Langit Batavia sore itu berwarna oranye keemasan. Matahari seperti tersangkut di antara menara gereja tua dan deretan pepohonan trembesi di sepanjang jalan Rijswijk ~ yang kini dikenal sebagai Jalan Veteran. Udara lembab khas tropis bercampur aroma kapur barus dan minyak kayu putih, memenuhi udara di antara langkah-langkah para pegawai kolonial yang baru pulang kerja.
Di sebuah rumah kontrakan bergaya Indis di kawasan Weltevreden, seorang pemuda pribumi bernama Raden Wiryawan duduk di beranda rumahnya yang luas. Ia mengenakan baju koko putih bersih, sarung batik, dan peci hitam. Di depannya terbentang meja jati tua yang penuh dengan kertas-kertas berserakan, tinta hitam, dan secangkir teh melati hangat yang uapnya menari pelan.
Dari dalam rumah, terdengar suara ibunya yang sedang menumbuk arang dan daun sirih di lesung kecil dari batu.
“Yan, jangan lupa nanti ke rumah Pak De Sastro, ya. Gigi Ibumu ini udah sakit sekali. Nggak tahu kenapa, makin hari makin ngilu,” seru sang Ibu dari dapur.
Wiryawan bangkit, berjalan ke dalam, dan melihat ibunya yang duduk di lantai bambu sambil menahan nyeri. Gigi gerahamnya tampak hitam di bagian pangkal, mungkin karena sering mengunyah sirih dan kapur, kebiasaan yang turun-temurun di kampung.
“Bu, sudah kubilang jangan pakai serbuk bata lagi buat gosok gigi. Itu bukan buat mulut…” katanya lembut, tapi ibunya malah tertawa kecil sambil menepuk pelan pipinya.
“Heh, zaman Ibu dulu, semua orang juga pakai itu. Arang, kapur, serbuk bata merah ~ itu lebih mujarab daripada cairan-cairan aneh orang Belanda itu.”
Wiryawan hanya menghela napas. Ia memang anak muda yang berbeda dari kebanyakan orang di lingkungannya. Sejak bekerja di Laboratorium Kesehatan Pemerintah Kolonial, ia sering melihat produk-produk baru yang dibawa dari Eropa: sabun wangi, minyak rambut, bahkan semacam krim putih yang katanya bisa membersihkan gigi.
Dan krim itulah yang membuat pikirannya gelisah selama berhari-hari.
Keesokan paginya, langit Batavia mendung. Awan tebal menggantung seperti kain abu-abu basah. Di dalam laboratorium, bau alkohol dan bahan kimia memenuhi ruangan. Botol-botol kaca berisi cairan bening berjejer di atas meja logam yang dingin. Di pojok ruangan, seorang pria Belanda berkumis tebal bernama Tuan Hendrik Lingner, sedang menulis sesuatu di buku catatannya.
“Raden Wiryawan! Kom hier, jongen!” panggilnya dengan logat keras.
“Lihat ini, produk baru dari Dresden! Namanya Odol. Dari perusahaan Lingner sendiri, kau tahu? Ini bukan sekadar sabun gigi ~ ini revolusi kebersihan mulut!”
Wiryawan mendekat. Di meja, tampak sebuah tabung kecil dari timah berwarna putih kebiruan. Tulisan di bagian depannya: Odol Zahnpasta – Lingner Werke Dresden.
Ia membuka tutupnya perlahan, mencium aroma mint yang tajam dan segar ~ sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Baunya seperti daun mint di taman belakang rumahku,” katanya pelan.
“Ya, mint dan sedikit kalsium karbonat,” jawab Hendrik. “Ini yang membuat gigi putih, bersih, dan tidak bau. Tidak seperti arang atau kapur yang dipakai orang-orang di sini.”
Hendrik tertawa kecil. Wiryawan tidak ikut tertawa.
Ada rasa tidak enak di dadanya setiap kali orang Belanda bicara seperti itu tentang rakyatnya. Tapi di sisi lain, ia memang penasaran ~ bagaimana mungkin sebuah pasta bisa membersihkan gigi dengan lebih baik daripada bahan alami?
Sejak hari itu, ia mulai membawa pulang sedikit Odol dari laboratorium. Diam-diam, ia ingin mencobanya sendiri.
Malam hari di rumahnya, Wiryawan menyalakan lampu minyak. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kecil di dinding bambu. Dengan sebatang kayu kecil yang di ujungnya dililit kapas, ia mengoleskan sedikit pasta itu ke giginya.
Rasanya dingin, segar, sedikit pedas di lidah.
Ia menggosoknya pelan-pelan ~ dan ketika berkumur, ia terkejut. Giginya terasa licin, nafasnya segar seperti baru makan daun mint.
Ibunya yang lewat di belakang langsung menatap curiga.
“Heh, apa itu, Yan? Kau makan obat orang Belanda?”
“Bukan obat, Bu… ini buat gigi. Namanya Odol.”
“Odol? Lucu namanya. Tapi ya sudahlah, asal jangan bikin gigi Ibu copot.”
Keesokan paginya, ibunya malah ikut mencoba. Dan sore itu, ia tertawa lebar sambil berkata,
“Lho, Yan, mulut Ibu jadi nggak bau lagi ya? Seperti habis makan daun sirih segar!”
Itu pertama kalinya Wiryawan merasa menemukan sesuatu yang bisa mengubah kebiasaan orang banyak.
Beberapa bulan kemudian, kabar tentang odol mulai menyebar. Bukan dari surat kabar, tapi dari mulut ke mulut. Di pasar Tanah Abang, pedagang kain, tukang jamu, dan ibu-ibu yang menumbuk sirih mulai saling bercerita.
“Katanya ada krim gigi orang Belanda yang bisa bikin gigi putih kayak porselen!”
“Iya, namanya ‘Odol’. Temenku udah coba, baunya enak, rasanya segar!”
Wiryawan tersenyum mendengar obrolan itu ketika ia melintas di pasar. Ia sadar, sesuatu sedang berubah.
Bukan hanya cara orang mencuci mulut, tapi cara orang menilai kebersihan.
Kini, di meja rias rumah-rumah orang Batavia, mulai muncul tabung kecil itu. Di sampingnya, masih ada serbuk arang, daun sirih, dan kapur ~ seperti dua zaman yang sedang berdampingan.
Suatu pagi tahun 1938, Wiryawan membuka surat kabar Sipatahoenan berbahasa Sunda. Di sana, untuk pertama kalinya, ia melihat iklan besar bertuliskan:
“ODOOL – Membersihkan Gigi, Menyehatkan Mulut, Menyegarkan Nafas.”
Tersedia di toko-toko obat Hindia Belanda.
Ia tertegun.
Kata “Odol” kini sudah bukan sekadar merek ~ ia telah menjadi nama.
Dua puluh tahun berlalu. Batavia berubah nama menjadi Jakarta. Wiryawan yang kini sudah tua duduk di kursi goyang di teras rumahnya. Di depannya, cucunya ~ anak kecil berusia tujuh tahun ~ sedang menggosok gigi dengan pasta modern berwarna biru muda.
“Kakek, ini odol baru, lho! Rasanya mint!” katanya riang.
Wiryawan tertawa kecil.
“Odol lagi… padahal itu bukan merek Odol yang dulu, Nak. Tapi biarlah. Kadang, nama bisa lebih panjang umurnya daripada barangnya sendiri.”
Ia menatap langit sore Jakarta yang merah keunguan, merasakan semilir angin yang membawa aroma kenangan masa lalu ~ bau mint dari pasta gigi pertama yang ia cicipi puluhan tahun silam.
Kini, di setiap rumah Indonesia, kata “odol” sudah jadi bagian dari bahasa sehari-hari. Tak ada lagi yang tahu siapa Raden Wiryawan, atau siapa Tuan Hendrik yang pertama kali membawa tabung pasta itu ke Batavia.
Tapi setiap kali seseorang berkata,
“Tolong ambilin odol di kamar mandi!”
tanpa sadar, mereka sedang mengulang kisah sejarah yang dimulai dari sebuah rumah kecil di Weltevreden, sore yang berangin, dan seorang pemuda yang penasaran dengan dunia di luar kebiasaan.
Malam turun pelan di Jakarta. Di televisi, iklan-iklan pasta gigi berseliweran, menampilkan senyum putih berkilau dan slogan-slogan modern. Tapi bagi sebagian orang tua, kata “odol” tetap punya rasa nostalgia tersendiri ~ seperti aroma mint yang membawa kenangan tentang masa kolonial, ketika kebersihan bukan sekadar soal gigi, tapi tentang cara hidup yang sedang berubah.
Dan di antara semua perubahan itu, satu hal tetap abadi: setiap kali seseorang menatap cermin dan mulai menggosok giginya, ia sebenarnya sedang menyambung benang sejarah yang dimulai lebih dari seabad yang lalu.
Sebuah kisah sederhana, tentang kebersihan, perubahan, dan bagaimana satu kata bisa menjadi bagian dari identitas bangsa.
The End
Author Profile
Categories
Related Posts
Montgomery, Alabama — 1 Desember 1955 Senja turun perlahan di atas kota Montgomery.Langit kelabu menggantung...
Read MoreDewaBukuJSW
Tahun 1711, London dingin seperti biasa. Kabut menyelimuti jalan-jalan berbatu, sementara cahaya redup lampu minyak...
Read MoreDewaBukuJSW
Matahari baru saja naik di kota London yang diselimuti kabut tipis. Di sebuah ruang kerja...
Read MoreDewaBukuJSW
London, 1705. Angin musim dingin meniupkan udara menusuk tulang ke lorong-lorong berlapis batu di sekitar...
Read MoreDewaBukuJSW
Angin dari Laut Mediterania berembus lembut sore itu. Langit di atas Alexandria berwarna jingga keemasan,...
Read More