Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL

Keraton tidak berubah.
Pagi tetap datang dengan cara yang sama.
Langkah kaki tetap terdengar teratur di koridor yang panjang.
Hanya saja, sejak hari itu, ada sesuatu yang mulai berjalan di dalamnya.
Tidak cepat.
Tidak juga terlihat jelas.
Tapi cukup untuk membuat beberapa hal….tidak lagi sepenuhnya sama.
Wiwin berdiri di tengah ruangan latihan.
Ruangan itu tidak besar, tapi cukup luas untuk sembilan orang bergerak tanpa saling menyentuh. Lantai kayu terasa dingin. Tidak licin, tidak juga kasar. Di sisi dinding, beberapa instrumen gamelan tersusun rapi.
Tidak semuanya digunakan.
Setidaknya, tidak selalu.
Ia mengenakan kain latihan yang sederhana. Rambutnya diikat. Wajahnya tenang.
Tidak terlihat gugup.
Pelatih berdiri tidak jauh darinya. Mengamati.
Gerakan pertama dimulai.
Pelan.
Tangan diangkat.
Sedikit berputar.
Lalu berhenti di titik yang seharusnya.
Wiwin mengikuti.
Tidak terburu-buru.
Tidak juga tertinggal.
Seolah-olah ia sudah tahu ke mana tubuhnya harus bergerak, bahkan sebelum gerakan itu diperlihatkan sepenuhnya.
Pelatih tidak langsung berbicara.
Ia menunggu.
Beberapa gerakan diulang.
Sekali.
Dua kali.
Cukup.
Wiwin tidak terlihat menghafal.
Ia hanya….menyesuaikan.
Seperti seseorang yang tidak sedang belajar sesuatu yang baru, tapi mengingat sesuatu yang pernah ada.
Di luar ruangan, Hana duduk di bangku kayu yang menghadap ke halaman dalam.
Ia tidak ikut masuk.
Tidak ada yang melarang.
Tapi juga tidak ada yang benar-benar mengajak.
Angin siang lewat pelan. Tidak membawa suara yang berarti.
Atau mungkin….tidak semua suara dimaksudkan untuk terdengar oleh semua orang.
Hana menunduk sedikit.
Matanya tidak fokus ke satu titik.
Ada sesuatu yang sempat ia dengar.
Pendek.
Sangat pelan.
Seperti gesekan kecil.
Atau langkah yang terlalu ringan untuk dianggap langkah.
Ia mengangkat kepala.
Halaman kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menghela napas pelan.
Mungkin hanya perasaan.
Atau mungkin….bukan.
Ia tidak melanjutkan pikiran itu.
Susi muncul dari arah lain. Membawa minuman.
“Lu nggak masuk?” tanyanya santai.
Hana menggeleng. “Nanti aja.”
Susi duduk di sampingnya.
“Gue tadi keliling lagi,” katanya. “Masih ada yang kayak kemarin itu.”
“Yang mana?”
“Ya….itu,” Susi mengangkat bahu. “Yang di meja kecil.”
Hana tidak langsung menoleh.
“Lu ambil lagi?” tanyanya pelan.
Susi tersenyum kecil. “Dikit.”
Tidak ada nada bersalah di suaranya.
Tidak juga ada rasa perlu menjelaskan.
Seolah-olah, itu memang tidak pernah menjadi masalah.
Hana akhirnya menoleh.
Susi masih memegang sesuatu di tangannya.
Kue kecil.
Bentuknya sama.
Jumlahnya….sulit dipastikan.
Hana tidak berkata apa-apa.
Hanya memperhatikan lebih lama dari yang diperlukan.
Di dalam ruangan, latihan berlanjut.
Gerakan demi gerakan disusun.
Formasi mulai dibentuk.
Beberapa penari lain sudah hadir. Mereka bergerak dengan ritme yang sama. Tidak ada yang menonjol. Tidak ada yang tertinggal.
Keselarasan itu terasa rapi.
Terlalu rapi.
Wiwin berdiri di salah satu posisi.
Ia tidak terlihat mencari tempatnya.
Ia hanya….sudah berada di sana.
Pelatih memperhatikan lebih lama dari sebelumnya.
“Ada yang aneh?” tanya salah satu penari.
Pelatih menggeleng pelan.
“Tidak,” katanya.
Ia tidak menjelaskan.
Mungkin karena tidak menemukan kata yang tepat.
Atau mungkin….tidak semua hal perlu dijelaskan di ruang seperti itu.
Sore bergeser perlahan.
Cahaya yang masuk melalui jendela mulai berubah arah.
Bayangan di lantai ikut berubah.
Seharusnya.
Wiwin berlatih sendiri.
Penari lain sudah keluar lebih dulu.
Pelatih juga sudah pergi.
Tidak ada instruksi tambahan.
Tidak ada yang menyuruhnya tinggal.
Tapi ia tetap di sana.
Gerakan diulang.
Pelan.
Teratur.
Satu per satu.
Seolah-olah ada sesuatu yang masih perlu diselesaikan.
Cahaya datang dari satu arah.
Bayangan jatuh ke sisi lain.
Seharusnya hanya satu.
Namun lantai tidak selalu menunjukkan jumlah yang sama.
Kadang terlihat utuh.
Kadang….tidak sepenuhnya.
Wiwin tidak menoleh.
Ia terus bergerak.
Seperti tidak menyadari apa pun yang berubah di bawah kakinya.
Langkah kaki terdengar di luar ruangan.
Tidak tergesa.
Tidak juga ragu.
Pria itu berhenti di ambang pintu.
Ia tidak masuk.
Hanya berdiri.
Melihat.
Wiwin tetap menari.
Tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Seolah-olah kehadiran itu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi.
Atau mungkin….sudah diperhitungkan sejak awal.
Pria itu tidak berbicara.
Tidak memberi isyarat.
Ia hanya berdiri cukup lama untuk memastikan sesuatu.
Lalu pergi.
Tanpa suara yang berarti.
Malam datang tanpa peringatan.
Langit di atas keraton gelap dengan cepat. Lampu-lampu dinyalakan satu per satu. Tidak terang, tapi cukup.
Koridor menjadi lebih sunyi.
Langkah kaki semakin jarang.
Di kamar yang disediakan, lima gadis itu berkumpul.
Tidak semua berbicara.
Winda terlihat lelah. Meymey beberapa kali menguap. Susi masih bercerita tentang hal-hal kecil yang ia temui.
Wiwin duduk di dekat jendela.
Tidak ikut dalam percakapan.
Tangannya terlipat di pangkuan.
Matanya tidak benar-benar melihat ke luar.
Hana memperhatikannya.
Lebih lama dari yang lain.
“Lo capek?” tanyanya pelan.
Wiwin menggeleng.
“Enggak,” jawabnya.
“Cuma….belum selesai.”
Hana tidak bertanya lebih lanjut.
Ia tahu kalimat itu tidak sepenuhnya ditujukan untuknya.
Malam semakin dalam.
Lampu dipadamkan sebagian.
Suara menjadi lebih sedikit.
Atau mungkin….lebih dipilih.
Hana terbangun.
Bukan karena mimpi.
Bukan juga karena suara keras.
Justru karena sesuatu yang terlalu pelan.
Ia duduk perlahan.
Mendengarkan.
Ada sesuatu di luar.
Bukan langkah.
Bukan angin.
Lebih seperti….gesekan ritmis.
Berulang.
Teratur.
Ia berdiri.
Membuka pintu sedikit.
Koridor kosong.
Lampu redup.
Suara itu masih ada.
Lebih jelas sekarang.
Dari arah ruang latihan.
Hana melangkah pelan.
Tidak memanggil siapa pun.
Tidak menyalakan lampu tambahan.
Ia hanya mengikuti.
Karena beberapa hal memang tidak bisa diabaikan setelah terdengar.
Pintu ruang latihan tidak tertutup rapat.
Celah kecil terbuka.
Cahaya dari dalam keluar tipis.
Hana berhenti di depan pintu.
Napasnya tetap teratur.
Tapi tidak lagi terasa ringan.
Ia melihat ke dalam.
Ruangan itu tidak kosong.
Wiwin berada di tengah.
Menari.
Gerakannya sama seperti siang tadi.
Tapi tidak terasa sama.
Lebih halus.
Lebih….tepat.
Seolah-olah tidak ada lagi ruang untuk kesalahan.
Hana tidak masuk.
Ia hanya berdiri di ambang.
Menghitung tanpa sadar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berhenti.
Tidak melanjutkan.
Karena jumlah itu tidak terasa tetap.
Wiwin tidak sendirian.
Setidaknya….tidak sepenuhnya.
Langkah lain terdengar di belakangnya.
Hana menoleh.
Pria itu berdiri di ujung koridor.
Tidak mendekat.
Tidak juga menjauh.
Hanya melihat ke arah yang sama.
Beberapa hal tidak berubah.
Hanya cara seseorang berdiri di dalamnya yang mulai bergeser.
Hana kembali melihat ke dalam ruangan.
Wiwin masih menari.
Sendiri.
Atau setidaknya….itu yang terlihat sekarang.
Ia mundur satu langkah.
Menutup pintu perlahan.
Suara di dalam meredup.
Hampir hilang.
Keesokan harinya, latihan dimulai lagi.
Semua penari sudah berkumpul.
Formasi dibentuk.
Delapan orang berdiri di posisi masing-masing.
Wiwin di tengah.
Hana berdiri di pintu.
Tidak masuk.
Tidak juga pergi.
Ia melihat.
Menghitung sekali.
Lalu berhenti.
Ia tidak mengulang.
Karena ia tahu….hasilnya tidak akan berubah.
Jumlahnya tetap.
Tapi tidak lagi terasa sama.
Beberapa hal memang tidak berubah.
Tapi itu tidak selalu berarti semuanya masih seperti sebelumnya.
Dan tidak semua yang hadir….datang untuk dilihat.
Bersambung ke Episode 3 – Malam Yang Menjadi Terlalu Tenang
*
*
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG
EPISODE 4 — YANG KEMBALI TANPA DIPANGGIL (THE END)
Author Profile
Categories
Related Posts
Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak berubah.Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan...
Read MoreDewaBukuJSW
DISCLAIMER:Catatan lapangan tahun 2025. Apabila ada kesamaan Nama, Waktu, Kejadian, dan Tempat, itu bukan hanya...
Read MoreDewaBukuJSW
Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula...
Read MoreDewaBukuJSW
Catatan ini disusun dari berbagai kesaksian tentang perjalanan kereta malam di Jawa Barat—tentang gerbong yang...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...
Read More