
SERIAL: “PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP”
Terminal Tirtonadi tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan setelah tengah malam lewat dan sebagian kios mulai menutup rolling door mereka satu per satu, tempat itu masih menyisakan suara-suara kecil yang bertahan sampai dini hari.
Suara mesin bus yang idle terlalu lama.
Suara sendok mengenai gelas teh.
Suara sandal petugas kebersihan yang menyeret lantai basah.
Dan suara orang-orang lelah yang mencoba tetap sadar demi sampai ke kota berikutnya.
Lampu terminal memantulkan warna kekuningan di aspal yang lembap oleh hujan sore tadi. Bau solar bercampur asap rokok menggantung rendah di udara seperti kain tua yang tidak pernah dicuci bersih.
Junaedi berdiri di dekat pintu bus sambil memegang buku catatan kecilnya.
Tangannya kasar.
Jemarinyanya penuh bekas tinta dan minyak.
Ia menghitung penumpang seperti biasa.
Satu per satu.
Tidak pernah terburu-buru.
Tidak pernah salah.
“Dua puluh tiga…”
Pulpen merahnya bergerak pendek.
“Dua puluh empat…”
Ia mengangkat kepala sebentar.
Seorang lelaki muda baru saja naik sambil membawa tas ransel besar dan bau hujan yang masih menempel di jaketnya.
Jun menunggu sampai orang itu duduk.
Baru ia menulis lagi.
“Dua puluh lima.”
Pak Harjo duduk di kursi sopir sambil melinting tembakau.
Perutnya bergerak kecil setiap tertawa melihat pengamen jalanan yang sedang menyanyikan lagu lama Rhoma Irama di luar terminal.
“Kamu itu kalau ngitung kayak auditor negara,” katanya sambil tertawa.
Jun tidak ikut tertawa.
Ia tetap memeriksa tiket.
“Kalau salah satu aja bisa repot nanti.”
“Ah…”
Pak Harjo menyalakan lintingannya.
“Yang penting bus jalan, penumpang sampai.”
Jun menutup buku catatannya perlahan.
“Yang nggak sampai juga ada.”
Pak Harjo menoleh sebentar.
Namun Jun sudah berjalan ke belakang kabin.
Bus AKAP jurusan Solo–Surabaya itu sudah tua.
Cat birunya mulai kusam di beberapa bagian.
Karet jendela banyak yang longgar.
Dan lampu kabin sering redup sebelah jika hujan turun.
Namun mesin bus itu masih kuat.
Setidaknya begitu kata Pak Harjo.
Dan di dunia pekerja malam…
“masih kuat” sering kali lebih penting daripada “masih bagus”.
Penumpang malam memiliki wajah yang berbeda dibanding penumpang siang.
Mereka lebih diam.
Lebih jarang bicara.
Sebagian langsung tidur bahkan sebelum bus keluar terminal.
Sebagian lagi hanya memandangi kaca jendela dengan mata kosong seperti sedang meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibawa pergi.
Jun sudah terlalu lama hidup di antara wajah-wajah seperti itu.
Ia hafal jenis penumpang dari cara mereka naik.
Orang yang baru patah hati.
Orang yang pulang melayat.
Orang yang sedang buru-buru mencari kerja.
Atau orang yang hanya ingin pergi sejauh mungkin tanpa alasan jelas.
Semua bisa terlihat dari langkah kaki.
Pukul sebelas lebih dua puluh menit malam, hujan turun lagi.
Tidak deras.
Hanya cukup untuk membuat bau aspal naik perlahan.
Bus mulai keluar dari Terminal Tirtonadi dengan suara mesin berat yang memenuhi jalur keberangkatan.
Jun berdiri dekat pintu sambil memegang pegangan besi.
Lampu kota bergerak mundur di balik kaca.
Dan seperti biasanya…
perjalanan malam dimulai dengan kesunyian kecil.
Mereka melewati Kartasura saat sebagian besar penumpang mulai tertidur.
Lampu kabin diredupkan.
Suara dengkur mulai terdengar pelan dari beberapa kursi belakang.
Pak Harjo membuka sedikit jendela samping kursi sopir agar udara dingin masuk.
Sementara Jun duduk di kursi lipat dekat pintu tengah sambil menghitung ulang tiket.
Kebiasaan itu sudah ia lakukan bertahun-tahun.
Dan selama bertahun-tahun pula…
jumlahnya selalu cocok.
Dua puluh lima tiket.
Dua puluh lima penumpang.
Tidak pernah lebih.
Tidak pernah kurang.
Bus melaju masuk wilayah Sragen menjelang pukul satu malam.
Hujan mulai berhenti.
Kabut tipis turun di beberapa ruas jalan gelap.
Lampu jalan tampak samar seperti dilapisi kain basah.
Jun menguap kecil lalu mengusap kantung matanya.
Sudah hampir tiga malam ia sulit tidur.
Bukan karena kerjaan.
Tetapi karena sesuatu yang belakangan mulai terasa aneh.
Awalnya kecil.
Sangat kecil.
Seperti kesalahan hitung biasa.
Namun semakin malam…
semakin sulit diabaikan.
“Jun.”
Pak Harjo memanggil tanpa menoleh.
“Bikin kopi sana.”
Jun berdiri pelan.
Ia berjalan menuju termos kecil dekat dashboard.
Saat sedang menuang air panas…
suara ting kecil terdengar dari belakang kabin.
Seperti uang koin jatuh ke lantai bus.
Jun menoleh cepat.
Namun semua penumpang masih tidur.
“Kamu dengar?”
Pak Harjo mengernyit.
“Dengar apa?”
“Kayak koin jatuh.”
Pak Harjo tertawa kecil.
“Itu suara baut bus kita mungkin.”
Jun tidak menjawab.
Karena suara itu terdengar terlalu jelas untuk menjadi baut longgar.
Bus kembali melaju.
Dan untuk beberapa waktu…
semuanya tampak normal lagi.
Sampai mereka memasuki jalur panjang antara Ngawi dan perbatasan Jawa Timur menjelang pukul dua dini hari.
Jalan mulai sepi total.
Truk-truk besar hanya lewat sesekali.
Lampu SPBU tampak jauh di tengah gelap sawah.
Udara berubah lebih dingin.
Dan entah kenapa…
bau bangku basah mulai terasa dari arah belakang.
Jun berdiri perlahan.
Ia memeriksa satu per satu lorong kabin.
Lampu redup membuat wajah para penumpang tampak pucat.
Sebagian tertidur dengan kepala miring.
Sebagian memeluk tas.
Sebagian tetap terjaga sambil menatap jendela tanpa ekspresi.
Namun saat Jun sampai di baris paling belakang…
ia berhenti.
Kursi nomor dua puluh tujuh tampak lembap.
Seperti baru diduduki seseorang yang kehujanan.
Padahal kursi itu kosong sejak awal keberangkatan.
Jun menatapnya beberapa detik.
Lalu menyentuh permukaan kursi itu perlahan.
Dingin.
Dan basah.
“Pak…”
Suara pelan membuat Jun menoleh.
Bu Siti duduk di sisi jendela sambil memegang tas anyamannya.
Matanya yang tua memperhatikan Jun diam-diam.
“Kursinya kenapa?”
Jun menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa, Bu.”
Namun Bu Siti tidak langsung memalingkan wajah.
Tatapannya justru bergerak pelan ke kursi kosong itu.
Lama sekali.
Seolah sedang melihat seseorang.
Kemudian perempuan tua itu menarik selendangnya perlahan.
Dan berbisik sangat pelan:
“Belum turun rupanya…”
Jun tidak sempat bertanya.
Karena Bu Siti langsung memejamkan mata seperti orang yang terlalu lelah untuk melanjutkan percakapan.
Bus terus melaju.
Namun setelah itu…
Jun mulai merasa suasana kabin berubah.
Lebih dingin.
Lebih sunyi.
Bahkan suara mesin terasa jauh.
Dan lagi-lagi…
ting.
Suara koin jatuh.
Kali ini lebih dekat.
Jun langsung menoleh ke lorong.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun aroma bunga mulai tercium pelan di udara.
Harum sekali.
Lembut.
Tetapi asing.
Bukan melati.
Bukan mawar.
Bukan kenanga.
Aroma itu seperti datang dari tempat yang sangat jauh dan sangat lama.
Jun merasakan tengkuknya dingin.
Tangannya otomatis masuk ke saku kanan.
Menggenggam koin perak tua yang selalu ia bawa.
Kebiasaan itu sudah ada sejak kecil.
Dan entah kenapa…
ia selalu merasa lebih tenang saat menggenggam benda itu.
Pukul dua lewat tiga puluh.
Bus memasuki jalur gelap dekat hutan kecil yang sudah lama jarang dilewati kendaraan malam.
Pak Harjo menyalakan radio kecil dekat dashboard.
Namun suaranya hanya berisi desis panjang.
“Radionya kambuh lagi,” gerutunya.
Jun tidak menjawab.
Karena saat itu…
ia baru sadar sesuatu.
Jumlah penumpang.
Ia membuka buku catatannya cepat.
Pulpen merah bergerak pelan mengikuti hitungan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai dua puluh lima.
Namun saat matanya menyapu baris belakang…
ia membeku.
Ada seseorang duduk di kursi dua puluh tujuh.
Perempuan.
Tubuhnya kecil.
Rambutnya panjang.
Gaunnya pucat.
Dan bagian bawah pakaiannya tampak basah.
Jun menahan napas.
Ia yakin sekali…
kursi itu kosong tadi.
Sangat yakin.
Lampu kabin berkedip sekali.
Dan pada saat itulah…
suara koin jatuh terdengar lagi.
ting.
Perempuan itu tidak bergerak.
Tidak menoleh.
Tidak bicara.
Ia hanya duduk menghadap jendela gelap.
Diam sekali.
Jun berjalan mendekat perlahan.
Langkahnya terasa berat.
Lorong bus mendadak terasa lebih panjang dibanding biasanya.
“Mbak…”
Suaranya pelan.
Tidak ada jawaban.
“Maaf…”
Jun menelan ludah.
“Tiketnya?”
Perempuan itu perlahan mengangkat tangan.
Di jemarinya ada tiket kertas tua yang sudah sobek di tengah.
Basah.
Dan warnanya hampir pudar seluruhnya.
Jun menatap tiket itu lama.
Tulisan di atasnya nyaris hilang.
Namun ada satu hal yang membuat dadanya langsung dingin:
tanggal di tiket itu…
sudah sangat lama.
Terlalu lama.
Lampu kabin kembali berkedip.
Pak Harjo berteriak dari depan:
“Jun! Jalurnya kabut tebal!”
Jun menoleh sebentar.
Dan ketika ia melihat kembali ke kursi dua puluh tujuh…
perempuan itu sudah tidak ada.
Kursinya kosong lagi.
Basah.
Dan aroma bunga itu tertinggal tipis di udara.
Jun berdiri mematung beberapa detik.
Tangannya masih gemetar kecil.
Lalu perlahan ia membuka buku hitungannya lagi.
Dua puluh enam.
Ia menghitung ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tetap sama.
Dua puluh enam.
Padahal tiket hanya dua puluh lima.
Dari arah depan…
suara azan subuh yang sangat jauh mulai terdengar samar dari desa kecil yang mereka lewati.
Dan bersamaan dengan itu…
bau bunga perlahan menghilang.
Bus terus melaju menuju Surabaya.
Sementara langit timur mulai berubah pucat sedikit demi sedikit.
Namun sejak malam itu…
Jun mulai sadar satu hal:
ada seseorang di dalam bus mereka…
yang tidak pernah benar-benar tercatat sebagai penumpang.
Bersambung ke Episode 2 – Kursi Yang Tidak Pernah Kosong
*
Link Serial “Penumpang Terakhir Bus AKAP”
Episode 1 – Hitungan Yang Selalu Benar
Episode 2 – Kursi Yang Tidak Pernah Kosong
Episode 3 – Penumpang Yang Tidak Tercatat
Episode 4 – Penumpang Terakhir (The End)
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL: "PENUMPANG TERAKHIR BUS AKAP" Subuh selalu datang terlalu cepat bagi orang-orang yang bekerja di...
Read MoreDewaBukuJSW
DISCLAIMER:Catatan lapangan tahun 2025. Apabila ada kesamaan Nama, Waktu, Kejadian, dan Tempat, itu bukan hanya...
Read MoreDewaBukuJSW
Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Cat dindingnya mulai mengelupas...
Read MoreDewaBukuJSW
Kabut pagi bergerak pelan di atas permukaan Sungai Yang-Tse. Dari kejauhan, air tampak seperti hamparan...
Read MoreDewaBukuJSW
Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika tidak...
Read More