Skip to content

Penjaga Terakhir Terowongan Casablanca

Terowongan Casablanca bukan tempat yang asing bagi warga Jakarta. Ia bukan bangunan bersejarah, bukan pula destinasi wisata. Namun setiap malam, terutama lewat pukul sebelas, terowongan ini berubah menjadi ruang transisi — bukan hanya dari Kuningan ke Tebet, tapi dari dunia yang ramai ke dunia yang lebih sunyi. Lampu-lampu sodium memantul di dinding beton yang lembap, menciptakan warna kekuningan yang selalu tampak kusam, seolah Jakarta sengaja menahan napas di titik itu.

Sekarang adalah tahun baru, tepatnya tanggal 1 Januari 2026. Secara kebetulan pas tadi sedang ngemil pisang goreng dan ngopi, saya teringat peristiwa yang pernah menimpa diri saya beberapa tahun yang lalu dan itu tepat pada tanggal 1 Januari 2010. Kejadian itu saya alami tepat ditempat yang sama dengan peristiwa-peristiwa yang pernah menimpa orang lain, yaitu di Terowongan Casablanca. Saya sering melewati terowongan ini. Entah pulang kerja, mengejar waktu, atau sekadar ingin cepat sampai tanpa harus memutar jauh. Dan seperti kebanyakan orang Jakarta, saya terbiasa menganggap cerita-cerita aneh tentang Casablanca sebagai bumbu malam. Cerita yang cukup didengar, tapi nggak perlu dipercaya sepenuhnya. Hingga suatu malam, saya berhenti menganggapnya sebagai sekadar cerita.

Malam itu hujan baru saja reda. Aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan seperti kaca pecah. Lalu lintas relatif lengang. Tidak sepi total, tapi cukup jarang untuk membuat suara mesin sendiri terdengar lebih jelas dari biasanya. Saya masuk dari arah Jalan Raya Casablanca, menuju Tebet, dengan kecepatan pelan — bukan karena takut, melainkan karena lelah.

Di tengah terowongan, perasaan itu muncul. Perasaan yang sulit dijelaskan, tapi akrab bagi orang yang sering pulang larut. Seperti ada sesuatu yang memperhatikan, bukan dari belakang, tapi dari samping. Dari dinding. Dari ruang kosong di antara cahaya dan bayangan.

Banyak pengendara mengaku pernah melihat perempuan berdiri di tepi terowongan. Rambut panjang, baju pucat, tubuh diam. Biasanya muncul sekilas, lalu menghilang. Saya selalu menganggap itu efek kelelahan mata. Namun malam itu, saya tidak melihat apa pun — dan justru itu yang membuatnya berbeda.

Motor terasa berat. Bukan seperti ban bocor, bukan pula seperti mesin bermasalah. Rasanya seperti membawa beban tambahan yang nggak kelihatan. Gas ditarik sedikit lebih dalam, tapi responsnya lambat. Padahal sebelumnya motor normal. Tidak ada indikator menyala, tidak ada suara aneh. Hanya berat.

Di spion, tidak ada siapa-siapa. Jalan di belakang kosong. Lampu-lampu terowongan berdiri berjarak sama, menciptakan ilusi lorong tanpa ujung. Saya mempercepat laju, berharap segera keluar. Tapi jarak terasa memanjang, seolah terowongan menolak melepas.

Beberapa pengendara pernah bilang, kalau motor atau mobil terasa berat di Casablanca, jangan berhenti. Jangan menoleh. Jangan berkomentar. Saya ingat nasihat itu malam itu, meski rasanya konyol untuk dipercaya sepenuhnya. Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada logika. Saya menuruti insting, menjaga pandangan lurus ke depan.

Saat itulah saya menyadari sesuatu yang lebih ganjil: suara.

Bukan suara tangisan, bukan pula tawa. Hanya napas. Pelan, teratur, seolah berasal dari dekat — sangat dekat. Tapi helm saya tertutup, dan jalanan kosong. Tidak ada kendaraan di samping. Tidak ada orang berjalan kaki. Terowongan Casablanca memang melarang pejalan kaki, dan hampir tidak mungkin ada orang berdiri lama di sana tanpa terlihat.

Napas itu tidak menakutkan secara agresif. Justru sebaliknya. Tenang. Seperti seseorang yang sedang berdiri lama, menunggu.

Saya keluar dari terowongan dengan dada lebih sesak dari biasanya. Begitu roda menyentuh aspal terbuka, rasa berat itu hilang. Seketika. Motor kembali normal, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lampu kota kembali ramai. Suara klakson dan mesin lain menyambut seperti dunia yang baru dinyalakan ulang.

Saya tidak langsung pulang. Saya berhenti di pinggir jalan Tebet, menyalakan rokok, mencoba menenangkan pikiran. Saat itulah saya menyadari satu hal kecil yang membuat bulu kuduk kembali berdiri: jaket saya basah di bagian belakang, padahal hujan sudah lama berhenti dan saya tidak merasa kehujanan.

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya mulai mencari tahu. Bukan dengan niat sensasional, tapi lebih ke kebutuhan pribadi untuk memahami. Saya berbincang dengan pengemudi ojek online, sopir taksi, bahkan petugas kebersihan yang sering bekerja malam di sekitar kawasan Kuningan. Ceritanya berbeda-beda, tapi ada benang merah yang konsisten.

Tentang sosok yang tidak selalu terlihat. Tentang rasa berat yang datang tanpa sebab. Tentang terowongan yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Dan tentang satu keyakinan lama: bahwa tidak semua yang ada di Casablanca adalah korban kecelakaan.

Ada yang menyebutnya penunggu. Ada pula yang menyebutnya penjaga.

Istilah “penjaga” muncul dari cerita lama, jauh sebelum Jakarta dipenuhi gedung tinggi dan flyover. Konon, area itu dulunya adalah jalur air dan tanah rendah yang sering memakan korban, baik karena banjir maupun kecelakaan kerja saat pembangunan. Tidak semua jasad ditemukan. Tidak semua kematian dicatat rapi. Seperti banyak sudut Jakarta lainnya, pembangunan berjalan lebih cepat daripada ritual perpisahan.

Dalam kepercayaan tertentu, tempat yang dilalui ribuan orang setiap hari tapi jarang benar-benar “diperhatikan” adalah tempat yang rawan ditinggali sesuatu. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjaga keseimbangan. Penjaga bukan hantu gentayangan tanpa tujuan, melainkan entitas yang memastikan satu hal sederhana: agar manusia tidak lupa bahwa mereka sedang lewat, bukan memiliki.

Itu menjelaskan kenapa sebagian orang melihat sosok perempuan, sebagian tidak. Penjaga tidak perlu menampakkan diri pada semua orang. Hanya pada mereka yang lengah, terlalu terburu-buru, atau terlalu sombong menganggap jalan sebagai milik pribadi.

Saya tidak tahu apakah perempuan yang sering disebut-sebut itu benar-benar pernah hidup. Apakah ia korban kecelakaan, korban pembangunan, atau simbol dari sesuatu yang lebih tua. Tapi saya mulai percaya bahwa Casablanca bukan sekadar terowongan. Ia adalah pengingat.

Pengingat bahwa Jakarta berdiri di atas lapisan cerita yang tidak semuanya selesai. Bahwa beton dan lampu tidak menghapus sejarah, hanya menutupinya sementara. Dan bahwa ada ruang-ruang tertentu di kota ini yang menuntut sikap hormat, meski tanpa plang peringatan.

Sejak malam itu, saya masih melewati Terowongan Casablanca. Tidak ada rute lain yang lebih efisien. Tapi ada yang berubah. Saya tidak lagi melaju sambil bermain ponsel. Tidak lagi mengeluh keras di dalam helm. Saya melintas dengan sadar, dengan kepala tegak, dan pikiran hadir sepenuhnya.

Dan anehnya, saya tidak pernah lagi merasakan motor saya berat di sana.

Mungkin karena saya lebih waspada. Mungkin karena sugesti. Atau mungkin karena penjaga itu hanya ingin satu hal sederhana dari para pengendara: diakui keberadaannya, meski tanpa kata.

Di Jakarta, tidak semua yang nyata harus terlihat. Dan tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak pernah ada.

Terowongan Casablanca tetap berdiri, dengan lampu-lampunya yang dingin dan dindingnya yang basah. Ia akan terus dilewati ribuan orang setiap hari. Sebagian akan menganggap cerita ini omong kosong. Sebagian lagi mungkin akan teringat saat motor mereka terasa berat tanpa alasan.

Jika suatu malam Anda melewatinya dan merasa jalan itu sedikit lebih panjang dari biasanya, jangan panik. Jangan berhenti. Dan jangan merasa sendirian.

Karena mungkin, Anda sedang lewat di wilayah orang lain.

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Penumpang Terakhir di Kereta Malam

Kesaksian ini disampaikan oleh seorang saksi mata yang tidak ingin namanya dicatat. Aku menuliskannya sebagaimana...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
The Last Tribe of Morowai

Langit sore di atas Kabupaten Sarmi, Papua, tampak berwarna oranye pucat. Hujan baru saja reda,...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Pintu Alam Ghaib Dibalik Air Terjun Grojogan Sewu

Tahun kejadian: 2020Sumber cerita: pengalaman pribadi penulisLokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Beberapa catatan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 2 — LATIHAN YANG TIDAK SEPENUHNYA DIAJARKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Keraton tidak berubah.Pagi tetap datang dengan cara yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Arsip itu Selalu Basah

Gedung tua itu berdiri tidak jauh dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Cat dindingnya mulai mengelupas...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!