Skip to content

EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG

Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil

Keraton tidak berubah.
Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan tanpa gangguan.

Tidak ada yang tercatat berbeda.

Namun beberapa hal….mulai tidak lagi terasa sama.


Latihan berlangsung lebih sering.

Bukan lebih lama.
Bukan juga lebih berat.

Hanya lebih padat.

Ruangan yang sama digunakan kembali. Lantai kayu tetap dingin. Instrumen gamelan masih tersusun rapi di sisi dinding. Sebagian dimainkan. Sebagian tetap diam.

Suara yang keluar terdengar utuh.

Namun tidak selalu terasa berasal dari tempat yang sama.


Wiwin berdiri di tengah formasi.

Gerakannya tidak berubah.
Masih lambat.
Masih terukur.

Namun tidak lagi terlihat seperti hasil latihan.

Tidak ada jeda untuk berpikir.
Tidak ada ruang untuk ragu.

Setiap gerakan muncul….seolah sudah menunggu giliran.

Pelatih berdiri di sisi ruangan.

Ia tidak banyak memberi arahan.

Sesekali hanya mengangguk.
Sesekali memperbaiki posisi tangan.

Lebih sering….diam.

Seolah-olah yang ia lihat sudah tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.


“Coba ulang dari awal,” katanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Tidak perlu.

Sembilan posisi terbentuk.

Atau setidaknya….itu yang terlihat.


Hana berdiri di dekat pintu.

Ia tidak masuk.

Tidak ada yang menyuruhnya keluar.
Tapi juga tidak ada yang benar-benar mengajaknya masuk.

Ia sudah terbiasa dengan posisi itu.

Di ambang.

Tidak sepenuhnya di dalam.
Tidak juga benar-benar di luar.

Dari sana, ia bisa melihat semua.

Atau hampir semua.


Gerakan dimulai lagi.

Satu per satu.

Seragam.
Selaras.

Tidak ada yang terlambat.
Tidak ada yang terlalu cepat.

Namun ada satu bagian yang tidak bisa ia pastikan.

Di sisi kiri formasi, ada ruang yang seharusnya kosong.

Tapi tidak terasa kosong.

Hana mengerjapkan mata sekali.

Ruang itu tetap di sana.

Tidak terisi.

Namun tidak juga terasa kosong.

Ia tidak mengalihkan pandangan.

Karena beberapa hal….akan hilang justru saat tidak diperhatikan.


“Lu nggak ngerasa ada yang beda?” suara Susi muncul pelan di belakangnya.

Hana tidak langsung menoleh.

“Dari tadi?” tanya Susi lagi.

Hana mengangguk kecil.

“Iya.”

Susi mengintip ke dalam ruangan.

Beberapa detik.

Lalu mengangkat bahu.

“Biasa aja.”

Tidak ada nada meremehkan.
Hanya tidak melihat hal yang sama.


Susi melangkah sedikit mendekat.

Tangannya memegang sesuatu.

Hana melirik.

Bukan dari ruangan ini.

Bukan dari tempat yang seharusnya ia ambil.

“Lu ambil lagi?” tanya Hana pelan.

Susi tersenyum kecil.

“Kebiasaan.”

Hana menahan napas sebentar.

“Jangan diambil lagi.”

“Kenapa?”

“Nggak semua yang diletakkan itu buat kita.”

Susi menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Kalau bukan buat kita….kenapa ditinggal?”

Ia menggigit sedikit lagi.

Tidak terburu.

Tidak juga disembunyikan.

Seolah-olah, sejak awal, itu memang bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu jauh.


Suara gamelan berhenti.

Atau mungkin….hanya berhenti terdengar.

Tidak ada yang benar-benar memperhatikan kapan tepatnya suara itu hilang.

Gerakan tetap berjalan.

Tanpa iringan.

Tanpa penanda.

Namun tidak ada yang salah.

Tidak ada yang keluar dari ritme.

Seolah-olah….mereka tidak membutuhkan suara untuk tahu kapan harus bergerak.


Hana menelan pelan.

Ia tahu sesuatu berubah.

Tapi tidak tahu bagian mana yang harus disebut lebih dulu.


Langkah kaki terdengar di ujung koridor.

Pelan.

Teratur.

Pria itu kembali berdiri di sana.

Tidak mendekat.

Tidak masuk.

Namun posisinya cukup untuk melihat ke dalam ruangan.

Atau mungkin….tidak perlu terlalu dekat untuk itu.

Hana menoleh sebentar.

Mereka sempat saling melihat.

Tidak lama.

Tidak ada isyarat.

Tidak ada pertanyaan.

Namun ada sesuatu yang terasa disepakati.

Tanpa perlu diucapkan.


Latihan berhenti.

Bukan karena selesai.

Tapi karena tidak dilanjutkan.

Para penari berdiri diam.

Beberapa menarik napas lebih dalam.

Beberapa tidak.

Wiwin tidak bergerak.

Masih di posisinya.

Matanya tidak mencari siapa pun.

Tangannya tidak turun.

Seolah-olah….ia masih menunggu sesuatu yang belum selesai.


“Cukup,” kata pelatih.

Nada suaranya tetap datar.

Namun terdengar sedikit lebih cepat dari biasanya.

Seolah-olah ingin mengakhiri sebelum sesuatu lain sempat terjadi.


Penari lain mulai keluar.

Langkah mereka teratur.

Tidak ada yang terburu.

Tidak ada yang tertinggal.

Atau setidaknya….tidak ada yang terlihat tertinggal.


Wiwin keluar paling akhir.

Ia melewati Hana tanpa menoleh.

Tidak seperti sebelumnya.

Biasanya ia akan berhenti.
Atau setidaknya menyadari keberadaan orang lain.

Sekarang tidak.

Langkahnya lurus.

Tenang.

Terlalu tenang.


Hana mengikuti beberapa langkah di belakang.

“Wiwin,” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia mempercepat langkah sedikit.

“Wiwin.”

Perempuan itu berhenti.

Perlahan.

Namun tidak langsung menoleh.

Sejenak.

Lalu ia menoleh.

Tatapannya tidak kosong.

Tidak juga penuh.

Lebih seperti….tidak sepenuhnya berada di tempat itu.

“Kenapa?” tanyanya.

Suaranya normal.

Namun terasa….sedikit terlambat.

Hana menatapnya.

Lebih lama dari yang seharusnya.

“Lo tadi….denger musiknya?”

Wiwin menggeleng pelan.

“Musik?”

Hana tidak menjawab.

Ia tahu pertanyaan itu tidak akan membawa ke mana-mana.


Sore bergeser.

Cahaya mulai turun.

Koridor menjadi lebih panjang dalam bayangan.

Beberapa pintu ditutup.

Beberapa tetap terbuka.

Seperti biasa.

Namun tidak semua ruang terasa sama.


Susi duduk di tangga kecil dekat halaman.

Makan.

Tidak terburu.

Tidak juga disembunyikan.

Winda dan Meymey lewat.

Tidak terlalu memperhatikan.

Seolah-olah itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu ditanggapi lagi.


“Lu pernah kepikiran nggak…” suara Hana pelan dari sampingnya.

Susi menoleh sedikit.

“Apa?”

“…kalau itu diambil balik?”

Susi tidak langsung menjawab.

Ia menggigit sedikit lagi.

Mengunyah pelan.

Lalu mengangkat bahu.

“Ya diambil lagi aja.”

Tidak ada nada takut.

Tidak ada keraguan.

Hanya jawaban yang terlalu ringan untuk tempat seperti itu.


Malam datang.

Lebih cepat dari biasanya.

Atau mungkin….terasa begitu.

Lampu menyala satu per satu.

Gamelan terdengar lagi.

Dari arah yang berbeda.

Atau mungkin….dari tempat yang sama dengan cara yang berbeda.


Hana terbangun.

Sekali lagi.

Bukan karena suara keras.

Justru karena sesuatu yang terlalu rapi.

Ia duduk perlahan.

Mendengarkan.

Nada yang sama.

Irama yang sama.

Namun tidak terasa seperti latihan.

Lebih seperti….pengulangan tanpa awal.


Ia keluar kamar.

Koridor kosong.

Lampu redup.

Suara itu mengarah ke ruang latihan.

Lagi.


Pintu terbuka.

Sedikit.

Cahaya keluar.

Tipis.

Hana berdiri di depan.

Tidak langsung masuk.

Ia melihat dari celah.

Ruangan itu….tidak kosong.

Ada gerakan.

Pelan.

Teratur.

Namun tidak semuanya bisa terlihat jelas.

Posisi terbentuk.

Lingkaran.

Atau sesuatu yang menyerupainya.

Ia mencoba menghitung.

Sekali.

Dua kali.

Tidak selesai.

Karena jumlah itu tidak mau tetap.


Ada satu posisi yang jelas.

Terisi.

Namun tidak oleh siapa pun yang bisa ia kenali.

Bukan bayangan.

Bukan cahaya.

Lebih seperti….kehadiran tanpa bentuk.

Namun tetap mengambil tempat.


Hana mundur satu langkah.

Napasnya tetap teratur.

Tapi tidak lagi ringan.

Ia tahu.

Ia tidak perlu melihat lebih dekat.


Langkah kaki terdengar di belakang.

Pria itu.

Sudah berdiri di sana.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Namun tetap tidak masuk.


“Mas lihat itu?” tanya Hana pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

“Yang datang….tidak selalu yang diundang,” katanya akhirnya.

Tidak lebih.

Tidak menjelaskan.

Tidak menguatkan.

Hanya menyatakan.


Hana tidak bertanya lagi.

Karena ia tahu….jawaban tidak akan datang dalam bentuk yang bisa ia gunakan.


Di dalam ruangan, gerakan tetap berjalan.

Tanpa henti.

Tanpa awal yang jelas.

Tanpa akhir yang pasti.


Pria itu tidak melangkah maju.

Tidak membuka pintu lebih lebar.

Ia tetap di luar.

Namun tidak perlu masuk untuk tahu apa yang sedang terjadi.

Beberapa hal memang tidak pernah benar-benar tersembunyi.

Hanya….tidak semua orang berdiri di tempat yang sama untuk melihatnya.


Suara gamelan berhenti.

Atau mungkin….hanya berhenti terdengar.

Cahaya di dalam meredup.

Atau mungkin….mata yang mulai menyesuaikan.


Hana menutup pintu perlahan.

Tidak ada suara dari dalam.

Tidak ada gerakan yang tersisa.


Koridor kembali sunyi.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Namun sejak malam itu, satu hal menjadi lebih jelas.

Tidak semua yang hadir di dalam formasi….adalah bagian dari latihan.

Dan tidak semua yang masuk….tahu kapan harus berhenti.

*

Bersambung ke Episode 4 – Yang Kembali Tanpa Dipanggil (THE END)

*

*

PROLOG
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG
EPISODE 4 — YANG KEMBALI TANPA DIPANGGIL (THE END)

*

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
The Last Tribe of Morowai

Langit sore di atas Kabupaten Sarmi, Papua, tampak berwarna oranye pucat. Hujan baru saja reda,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
PENUNGGU SUNGAI YANG-TSE-KIANG

Kabut pagi bergerak pelan di atas permukaan Sungai Yang-Tse. Dari kejauhan, air tampak seperti hamparan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Keraton tidak berubah.Pagi tetap datang dengan cara yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pintu Alam Ghaib Dibalik Air Terjun Grojogan Sewu

Tahun kejadian: 2020Sumber cerita: pengalaman pribadi penulisLokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Beberapa catatan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 4 - Penumpang Terakhir (The End)

SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!