Skip to content

Arsip itu Selalu Basah

Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara.

Cat dindingnya mulai mengelupas sejak lama. Pilar-pilar besarnya masih mempertahankan bentuk kolonial lama yang terlalu berat untuk zaman sekarang. Jendelanya tinggi. Kacanya buram. Dan setiap sore, aroma laut dari arah Ancol selalu masuk pelan melalui celah ventilasi yang tidak pernah benar-benar tertutup.

Orang-orang di kantor itu terbiasa dengan kelembapan.

Map lembab.

Kayu lapuk.

Besi berkarat.

Tidak ada yang terasa aneh di kawasan dekat laut.

Namun ada satu hal yang tetap sulit dijelaskan bahkan oleh pegawai paling lama sekalipun.

Arsip di lemari lantai tiga itu… selalu basah.


Gedung tersebut sekarang digunakan sebagai kantor administrasi pemerintahan.

Bukan kantor penting.

Lebih seperti tempat penyimpanan dokumen lama:
akta tanah, arsip pelabuhan, laporan kolonial yang bahkan sebagian pegawai muda tidak lagi memahami isinya.

Lantai satu masih aktif.

Lantai dua setengah kosong.

Dan lantai tiga lebih sering dipakai untuk menyimpan berkas yang sudah terlalu lama disentuh.


Bima Aryasatya mulai bekerja di sana awal 2025.

Usianya dua puluh delapan tahun.

Tubuh kurus, berkacamata, dan terlalu sering membawa kopi sachet ke mana-mana.

Ia pegawai kontrak bagian digitalisasi arsip.

Kerjanya sederhana:
membuka map lama, memindai dokumen, lalu menyimpannya kembali sebelum rayap atau jamur lebih dulu memakan usia kertasnya.

Bima menyukai pekerjaan sunyi.

Ia tidak suka ruang kantor modern yang terlalu terang dan terlalu banyak bicara.

Baginya, arsip punya kebiasaan sendiri.

Kertas tua mengeluarkan suara berbeda saat dibuka.

Tinta lama memiliki aroma yang berbeda tergantung tahun.

Dan gedung tua… biasanya menyimpan ritmenya sendiri.


Hari pertama di lantai tiga berjalan biasa.

Debu tebal.

Lemari kayu tinggi.

Suara kipas angin tua yang berputar lambat seperti orang mengantuk.

Beberapa map bahkan mulai menempel satu sama lain karena lembab.

Namun sekitar pukul empat sore, saat matahari mulai turun dan cahaya jendela berubah pucat, Bima menemukan satu map berwarna kuning kusam di sudut lemari coklat tua.

Map itu berbeda dari yang lain.

Basah.


Bukan lembab biasa.

Benar-benar basah.

Airnya merembes sampai ke rak kayu.

Saat disentuh, permukaan map terasa dingin seperti baru diangkat dari dekat pantai malam hari.


Bima otomatis melihat ke atas.

Plafon kering.

Tidak ada bocor.

Jendela juga tertutup.

Namun aroma asin air laut terasa jelas.


Tulisan di bagian depan map sudah mulai memudar.

Namun huruf Belandanya masih terbaca samar:

“Bestand met Rustplaatsgegevens”


Bima membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar daftar nama.

Nama Indonesia.

Sebagian Jawa.

Sebagian Betawi.

Dan di samping tiap nama terdapat tulisan kecil:

“Verdwenen”
— hilang.

Tahun: 1943.

Jumlah nama: 12 orang.


Tidak ada foto.

Tidak ada penjelasan lengkap.

Hanya daftar nama dan beberapa lembar laporan proyek bangunan pesisir.


Bima mengira map itu terkena rembesan lama.

Ia mengelap meja lalu memindahkan map tersebut ke rak lain.

Namun saat pulang sore itu, aroma air laut masih tertinggal di tangannya.


Besok paginya map itu kembali berada di lemari awal.

Basah.

Persis seperti sebelumnya.


Bima mengira ia salah menaruh.

Ia memeriksa lagi.

Rak tempat ia pindahkan kemarin kosong.

Dan map kuning itu sudah kembali di sudut lemari coklat tua.

Air asin masih menetes pelan dari ujung bawah map.


“Pak, ada yang mindahin arsip semalam?”

Ia bertanya pada Pak Harun, pegawai senior yang sudah bekerja sejak tahun 90-an.

Pak Harun hanya melirik sebentar.

“Oh… itu.”

Jawabannya terlalu datar.

Seolah membahas kipas rusak.


“Itu kenapa basah terus, Pak?”

Pak Harun tidak langsung menjawab.

Ia sibuk membuka termos tehnya lebih dulu.

Lalu berkata pelan:

“Kadang arsip lama memang susah dibuang.”


Bima tertawa kecil.

“Maksudnya?”

“Ya… balik lagi nanti.”


Tidak ada penjelasan setelah itu.

Dan mungkin justru karena itulah suasananya terasa lebih berat.


Beberapa hari berikutnya, rasa penasaran Bima mulai tumbuh menjadi kebiasaan memperhatikan.

Map itu selalu kembali.

Kadang setelah dipindah.

Kadang setelah dibuang.

Bahkan suatu sore ia sengaja memasukkan map tersebut ke kardus pemusnahan dokumen di lantai bawah.

Tiga hari kemudian, map itu kembali ke lemari lantai tiga.

Utuh.

Basah.

Dingin.


Aroma lautnya mulai terasa semakin jelas.

Bukan aroma pantai siang hari.

Lebih seperti bau ombak malam:
dingin, asin, dan sedikit busuk.


Pegawai lain tampaknya sudah terbiasa.

Office boy hanya mengelap air di bawah lemari tanpa bertanya.

Petugas kebersihan menghindari rak itu saat malam.

Dan satpam lantai tiga selalu mematikan rokoknya sebelum melewati lorong arsip.


Suatu malam Bima lembur sendirian.

Hujan turun sejak maghrib.

Jakarta Utara terasa lebih sunyi dari biasanya.

Dari jendela lantai tiga, cahaya pelabuhan terlihat kecil di kejauhan.

Jam menunjukkan pukul 22:43 ketika listrik sempat berkedip sebentar.

Kipas tua berhenti.

Ruangan mendadak diam.


Dan dalam diam itu…

Bima mendengar sesuatu.


Suara air.


Bukan tetesan.

Lebih seperti seseorang berjalan pelan di genangan dangkal.


cek… cek… cek…


Suara itu datang dari lorong rak paling ujung.

Lorong tempat lemari coklat tua berada.


Bima berdiri perlahan.

Lampu darurat menyala redup kemerahan.

Rak-rak arsip membentuk bayangan panjang seperti lorong sempit kapal tua.

Suara air itu masih terdengar.

Pelan.

Tidak tergesa.


Saat mendekat, aroma laut menjadi jauh lebih kuat.

Dan untuk pertama kalinya, Bima melihat lantai lorong itu basah.

Air asin tipis mengalir dari bawah lemari coklat tua.


Map kuning itu sedikit terbuka.

Beberapa lembar kertas di dalamnya tampak bergerak pelan tertiup angin entah dari mana.


Bima berjongkok.

Tangannya menyentuh salah satu halaman.

Dingin.


Lalu ia menyadari sesuatu.

Jumlah nama di daftar itu berubah.


Bukan dua belas.

Sekarang tiga belas.


Ada satu nama tambahan di paling bawah.

Tintanya masih tampak baru.


“Mandor Proyek — ditemukan.”


Bima menahan napas.

Dadanya mulai terasa tidak nyaman.

Namun bukan karena takut.

Lebih karena ada sesuatu yang terasa terlalu lama menunggu untuk dibaca.


Besok paginya ia mencari sejarah bangunan itu.

Tidak mudah.

Sebagian arsip proyek kolonial hilang.

Sebagian lagi rusak dimakan usia.

Namun sedikit demi sedikit, cerita lama mulai muncul.


Tahun 1943 memang pernah ada proyek pembangunan rumah peristirahatan dekat pesisir Ancol.

Mandornya seorang pribumi yang bekerja untuk beberapa mantan pejabat VOC yang masih tinggal di Hindia Belanda.

Dan selama pembangunan berlangsung…

dua belas pekerja dinyatakan hilang.


Laporan resminya sederhana:
kabur dari proyek.

Namun jumlah kehilangan yang terlalu banyak membuat beberapa pekerja lain memilih berhenti diam-diam.


Bangunan akhirnya selesai tahun 1951.

Mandor proyek ikut hadir saat serah terima.

Namun dua minggu kemudian…

ia ditemukan meninggal dekat pesisir.

Tubuhnya mengambang menghadap laut.


Tidak ada luka.

Tidak ada saksi.

Hanya kantong bajunya yang berisi secarik daftar nama.


Malam berikutnya, Bima kembali ke lantai tiga.

Entah karena penasaran.

Entah karena arsip itu terasa seperti belum selesai dibuka.

Hujan sudah berhenti.

Namun aroma laut malam terasa jauh lebih kuat dibanding biasanya.


Map kuning itu masih berada di tempatnya.

Basah.

Tenang.

Seperti selalu menunggu seseorang membaca ulang isinya.


Bima membuka halaman terakhir perlahan.

Dan di bagian paling bawah, di bawah daftar tiga belas nama itu, terdapat tulisan kecil yang sebelumnya tidak ada.

Tulisan tangan tua.

Tintanya hampir luntur terkena air asin.


“Fondasi tidak pernah benar-benar diam.”


Lampu lorong berkedip sekali.

Lalu mati.


Dalam gelap, Bima mendengar suara pelan dari bawah lantai kayu tua itu.

Bukan ketukan.

Bukan suara pipa.

Lebih seperti…

beberapa orang sedang berjalan lambat di genangan air laut yang sangat dangkal.


cek… cek… cek…


Dan anehnya, suara itu terdengar seperti datang dari jauh di bawah gedung.

Seolah ombak tua masih bergerak pelan di bawah pondasi bangunan kolonial yang terlalu lama berdiri.


Besok paginya kantor tetap buka seperti biasa.

Pegawai tetap bekerja.

Mesin fotokopi tetap menyala.

Orang-orang tetap mengeluh soal lembur dan berkas.

Tidak ada yang berubah.


Kecuali satu hal kecil.

Sejak malam itu, setiap kali hujan turun di Jakarta Utara…

air asin selalu muncul sedikit di bawah lemari coklat lantai tiga.

Dan map kuning itu…

tidak pernah benar-benar kering lagi.

*

Author Profile

jatigift

Categories

Related Posts

image
Penumpang Terakhir di Kereta Malam

Kesaksian ini disampaikan oleh seorang saksi mata yang tidak ingin namanya dicatat. Aku menuliskannya sebagaimana...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Prolog Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Pada suatu ketika di tahun 2024 akan diselenggarakan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto

Kamar Kos Yang Selalu Kosong Saat Difoto Di daerah Ngoresan, Surakarta, ada sebuah rumah kos...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
ONGGO-INGGI

Malam di Surakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya berpura-pura diam. Angin dari arah Bengawan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!