
Setiap minggu ketiga, malam hari, tepat setelah jam sebelas, Rio selalu membuka kulkas.
Bukan sekali.
Bisa lima kali.
Kadang tujuh.
Pernah sebelas.
Tidak ada yang berubah di dalamnya.
Tetap:
- telur
- sambal botolan
- air dingin
- setengah jeruk nipis yang sudah menyerah terhadap kehidupan
- dan satu kotak tahu yang entah sejak kapan berada di sana
Tapi Rio tetap membuka kulkas seperti ada kemungkinan besar takdir sedang menunggunya di rak paling bawah.
Ia tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil dekat rel kereta.
Rumahnya tenang.
Terlalu tenang.
Kadang satu-satunya suara cuma:
- kipas angin
- motor lewat
- dan bunyi “duk” pintu kulkas yang ditutup pelan
Malam itu, seperti biasa, Rio berjalan ke dapur.
Membuka kulkas.
Cahaya putih menyinari wajahnya yang lelah.
“Seharian aku bekerja… Kapan saat itu datang?” ia bergumam pelan.
Ia menatap isi kulkas selama beberapa detik.
Hanya telur dan sambal yang bisa diandalkan.
Tak ada roti. Tak ada biskuit. Tak ada susu.
Ia memasukkan kepalanya di freezer sebentar.
Diam. Hanya diam.
Mengeluarkan kepalanya dari freezer.
Lalu menutupnya lagi.
Duk.
Lima menit kemudian, ia kembali.
Buka lagi.
Tatap lagi.
Tutup lagi.
Duk.
Tetangga sebelah mulai curiga.
Pak Hendra, pria pensiunan yang insomnia, akhirnya bertanya suatu malam saat bertemu Rio di depan rumah.
“Kamu lapar terus ya?”
Rio berpikir sebentar.
“…Tidak juga.”
“Terus kenapa kulkasnya dibuka terus?”
Rio mengangkat bahu kecil.
“Kadang saya berharap ada suasana baru di dalam.”
Pak Hendra diam.
“Itu kulkas, Rio.”
“Iya.”
“Bukan portal kehidupan.”
Rio mengangguk pelan.
“Iya juga sih.”
Namun malam berikutnya ia tetap membuka kulkas lagi.
Duk.
Ya ampun, tinggal tiga butir telur.
Sebenarnya Rio sendiri tahu kebiasaannya aneh.
Tapi ada sesuatu tentang kulkas di malam hari yang terasa menenangkan.
Cahaya putihnya.
Udara dinginnya.
Kesunyian kecil saat pintunya terbuka.
Rasanya seperti dunia berhenti ribut beberapa detik.
Kadang itu cukup untuk melupakan harapannya di akhir bulan.
Suatu malam, temannya datang berkunjung.
Dimas. Rekan kerjanya di perusahaan yang sama.
Bisa dibilang bahwa Dimas adalah seorang… teman lama.
Teman lama yang terlalu aktif berbicara bahkan saat tidak diperlukan.
Mereka terbiasa ngobrol di dapur. Dekat jendela.
Mereka duduk sambil minum teh sachet.
Kebetulan tinggal dua sachet. Gula pasir tinggal dua sendok makan.
Ngobrol sebentar.
Tentang Kehidupan. Tentang pekerjaan. Tentang akhir bulan.
Lalu Rio berdiri.
Membuka kulkas.
Dimas memperhatikan.
“Lapar?”
“Tidak.”
Rio menutup kulkas lagi.
Lima menit kemudian, buka lagi.
Dimas mulai terganggu.
“Serius nanya…” katanya.
“Kamu cari apa sih sebenarnya?”
Rio menatap isi kulkas sebentar.
Lalu menjawab dengan tenang:
“…Saya juga belum tahu.”
Sunyi kecil muncul.
Dimas ikut melihat isi kulkas.
“Tidak ada apa-apa di situ.”
“Iya.”
“Terus?”
Rio bersandar pelan.
“Kadang saya cuma berharap hidup terasa beda setelah kulkas dibuka.”
Dimas tertawa kecil.
Awalnya.
Lalu perlahan berhenti.
Karena anehnya…
kalimat itu terdengar terlalu jujur untuk ditertawakan.
Dimas melirik kearah Rio.
“Bro…”
“Ada apa, Bro?”
“Punya duit?”
“Enggak.”
Dimas menghela napas panjang sambil menatap keluar jendela.
Di luar, kereta malam lewat pelan.
Getarannya kecil.
Lampu dapur terasa hangat.
Rio menutup kulkas lagi.
Duk.
“Capek ya?” tanya Dimas pelan.
Rio tidak langsung menjawab.
Ia melihat kulkas putih di depannya seperti sedang mencoba memahami dirinya sendiri.
“…Kayaknya.”
Mereka diam cukup lama.
Lalu Dimas berdiri dan berjalan ke dapur.
Membuka kulkas.
Melihat isinya.
Menutup lagi.
Duk.
Rio menatapnya heran.
“Kenapa?”
Dimas duduk kembali.
“…Tidak tahu,” jawabnya pelan.
“Kayaknya saya ngerti sekarang.”
Malam itu mereka tidak banyak bicara lagi.
Kadang cuma duduk.
Kadang mendengar kereta lewat.
Kadang membuka kulkas bergantian seperti dua orang bodoh yang sedang mencari jawaban dari cahaya putih kecil di tengah malam.
Dan anehnya…
malam terasa sedikit lebih ringan setelah itu.
*
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Apartemen "Melati Indah" sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk menyimpan...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu...
Read MoreDewaBukuJSW
Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kopinya biasa.Musiknya terlalu pelan.Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang...
Read MoreDewaBukuJSW
Pak Maman sudah memperbaiki televisi selama tiga puluh dua tahun. Ia pernah memperbaiki TV tabung...
Read MoreDewaBukuJSW
Payung di Dalam Rumah Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Joko mulai membawa payung...
Read More