada alasan khusus.

Ia hanya merasa ingin duduk di sana.

Di ruang yang tenang.

Buku kecil itu masih terletak di meja.

Ia duduk.

Membukanya kembali.

Tulisan semalam masih ada di halaman pertama.

Satu baris.

Sederhana.

Namun cukup untuk membuat halaman itu tidak lagi kosong.

Ia membaca ulang.

Pelan.

Tidak terburu.

Seolah memastikan bahwa apa yang ia tulis memang benar ia maksudkan.

Tangannya mengambil pulpen.

Kali ini, ia tidak berhenti lama.

Ia mulai menulis lagi.

Baris kedua.

Kemudian baris ketiga.

Tulisan itu masih sederhana.

Tidak panjang.

Tidak rumit.

Namun mulai membentuk sesuatu.

Bukan rencana besar.

Belum.

Lebih seperti potongan-potongan kecil.

Hal-hal yang ingin ia lakukan.

Hal-hal yang ingin ia jaga.

Hal-hal yang tidak ingin ia ulangi lagi.

Sesekali ia berhenti.

Berpikir.

Lalu melanjutkan.

Tidak ada tekanan untuk menyelesaikan.

Ia hanya menulis selama ia ingin menulis.

Setelah beberapa saat, ia meletakkan pulpen.

Melihat halaman itu.

Sekarang tidak lagi kosong.

Namun juga belum penuh.

Dan itu tidak masalah.

Ia menutup buku itu perlahan.

Tidak ada rasa puas yang berlebihan.

Namun ada rasa cukup.

Sore hari, ia kembali berjalan keluar.

Langkahnya seperti biasa.

Tenang.

Ia melewati jalan yang mulai ia kenali.

Beberapa tempat terasa tidak asing lagi.

Ia tidak lagi sekadar lewat.

Ia mulai mengingat.

Ada satu warung kecil di sudut jalan.

Seorang penjual yang sering duduk di depan.

Hari itu, tanpa banyak berpikir, Anneliese berhenti.

Membeli sesuatu yang sederhana.

Makanan kecil.

Tidak mahal.

Ia tidak terburu pergi.

Ia berdiri sejenak.

Menggigit perlahan.

Menikmati tanpa tergesa.

Penjual itu sempat tersenyum.

Anneliese membalas dengan anggukan kecil.

Interaksi singkat.

Namun terasa cukup.

Ia melanjutkan langkahnya.

Langit mulai berubah warna.

Sore menuju malam.

Kota tetap berjalan seperti biasa.

Namun bagi Anneliese, ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak lagi hanya mengikuti hari.

Ia mulai mengisi hari itu dengan pilihannya sendiri.

Malam datang dengan tenang.

Kamar kembali sunyi.

Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur.

Tidak membuka buku lagi.

Tidak menambah apa pun.

Hari ini sudah cukup.

Ia berbaring.

Menarik napas perlahan.

Menghembuskannya dengan tenang.

Tidak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Namun ada satu hal yang jelas.

Apa yang semalam hanya satu baris,

hari ini mulai menjadi sesuatu yang bisa ia lihat.

Masih kecil.

Masih sederhana.

Namun nyata.

Dan untuk sekarang,

itu sudah lebih dari cukup.

*

Bersambung ke Episode 36 — Hal yang Mulai Dijalani

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 13

Episode 13 — Yang Akhirnya Disentuh Air surut tanpa pengumuman. Tidak ada suara hisap. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 14

Episode 14 — Bau Yang Mengajarkan Nilai Bau itu datang tanpa alasan. Bukan bau makanan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 38

Episode 38 — Hal Yang Mulai Dimiliki Pagi itu datang dengan biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 1

Episode 1 - Terbang ke Semarang dengan Sayap Impian Siang hari jam 11 waktu setempat…...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 27

Episode 27 — Senja di Kota Semarang Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!