Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 3

Episode 3 – Sesuatu Yang Tidak Pernah Dibicarakan

Pagi di Semarang selalu datang tanpa bertanya apakah seseorang siap atau tidak.

Cahaya matahari merambat masuk melalui celah tirai kamar hotel, jatuh di lantai marmer yang dingin, lalu berhenti di kaki tempat tidur. Dari lantai 45, kota itu tampak jinak. Atap-atap rumah terlihat kecil, jalanan seperti garis-garis tipis yang bergerak perlahan. Tidak ada yang tampak berbahaya dari ketinggian itu.

Hendrik masih tidur, telentang, satu lengannya terlipat di atas dada. Napasnya berat, teratur, seperti seseorang yang yakin dunia akan tetap ada saat ia bangun nanti.

Anneliese sudah terjaga sejak lama.

Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sendiri, memandang ke luar jendela. Ia tidak sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Justru sebaliknya — pikirannya terlalu sederhana pagi itu, dan kesederhanaan itulah yang membuatnya gelisah.

Uang.

Kata itu muncul begitu saja, tanpa emosi. Seperti menyebut cuaca.

Ia bangkit pelan agar tidak membangunkan Hendrik, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu ditutup perlahan, hampir tanpa suara. Di dalam, ia berdiri lama di depan cermin. Rambut pirangnya sedikit kusut, wajahnya tampak lebih pucat di bawah lampu putih hotel.

Ia membuka tas kecilnya. Dari lapisan terdalam, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

Perhiasan itu masih ada. Utuh. Berkilau pelan.

Anneliese menatapnya cukup lama. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Yang ada justru rasa lega, dan perasaan lega itu menakutkannya.

Ia menutup kotak itu kembali dan menyimpannya seperti semula.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, Hendrik sudah terbangun. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memeriksa ponselnya dengan mata setengah terbuka.

“Kita sarapan di mana hari ini?” tanya Hendrik, suaranya masih berat oleh sisa tidur.

“Entahlah,” jawab Anneliese. “Kamu yang pilih.”

Hendrik tersenyum. “Aku tahu tempat bagus. Mahal sedikit, tapi katanya worth it.”

Anneliese mengangguk. Ia selalu mengangguk akhir-akhir ini.

Mereka menghabiskan pagi dengan sarapan yang terlalu banyak untuk dua orang. Hendrik memesan tanpa melihat harga. Ia sedang dalam suasana hati yang baik — jenis suasana hati yang membuatnya merasa semua pilihan adalah pilihan yang benar.

Anneliese makan perlahan. Ia menikmati rasa, tapi bukan tanpa hitung-hitungan. Ia mulai menyadari sesuatu yang tidak ia sadari sebelumnya: setiap gigitan punya angka di belakangnya.

Saat Hendrik berdiri untuk ke toilet, seorang pelayan mendekat membawa tagihan sementara, sekadar konfirmasi.

Anneliese meliriknya. Tangannya sedikit menegang saat melihat angka di bagian bawah kertas itu. Ia tidak mengatakan apa pun. Pelayan pergi, dan kertas itu tetap di meja selama beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Ketika Hendrik kembali, ia langsung meraih tagihan itu dan tertawa kecil.

“Ya ampun, mahal juga ya,” katanya ringan. “Tapi ya sudahlah.”

Ia tidak menunggu respons. Ia hanya memanggil pelayan dan menyerahkan kartu.

Anneliese menatap tangan Hendrik saat kartu itu berpindah. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Indonesia, ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadanya. Bukan ketakutan. Lebih seperti kesadaran.

Siangnya, mereka berjalan-jalan tanpa tujuan jelas. Mall, kafe, toko-toko kecil. Hendrik membeli barang-barang yang bahkan tidak ia butuhkan. Anneliese mengamati, mencatat dalam diam.

Sore hari, mereka duduk di tepi kolam renang hotel. Airnya tenang, biru, memantulkan langit yang mulai menguning.

“Aku senang kita ke sini,” kata Hendrik tiba-tiba. “Ini keputusan terbaik yang pernah kita buat.”

Anneliese menoleh. “Kamu yakin?”

“Tentu,” jawab Hendrik cepat. “Uang bisa dicari. Hidup cuma sekali.”

Kalimat itu terdengar ringan, hampir klise. Tapi bagi Anneliese, kalimat itu seperti penutup pintu.

Ia menyadari sesuatu dengan sangat jelas sore itu:
Hendrik dan dirinya tidak sedang memandang masa depan yang sama.

Ia tersenyum. Bukan senyum palsu, tapi senyum yang dipilih dengan sadar.

“Iya,” katanya. “Hidup cuma sekali.”

Ia tidak mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. Ia tidak bertanya. Ia tidak mengingatkan. Ia tidak membuka kotak beludru itu, bahkan dalam pikirannya.

Ia memilih diam.

Dan diam itu bukan karena tidak tahu.
Diam itu karena belum siap kehilangan hari-hari yang terlalu indah.

Malam turun pelan di Semarang. Lampu-lampu kota kembali menyala di bawah mereka, seperti janji-janji kecil yang terlihat cantik dari jauh.

Di kamar hotel, Hendrik tertidur lebih cepat malam itu.

Anneliese tetap terjaga, memandangi langit dari balik kaca. Tangannya menyentuh tas kecil di samping tempat tidur, memastikan keberadaan sesuatu yang tidak pernah dibicarakan, dan semakin lama… semakin berat.

Di luar, kota terus hidup, tanpa tahu bahwa di lantai 45 sebuah keputusan sunyi baru saja dibuat.

Keputusan yang tidak akan pernah dibicarakan.
Dan karena itu, tidak akan pernah bisa dibatalkan.

Bersambung ke Episode 4 – Hal-Hal Kecil Yang Mulai Dihitung

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 17

Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku Pagi di restoran datang tanpa upacara. Pintu belakang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 18

Episode 18 — Kalimat Yang Datang Terlalu Dini Restoran itu masih sama. Bersih. Tenang. Tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 16

Episode 16 — Pekerjaan Pertama Restoran itu bersih. Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 5

Episode 5 — Tidak Ada Tempat untuk Pulang Siang itu panasnya aneh. Bukan terik yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 29

Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!